My Kids : Prying

(Olyvia Santoso)

Paskah…
Tapi malahan aku tidak bisa ke rumah Bapa.
Sibuk?
Alasan konyol… Karena emang ga tauk sibuk apa.

Ditengah kejengkelanku pada diri sendiri, aku belakar satu hal lagi dari anak-anakku. Berdoa.
Berbeda dengan belajar berdoa sederhana yang penuh syukur seperti yang dulu pernah kuceritakan. Kali ini aku belajar berdoa “dimana saja, kapan saja.” Seperti yang dilakukan oleh kedua malaekatku, Michael (4,5) dan Angel (2) setiap saat.


Sebagai orang yang mengaku dewasa, aku harus malu pada anak-anakku. Mereka yang masih kecil, polos, tidak mengerti, atau apapun sebutannya, rajin berdoa. Setiap saat dimana saja.
Saat mau makan, Michael tanpa disuruh langsung membuat tanda Salib dan berdoa. Doa sederhana ala anak-anak. Kalau udah ditempat tidur, Michael selalu duduk berdoa. Itu juga tanpa disuruh. Padahal aku sebagai mama saja sering lupa.
Bahkan, Michael sekarang lagi belajar mengucapkan doa dalam bahasa Inggris. Setiap berdoa, dia selalu minta menggunakan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris kumur-kumur plus kurangnya penghafalan vocabulary, Michaelku selalu berhasil berdoa. Doa yang memuaskan hatinya. Itu aku yakin, karena selalu melihat senyum puasnya setelah berdoa. O my mighty God, thank you for giving me such great boy as my son.
Lain lagi dengan Angelku. Memang setiap melihat Michael berdoa, dia juga langsung ikut serta (kecuali waktu botol susunya lebih menarik). Tapi bukan terus dia tidak berdoa. Setelah susu habis, dia juga langsung duduk manis, mengatur bonekanya, dan semua disuruh berdoa. Diajar tanda Salib, disuruh tutup mata, trus berdoa dipimpin Angel.
Angelku juga termasuk anak aktif, tapi kalau mau dia tenang, kasih aja Kitab Suci. Dijamin dia bisa sibuk sendiri sekitar setengah jam. Belum lagi kalau lagi mood, semua orang disuruh berdoa bersama, saat itu juga. Kalau menolak, pasti Angel akan berusaha membujuk sambil ngomel. Hebat kan?
Bangga? PASTI! Siapa tidak bangga punya anak-anak hebat? Tapi disisi lain, aku malu. Malu pada Michael dan Angel yang selalu ingat berdoa. Malu pada Angel yang suka membuka Kitab Suci walau belum tahu membaca. Malu pada anak-anakku yang setiap saat siap berdoa. Sementara mamanya malah sibuk sendiri sampai tidak sempat berkunjung ke Rumah Bapa, bahkan saat penyelamatan itu sendiri.
Selama ini aku selalu berlindung dibalik Michael dan Angel kalau ditanya kenapa tidak mengisi daftar hadir pas Natal atau Paskah. Selalu memakai mereka jadi alasan (kebetulan salah satu dari mereka selalu ikut) takut terpisah dengan anak-anak karena terlalu ramai. Padahal? Aku sendiri tidak tahu apa alasannya.

Senang?
Pasti!
Bangga?
Pasti!
Malu?
YA!
Jadi?
Semoga besok kami bisa ikut misa Paskah.

Tertarik dengan yang ini?

  • Hujan Putih
  • (9 Juli 2010) Terima Kasih, Tuhan
  • Terima Kasih Tuhan
  • Selamat Jalan, Koh
  • Butuh Jatuh Untuk Bangkit
  • SalibNya
  • Mom
  • Ya Bapa, Ijinkan Aku
  • D O A
  • Pemenang atau Pecundang?

Leave a comment

Your comment