Pacarku Kurus Kering
( MERCY SITANGGANG )
“ Sayang, udah minum vitaminnya ? “
“ Sayang, udah makan berapa kali hari ini ?”
“ Sayang, plis jangan begadang…!! “
Sementara cowok di seberang telpon hanya menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sekenanya, alias cuek.
“ Belum… vitaminnya ketinggalan di kamar.. “
“ Makan seperti biasanya… “
“ Tidak bisa. Penerbit menunggu ceritaku minggu ini.. “
Huh.. sebeell..!! selalu saja ada jawaban atas semua pertanyaanku. Aku kan cerewet, karena aku sayang sama kamu Giri. Masih bete, aku banting ke atas kasur, hape yang nada panggilnya sudah ditutup dari tadi. Dan Giri yang menutup telponku yang belum selesai, “ Takut moodnya ilang… “ begitu katanya. Huh..!!
Ruang kelas masih sepi, baru ada beberapa mahasiswa yang duduk manis di kursinya, atau di kantin, sambil mencomoti beberapa potong pisang goreng panas, yang baru diangkat dari penggorengan. Masih lengang kelasku, aku masuk sambil terhuyung, akibat kurang tidur tadi malam. Duduk di bangku paling depan, badan yang lemas, mata yang merah bengkak, dan kepala yang pusing, membuatku merebahkan kepala di atas meja dengan tasku sebagai sandarannya. Lantas mengingat tadi malam, aku begadang. Begadang sambil menangis.
Gimana ga nangis, aku sudah berulang kali mengingatkan Giri, untuk makan yang banyak, sering minum susu, olahraga yang giat, dan lupakan begadang, supaya dia bisa punya body yang bagus, seperti bodynya Doni salah satu team basket terbaik di kampus, atau bodynya Guntur ketua eskul musik yang atletis itu, wajar saja, karena dia memang penggila olahraga. Kalau Giri ? huh.. yang ada, bukannya dia senang diperhatiin, malah jadi bete sama aku.
Suatu hari ketika dia “ ngapel “ ke rumah, dan ketika aku kembali mengingatkannya, mukanya berubah bete, dan menegur aku, “ Mana sempat olahraga, kamu kan tahu, aku aja kalau tidur sudah pagi, masa olahraga siang bolong ?hahahahha… “ kata dia ngeles dan menertawaiku.
“ Makanya, jangan suka begadang.. taauuu..!! “ aku jadi semakin nyolot.
“ Oke.. aku tidak akan pernah begadang lagi, tapi… bisa kamu tutupi segala kebutuhanku dan keluargaku ? Bisa ? “ ocehnya sengit, mukanya mulai merah karena marah.
“ Koq kamu jadi nyolot gitu sih ? aku kan bilang begini, karena aku perhatian sama kamu, bukannya karena apa – apa, emangnya kamu ga pengen punya … “ belum selesai aku menyelesaikan ocehanku, Giri sudah memotong duluan, “ Punya body yang bagus, atletis, dan macho.. ga badan kurus kering kayak aku.. itu kan maksud kamuuu ?? malu kalau aku jemput di kampus, dan teman – teman kamu melihat aku ?? Iya kan ?? “ sekarang giri sudah mulai teriak, dan pergi meninggalkanku.
Jadilah kencanku berantakan. Aku menghela nafas yang semakin terasa kian berat ini, sia – sia aku memanggili namanya, dia seperti angin melejit pergi tanpa mau mendengarkan alasanku. Aku hanya ingin melihat dia tampil menarik, di mata orang – orang, di mata orang tuaku, teman – teman, dan aku.. pastinya, buat apa dia punya pacar, kalau penampilannya masih seperti dulu. Aku hanya ingin melihat Giri sehat, gemuk dan bersih. Apa aku salah ? buktinya, sampai sekarang aku tidak malu jalan dengannya. Aku hanya ingin dia berubah menjadi yang lebih baik lagi. Ini semata karena cinta. Yaa.. pasti karena itu. Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas panjangku, khusus untuk masalah ini. Akhirnya aku tutup malamku masih dengan menangis.
