Intermezzo : Mie Cinta

(Olyvia Santoso)

Benda tipis, kenyal, dan kadang berbentuk kriting yang bernama mie itu selalu membuat Amel jijik. Entah mengapa, setiap melihat benda itu di sajikan dalam bentuk apapun, Amel selalu menghindar. Selidik punya selidik, ternyata sewaktu kecil, Amel pernah tersedak mie hingga muntah hebat.

Hari ini terpaksa Amel kembali menghadapi masalah mie lagi walau selama ini dia selalu berhasil menghindar. Sambil menarik nafas berat, Amel menyetujui permintaan Willis untuk menghadiri pesta dirumahnya. Hubungan Amel dan Willis sudah berjalan enam bulan, cukup lama untuk masa perkenalan. Ajakan Willis malam ini adalah bukti keseriusan hubungan mereka. Karena Willis mau memperkenalkan Amel pada keluarga besarnya. Masalahnya, tadi Willis sempat menginformasikan kalau menu utama malam ini adalah Mie Goreng Kwantung kebanggan mamanya. Mendengar itu, jantung Amel sempat berhenti berdetak.


‘O no!’ jerit Amel dalam benaknya.
“Itu masakan favorit Mamaku, Mel. Dan semua orang yang pernah memakan masakannya, pasti memuji enak. Jadi malam ini mama mau masakin itu buat kamu,” kata Willis diujung seberang telepon.
Dalam hati Amel bersyukur karena informasi ini hanya diberikan lewat telepon. Tapi disisi lain Amel cukup jengkel karena ternyata selama mereka jalan bersama, Willis ternyata tidak mengenal fobianya terhadap mie. Padahal menurutnya, Willis seharusnya tahu kalo selama ini Amel selalu menghindari masuk ke tempat-tempat yang menyediakan mie. Kalaupun harus masuk, dia akan memesan menu yang tidak ada hubungannya dengan mie.
“Tolong bilang ma’kasih deh ama mama kamu. Nggak usah repot-repot masakan buat aku,” tolak Amel halus sambil bersandar pada kursi kerjanya. Benaknya berputar mencari alasan buat menolak ajakan Willis. Atau lebih tepatnya, cara menolak tawaran makan mie buatan Mama Willis tanpa harus menyinggung orang tua.
“Nggak masalah koq, Mel. Itu selalu menu yang ditunggu semua keluarga kami kalau ada acara keluarga besar seperti malam ini,” suara Willis tampak bersemangat.
“Tapi…”
“Nanti aku jemput jam setengah tujuh di mess kantormu,” potong Willis, “Sekarang sudah dulu ya, ada yang harus aku kerjakan.”
Dan sambungan teleponpun diputus, meninggalkan Amel menggerutu sendirian. Ditatapnya hasil ujian bahasa Inggris anak muridnya tanpa suara, sebab pikirannya mulai melayang pergi.
Amel adalah guru pengajar dikursus bahasa Inggis yang cukup terkenal di Surabaya. Profesi itulah yang memperkenalkannya pada Willis yang bekerja sebagai staff marketing disebuah perusahaan keluarga. Dalam kapasitasnya sebagai staff marketing, Willis dituntut cakap dalam menggunakan bahasa Inggris, sehingga dia mendaftar jadi murid di tempat kursus Amel. Itu kejadian enam bulan lalu.
***
Ketika mematut diri untuk terakhir kalinya di depan cermin, akhirnya Amel puas melihat pantulan bayangannya. Sebuah gaun merah muda dengan aksen bunga-bunga kecil di bagian rok, wajah putih merona akibat pulasan makeup, dipadu tas tangan putih dan sepatu bertali, membuatnya kelihatan lebih muda beberapa tahun. Ditambahnya sedikit lipstik dan menyisir rambut pendeknya, dan Amelpun siap.
Tepat waktu, sebab tak lama berselang terdengar suara Willis dibalik pintu kamarnya memanggil Amel. Dengan langkah pasti Amel melangkah keluar kamar dan menyapa Willis dengan manis.
“Hai Will,” sapa Amel.
“Malam Mel. Kau kelihatan cantik malam ini,” puji Willi sambil menatap Amel dari atas kebawah.
“Kita langsung berangkat yuk,” ajak Willi sambil mengulurkan tangan buat menggandeng Amel menuju sepeda motornya yang terparkir pas depan kamar Amel.
Sepanjang perjalanan kerumah Willis, Amel bersikeras menyakinkan diri kalau dia bisa menolak secara halus tawaran Mamanya Willis untuk menyantap mie. Keyakinan itu juga yang meringankan langkah Amel ketika akhirnya Willis mengentikan motornya didepan sebuat ruko dikawasan Rungkut. Dengan digandeng Willis, Amel masuk kedalam rumah.
Ruangan pertama mereka masuki adalah toko, dari sana mereka menuju ruang makan yang terletak di lantai dua. Disana sudah menunggu banyak orang. Willis memperkenalkan Amel pada keluarganya dengan senyum bahagia. Amelpun senang karena akhirnya Willis mengakui secara terbuka hubungan mereka. Disana Amel bisa membaur dan berbincang dengan saudara sepupu Willis. Sampai tiba saatnya makan malam.
“Mel, makan yuk,” ajak Willis ketika mamanya sudah mengumumkan makan sudah siap disantap.
Muka Amel jadi pucat. Namun dia tetap berusaha tenang. Tepat sebelum semua orang memulai makan malam, Willis mengantar semangkuk sop kehadapan Amel.
“Mel, aku tahu kamu tidak suka mie. Jadi ini aku buat khusus buat kamu,” kata Willis sambil menyodorkan mangkok yang diterima Amel dengan wajah bahagia.
Ternyata Willis mengerti kalau dia tidak suka mie. Langsung diseruputnya sop itu. Rasanya lezat sekali. Ketika berhasil menghabiskan sop lezat itu, Amel menoleh pada Willis dan bertanya, “Enak sekali, sop apa ini?”
“Sop Mie Cinta,” jawab Willis.
“Mie?” tanya Amel dengan mata terbelalak.
“Ya, potongan putih yang kecil-kecil itu namanya mie,” sahut Willis sambil tersenyum.
“Sengaja aku potong kecil-kecil, karena aku tahu kamu tidak suka mie. Pikirku, selama kamu tidak melihat wujud mie yang panjang, kamu pasti bisa makan mie,” jelas Willis.
“Jadi tadi aku makan Mie?” tanya Amel tidak percaya.
“Iya, itu mie,” tegas Willis.
“Lagian kamu harus belajar makan Mie. Masak keluarga pabrik mie punya mantu fobia sama mie?” lanjut Willis tersenyum.
Apa??? Keluarga Willis adalah penjual mie??? Dan dia harus hidup dengan mie tiap hari? Amel langsung pingsan dalam kengerian.



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment