syukur yang sederhana
(Melati Silaban)
Dua bulan ini menjadi masa yang kukira paling memusingkan bagiku. Dimulai dari kehilangan pekerjaanku, kehilangan penghasilan seolah membuat semuanya semakin kacau. Perlahan-lahan yang kuiniginkan hanyalah membunuh diriku sendiri agar semua kesusahan ini menghilang. Tapi ternyata, aku tidak punya cukup nyali untuk mengakhirinya dan punya cukup nyali juga untuk menjalaninya. Perlahan namun pasti aku menjadi seorang zombie,zombie yang hanya bernafas tapi tidak merasakan lagi udara melewati alat pernafasannya. Tak lagi merasakan bagaimana rasanya lapar atau haus bahkan kenyang sekalipun. Akupun mulai mengubur diriku sendiri dengan sendok dan garpu dibelakang rumahku.
Semua kekacauan ini seakan tak mau berhenti. kemudian aku mendapat beberapa tawaran pekerjaan. Tapi itu hanyalah pekerjaan yang sama seperti yang sudah kutinggalkan karena merasa muak dengannya, untuk itu kuputuskan untuk menolaknya. Kemudian masalah makin bertambah ketika aku tak lagi bisa membayar tagihan-tagihanku. Bahkan untuk makanpun aku harus memutar otak. Rasanya kepala satu ingin kubelah menjadi beberapa biar tak lagi sepusing sekarang ketika dihadapkan pada semua masalah itu. Arghh..aku ingin lari, lari sekencang-kencangnya. Aku ingin tersesat ketempat dimana tak ada orang yang mengenaliku dan tak satupun kukenali.
Ketika malam kuputuskan untuk tidur saja tak perduli apa yang menghadangku esok hari. aku sudah pasrah. Biasanya aku tidak tidur dimalam hari karena memikirkan banyaknya masalah datang silih berganti. Walaupun dengan mata yang masih segar kupaksakan untuk memejamkannya sambil berharap malam akan membawaku pergi jauh..jauh.. dari hidupku yang sekarang. Sebelum tidur kupandangi langit dari jendela kaca yang kubiarkan tanpa tirai karna aku tak mau tidur sendiri malam ini. Kuingin bulan dan bintang menemaniku, menjagaku ,sampai pandanganku meredup dan akhirnya tertidur.
Dikedalaman tidurku aku bermimpi berada disebuah ruangan putih dengan sekumpulan orang berpakaian compang-camping. Mereka mengelilingi sebuah meja. Sesekali mereka bernyanyi lagu-lagu yang sudah sangat kukenal dengan sangat indah, Bahkan aku tidak pernah sekalipun kudengarkan paduan suara seindah itu di gereja. Beberapa menit kemudian mereka tertawa seolah tak ada masalah dalam diri mereka meski mereka terlihat sangat miskin. Kudekati mereka perlahan, aku ingin mengenal mereka lebih jauh. Aku ingin seperti mereka bernyanyi dan tertawa. Sukacita terpancar kesetiap sudut ruangan seolah aku bisa melihatnya beterbangan di udara. Aku takjub. “seandainya aku bisa mengambilnya untuk kubawa pulang”,kataku dalam hati. Seorang dari mereka menoleh kepadaku dan tersenyum. senyumnya indah bagai pelangi dan wajahnyapun bersinar bagai bulan dan matanya menatapku hangat..sehangat mentari pagi. katanya : “itu semua sudah ada didalam dirimu, temukanlah kembali, galilah kembali, dank kau akan merasakan di setiap denyut nadimu.” lalu dia berbalik lagi sambil melontarkan sebuah senyum, senyum terindah yang pernah kulihat.
