Seorang Sri Mulyani
(Melly Sutjitro)
Hari ini, 5 mei 2010, ramai diberitakan di media bahwa Ibu Sri Mulyani memperoleh tawaran pekerjaan yang bergengsi di World Bank sebagai seorang Managing Director. Ini prestasi yang luar biasa untuk seorang anak bangsa. Baru sedikit anak bangsa yang sanggup menorehkan prestasi seperti ini di jagat belantara dunia. Namun sayangnya prestasi ini ternoda oleh banyaknya tudingan miring dan nada sumbang mengenai keterkaitan Ibu Sri di kasus Century di tanah air.
Terlepas apakah Ibu Sri Mulyani bersalah atau tidak – perlu diingat bahwa tidak ada yang benar-benar hitam dan tidak ada yang benar-benar putih di dunia perpolitikan – kita sebagai saudara sebangsa selayaknya bangga akan prestasi ini. Kalau bukan kita yang bangga, lalu siapa? Kalau bukan kita yang terinspirasi untuk terus maju membawa nama harum bangsa, lalu siapa? Kalau bukan kita yang mau bersusah payah mengikuti jejak segelintir orang yang berusaha membawa kebaikan untuk bangsa ini, lalu siapa? Sangat disayangkan bahwa talenta sebesar ini harus pergi dari bumi nusantara. Kenapa orang-orang yang mementingkan diri sendiri yang menang ? Mungkin terlalu dini buat mengatakan siapa yang menang atau siapa yang kalah. Bisa dimengerti posisi Ibu Sri yang akhirnya memilih mundur dari jabatan menteri..mana enak sih kalau bekerja diusik melulu dari kiri kanan depan belakang? Keputusan beliau ini langsung dibarengi dengan anjloknya IHSG, terjun bebas demikian komentar para pialang. Para investor yang selama ini menghormati kebijakan dan professionalism beliau menjadi panik.
Pada saat kita bersekolah- terutama untuk kita yang sempat mengenyam pendidikan di negeri orang- kita selalu diingatkan untuk kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmu dan talenta kita untuk kepentingan bangsa. Hal ini berlaku di semua bangsa di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Memang ironi kasus Ibu Sri saat ini, talenta beliau yang kurang dihargai di tanah air malah dihargai di negeri orang lain. Mudah-mudahan, bila tiba waktunya, Ibu Sri Mulyani dan putera-puteri bangsa Indonesia lainnya akan kembali berkarya untuk negara, untuk membawa negara ini menjadi negara yang besar, untuk mengubah paradigma politik lama, untuk membangun karakter bangsa yang positif, untuk memajukan pendidikan bangsa – karena dengan pendidikanlah suatu bangsa bisa menjadi besar dan dewasa. Moga-moga…
Congratulations, Ibu Sri! Selamat bekerja dan jangan lupakan Indonesia!