“ Heloooo…!! Any body home ? “ teriak Maya menyadarkanku dari lamunan peristiwa tadi malam.
Aku kaget, dan balas memukul pundaknya, “ Mayaaa… apa – apaan seehh, kaget taauuuu… “ aku cemberut. Maya ketawa ngakak, ngeliat mulutku yang maju tiga meter kalau lagi ngambek. Maya duduk di sampingku, dan membisiki sesuatu di kuping. Aku kaget lagi, dua kali aku kaget pagi ini, pertama kaget yang menyebalkan, kedua, ini kaget yang mengejutkan dan membahagiakan.
“ Neng, jangan bercanda yaaa… pasti kamu salah liat deehh.. “ kataku sambil mendekatkan mukaku pada mukanya.
Sekarang kami sudah berhadapan, aku ambil tangan Maya dan diletakkan di atas dadaku.
“ Gimana neng, detaknya kencang ? “ tanyaku dengan muka serius.
“ Kenceng banget Karin, hati – hati lohh yang kayak gini, umurnya dipastikan tidak akan panjang… “ kata Maya menggodai aku, tidak pelak lagi, serangan cubitan, jitak bahkan gelitikan mampir di sekujur tubuhnya.
“ Kamu liat dia dimana ?” tanyaku lagi. Maya kembali membisiki aku sesuatu, sumpah.. aku beneran tidak percaya, karena memang baru tadi malam, dia marah besar dan akhirnya kita berantem, kog bisa yaaa…
“ Ya sud, kalau kamu tidak percaya… aku hanya mengatakan yang aku lihat saja.. oke nengg.. ayooo ke kantin dulu, lapeerr neh, belum sarapan.. “ tangan maya menarik tanganku keluar kelas. Tadinya mau menolak, tapi… karena pagi ini aku hepi banget, jadinya yah, nurut aja.
Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi penuh, ingatanku hanya pada cerita – cerita Maya saja. Baru kali ini, aku merindukan bunyi bel. Berulangkali, mataku tidak terlepas dari gerakan jarum jam, baik jam yang menempel di dinding kelas, maupun jam yang aku sedang aku pakai.
Dan ketika yang aku tunggui tiba, bukan main senangnya hati, tanpa memperdulikan suara Maya yang memanggil – manggil namaku, aku berlari menyambar tasku dan berlari keluar kelas, terus berlari keluar kampus, dan menghilangkan badan masuk ke dalam angkot. Lima belas menit kemudian, angkot yang membawa aku pergi itu sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah petak yang tidak terlalu besar, dan nampak sederahana, dengan halaman yang kurang lebih menarik karena penuh dengan hamparan bunga – bunga aneka rupa dan warna..ehmmmm, selalu menarik berada di teras rumah ini.
Aku ketuk pintu rumahnya perlahan, tidak lama kemudian, keluar seorang ibu seusia ibuku, membuka pintu, dan membiarkan ciumku mampir di telapak tangannya. Ibu yang cantik keibuan, dengan badan yang masih bagus di usianya ini ( sepertinya patut dicontoh oleh para ibu lainnya.).
“ Nak Karina, apa kabar ? koq jarang main ke sini ? sibuk atau marahan nih ? “ ibu menggodai aku, aku membuang pandangku, takut semu merah di mukaku, ketahuan sama ibu.
“ Maap bu, sekarang ini, kegiatan di kampus lagi padat ( lantas aku mulai menunduk lagi sambil bicara ) kita tidak lagi marahan koq bu.. “ mulutku berkata, tapi mataku tetep melihat ke bawah.
Mendengar penjelasanku, ibu tersenyum dan menggandeng aku masuk ke dalam rumah, di ruang tamu, aku dipersilahkan duduk, dan tidak lama kemudian, keluar bi siti, mengantarkan minuman.
“ Silahkan diminum non.. “ sapa bibi mempersilahkan aku.
Aku mengangguk, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, setelah itu bibi masuk lagi ke dalam. Ibu masuk ke dalam, entah mau apa, mungkin juga memanggil Giri. Duh.. koq aku jadi grogi gini seehh.. apa karna aku baru berantem hebat sama dia ? atau mungkin karena ceritanya Maya ? akkhh.. tau deh, aku ga sabar mau ketemu giri dulu.
