Cinta Monyet

(Mercy Sitanggang)

Ini yang bercinta monyet atau manusia?

Sebel aku..
Aku kan manusia, cantik lagi, tahun ini saja, usiaku menginjak 17th.
Kelas  dua SMU mau naik ke kelas  tiga.
Aku mencintai Elang, kakak kelasku. Tepatnya, aku menggilai dia.
Kami bertemu ketika ospek SMU, dia yang dulu memberikan kebencian kepadaku. Senioritas yang kelewat batas. Tapi sekarang dia memberikan hatinya kepadaku, karena rasa cintanya yang kelewat batas juga. Dan kami berdua memutuskan untuk mengembangkan sesuatu yang kelewat batas ini, menjadi sebuah hubungan intim alias pacaran.
Tapi kami manusia, bukan monyet..


Kenapa orang-orang bilang kalau kami cinta monyet?
Itu artinya kami monyet,
Dasar monyet kalian, kasian kan bangsa monyet, lahannya diambil oleh kita manusia, kalau para bangsa monyet itu saling mencinta, berarti namanya apa dong ? lantas, jadi cinta manusia… ?? pastinya, para monyet itu sedang menertawai kita.
Kalau sedang jatuh cinta, aku paling malas menginjakkan kaki ke dalam kelas. Huh.. Ruang kelas yang seperti kuburan nampaknya, dan temen-temenku satu kelas ini tidak ubahnya seperti batu-batu nisan di atas makam, dan lihatlah bu suparti guru bahasa inggrisku, komat-kamit dengan bahasa yang asing di telingaku, Saat ini beliau tidak ubahnya seperti sang juru kunci makam… Pelajaran bahasa inggris tidak pernah menarik untukku. Aku lebih tertarik untuk menyapu pandanganku ke luar kelas, mencuri – curi dari pintu yang terbuka dan menunggu elang, lewat depan kelas dan memberi senyumnya untuk aku.

Jam tanganku seperti mati nampaknya, ketika batang hidung Elang tidak juga kelihatan. Bahkan ketika suasana kuburan ini sudah berganti dengan suasana pesta penuh dengan makanan dan minuman, Aku tidak tertarik juga untuk menikmati segala sajian itu, karena aku lebih tertarik untuk menunggu kamu.. Bibirku tanpa rasa dan mulutku enggan mengunyah, hanya mataku yang terus mencari kamu..

Dasar monyet,
Pantas saja kita disebut pasangan cinta monyet,
Mungkin karena kamu tidak punya otak..
Sudah lebih dari setengah jam, aku membiarkan mata ini melotot menanti kamu, tapi yang lewat cuma laki-laki lain yang bukan monyet seperti kamu.. Sampai akhirnya pesta pun selesai dan batu nisan yang dijaga juri kunci makam mulai tampak lagi di depan mata.
” Pelajaran membosankan. ” batinku bicara sambil terus membagi pandang ke arah pintu.
” Anjani Demira Putri.. ” ada suara tepat di belakangku (meta selalu memanggil dengan namaku yang  lengkap)
Aku menoleh ke belakang dengan sembunyikan setengah kepalaku,” Apa met?? ”
” Kamu nunggu Elang??”
” Bukan.. nunggu pak Kumis penjaga sekolah ” suaraku pelan tapi satire .
” Loh kok ? ” jawab meta continity tololnya.
” Ya elanglah neng Meta, siapa lagi? ” jawabku sambil terus menggaruk kulit kepala yang tidak gatal.
Meta membalas jawabku dengan suara tawa yang hampir saja membuat sang juri kunci di depan kelas, menyeret kita berdua, menguburkan dan menaruh nisan paling baik di atas makam kami.

” Ada cerita tentang Elang..” bisik meta lagi,
Aku tersentak..
” Apa ?? ” tanyaku sambil mengernyitkan kening.
” Akan aku ceritakan nanti, sepulang sekolah, di kantin ..” bisiknya lagi, yang aku jawab dengan acungan jempol ke arah meta.

Duh… Bel pulang itu, jadi suara paling merdu yang selalu kita selalu dengar setiap hari. Dan aku jadi orang pertama yang melesat keluar kelas tanpa peduli pada juru makam dan sekelompok batu nisan yang memandangku terpana..
Aku orang pertama yang duduk di pojok bangku kantin. Meta belum muncul juga, (padahal tadi aku sudah lihat dia lari keluar kelas juga)
Dasar monyet.
Padahal kan aku tidak pacaran dengan dia, tapi kenapa bodohnya sama juga seperti si monyet pacarku??

