Terima kasih Papa

(Max Bona)

Libur akhir tahun telah tiba. Sudah hampir dua minggu saya menjalani masa liburan. Meski tidak keluar kota, inilah kesempatan yang baik untuk menikmati hari-hariku yang selama ini kurang ‘kunikmati’. Selama liburan ini saya bisa bangun kesiangan dan tidak merasa dikejar apa pun. Bahkan ketika isteriku pamit masuk kerja, biasanya saya hanya menjawabnya dari balik selimut. Putrakulah yang selalu membangunkanku. “Papa, mataharinya sudah ada tuh, bangunlah.” Kebetulan putraku sedang liburan juga. Dia adalah murid TK di sebuah sekolah swasta.

Entah siapa yang ajarkan, putraku selalu menjadikan matahari sebagai patokan untuk bangun atau tidur. Ketika putraku (28 Desember kemarin genap berusia 5 tahun) membangunkanku, saya sebetulnya sudah tidak tidur lagi. Hanya saja saya mencoba menikmati hangatnya tempat tidurku, menikmati berada dibalik selimut hingga pukul 6.30 AM. Saya sudah tidak tidur lagi sejak jam 5 pagi tadi ketika saya bangun untuk berdoa sebagaimana biasanya pada hari kerja. Entah kenapa, semenjak liburan tanggal 17 Desember yang lalu, berbaring sambil memikirkan banyak hal, melamun di pagi hari menjadi kebiasaan baruku. Nikmat sekali rasanya tak dikejar apapun.

Berada di rumah sepanjang hari dan main bersama putraku sangat menyenangkan buatku. Meski terkadang sesekali kesal juga. Putraku seperti tidak pernah lelah. Dia berlari ke sana kemari, manjat sana manjat sini. Terkadang selagi asyik membaca (kebiasaanku bila ada di rumah) dia ke dapur dan buat kopi sendiri. Kalau sudah begini, ibu mertua-ku pasti menjerti-jerit. Tetapi putraku merasa sanggup melakukannya sendiri. Putraku suka minum kopi. Meski tidak setiap hari dan tidak banyak porsinya. Biasa, mengikuti kebiasaan papa dan akungnya. Bosan lari-lari, dia main mobil atau kereta. Koleksi mobi mainannya cukup banyak. Koleksi keretanya juga lumayan.

Dia suka sekali menjalankan keretanya sekaligus. Itu pun dia selalu meminta saya membantunya memasang rel-rel keretanya. Empat kereta di jalankan sekaligus pada empat rel berbeda membuat ruang keluarga rumah kami ramai. Dan putraku suka sekali melihat kereta-keretanya berjalan. Uniknya dia tidak mau melihat keretanya dari tempat duduk. Dia lebih suka tidur di lantai. Katanya, dari tempat duduk dia tidak bisa melihat roda keretanya berputar. Rupanya melihat roda berputar jauh lebih penting baginya. Roda berputar menjadi obyek yang menarik perhatiannya.

Bosan selalu berada di rumah, sesekali kami jalan-jalan ke mal. Tanggal 31 Desember kami jalan-jalan ke mal Taman Anggrek dan Citraland. Bagiku sih, ini bukan kegiatan yang menarik. Tetapi putraku sangat antusias. Istriku pun suka. Maka, sebagai ayah dan suami yang baik (hehehe… boleh dong memuji diri sendiri) saya mengalah dan menemani mereka berdua. Di TA kami menikmati salju-saljuan dan berbagai ornamen natal yang ada. Setalah mondar mandir ke sana kemari, my dearest wife tau banget apa yang saya inginkan. Dia mengajakku mampir ke Gramedia.

Saya berjalan dari ujung ke ujung dan pisah dari putraku dan dia. Isteriku tau benar kalau saya betah berlama-lama di tiap-tiap counter. Maka mereka terus berjalan ke bagian yang mereka sukai. Setelah melihat banyak buka dan mencoba membaca beberapa bagian dari buku-buku itu, saya mampir ke bagian buku-buku bahasa dan kamus. Saya tertarik untuk membeli sebuah buku anak-anak. Judulnya Children’s Picture Dictionary. Di dalamnya ada dua keeping CD yang dapat membantu anak untuk belajar sendiri. Kupikir buku itu baik buat putraku. Maka kubelikan satu buatnya. Buku ini adalah bukunya yang ke sekian dan buku berbahasa full Inggris yang kedua setelah ‘my first word book’ yang saya beli di Times Karawachi setahun sebelumnya.

Hari telah menunjukkan pukul 8.30 malam ketika kami memutuskan pulang. Kendaraan menuju Ciledug masih ada. (Kami selalu menggunakan kendaraan umum. Meski terkadang merepotkan tetapi rasanya lebih aman daripada naik motor). Jalanan menuju rumah kami di daerah Graha Raya sangat macet dari arah Grogol. Stress juga sebetulnya, tetapi melihat putraku menikmati perjalanan sambil sesekali meniup trompet nikmat juga.

Karena jalanan sedemikian macet, maka sopir menurunkan kami di daerah Meruya. Kami memutuskan jalan kaki sebentar hingga akhirnya naik angkot lain setelah perempatan yang menjadi biang kemacetan kami lewati. Putraku sungguh luar biasa. Dia sangat antusias berjalan. Di sana-sini kembang api menjelang pergantian tahun sudah mulai dinyalakan orang. Setiap ada bunyi letusan kembang api, kami mesti berhenti sejenak, karena putraku ingin sekali melihatnya.

Hari sudah menunjukkan pukul 11.30 malam ketika kami tiba di rumah. Putraku segera dimandikan dengan air hangat oleh mamanya. Kemudian dia sendiri mandi dan terakhir saya. Kami harus buru-buru karena sebentar lagi kami harus menuju rumah saudara yang kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal kami untuk bersama-sama merayakan pergantian tahun. Barang-barang yang kami beli tidak sempat kami buka.