Masih menunggu, aku menyebarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, aku terperanjat dan mataku melotot, ketika aku melihat ada seonggok barang yang diletakkan tepat di sudut rumah. Alat apa itu ? aku dekati, dan Oh Tuhan.. aku tidak percaya, mana mungkin ada barang seperti ini disini, Giri musuh sekali dengan barang ini, baru saja aku mau naik dan mencobainya, aku sudah mendengar bunyi langkah kaki, aku lantas kembali pada duduk ku yang semula.
Sekarang, sudah ada Giri duduk di depanku. Untuk beberapa saat, kita saling diam, sampai akhirnya, kita malah jadi ngomong bersamaan.
“ Ya udah kamu dulu..” katanya.
“ Kamu dulu aja ga papa.. “ kataku
“ Kamu dulu ajaaaa… “ Giri memaksa.
“ Apa kabar ? “ tanyaku akhirnya duluan. Sementara Giri hanya cuek tanpa senyum di depanku. Aku bete dan mau nangis rasanya, seperti melihat orang asing di depanku, bukannya Giri. Pacar aku.
“ Sayang, aku dapat kabar dari Maya, kalau kamu… “ belum sempat aku menyelesaikan kata – kataku, Giri sudah memotong duluan, “ Mau ceramah lagi ? mau mengatai badanku yang kurus kering ini lagi, mau bilang kalau kamu malu punya pacar seperti aku ? bukan orang kaya, yang kerjanya hanya jadi penulis serabutan cerita – cerita pendek di majalah ? bau dan dekil, tidak wangi dan atletis seperti cowok – cowok idolamu itu.. Iya kan ? “ Giri terus bicara, sama sekali tidak memberikan kesempatan padaku.
Hancur sudah harapan yang sempat aku bangun tadi pagi di kampus, aku kira Giri akan memberitahukan aku kabar gembira ini, kabar yang seperti aku dapat dari Maya.
Belum sempat mengutarakan pembelaan apapun juga, tanpa sepatah kata, hanya mata yang sudah merah berurai air mata, dan tangan yang meninggalkan selembar kertas di atasnya, kertas yang isinya bercerita tentang cinta.
Aku pulang. Dengan hati yang teriris. Maafkan aku sayang, bukan itu maksudku, aku hanya ingin melihat kamu tampil lebih segar.
Sepulang dari rumah Giri, aku langsung masuk kamar, dan tidak keluar lagi, sampai ada ketukan halus di pintu kamar.
“ Karina, ada Giri di luar, dia mau ketemu… “ itu suara halus ibuku.
“ Bilang saja, aku sudah tidur ibu… “ teriakku dari dalam kamar.
“ Turunlah nak, kamu pasti bahagia melihat ini, ibu yakin.. kasihan nak Giri sudah menunggu dari tadi…” suara ibu masih memohon.
Sementara di dalam kamar, aku turun dari tempat tidur dan dengan malas yang masih menyerang, membuka pintu. Ada muka ibuku yang cantik di depanku.
“ Plis bu, bilang saja, kalau aku sudah tidur… “ aku memohon.
Ibu tersenyum dan menggeleng, “ Masalah diselesaikan sayang , bukan ditinggalkan, lagipula, ibu yakin kalau kamu tidak akan meninggalkan moment ini. Percaya sama ibu nak… “
“ Moment apa ibu ? “ tanyaku tidak mengerti.
“ Turunlah, temui Giri, maka kamu akan mengerti.“ kata ibu sambil menyeret tanganku menuruni tangga, ketika sudah mau sampai di anak tangga terakhir, ibu naik lagi ke atas, sepertinya tidak mau mengganggu acara anak muda.
