Sebuah Rumah
Salah satu wanita muda di antara kumpulan orang itu, berkata kepada si pemilik rumah itu :
“Janganlah jual rumah ini, sebab banyak sejarah yang terkandung di dalamnya”
Mereka mencintai rumahnya yang terletak di kaki gunung Merapi.
Mereka mencintai kesejukan udaranya yang kadangkala dapat menusuk tulang di saat subuh hari.
Mereka mencintai kesederhanaan rumah putih itu, yang kadangkala dianggap sebagai sebuah kemewahan oleh segelintir orang lain.
Namun, rumah itu belumlah berarti apapun bagi seorang gadis termuda diantara keluarga pemilik rumah itu. Dia bahkan merasa tidak mempunyai kenangan apapun mengenai rumah itu, selain sebagai rumah tinggalnya saja. Tak lebih dari itu.
Segalanya telah berubah, semenjak hadirnya seorang lelaki yang mengajarkan arti kasih sayang seluruhnya kepada gadis itu, untuk pertama kalinya. Hanya temporer waktunya, hingga rumah itu kembali tak berarti apa-apa bagi gadis itu lagi.
Telah banyak kehidupan yang keluar masuk ke dalam hidup gadis itu, melalui rumah putih itu, namun tetap saja tak berkesan istimewa baginya.
Hanya sebagai tempat untuk transit,
Tempat untuk menonton televisi,
Tempat untuk makan dan minum,
Tempat untuk tidur,
Tempat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya.
Gadis itu teringat kembali kepada perkataan kekasih pertamanya, bahwa lelaki itu ingin gadis itu mengenang rumah itu sebagai tempat perjumpaan dan perpisahan mereka. Namun, hati gadis itu sama sekali tidak tersentuh, masih saja menjaga jarak dengan lelaki itu.
Kini, bersama lelaki yang dianggapnya sebagai tambatan hati terakhir, namun harus berakhir tidak bahagia, gadis itu mulai menganggap sebuah rumah putih itu benar-benar bersejarah baginya.
Di lubuk hatinya, dia akan selalu mempertahankan kenangan itu, yang menjadi bagian dari rumah putih yang bersejarah itu.