Perayaan pergantian tahun yang sangat akrab dan penuh dengan suasana kekeluargaan itu berakhir pada pukul 03.00 pagi. Putraku dan dua sepupunya yang semua masih kecil bermain dengan suka cita. Sementara kami yang sudah dewasa menikmati ikan bakar, udang, cumi dan ayam bakar plus sedikit bir. Karena tidur terlambat, maka kami semua bangun kesiangan.

Malam pergantian tahun dan tahun baru kami tidak ke gereja. Rasa syukur atas anugerah Tuhan yang luar biasa sepanjang tahun dan mohon berkat-Nya di tahun yang baru kami teriakan dari lubuk hati kami masing-masing. Toh keesokannya adalah hari Sabtu. Kami biasa mengikuti misa Minggu pada hari Sabtu sore. Maka ucapan syukur itu kami hunjukkan sekalian pada misa Minggu itu.

Barang belanjaan yang kami beli kemarin masih ada di dalam bungkusannya. Malam telah tiba. Putraku meminta buku yang kami beli kemarin. Kami pun membuka belanjaan kami. Putraku begitu antusias melihat bukunya. Dia tertarik dengan macam-macam gambar berwarna yang ada di dalam bukunya. Dia juga tidak sabar untuk segera mencoba CD yang ada. Sayang CD-nya hanya audio, tidak ada videonya. Namun itu tidak mengurangi kegembiraannya. Setelah membolak-balikkan halaman bukunya, putraku sempat diam sejenak. Dia tampak berpikir serius. Saya duduk santai di sofa yang ada di dekatnya sambil membaca novel nagabumi yang diberikan adikku. Isteriku sedang membereskan sesuatu di dapur.

Tiba-tiba putra kecilku dengan suara yang pelan dan muka yang serius berkata, “Papa, terima kasih ya.” Saya terkejut. Kemudian kutanyakan, “Terima kasih untuk apa Nana?” (Nana adalah panggilan kesayangan saya buat dia). Lalu dia berkata, “Karena papa telah memberikan buku-buku baru lagi untuk saya.” Aku sangat terharu, Kupeluk putraku dan kukatakan, “Nana, papa sangat mencintai Nana. Papa ingin selalu memberikan yang terbaik buat Nana.” Lalu katanya sekali lagi, “Terima kasih.”

Rasa syukur dan gembiraku tak terkira. Putraku sudah tau berterima kasih dengan cara yang jujur, tanpa disuruh, polos, apa adanya. Dan karena itu, ucapan terima kasihnya terasa sangat istimewa. Bagiku, ucapan terima kasih yang jujur dan polos situ menyatakan sedikitnya dua hal. Pertama, putraku sudah mengerti untuk menghargai sebuah pemberian. Kedua, dia mulai paham arti sebuah buku bagi dirinya.

Kuberharap, putraku terus tumbuh menjadi manusia sejati, manusia yang berbudi baik dan mampu untuk menghargai segala sesuatu yang ada di dalam hidupnya termasuk orang-orang yang ada di sekitarnya, dan teristimewa mampu menghargai dan bersyukur atas apa pun anugerah Tuhan buatnya dan buat kami sekeluarga.

Putra-puteri anda semua pasti memberikan banyak inspirasi untuk anda juga. Maukah anda membaginya…?

Max Bona

Tertarik dengan yang ini?

  • Bersama Langit
  • Mimpi Berhadiah
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • #30HariMembaca – Hari Pertama – Buku Pertama – Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali oleh Koesalah Soebagyo Toer
  • Ah, Tuhan…
  • Being Mom: Permata
  • Gak Enak
  • Review dari Panjikristo PX – Jakarta
  • (9 Juli 2010) Terima Kasih, Tuhan
  • Terima Kasih Tuhan

Comments (8)

Femi KhiranaJanuary 14th, 2010 at 7:38 pm

wahhhhhh… jadi terharu.
anakku juga suka roda, moga2 suka buku juga ya nanti :)
kisah jujur yang sangat membumi :)

Max BonaJanuary 15th, 2010 at 9:20 am

Thanks Fem, yeah gitu deh… :)

angela onlee (onlee)January 15th, 2010 at 9:52 am

Emang anak kecil khususnya laki-2 suka roda, sandal juga…
sampai ada yang cuma tinggal roda doang…
Mudah-mudahan juga suka buku…
Yang terpenting senantiasa menghargai dan bersyukur..
Thank’s kisahnya dan semoga doanya buat semua anak yang ada di bumi ini….

vennyJanuary 15th, 2010 at 10:17 am

wah, certanya mngharukan… singkat n padat. mudah2an sj semua anak indonesia sperti ini. menghargai jerih payah org tuanya. klo sperti ini org tua pst akn sllu bersemngat :)

Max BonaJanuary 15th, 2010 at 11:45 am

sama-sama Angela… yeah, doa itu juga buat tiap anak yang lahir ke dunia ini..

Max BonaJanuary 15th, 2010 at 1:40 pm

Venny, betul sekali apa yang kamu katakan. Anakku memberiku selamat extra. Saya kira semua orang tua sama saja dalam hal ini…

fekhiJanuary 15th, 2010 at 2:44 pm

intinya memiliki anak itu membuat kita mikir, ternyata kita norak juga ya jadi ortu hihihi…

Max BonaJanuary 15th, 2010 at 4:19 pm

Itu betul juga Fekhi, memang pasti ada gap antara anak dan orang tua, dan itulah yang terkadang menimbulkan kesan seperti itu…

Leave a comment

Your comment