di bus itu
(Nanang Taruna K)
Hem.. hari ini kejadian menarik sekaligus membuat ku teringat akan masa lalu..Cerita nya dari Blok M mau ke rumah rawamangun naek bus yang ada jalur nya.. orang menyebutnya busway
Tak di duga tak dinyana.. seorang wanita dari belakang menyapa ku dengan tepokan di punggung sambil menyebut namaku.. aku spontan melengos ke belakang.. wew… dia.. yah dia.. wanita dari masa lalu ku yang sangat ku kenal dengan baik.. kini hadir di hadapan ku dengan membawa anak laki2nya. Spontan dia mengulurkan tangannya..sambil menanyakan kabar ku..
Dalam bus yang berjalan pelan itu, yang jumlah penumpang nya tak seberapa, terlibatlah perbincangan basa basi awalnya. Lalu dia perlahan-lahan mulai curcol. Ehm.. edan..kenapa mesti curhat ke gw sih.. ratap ku dalam bathin. Jadilah selama 40 menit perjalanan blok m – dukuh atas – rawamangun jadi ajang curhat sang mantan itu.
Bathin ku mengeluh.. uhgg.. lama bener nih bus jalannya, bosan aku mendengar ocehan ocehan tentang rumah tangganya.. karena itu bukan urusan ku. Ada hijab yang jelas diantara kamu dan aku, pikir ku. Dan bukan kapasitas ku mengomentari cerita mu, toh kamu tak pernah meminta pendapat ku.
Sesampainya di rumah ingatan ku melayang jauh di tahun 2005. Teringat ketika dia bilang akan meninggalkan ku.
“ cum loe tuh lelaki baik.. tapi itu aja ga cukup buat gw saat ini.. gw butuh lelaki yang bisa mencukupi hidup keluarga gw kelak, dan itu ga gw dapet dari loe, gw ga mau hidup susah..tapi biar bagaimanapun.. rasa sayang gw tetep milik loe..gw harap loe ngerti”
Kata-kata sakti itu kembali terngiang di telingaku.. padahal itu sudah berlalu 4 tahun lalu. Kata-kata yang meluluhlantakkan hati dan pikiran ku kala itu. Kata-kata yang membuat aku seperti lelaki pecundang. Kata-kata klise seorang wanita yang ingin meninggalkan kekasihnya hanya untuk membuat kesan baik, kata2 yang membuat ku sedikit berubah pandangan soal wanita.
Hemm…Katanya kau kini menyesal karena telah bodoh memilih lelaki, kini dia, yang kau sebut suami mu itu memang memenuhi semua kebutuhan mu, tapi tidak kehausan mu akan kasih sayang yang tulus dari seorang laki-laki, kini suamimu selalu pulang larut malam, selalu ringan tangan sejak kau memiliki anak. Aku pun membathin dalam hati.. “ ketika kau bersedia menikah dengannya juga bukan karena sesuatu yang berasal dari hati mu kan? Bukan kah kau menikah dengan dia, hanya karena materi karena kau tak mau hidup susah? Lalu kenapa harus mengeluh? “
Hidup ternyata tak melulu soal materi. Ada sisi-sisi lain yang kadang manusia tak tau bahwa selalu ada yang lebih penting dari materi. Kasih sayang yang tulus, memperlakukan pasangan kita layaknya orang yang sangat kita hormati adalah sisi-sisi lain yang harus di pertimbangkan ketika akan nikah nanti. Ah sudah lah… sebuah pelajaran berharga kini kudapat. Bahwa ternyata, ukuran sebuah keluarga bahagia bukan terletak di materi, entah dimana letak sebuah kebahagiaan karena tiap orang pasti beda-beda. Tapi menurutku sebuah keluarga akan bahagia jika kita menikah berdasarkan hati yang ikhlas dan keinginan tulus membangun sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah.
Materi.?? Bisa di cari sama2.. ( begitu kata seorang teman wanita )
Hidup ini sementara.. apa yang bisa dibanggakan dari materi yang berlimpah kalau kita tetap saja tak bersyukur?
Ehm… banyak yang ingin kutuliskan disini sebenarnya.. tapi bathin ini kelu, lidah ini buntu, jari ini seperti tak menentu, dan pikiran ini sedikit seprti ngilu.. kenapa harus teringat kembali kenangan pahit.