Pelan aku berjalan ke arah ruang tamu, aku heran melihat ada punggung lelaki yang sedang berdiri di depan teras rumah. Siapa yah orang ini ? jelas bukan Giri. Rambutnya pendek, dia memakai pakaian yang sangat rapi, Jelas ini bukan Giri, tidak seperti dia yang selalu merasa bangga dengan kaos hitam, dan celana jeans belelnya itu. Aku semakin didera rasa penasaran yang luar biasa tentang identitas orang di depanku ini.
“ Kamu siapa yah ? “ tanyaku di belakang punggungnya.
Tidak lama, punggung itu berbalik dan Ya Tuhan… GIRI ?? aku tidak percaya, ini giri aku ? dengan penampilan yang nampaknya luar biasa, dia potong rambut kesayangannya itu, dia ganti bajunya yang selalu tampak lusuh itu dengan kemeja lengan pendek kotak – kotak dan celana jeans yang sudah tidak bolong – bolong, badannya masih kurus, tapi tampak lebih segar dan fresh. Aku masih mengucek – ngucek mata, dan berharap kalau ini bukan mimpi.
“ Kamu pasti tidak percaya, karena aku saja pun tidak percaya.. “ kata Giri sambil membimbing tanganku untuk duduk di depannya. Di teras rumah.
“ So, kenapa kamu lakukan ? bukannya kamu begitu keras menentang aku, bahkan menuduh aku yang bukan – bukan.. “ kataku dengan mata yang mulai merah dan berkaca – kaca.
“ Aku sadar. Kalau apa yang selama ini, aku katakan sama kamu adalah semata rasa gengsiku saja, idealisme seorang seniman seperti aku… “ kata – katanya Giri bagai embun di malam hari.
“ Aku tidak pernah malu mas, jalan sama kamu, punya pacar kurus kering seperti kamu, tapi, apa aku salah, kalau aku mau kamu kelihatan lebih segar saja, tidak melulu kuyu gara – gara kebanyakan begadang. Aku selalu mau tampil cantik di depan kamu, masa kamu tidak mau sih ? “ aku berkata manja dengan sedikit kerlingan.
Giri menatap aku mataku, dan mengambil tanganku, ditaruhnya di dada, “ Sebenarnya, setelah kamu cereweti aku terus, aku sudah mulai sadar, aku sering ikutan fitness bareng temen, bahkan pernah kepergok sama Maya sahabatmu itu, apakah dia cerita ? “ tanya Giri. Aku menggeleng ( padahal bohong ).
“ Aku juga mulai membeli alat olahraga di rumahku, supaya aku bisa melakukannya di rumah, loh, memangnya waktu kamu ke rumah kemarin, kamu tidak liat di pojok ruang tamu ? “ tanya Giri lagi. Aku kembali menggeleng ( padahal bohong lagi )
“ Puncaknya, ketika malam itu kita bertengkar, aku sadar, bahwa semua ini aku lakukan memang buat kamu. Aku langsung lari ke salon deket rumah, dan aku pangkas habis rambutku.. aku mau tampil beda malam ini, hanya buat kamu.. sayang” kata Giri menutup kalimatnya dengan ciuman di keningku, dan pelukan hangat.
Sambil memeluk Giri dengan kuat, aku membiarkan bulir air mataku jatuh dan menetesi pundak Giri. Terima kasih Tuhan, Engkau kabulkan permohonanku, Semoga Giri selalu jadi anugerah terindah dalam hidupku.. amin.
“ Aku sayang kamu Giri.. tadinya aku pikir, dengan segala penolakanmu, aku siap untuk menerima kamu apa adanya, dan tidak akan cerewet lagi, tapi ternyata.. kesetiaanku, mendapat BONUS dariNya.. “ kataku sambil terus memeluknya kuat.
“ Aku lebih takut kehilangan kamu… “ katanya di telingaku.
Setelah bosan berpelukan, kelingking Giri menarik mesra kelingkingku dan kelingking kita pun akhirnya berpautan. Kami saling melirik manja. Cowok yang ( tidak lagi ) kurus kering itu, masih tetap PACARKU.
THE END.













Ahh , kisah lain yang mengetuk lagi dari dunia percintaan
Bagus , dan sangat real ceritanya , walau saya belum pernah digitukan , hahaha!