Lelaki Tua dan Buta
(Nchus Assaini)
Seperti biasa, pagi itu sekitar jam 06.00 saya meluncur ke terminal bus. Pukul 06.15 sampai di terminal dan langsung mencari bus yang selalu setia mengantarkan saya ke kantor di daerah Kelapa Gading. Mencari posisi duduk yang enak dan nyaman di bus ini sangat susah didapatkan sebab penghuninya terlalu banyak.
Setelah para penghuni mendapatkan tempatnya masing masing, kini giliran para pengasong, pengamen yang sibuk menawarkan dagangannya. Nyanyian cempreng pengamen pagi itu sungguh mengganggu dan saya pun harusnya tidur-kali ini tidak.
Seorang tua, usia 80-an dan buta masuk ke bus yang saya tumpangi. Tergopoh gopoh mencari tempat duduk, semua orang memperhatikan orangtua itu. Saya ingin sekali mempersilakan tempat duduk saya untuk dia duduki tapi keinginan saya tidak tercapai karena orangtua buta itu memilih duduk paling belakang. Tak lama kemudian bus pun berangkat.
Setengah jam kemudian bus sudah berada di tol dalam kota. Ternyata saya tertidur dan saya pun terbangun karena mendengar pengamen yang suaranya menurut saya tidaklah enak didengar. Ternyata pengamen itu adalah orangtua yang buta tadi, dengan suara seadanya ia mencoba menghibur para penghuni bus. “Kasihan sekali orangtua itu, di usianya yang lanjut ia masih mencari sesuap nasi,” gumam hatiku. “Kemanakah anak-anaknya kok bisa-bisanya membiarkan orangtuanya mengamen, sungguh sangat tidak berbakti anak-anaknya tersebut,” kataku dalam hati kesal.
Menurut saya orangtua buta itu harusnya sudah tinggal nyaman di rumahnya, anak-anaknyalah yang harus mengurus kebutuhannya. Apakah anak-anaknya tidak tahu kalau surga akan diberikan Allah kepada mereka hanya kalau ada ridha dari orangtuanya? Semoga Allah membukakan hati mereka. Saya terus memperhatikan orangtua buta itu dan berjanji dalam hati untuk berusaha membahagiakan orangtuaku yang saya tinggalkan di kampung halaman. Ya Allah, Ampunilah dosaku dan sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil. Amin.












