Mimpi buruk
(Olyvia Santoso)
Malam ini dingin sekali, berbeda dengan malam-malam lainnya. Apa ini hanya perasaanku saja? Kucoba tepis prasangka buruk dari otakku. Ehmmm….kenapa saat-saat begini gak kupakai tidur aja ya??? Kan pasti enak. Mana suasananya sunyi sepi trus hawanya dingin…yups…kutetapkan niatku untuk segera menggapai mimpi.
“Hen….hen…..bangun Hen….”
Terdengar suara emergency call ditelingaku. Siapa sich yang ribut gini bangunin aku??? Emangnya ada kejadian apa yang menyebabkan emergency call gini?? Malas-malasan kubuka mataku.
“E..u..u..hem…hoammmm…..ada apa mel? Kog suaramu kedengaran panik begitu?” tanyaku ketika mata mulai mengenali wajah Melani teman kostku.
“Pokoknya bangun, ayo ikut aku! Jangan bertanya macam-macam!” sambil berkata begitu tanganku ditariknya kearah pintu samping rumah.
Memangnya ada apa sich? Pikiranku masih bingung tercampur aduk antara kondisi tidur yang dibangunkan tapi tidak sepantasnya dengan rasa penasaran.
Ngapain Melani disini? Memangnya kapan dia datang? Bukannya baru kemarin dia pamit pulang mudik? Perasaan cuman aku yang tertinggal jaga kost.
O iya, mbok nun mana? Kenapa sepi sekali rumah ini? Kenapa pula Melani menarikku ke pintu samping dan bukan ke pintu depan? Ada apa ini?
Aaarrrrgggghhhh…..pikiranku masih ada dialam mimpi sebagian, atau jangan-jangan ini juga hanya mimpi? Tapi koq terasa nyata ya?
Tangan Melani yang menarikku dengan tergesa-gesa terasa sangat dingin. Upsss…..pikiran jelek segera masuk dalam hayalanku.
Jangan-jangan……
Nggak nggak nggak….nggak mungkin ada apa-apa yang terjadi pada Mel.
Tapi kenapa tangannya dingin? Tak terasa bulu kudukku merinding. Berbagai kisah-kisah horor kembali menyerang hayalanku. Tadi sebelum tidurpun aku sempat membaca fiksi horor dimajalah yang ditinggalkan Mel sebelum dia pamit. Apa ini juga termasuk salah satu kisah itu ya?? Ihksss…..takut…..
Suka ga suka, rela ga rela, kakiku terseret-seret terus melangkah mengikuti Mel. Gimana mau berhenti atau memberontak, la wong cengkraman tangannya keras sekali dan langkah kakinya cepat seperti dikejar hantu.
“Mel, mau kemana sich? Pelan dikit napa?” keluhku.
“Gak bisa Hen, ayo cepat! Biasanya loe kalo jalan cepat, koq sekarang lamban sich?”
Nah….satu lagi keanehan “Mel” ini. Yang kutahu Mel tidak pernah bicara loe gue. Selalu santun, maklum anak Solo. Kenapa sekarang berubah? Hatiku semakin ciut, ketakutan mulai menyerang. Masa sich sekarang aku jadi anggota horor? Gak mau akh….ini pasti mimpi dan aku harus berhasil bangun dari tidurku.
Seharusnya aku sadar dari tadi kalau malam ini terlalu sunyi, terlalu sepi. Belum lagi tidak biasanya udara menjadi sedingin itu, apalagi kamarku tidak berAC. Ihks….takut….
Tidak terasa langkah kami sudah sampai ke pintu, tapi semakin dekat hatiku semakin takut. Duh….apa yang ada dibalik pintu itu ya? Jangan-jangan pintu ke dunia lain…huaaaaaaaaaa…….tambah takut…..
Cepat-cepat kugali ingatanku yang masih waras untuk menngingat apa yang ada dibalik pintu samping. Kalau tidak salah ada lapangan yang cukup luas nyambung dengan rumah kostku. Biasanya lapangan itu dipakai sebagai playground untuk anak-anak kecil diperumahan sini. Maklum ada perosotan, jungkat-jangkit, dan ayunan.
Lapangan itu cukup asri karena ada pohon-pohon besar disana. Ada pohon mangga, pohon jambu dan tanaman bambu. Ups….bukannya dulu aku pernah baca kalau penghuni “dunia lain” suka yang begituan? Astaga…..otakku semakin tidak mau berkompromi untuk berfikir sehat dan logis. Ini pasti karena aku senang membaca fiksi horor.
“O Tuhan, tolonglah hambamu ini,” doaku dalam hati ketika melihat Mel membuka pintu dengan mudahnya. Astaga, bukannya pintu ini selalu terkunci biar gak ada pencuri masuk?
Tiba-tiba Mel tidak mencengkram tanganku lagi. Rada dingin itu hilang seiring ilangnya Mel dari hadapanku. Kemana dia? Karena terlalu sibuk dengan ketakutanku, aku jadi tidak mengetahui kapan dia melepaskanku. Mana disini gelap lagi.
“Heeeeeennnnnnnnnn………”
Seraut wajah yang diterangi sinar redup muncul disebelahku, seketika kutolehkan wajahku kearah lain. Namun tetap muncul wajah yang lain.
“Hennnnnnyyyyyyyyyyyyy…………….”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………..” jeritku ketakutan.
Tiba-tiba muncul cahaya lilin lengkap dengan nyanyian…
Happy birthday to you….
Happy birthday to you…..
Happy birthday to you……
“Slamat ya sayang,” terdengar suara Mel disamping kiriku.
Masih belum sadar sepenuhnya aku kembali melayangkan pandangan ke sekelilingku dan mulai mengenali satu per satu teman-temanku.
“Ini beneran kamu Mel? ” tanyaku ragu.
“Ya iya la, kamu kirain sapa?”
“Tapi tadi tanganmu dingin……”
“Kalau saja kamu tahu berapa lama harus kurendam tanganku di kantong es sebelum masuk kamarmu, pasti bakalan kaget. Hehehhe” jelasnya.
“Hennnnyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy……………….”
Sontak kubalikkan badanku kembali menuju arah suara itu. Ternyata yang ada disana Poltak anak Batak yang kost diseberang rumah kostku. Wajahnya disorot pakai lampu senter.
O Tuhan….untunglah ini semua bukan mimpi buruk, apalagi sampai beneran ketemu ama anggota dunia lain. Inilah akibatnya kalau suka membaca fiksi horor sebelum tidur, otakku jadi ketakutan sendiri. ASTAGA…….
Ihksss….ihksss……..ternyata hari ini ulang tahunku….ini kejutan yang paling berkesan untukku.
Dedicated to everyone here……












hua ha ha ha…….ngakak deh aku….!! Tapi serem juga neeh..aku khan tinggal sendirian, ntar terbawa pula mimpi buruk…..sama si Poltak…..Lucu, Olyv..bikin lagi dong..!!
Thx bun…tadinya bingung mau dibawa kemana…..hehehe akhirnya dibawa hepi aja biar pd senang…….
nah ada juga yang nulis suspense hehehe