Kantin sekolah, aku duduk paling podjok, sengaja supaya bisa nikmat ngobrolnya. Aku sudah pesen 2 teh botol untuk kami, duh meta.. Bayangan kamu aja belum kelihatan.. Kakiku terus bergerak – gerak tidak sabar menunggui kamu datang. Aku yakin meta pasti belum punya pacar, aku aja yang pintar disebutnya cinta monyet, apalagi meta yang beneran bodoh?
Aku tersenyum..
” Anjani Demira Putri ” teriak meta dari kejauhan,dengan napas tersengal, meta duduk di kursi tepat di mukaku..
” Kalau 5 menit lagi kamu tidak sampai tadi, aku akan buat kamu benar-benar terkubur dengan batu nisan yang kupesan dengan harga yang paling murah ” sindirku sinis dengan mata memicing dan kening berkerut.
Meta terlihat meminta maafku satu.
Tidak panjang kata, aku menagih janji meta, dan meta menepati janjinya.
” Jadi, ada apa dengan Elang ? ” tanyaku langsung.
” Tapi jangan marah..” Meta mencoba ngeles.
” Enggak.. Ayo cerita ”
” Tapi beneran ga marah kan??” tanyanya lagi untuk lebih meyakinkannya. Aku menggeleng. Aku berharap cerita mulai bergulir, tapi..
” Bener ?? Janji ?? ” tanyanya lagi, dengan pandangan yang polos.

Ada panas di kepalaku, ada nyala kompor di mataku, ” Meta Purmandani Sostrowardoyoooo…” teriakku kencang, sampai keliatan ada beberapa mata menoleh.
Meta mulai ketakutan, dan menjawab dengan cepat, ” Elang punya cinta yang lain” kata meta pendek lalu cepat menutup mulut dengan kedua tangannya, dan membuang pandang dari mataku.
” Maksud kamu dia punya pacar lain? mènghianati aku? dan mencintai monyet yang lain? ” berondong tanyaku.
Tapi untuk pertanyaanku terakhir meta menggeleng.
” Monyet itu sudah dewasa.. Dewasa sekali..” kata meta lagi,
Kata – kata Meta menghujam jantungku. menimbulkan riak di sana, seperti ada yang menyala dan mengeluarkan aroma panasnya. Mukaku menjadi merah, ” Elang monyetku , aku tergila-gila padamu, tidak boleh ada satupun monyet yang memiliki kamu, kecuali.. Aku. “  teriakku pada Meta.
Aku pergi meninggalkan Meta tanpa sepatah kata, cuma air mataku yang tertinggal menemani Meta yang akhirnya minum dan makan sendirian.

Jalanan sore hari, masih mengenakan seragam sekolah. Putih abu – abu, dan tas masih diselmpang di bahu.

Aku berjalan pulang ke rumah. Masih terus menangis.
Coba hubungi hp elang, tapi tidak aktif,  yang terdenar hanya suaranya Veronika..
Apa jangan-jangan dia pacaran juga dengan veronika ?
Dasar monyet..
Gimana tidak dibilang cinta monyet, pacarku ini tolol seperti monyet.
Eh.. Emangnya monyet itu tolol dan bodoh yah?? (maap ya monyet..)

Sampai malam hari,  matahari sudah pulang ke peraduan, gantian bulan yang menemani, Hp elang masih mati. Aku masih duduk di trotoar jalan. Aku tidak mau pulang. Aku mau mencari monyetku. Monyet kesayangan.
Aku sudah berusaha menghubungi rumah elang, tapi dia tidak ada.. (itu menurut informasi dari orang rumahnya, yang suaranya sangat tidak ramah terhadapku)

Edan..
Aku butuh asap
Kepalaku penat,
Aku mau mulutku berasap dulu, baru bisa mikir..
Aku melihat ada warung di pinggir jalan dan aku berasap di sana.. Sendirian.. ( tidak peduli dengan pandangan orang yang aneh melihatku ) sambil merasakan otakku mengencang, hatiku mengerang dibakar api cemburu.

Kembali aku diingatkan kisah setahun yang lalu,
Ketika awal Elang mengikat hati aku,
Dia yang selalu setia menyelipkan sebatang coklat di dalam tasku. Setia membagikan boneka pink babi kesukaanku.. Sampai suatu ketika, Elang dan aku bertemu di bibir pantai,  bertemu angin yang bertiup kencang, bertemu pasir yang menenggelamkan sepasang kaki indahku. Aku masih ingat ketika Elang menyelipkan bunga mawar merah di telingaku, ketika Elang merampas kedua tanganku, dan menyanderanya tepat di depan dadanya, ketika Elang merengkuh cintaku dari bola matanya, sampai akhirnya Elang menyebar aroma cinta dari parfum yang dipakainya.
” Mau ga jadi pacarku??  ” lugas elang menayaiku.
Aku menatap lagi bola matanya dan mencari kejujuran di sana, setelah menemukannya,dan merasa yakin, lalu aku mulai mengangguk. Ada biru melingkari aku dan elang di pantai ini,  bahkan ombak yang bergulung itu berwarna merah muda, matahari mulai terbenam, mengucapkan selamat tinggal, sementara aku baru mulai mengucapkan selamat datang pada cinta,
Aku kegirangan bukan main, akhirnya aku menyatukan badan dan hatiku dengan kamu.
Aku minta izin elang untuk memeluk..
Aku minta izin elang untuk mencium..
Aku minta izin elang untuk mencintai..
Walaupun masih bau kencur…

