D O A
(Olyvia Santoso)
Pusing aku mendengar doa-doa permohonan itu.
Sebenarnya doa itu apa sich?
Hampir semua doa yang kudengar hanya permohonan agar begini, agar begitu. Pokoknya hanya sesuai dengan kebutuhan si pendoa/orang yang berdoa.
Begitu juga ucapan syukur. Setiap awal misa selalu ada ucapan syukur untuk terkabulnya permohonan anu. Tetap aja intinya terkabulnya kebutuhan si pendoa/orang yang berdoa.
Sebelumnya aku pinta maaf kalo diantara pembaca punya specialisasi sebagai pendoa. Bukan maksud hatiku buat mengecilkan kemampuan dan kebaikan hati kalian untuk mendoakan. Ini hanya berlaku untuk doa secara umum saja.
Aku ini hanya orang bodoh dalam berdoa, walau pernah bercita-cita jadi seorang pendoa. Selama ini doaku juga penuh dengan permohonan ini itu. Sampai suatu hari aku membaca tulisan seorang sahabat di facebook. Lama aku merenungi isi tulisan itu. Merasa terpojok dengan kata-katanya.
Tulisan itu mungkin tidak berarti bagi orang lain, tapi bagiku cukup menampar. Sahabat itu menulis betapa jarangnya orang berdoa seperti Bunda Maria, “terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu” secara tulus. Lebih sering yang terjadi adalah, “terjadilah kehendak-Mu yang sesuai permohonanku.” Emang kita siapa yang bisa memerintah Bapa disurga seperti itu?
Lalu perlahan-lahan aku mulai menelusuri doa-doaku lagi. Mulai mencatat berapa banyak doa permohonan yang kupanjatkan dan berapa banyak pernyataan syukur karena terkabulnya permohonan itu. Hasilnya??? BANYAK NYAK NYAK…
Lalu aku mulai menghitung berapa banyak doa yang kupanjatkan tanpa meminta apapun, kecuali bersyukur atas apa yang sudah disediakan Bapa? O my God, hampir kosong. Alias nol besar.
Bukan salahku atau salah siapapun yang doa memohon pada Bapa. Buktinya, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan Doa Bapa Kami yang sarat dengan permohonan. Mulai dari “berikanlah kami rejeki pada hari ini” sampai “ampunilah kesalahan kami..”, jadi memohon itu bukan kesalahan.
Tapi kalau mendikte agar permohonan itu dikabulkan, itu baru salah. Itu juga yang kurasakan ketika mengecek satu per satu permohonanku yang belum (bukan tidak) dikabulkan. Ada permohonan yang begitu ngotot kuajukan, sampai-sampai aku tidak mau menerima jawaban TIDAK dari-Nya. Lagi, lagi dan lagi, kuajukan permohonan itu. Dan aku rasa itu bukan hanya permasalahanku saja. Banyak diantara kita yang melakukan hal yang sama. Disisi lain, ucapan syukur yang terucap dari mulutku pun kadang tidak tulus. Masih ada embel-embelnya. Itu juga buntut karena merasa permohonan yang tidak dikabulkan secara sempurna.
Sekarang aku mulai berusaha berubah, berusaha melihat doa sebagai ‘cara bicara’ yang baru dengan Bapa. Kadang aku hanya menceritakan kejadian yang kualami, bahkan mengajak Bapa bergosip soal sekelilingku (walau akhirnya aku merasa dijitak karena gosipnya kelewatan hehe). Aku mulai belajar bersyukur atas apapun yang terjadi. Mulai dari udara, keluarga, sampai rejeki yang Dia berikan. Bahkan ketika sudah marah-marahpun, aku berusaha bersyukur karena bisa belajar hal baru untuk ketenangan dihari selanjutnya.
Percaya atau tidak, selain doa Bapa Kami yang sering diucapkan pangeran kecilku secara celemotan (kadang ada yang lupa, ada yang salah lokasi), doa yang sering dilantunkannya hanya “Bapa, terima kasih sudah mau menjaga kami sepanjang hari ini, sekarang kami mau tidur. Amin.” Pangeranku bahkan tidak minta dijaga waktu tidur. Ketika kutanya kenapa dia memangkas doanya dengan tidak meminta Bapa menjaganya sewaktu tidur, dia hanya menjawab, “Tidak di minta juga sudah dijaga koq Ma.” O my God, ternyata pangeranku malah lebih pintar berdoa daripada mamanya.
Belajar dari pangeran kecilku, aku mulai membuka hati dengan berusaha menerima keputusan-Nya dengan lebih tabah. Sebab bukannya Bapa di surga sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kita semua? Memohon itu baik, tapi lebih baik kalau kita belajar mengucap syukur secara tulus dari dalam hati atas semua ‘jawaban’ permohonan kita.
Tulisan ini bukan dimaksudkan agar kita jadi malas berdoa, namun mengajak semua yang membaca agar bisa melihat ‘bentuk doa’ yang lain. Karena bagiku, setiap kita berbicara dengan-Nya adalah berdoa. Dan doa tidak hanya bisa dilantunkan dalam kesempatan khusus dan atau ditempat khusus, namun doa juga bisa dilantunkan setiap saat. Bahkan disetiap tarikan nafas yang kita lakukan. Semoga tulisan ini bisa mengajak semua agar ‘berbicara’ dengan Bapa bukan hanya ‘bila kubutuhkan’ namun juga saat tidak ada permohonan yang mau diajukan.













gue demen nih sama ni tulisan, pendek sarat makna.. (sok tau banget ya? hehe..)
kadang apa yg menurut kita baik untuk diri kita kan belum tentu baik menurut Tuhan ya… karena Dia adalah Sang Maha Mengetahui..
Ma’kasih
ini jg baru sadar diri (emang seblomnya pingsan ya? Hehe)