“Rinnnggg……” bunyi alarm memaksaku membuka mataku. entah kenapa aku spontan melangkahkan diri ke kamar mandi dan langsung mandi. Itu jauh dari kebiasaanku yang akhir-akhir ini hanya mau mendekap bantal saja bahkan sampai matahari meninggi. Setelah mandi kubuatkan sarapan untuk diri sendiri sambil ditemani suara radio yang pagi itu memutarkan hampir semua lagu kesukaanku. Ketika hendak makan tiba-tiba ingatan tentang mimpiku tadi malam terpampang dihadapanku. Tapi aku tak mengerti apa artinya. Aku hanya merasa lebih bahagia pagi ini. Sambil mengunyah nasi goreng yang kubuat dari sisa nasi tadi malam, Aku tersenyum. Pagi ini nasi goreng itu terasa sangat enak dilidahku. Bahkan air yang kuminum rasanya jauh lebih segar dari yang kuminum kemarin meski mereka berasal dari sebuah galon yang sama. Ahhh… nikmatnyaaa.. sambil bernyanyi kubersihkan semua sampah-sampah yang membuat kamarku seperti kapal perang yang baru saja dijatuhi roket. Kubuka semua jendela dan pintu. kunikmati udaranya, “ahhh..” kunikmati sebanyak yang kubisa. Kurasakan semua sukacita merasuk seiring tarikan nafasku. Tak kubiarkan masalah apapun mengalihkan pikiranku. Sambil mengingat-ingat lagu yang mereka nyanyikan tadi malam dalam mimpiku, aku mencuci piring dan perabotan masak lainnya. ” ahh..itu dia”
semua kembang bernyanyi senang
giranglah hatiku
perumput serta bernyanyi senang
Tuhanlah sumber sukaku
semua jalan didunia
kesurga mengantarmu
desiran angin ria
ke surya membawamu
Sepanjang hari lagu itu berulang-ulang kunyanyikan. Tapi tak juga bosan rasanya, malah semakinku menyanyikannya, semakin semangat rasanya kumenjalani hari. Benarlah ternyata kalau hati yang gembira adalah obat . Meski keringat membanjiri kaosku kurapikan semua lembaran berkas-berkas yang menggunung dimeja. Tanpa merasa lelah tanpa mengeluh kupel semua sudut ruangan bahkan sampai berkali-kali. Ketika itu, terdengar suara nyaring dari handphoneku dari dalam kamar. Aku kira itu dari sahabat yang selalu setia memastikan kalau aku baik-baik saja. Tapi saat kulihat nomornya ternyata tidak terdaftar di phonebook. Sambil mereka-reka kuangkat juga teleponnya. Dengan suara cepat orang disana menanyakan identitasku kemudian…
Kututup telepon itu sambil terdiam. Aku merasa mulai memahami arti mimpiku tadi malam. Hampir tidak percaya ketika perempuan itu bilang :”anda kami tunggu untuk bergabung bersama perusahaan kami hari senin besok….” Padahal aku menjalani tes di perusahaan itu sudah tiga bulan yang lalu. Akupun menangis,sambil berurai air mata kunyanyikan lagi semua kembang bernyanyi senang,giranglah hatiku…
Kuhentikan semua kegiatanku. Aku mulai merenung. Hari ini banyak sekali yang terjadi dari hal kecil sampai yang luar biasa hingga aku terlambat bereaksi. Sungguh, aku hanya ingin bersyukur. Untuk tidurku tadi malam, mimpiku,untuk mandi yang menyegarkan, untuk nasi goreng dan segelas air, untuk udara segar dipagi hari, untuk sebuah lagu yang menyemangatiku, untuk dering telepon saat bersih-bersih. Saat kumerenung semakin dalam aku pun mulai mensyukuri pengunduran diriku dari tempat kerja lama, karna akhirnya kutemukan pekerjaan yang selama ini kudambakan. Aku bersyukur untuk setiap kesusahan yang kualami, dengan begitu aku merasakan pemeliharaanNya yang utuh dalam disetiap kesusahanku “Tuhan, aku bersyukur untuk semuanya. “
Ternyata benar semuanya terjadi dengan tujuan. Tujuan semua ini terjadi hanyalah membuat aku lebih memahami makna bersyukur yang dulu tak lagi menjadi cara hidupku. Aku berjanji dalam hati, mulai hari ini akan kujadikan syukur sebagai cara hidupku yang baru. Karna syukur telah mengajarkanku untuk menghargai hidup. Dan memang hidup terlalu berharga untuk kulewatkan disebuah kamar sepanjang hari. Syukurpun mengenalkanku pada indahnya hidup yang disediakan untukku. Akhirnya akupun merasa berharga dimataNya. Aku semakin bersyukur saat kusadari Dia masih memberiku nafas dan kesempatan untuk mengalami semua ini. Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah hal kecil. Tapi bagiku semuanya dimulai saat aku mulai mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana pagi ini.
Kuucap syukur berkali-kali sampai akhirnya syukur ada disetiap nafasku.. syukur ada di setiap langkahku.













What a wonderful fiction..