Lamunanku membuyar,
Karena airmata di wajahku mulai membanjir..
Kenapa Elang sekarang justru mencintai monyet lain yang lebih dewasa?
Tiba – tiba.. Ya Tuhanku, aku segera menutup mulutkudengan tangan kananku, pandanganku tertumbuk pada sosok laki-laki di ujung sana, lelaki yang seharian menyebar virus dalam otakku, lelaki yang kucari. Monyet itu.
Monyetku di ujung jalan sana, nampak sedang asik masyuk menggandeng mesra seorang wanita dewasa, yang bola matanya percis bola mata ibu.
Mesranya sama seperti mesra dulu bersamaku, aku dengar suara tawa itu, tawa Elang bahagia, dia selalu tertawa seperti itu ketika sedang bahagia.
Sepertinya dia nyaman dengan monyet dewasa itu,
Kesadaranku mengingatkan aku untuk tidak mengganggu mereka.
Air mata ini buat kamu, monyet..

Air mata cinta monyet kita..

Monyet..
Padahal, kalau kamu lebih suka wanita dewasa dengan high hills menempel di kaki, aku akan berubah seperti itu ..
Kalau kamu lebih suka wanita dengan rok mini, dan blus yang mengatung, sampai kelihatan perutnya, aku juga berani memakainya, untuk kamu ..
Bahkan kalau kamu lebih  suka wanita dewasa yang bisa membawa kamu terbang ke surga dunia, aku juga bisa melakukannya untukmu..
Demi cinta kita, supaya kamu senang.
Kembali dong monyet sayangku…

Tidak sadar aku teriak kencang memanggili Elang yang masih asyik masyuk di ujung sana..
Memanggil Elang berulang-ulang,
Sampai dia bergerak melihatku.

Akhirnya, Elang menoleh ke arahku,
Elang tertawa (sementara aku menangis)
Tapi aku tidak akan memperlihatkan merah bola mataku karena menangis.
Elang dan wanita itupun segera  menghampiri aku.

sekarang, Elang sudah sampai di depanku, Elang mencium keningku, Aku balas mencium pipinya, Elang masih monyetku.
Aku bersyukur
Aku kegirangan

Kemudian, Elang mengenalkan wanita dewasa itu,
” Kenalkan, tante Almira..” katanya, tapi tidak melepas pandangnya pada perempuan elok rupawan ini.
Cuih.. Aku tidak peduli namamu, aku cuma butuh statusmu saja ( apa hubunganmu dengan monyetku ? )
” Ini Jani.. tante..” balas, Elang memperkenalkanku.
Ya ampun kita berjabat tangan, ya ampun tangannya halus sekali, kalau tangannya  saja sudah halus seperti ini, bagaimana dengan bagian-bagian yang lainnya? (mungkin hal yang satu ini yang menempelkan elang padanya)
” Siapa gadis cantik ini Elang?”  tanya wanita itu mulai mau tahu, dan memamerkan senyumnya, yang semakin menmbuatku jijik.
Aku mulai melihat elang gugup,
” Temanku …” katanya, dan lalu merunduk
Hah? teman? cuma teman?
Elang jahat.
” Teman atau teman ?”  tanya wanita itu masih mau tahu, dan sekarang mengerling manja ke Elang.
Aha.. 1 – 0, ya sudah pasti lah, Elang akan mengakui aku sebagai cintanya.. Cinta monyetnya.. Cinta sejati, sampai mati.
Tapi, kenapa aku melihat Elang gugup setengah mati, ya Tuhan, ayo bilang dong Elang, siapa aku sebenarnya.
Elang belum juga menjawabnya.
Ya Tuhan, rasanya aku lebih baik tiduran saja di jalanan dan menunggu truk besar menabrakku..
” Pacarku tante..” akhirnya suar Elang menjawab semua keraguan.
Huf.. Akhirnya. Terima kasih Tuhan,
Tapi kenapa wanita ini tidak marah, tidak cemburu,  tapi langsung menjamah aku? mengambil tanganku dan menjabatnya, dan membiarkan badan dan langkahnya menjauh dari tempatku, sambil tersenyum manis ( kenapa ya, koq sepertinya senyum itu penuh dengan arti akan sebuah ajakan sesuatu), sesuatu yang tidak aku mengerti.
Elang minta izinku untuk mengantarnya.
Aku setuju.
Tidak apa – apa, toh Elang memilih aku juga akhirnya..
Tapi kenapa, batin ini masih tersisa luka ??
Seperti, masih ada yang belum selesai, nampaknya.

Sambil tersenyum seperti setengah waras,

Aku kembali pulang.
Bersiul sepanjang jalan, tidak sanggup untuk tidak memikirkan kamu..
Bahagia karena kamu tetap memilih aku, bahagia, karena praduga Meta yang salah, ” Monyet Aku tergila-gila padamuuu.. ” teriakku sepanjang jalan sambil terus berlari.

Malam mulai mendekati aku,
Aku masih di jalan msih jauh sampai di rumah.
Tiba-tiba..
Aku tidak berniat pulang,
Aku tahu, apa yang harus aku lakukan,
Akhirnya, aku membelokkan langkahku, dengan semangat cinta yang menggelora di dada, aku selusuri jalan menuju kemah hatimu..

Malam terlalu indah untuk ditakuti,
Aku dan Elang akan jadi bagian dari keindahan malam, yang tidak akan terlupakan.
Tidak lupa sebelumnya, aku mengambil cinta yang akan aku serahkan pada Elang,
Aku sembunyikan cinta itu di balik punggungku.

Aku datang sayangku.
Aku sampai di depan pintu rumahnya..
Aku ketuk pintu rumahnya, pintu rumah yang sudah ratusan kali aku ketuk dalam satu tahun ini, tetapi kenapa malam ini, aku masih begitu bahagia menghadirkan tanganku untuk kembali mengetuknya, tidak ada sahutan..
Aku iseng membuka anak pintu, dan tidak terkunci,
Elang ini masih saja mempermainkan aku,
Aku masuk ke dalam,
Masih dengan cinta di belakang punggungku,
Sengaja tanpa suara, menjelajah ruang,
Kosong.. Tidak ada siapapun..

Sasaran selanjutnya..
Kamar Elang.
Elang tidak pernah mengunci pintu kamarnya, ada atau tidak ada Elang di dalam, dia takut sekali mengunci pintu, karena takut ketika terbangun, pintu itu tidak bisa terbuka lagi..
Sekarang, aku sudah tepat di depan kamarnya, mencium aroma tubuhnya yang ada di dalam sana, menunggui kedatanganku.. Dan cinta masih setia menempel di belakang punggungku..
Aku dekati pintu itu perlahan..
Aku buka anak kuncinya perlahan..
Aku buka pintunya lebar, seiring dengan teriakku,
” Surprise…” teriakku kencang sambil melompat ke dalam.

Ya Tuhan,
Dadaku berdegup kencang,
Air mata ini keluar tidak terbendung lagi,
Tolong kaburkan penglihatanku ini,
Pemandangan apa ini?
Ini cuma mimpi kan?
Aku mencubit tanganku, ternyata ada rasa sakit.
Sialan .. Jadi ini nyata? bukan mimpi ?

Di sana, di dalam kamar ini yang bukan kamar ku, tapi kamarnya,  Ada seorang laki-laki muda sedang menyusu pada ibu.
Ibu yang matanya percis mata ibuku,
Ibu yang tadi ada di jalan beriringan dengan Elang,
Ibu yang usianya sama dengan ibu-ibu sebaya kami,
Ibu yang mengenalkan namanya ” Tante Almira “,
Ibu yang sekarang berbalik menyusu pada Elang..
Ibu yang sekarang memberi noda merah, di dadaku..

Semuanya jelas di kelopak mata, Aku menangis sejadinya.. Aku teriak membabi buta..

Mereka kaget..
Elang mukanya seperti mayat ketakutan.. Sementara Monyet perempuan dewasa itu, ringan matanya menatap kami berdua.

Hatiku mengeras,
Aku berlari kencang ke arah elang, dan secepat itu pula, aku tusukkan cinta yang dari tadi masih aku sembunyikan di balik punggungku ke arah perutnya,
Aku tusuk berkali-kali..
Elang mengerang..
Elang kesakitan..
Darah memuncah menciprati wajah merah ku dan merah nya..
Aku meradang, tapi tertawa senang..
Aku menang..

“mampus… Kau monyet…”

Monyet tolol tidak tahu diri..

Dan monyet itupun mati, terbunuh oleh cintanya sendiri.

Aku menghampiri ibu, yang matanya percis mata ibuku, ibu yang juga tertawa sambil mengerang, ibu yang tangannya lemas menarik aku. Akupun menyusu sambil menangis…

The end..

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI

Comments (2)

Widijaningrum LusiaApril 21st, 2010 at 12:16 am

Just one word to you :” Amazing”

Mercy SitanggangApril 23rd, 2010 at 11:19 pm

terima kasih lusi, ur welcome, nice to be ur friend…

Leave a comment

Your comment