me

(Olyvia Santoso)

Biasanya hari tidak sepanas ini. Entah mengapa matahari seakan tidak mau bersahabat lagi denganku. Padahal kue daganganku belum habis terjual. Kalau hari ini juga tidak habis terjual aku tidak tahu harus alasan apa lagi pada bapak tua.

Bapak tua bukan orang tuaku, dia hanya “pengasuh” bagiku dan teman-temanku sesama anak gelandangan. Aku tidak tahu siapa orang tuaku sebenarnya. Kata bapak tua, dia menemukanku menangis dipinggir kali tempat kami tinggal sekarang. Itu sudah lewat bertahun -tahun lamanya. Saat itu tubuhku hanya menggunakan baju kaos tipis dengan tulisan “ME”. Sampai sekarang kaos itu masih kusimpan dengan baik. Entah untuk apa.

Bapak tua tidak menghendaki kami mengemis dijalan-jalan seperti “pengasuh” lainnya. Menurut Bapak tua, pekerjaan itu tidak baik. Dimana tidak baiknya aku tidak mengerti. Padahal dari mengamen dan menulis aku bisa mendapatkan lebih banyak daripada berjualan kue seperti hari ini. Kue-kue ini kami peroleh dari pabrik roti yang ada di ujung jalan, katanya ini adalah kue sisa yang tidak layak untuk di jual pada orang-orang kaya yang biasa membeli kue di toko-toko roti terkenal.

Padahal kue-kue ini enak rasanya. Kalau kue-kue ini tidak laku maka bapak tua akan membagikannnya kepada kami sebagai makan malam. Tapi kue jualanku sudah tiga hari tidak habis terjual padahal hari ini aku sudah berangkat lebih pagi dari biasanya. Bagaimana ini…..

Tapi seperti yang aku lakukan selama tiga hati belakangan ini, langkahku selalu berhenti disebuah pojok jalan. Disana ada kakak yang sangat ramah selalu menyapa dan memberiku biskuit. Awalnya tidak kupedulikan, namun lama kelamaan hatiku jadi tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh kakak itu bersama teman-temannya dipojok jalan itu.

Apakah mereka lagi berdemo ya? Sebenarnya aku tidak mengerti arti kata itu, yang kutahu hanya kalau ada demo maka daganganku akan laris. Apalagi menjelang waktu makan siang dan sore hari. Tapi mengapa mereka tidak membawa alat pengeras suara yang biasanya dipakai para pendemo ya? Hatiku bertanya-tanya.

Dipojok itu kulihat sebuah papan hitam ditaruh ditanah, didepannya terhampar tikar lusuh yang sudah tidak dapat kusebutkan warnanya. Biasanya ada sekitar emapt sampai enam orang kakak disana, tapi hari ini hanya ada dua orang. Aku tidak tahu nama-nama mereka, mereka hanya meminta kami memanggil mereka kakak. Diatas tikar tampak beberapa buah-buahan, apa hari ini aku akan mendapatkan buah pengganti biskuit yang selama ini kusukai? Tapi tak apalah kalau memang buah itu untukku. Buah itu dapat kuberikan kepada bapak tua yang selama ini telah mengasuhku.

“Leh…soleh….ayo kemari,” ajak salah seorang kakak dari atas tikar itu.

Kulangkahkan kakiku malu-malu kearah tikar sambil tetap menatap buah-buah itu. Tak terasa kutelan air liurku melihat buah yang kelihatannya manis-manis itu. Pasti enak rasanya pikirku. Seberapa banyak yang akan diberikannya padaku ya?

“Ayo leh…kemari,” ajak kakak itu sekali lagi.

“Umurmu berapa tahun leh?” tanya kakak itu ketika aku telah sampai didepannya.

Aku tidak tahu mau menjawab apa karena tidak mengetahui apa yang kakak itu tanyakan. Jadi kugelengkan kepalaku, dengan harapan kakak itu mengerti jawabanku.

“Kamu tidak tahu umurmu berapa?” tanyanya lagi.

Kembali kugelengkan kepalaku.

“Mau belajar tidak?”

Kulihat mulut kakak itu bergerak-gerak, namun tetap tidak kumengerti apa artinya. Kembali kepalaku kugeleng-gelengkan. Apakah itu artinya kakak itu akan memberikan buah-buahan itu kepadaku? Aku tidak tahu.

“Kamu tidak mau belajar? Tidak mau membaca dan menulis? Tidak mau pintar leh?”

Apa sebenarnya mau kakak ini?? Apakah dia marah kepadaku dan tidak akan memberikan buah-buahan yang diatas tikar itu kepadaku? Apakah dia berubah pikiran? Waduh…kasihan bapak tua, sudah kue-kueku tidak habis terjual, dia tidak akan dapat buah juga.

Tiba-tiba kurasa ada sepasang tangan dipundakku, kutolehkan kepalaku kearah belakang. Ternyata bapak tua sudah ada dibelakangku. Kulihat mulutnya bergerak-gerak, entah apa maksudnya, tapi kulihat raut wajah kakak itu berubah menjadi iba kepadaku.

“Maaf dik, anak ini bisu tuli dari kecil. Dia tidak mengerti apapun yang adik katakan padanya. Maaf ya….,” kemudian Bapak tua menarik tanganku menjauh dari kakak-kakak itu.

Ternyata kakak itu tidak memberikankanku buah yang ada diatas tikar itu, hatiku menjadi sedihnya. Mengapa aku tidak bisa mengerti apa yang kakak itu kehendaki? Seandainya aku dapat mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut kakak itu mungkin tadi aku akan mendapatkan buah untuk bapak tua. Sungguh aku menyesal……

Baca juga

  • Aku Tersesat
  • Lembah karmel – cikanyere cipanas
  • Don’t Judge the Man by His Book
  • Selembar purnama
  • ‘Val’phobia ( part 1 )
  • Sempurna
  • HappyThankYouMorePlease
  • Di Langit Biru
  • Terbang Pergi…
  • Terserah

Comments (2)

Frans IndroyonoSeptember 24th, 2009 at 12:21 pm

apakah cerita ini bersambung?

shinta mirandaSeptember 24th, 2009 at 12:38 pm

Duh, sedih ya…ingat lagu jadul ” Nobody’s Child “….menyentuh ceritanya, Olyv !!

Leave a comment

Your comment