romantic stories
(Olyvia Santoso)
Seberapa pantas sich aku jadi pengganggu mereka? Kenapa setiap mau keluar mereka selalu mengajakku? Memang sich ada poltak juga ikut, tapi nggak seru akh nemenin orang kencan. Apalagi kalo dicuekin gini. Salahku juga sih, mau aja terbujuk rayu, pikirku cemberut.
“Hen…heni…” Tiba-tiba telapak tangan kiriku dipegang seseorang, dan badanku tersentak ke belakang…. Sialan, siapa orang kurang ajar ini ya? Sambil berpikir begitu kubalikkan badanku dan mengayunkan tangan kananku dalam posisi siap menampar. O my God…..ternyata Josh. Tapi ngapain juga dia main pegang tangan seenak jidatnya? Dia pikir dia siapa? Tangan yang mengayun tak sempat kuhentikan.
“Upss….sabar non,ini aku, Josh,” katanya sambil menangkap tangganku.
“Ngapain juga pake pegang tangan segala, ga punya malu ya? Megang-megang sembarangan aja,” semburku marah.
“Sapa suruh juga nggak liat jalan? Tadi semuanya udah belok dibelakang sana. Lagian dari tadi aku udah manggil tapi kamunya aja yang melamun.”
O-o…dimana ini? Kenapa sekelilingku banyak pohon? Waduh, iya juga ya..akukan lagi ikut outbond. Gila juga kalo sampai kesasar. Untung Josh mengejarku. “Ehem..e..ya…e…thank’s ya uda ngejar aku. Kalo nggak, aku mungkin uda kesasar,” ngakuku malu.
“It’s ok. Hilang kemanapun pasti bisa kutemukan koq. Ayo lewat sini,” sambil berkata begitu ditariknya tanganku. O no…kenapa jantungku jadi berdebar kencang ya? Kenapa juga tanganku tidak dilepaskannya? Perlahan tapi pasti mukaku mulai merona.
***
“Josh….disini!” kudengar suara Poltak memanggil. Langkah kaki Josh mulai melambat ketika kami mendekati rombongan yang sudah sampai duluan di areal air terjun. Tapi kenapa tanganku masih digenggamnya? Waduh, kacau nih…bisa-bisa Mel ngambek kalau sampai ketahuan. Kucoba menarik tanganku secara halus tapi tetap terpegang kuat.
“Udah Josh, udah nyampe. Itu Mel dan Poltak udah keliatan. Aku nggak bakal ilang deh,” candaku sambil tetap berusaha melepaskan genggamannya.
“Ok. Lain kali hati-hati. Jangan melamun terus. Diculik wewe gombel baru tauk rasa, hehehe.”
Belum sempat kujawab, tiba-tiba Mel mengagetkanku dari belakang dengan suara digetarkan, “Nennnniiiiiiiiiiiiiiiiii…….”
“Arggghhh,” tanpa sengaja aku langsung meloncat kearah Josh yang refleks memelukku. Sekarang ini aku rada sensi kalau mendengar nama kecilku itu. Selalu terbayang kejadian si Jarik dan Eyang Kangkung.
“Sudah..sudah…cuman Mel koq takut?” suara Josh berusaha menenangkanku.
“Hahaha… Mel, iseng juga kau. Lihat muka si Heni pucat seperti kapas. Tapi sampai kapan pula kalian mau berpelukan seperti itu? Kesempatan ya?” kata Poltak yang sudah sampai ketempat kami berdiri.
Astaga, langsung saja kulepaskan pelukan pelukan Josh. Mati aku!!! “Nggak seru akh, ke sana yuk Hen,” ajak Mel mengalihkan pembicaraan dan membawaku ke arah air terjun.
***
Lokasi : Perkemahan, didepan api unggun. Waktu : Menjelang tengah malam.
Aku harus berbicara dengan Josh mengenai tadi siang. Aku tidak mau dia, Poltak, terutama Mel salah paham. Aku HARUS bicara dengan Josh, tegasku sekali lagi dalam hati. Tapi mengapa hatiku sakit? Ada apa ini? Nah, itu Josh didepan api unggun. Kayaknya dia lagi sendirian. Semoga tidak ada orang lain, aku pasti malu kalau ketahuan yang lainnya. Perlahan kulangkahkan kakiku kearahnya. Tapi, saat akan kusapa, terdengar suara Poltak dari balik pohon. Nadanya cukup serius. Tadi langsung timbul niat untuk meninggalkan tempatku berdiri, tapi rasa penasaranku timbul mendengar namaku disebut.
“Bagaimana pula kau itu, masak pelukan dengan Heni didepan umum? Apa kau sudah tidak ingat janjimu pada Mel?” (Janji? Janji apa?)
“Aku tidak tahu Tak. Semuanya reflex begitu saja. Bukan niatku memeluk Heni seperti itu, sungguh!” terdengar suara Josh menyesal. (Tunggu dulu, itukan ‘kecelakaan’, tanpa unsur kesengajaan.)
“Bah, bagaimana pendapatnya? Sudah kau tanya setelah kejadian tadi?” kudengar suara Poltak kembali. (Siapa yang mau ditanya? Aku? Atau Mel?)
“Menurutku, kejadian tadi seharusnya bisa memancing emosinya. Jadi aku bisa tahu apa langkah selanjutnya.”
“Maksudmu?” (Iya, maksudnya apa ya?)
“Maksudku, lihat reaksinya dulu. Selama ini keadaan aku tidak pernah tahu perasaan sebenarnya padaku. Gimana caranya mau maju ato nggak?”
“Kejadian tadi lu anggap pancingan bro?” (Pancingan? Dan aku umpannya?)
“Begitulah kira-kira.”
Sampai disana kuputuskan tidak mau mendengarkan lagi. Berani benar dia menganggap aku umpan. Jadi dia sengaja megang tanganku trus tadi siang, dan memelukku ketika aku ketakutan hanya buat mancing reaksi Mel? Apa susahnya sich datangin si Mel trus bilang, “Mel,i love u atao wo ai ni ato teamor”? Kenapa harus aku dikorbanin? Emangnya aku ada tampang kambing ato sapi kurban apa? Emang sich kata orang-orang aku cubby, tapi nggak segitunya kan? Busyet, kukira hati Josh semanis tampangnya, ternyata ada unsur pemanfaatan juga. Dan aku korbannya, sialan! Padahal hatiku tadi sudah sempat kebat-kebit waktu didekatnya.
“Hen, ada apa? Kenapa mukamu pucat? Sakit?” tanya Mel ketika aku melewatinya tanpa menyapa.
“Nggak papa koq. Aku capek saja. Mau tidur. Malam Mel.”
Kemudian kurebahkan kepalaku di tikar samping Mel. Saat ini aku lagi tidak mau berbicara dengan siapapun. Hatiku masih didera kejengkelan pada Josh. Dengan hati penuh amarah kucoba untuk tertidur. Tapi bukannya menenangkan, malah perasaanku semakin kalut. Tidurku tidak tenang, seakan ada hal lain yang menggangguku selain masalah Josh. Ugh…sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua jadi begini? Apa ini? Tempat apa ini? Dimana semua orang???
***
JOSH
Lokasi : Masih di Depan Api Unggun. Waktu : Menjelang subuh.
Rasanya hatiku loncat kegirangan ketika tadi Heni ketakutan dipelukanku. Apalagi sewaktu melihat Mel melotot lalu menarik Heni menjauh. Rasanya dunia berhenti seketika. Entah aku harus berterima kasih atau mengeluh atas kejadian itu. Kasihan juga melihat wajah pucat pasinya Heni ketika dikagetin Mel. Tak kusangka dia masih begitu trauma dengan kejadian di desa Eyang Putrinya dulu. Tubuhnya menggigil ketakutan ketika kupeluk. Tapi anehnya, aku merasa senang menjadi sumber amannya seperti itu. Sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah kupeluk. Namun, tak dapat kusangkali, Heni memang bukan gadis biasa. Masih kuingat pertama kali melihatnya. Waktu itu masa orientasi kampus, aku ingat sekali. Sebagi nasib mahasiswa transferan dari kota lain, aku masih harus mengikuti orientasi kampus. Lumayan, banyak teman baru namun tak sedikit keusilan panitia yang kurasakan. Heni saat itu bertugas sebagai pendamping kelas sebelahku. Sikapnya yang tegas namun penuh perhatian sanggup mengambil hati seluruh adik yang didampinginya. Satu hal yang pasti, walau marah, mukanya akan berubah jadi lucu. She so pretty when ungry. Apalagi saat bercanda dengan teman-teman panitia lainnya, she take my hearth with her. Tak terasa senyumku mengembang saat mengingat masa itu. Sayangnya aku tidak bertemu lagi dengan Heni setelah masa orientasi itu. Ditengah kesibukan kuliah, awalnya aku masih sempat mencari tahu keberadaanya. But what can i said? Life must go on. Setahun berlalu ketika akhirnya aku bisa bertemu Heni lagi. Saat itu aku lagi latihan basket di kampus ketika Heni muncul lagi. Kalau semua orang membicarakan Mel yang berjalan disampingnya, mataku tidak bisa lepas dari Heni. Sikapnya yang apa adanya benar-benar berbeda dengan sikap gadis-gadis yang bertebaran disekelilingku. Ketika Mel memanggil Poltak dan berbicara serius, kuliat Heni cuek saja membaca buku yang dibawanya. Semilir angin yang mengacaukan rambutnya tidak diperdulikan. Malahan dia tidak berusaha memperbaikinya. Hari itu permainan basketku kacau, reguku kalah double point hanya karena perhatianku tercuri padanya. Untung saja ini hanya latihan dan bukan pertandingan sesungguhnya. Bayangkan saja, aku bahkan memberikan bola yang kupegang pada pihak lawan dengan sukarela.
Selesai pertandingan kucoba mendekati sobatku, Poltak. “Tak, siapa tuh cewek? Tumben nggak dikenalin?” tanyaku.
“Bah, cewe mana pula yang tak kau kenal? Bukannya fansmu bertebaran dimana-mana?”
“Yang itu tuh…yang baru bicara dengan lu.”
“Mel? Josh, lu kagak kenal Mel? Dia termasuk kembang kampus ini loh,” celetuk Ryan yang mendengarkan pertanyaanku.
O, namanya Mel? Tapi Mel apa? Melati, Melinda, Melissa, yang mana? Rasanya pertanyaan itu sudah berada diujung lidahku.
“Kalau yang tadi rambut panjang namanya Mel, anak psikologi. Kalau yang duduk dikursi penonton, namanya Heni. Anak ekonomi dia,” jelas Poltak.
Astaga, hampir saja salah sasaran. Untung ada penjelasan lebih lanjut. Hahaha… “Mereka indekos didepan asramaku, makanya kami dekat,” lanjutnya. Sialan, koq aku tidak pernah memperhatikan ya? Padahal entah sudah berapa juta kali aku nongkrong di asrama Poltak.
“Mel mau buat suprise party buat b’daynya Heni hari minggu depan. Kami lagi menyiapkan tema horor karena Heni penggemar berat Stephen King.”
“Oya?” ini masukan baru untukku. Tidak semua cewek senang membaca novel horor, biasanya juga novel percintaan gitu. Paling tidak yang belakangnya berakhiran lit, entah teenlit atau chicklit. Entah mengapa.
“Ikutan boleh?” tanyaku.
“Ikut aja, acaranya tengah malam jadi max jam sepuluh semua sudah harus ngumpul di asramaku.”
“Sip…aku pasti datang,” tegasku. Biar badai menghadang aku pasti datang, apalagi hanya macetnya jalanan kota? No Problem for me.
Hari itu aku baru tahu kalau namanya Heni. Soal ternyata tinggal dikost depan asrama Poltak hanya merupakan bonus tambahan. Belum lagi ketika tahu kalau ternyata kalian akrab dengan Poltak. God bless my soul. Ini benar-benar rejeki berlimpah untukku. Acara partynya sukses besar, Heni benar-benar tidak menyangka kejutan yang dihadapinya. Senyumnya yang tak lepas dari wajahnya seakan melemparku jauh lebih dalam sampai jatuh terjembab kealam cinta. Keberuntungan berikutnya datang ketika secara tidak sengaja Poltak bercerita tentang perjalanan liburan mereka.
“Bro, lu jangan lupa tugas Pak Romi ya. Smua bahannya sudah ada disini,” kataku ketika berkunjung ke tempatnya.
“Astaga naga, kapan pula harus dikumpulkan itu?” tanyanya terkejut.
“Senin depan. Kenapa?”
“Waduh! Macam mana pula ini. Heni dan Mel mengajakku liburan akhir pekan ke rumah omanya di desa.”
Liburan? Aku harus mengambil kesempatan ini.
“Kapan?”
“Kami berangkat naik bis hari kamis sore.”
“Gue ikut boleh nggak? Bosan sama suasana kota. Gantinya, nti tugas ini gue bantu buatin. Plus mobil gue bisa dipakai buat gantiin bis. Gimana?” sambarku.
Saat itu Poltak menatapku heran campur curiga. Mulanya dia menolak dengan alasan tidak enak kepada Heni. Namun bujuk rayuanku lebih berhasil. Tapi Poltak berhasil membuatku berjanji tidak akan melakukan pendekatan asrama kepada Mel dan Heni. Kuberikan janjiku, tapi dengan catatan,masa berlakunya hanya selama akhir pekan itu. Itu merupakan liburan yang sangat berkesan bagiku. Itu juga merupakan kontak fisik pertamaku dengan Heni. Sayangnya Mel berhasil membuat perjanjian denganku.
Tiba-tiba terdengar suara keras memotong lamunanku…..
“JOSSSSSSHHH!!!! Tolong Heni!!!!”
WHAT’S UP? WHAT HAPPEN TO MY PRINCESS???
***
MASIH JOSH
“Heni…Heni….”
“Apa sebenarnya yang terjadi Mel? Kenapa Heni bisa begini?” tanyaku tidak sabar. Kondisi Heni benar-benar memprihatinkan. Badannya mengigil kedinginan padahal sudah dipakaikan selimut berlapis-lapis. Bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan kata ‘tidak’, ‘jangan’, ‘pergi’. Entah apa artinya.
“Dokter sudah dipanggil?” tanyaku kembali ketika melihat Mel tidak menjawabku. “Mel! Kamu dengar tidak pertanyaanku?” sentakku kasar sambil mengguncangkan badannya.
“Ini salahku Josh…semua salahku…seharusnya tadi aku tidak menakutinya seperti itu…tidak..bukan…seharusnya aku tidak pernah mengajaknya kesini…” kata-kata Mel keluar tidak beraturan.
“Arg…..percuma ngomong sama lu!” Sekarang perhatian utamaku adalah Heni. Sebenarnya ada apa dengan dia? O Tuhan, ada apa ini?
“Permisi….permisi dek..” suara seseorang meminta perhatianku. “Ada apa ya pak?”
“Ini…bapak bawa Pak Ruslan. Mungkin bisa membantu,” katanya sambil menunjuk seorang bapak tua dibelakangku.
“Bapak Dokter?” Kepalanya menggeleng. “Mantri?” Kepalanya menggeleng lagi. “So? Perawat mungkin? Pegawai medis?” Kembali hanya gelengan kepala yang kudapat. Who are you?
“Ini Pak Ruslan, orang pintar.”
Orang pintar? Pintar gimana kalau bukan staf medis? Bagaimana dia mau menolong Heni?
“Boleh dek?” tanyanya sambil menunjuk Heni yang igauannya makin keras. Kepalaku masih penuh pertanyaan siapa Pak Ruslan ini ketika Poltak menarikku pindah dari sisi Heni. Awalnya aku menolak, tapi cengraman tangan Poltak menahanku dengan tegas.
“JANGANNN!!!” jeritan Heni membela malam ketika tangan Pak Ruslan memegang keningnya. Sontak aku bergerak mendorong Pak Ruslan dan kembali menggenggam tangan Heni. Kurengkuh tubuhnya kedalam pelukanku tanpa memperdulikan siapapun. Peduli setan dengan pandangan orang saat ini! Sesaat Pak Ruslan dan orang yang membawanya saling berpandangan. Entah apa yang mereka pikirkan. Tapi mengapa Poltak juga ikut berbicara dengan mereka? Walau tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya serius. Tak lama kulihat Poltak menarik Mel bergabung dengan mereka dan kembali terlibat dalam pembicaraan serius. Kulihat kepala Mel hanya menggeleng dan mengangguk. Kemudian mereka menatap kami kembali. Poltak berjalan ke arahku, perasaanku dia akan menarikku kedalam kelompok itu dan meninggalkan Heni sendirian. Sebagian otakku menolak dengan spontan, tapi sebagian lagi penasaran dengan pembicaraan mereka.
“Ayo Josh, ada yang mau kami bicarakan denganmu,” ajak Poltak. Tidak biasanya Poltak bicara serius, bahkan tak ada logat Batak kebanggaannya. Sambil berkata begitu dia menarik setengah paksa tubuhku menjauhi Heni dan memanggil salah satu anak perempuan untuk menemani Heni.
“Kenalin, ini Pak Burhan dan Pak Ruslan. Mereka sesepuh disini. Pak Ruslan kebetulan adalah orang yang diijinkan untuk memiliki beberapa kelebihan,” jelas Poltak panjang lebar.
“Kelebihan? Kelebihan apaan?” otakku seakan bebal dan tidak bisa menerima penjelasan itu.
“Begini dek Josh, kebetulan bapak dipercaya sama orang-orang disekitar sini untuk semua yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak duniawi,” jelas Pak Ruslan kembali.
“Tidak duniawi? Maksudnya seperti setan?”
“Tidak, bukan setan. Tapi alam roh gitu. Jadi bukan masalah setan-setanan yang seperti yang di tivi dek.”
“Maksud kalian, Heni kesurupan?” kataku agak keras. Aku hanya ingin kepastian dari mereka, sebenarnya apa yang mau mereka sampaikan?
“Sabar dek Josh, sabar…” pak Burhan berusaha menenangkanku.
“Benar bro..sabar…dengarkan dulu penjelasan Pak Ruslan,” Poltak pun berusaha menenangkanku.
“Mel, coba kamu jelasin. Apa mau mereka sebenarnya?” tanpa kusadari nada suaraku mulai meninggi kembali. Apalagi melihat Mel hanya menangis.
“Tadi kami baru menceritakan kejadian di desa kapan hari,” tukas Poltak mengambil alih pembicaraan sebelum aku bertanya lebih banyak pada Mel.
“Kejadian di desa? Maksudmu soal kain jarik itu? Apa hubungannya?” samar-samar kuingat kembali peristiwa itu. “Tapi saat itu kan Heni hanya mau dititipin pesan buat ngembaliin kain itu kan? Lagian itu Opanya! Apa hubungannya dengan keadaannya sekarang?” tanyaku tidak puas.
“Itu hanya merupakan awal saja. Seperti memasuki rumah, maka saat itu nak Heni baru membuka pintunya saja.”
“Membuka pintu?”
“Ya, saat itu seperti membuka pintu masuk ke suatu kondisi yang tidak pernah dia alami sebelumnya.”
“Maaf, bukan maksudnya menyinggung. Tapi dek Josh ini apanya nak Heni ya?” tanya Pak Bustan.
“Saya hanya temannya pak, tapi saya sangat menyayanginya.”
“Dek Josh mencintai nak Heni?”
“Dengan segenap hatiku,” jawabku jujur. Ketika bertemu kembali dengan Heni, aku tahu bahwa dialah belahan jiwaku selama ini. Hanya dengan dialah aku mau membagi hidupku seutuhnya.
“Kalau begitu apa yang kami lihat tidak salah,” kata Pak Bustan.
“Tadi saya dengar dari nak Poltak, katanya dek Josh yang menemukan Heni sewaktu dia lagi berkomunikasi dengan kakeknya?” tanya pak Ruslan lagi.
“Benar pak. Tapi apa hubungannya dengan semua ini?” tanyaku mulai tidak sabar.
“Itu semua berhubungan dek.”
“Tapi apa?”
“Saat itu adalah saat sakral. Siapapun yang berhubungan dengan itu ada hubungannya dengan saat ini.”
“Sebaiknya kami mulai dengan menceritakan legenda yang ada dihutan ini dulu baru kemudian menjelaskan apa hubungannya semua ini dengan dek Josh.”
“Sebaiknya kalian segera memulainya sebelum kesabaranku habis.”
“Sebelum mulai tolong biarkan saya menenangkan nak Heni dulu,” sambil berkata demikian Pak Ruslan mulai mendekati Heni dan berdoa. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Heni???
***
OLD STORY
“Aaaaaaaaaaa………….” Teriakan Heni membuatku seakan diiris sembilu. Tajam dan tanpa ampun. Kalau saja tidak ditahan Poltak dan Pak Bustan, mungkin aku sudah menghambur memeluknya kembali.
“Biarkan Pak Ruslan bekerja dulu”
Tiba-tiba tubuh Heni tersentak keras dan teriakannya berhenti. Apa yang terjadi? Kali ini tanpa mengikuti saran yang lain aku mendekati Heni dan kupegang tangannya. Kondisi tubuh Heni sudah tidak kedinginan lagi ketika tangannya kupegang. Igauannya juga sudah tidak keras lagi. Bahkan cenderung berhenti. Tapi mengapa mulut Pak Ruslan masih komat kamit? Apa semua ini belum selesai?
“Mari, dek Josh silahkan ikut bapak,” ajak pak Bustan.
“Mau kemana pak? Tapi aku tidak mau meninggalkan Heni dalam keadaan begini.”
“Tidak apa-apa Josh, biar Mel, aku, dan Pak Ruslan yang menjaga Heni. Sebaiknya kau ikuti Pak Bustan saja. Biar Heni cepat sadar,” desak Poltak agar aku mengikuti Pak Bustan.
“Baiklah,” jawabku pasrah. Perioritasku saat ini adalah bagaimana Heni cepat sadar.
“Mari….” Pak Bustan meninggalkan perkemahan dan mulai berjalan memasuki hutan. Setelah beberapa saat kami mulai berjalan dalam keheingan. Tiba-tiba kusadari kalau ini adalah jalan setapak dimana kemarin Heni tersesat. Langkahku mendadak terhenti.
“Kenapa dek?” tanya pak Bustan melihatku berhenti. “Kemarin siang aku menemukan Heni disini. Saat itu dia terpisah dari rombongan. Untungnya masih belum terlalu jauh, jadi aku bisa menyusulnya dengan cepat.”
“O begitu,” dan Pak Bustan pun melangkahkan kakinya kembali Cahaya mentari yang muncul lamat-lamat semakin memudahkan perjalanan kami. Tak lama kemudian, kami sampai ditelaga yang sangat indah.
“Ini tempat apa pak?”
“Disinilah semuanya berawal dek.”
“Maksudnya?”
“Dulu, ada desa kecil yang tinggal didekat telaga ini. Namanya desa Limbang. Sekarang biar bapak menjelaskan semua.” Dan mulailah cerita itu bergulir. Dulu, desa Limbang terkenal dengan kepandaian penghuninya membuat kain tenun. Bahkan kain buatan mereka sampai dipakai oleh kaum bangsawan. Yang paling terkenal adalah kain buatan Nyai Dimas. Setiap lembar kain tenun buatan Nyai adalah karya masterpiece. Tidak akan ada duanya. Dia mencurahkan semua hatinya dalam menenun. Mungkin itu yang menyebabkan pemakai kain tenun buatannya juga merasakan perasaan hangat dari Nyai Dimas. Sampai satu hari muncul seorang penjelajah dengan anaknya. Nama penjelajah itu Raka. Anaknya bernama Jaka. Nyai Dimas menampung mereka dirumahnya, karena tidak tega melihat keletihan kedua penjelajah itu. Nyai Dimas tidak cantik, namun hatinya yang hangat bersahabat membuat semua orang suka padanya. Dia sudah menjadi janda sejak lima tahun sebelum kedua orang itu datang. Baginya, menolong penjelajah yang keletihan merupakan kebaikan hati. Menjadikan mereka teman baru merupakan kebahagiaan tersendiri. Dan itulah yang terjadi kepada Raka dan Jaka. Sehingga setiap kali mereka berada disekitar desa Limbang. Mereka selalu mengunjungi Nyai Dimas.
Namun yang namanya perasaan suka tidak dapat diketahui kapan datangnya. Dan entah sejak kapan pula kedua bapak anak itu mulai mencintai Nyai Dimas sebagai sosok perempuan dan tidak hanya terbatas sahabat. Perseteruan bapak anak itu awalnya tidak kelihatan. Namun lama kelamaan mulai terlihat percekcokan diantara mereka. Terlihat bagaimana mereka bersaing untuk memenangkan hati Nyai Dimas. Suatu hari pertikaian itu berubah menjadi pertempuran terbuka. Penyebabnya hanya karena penolakan Nyai Dimas untuk memilih siapapun diantara mereka. Mereka saling menyalahkan, bertengkar dan berujung pertempuran dahsyat selama tiga hari tiga malam. Pada pertempuran hari ketiga, keduanya saling mengeluarkan ilmu andalan. Raka mengeluarkan ilmu yang menguasai pergolakan tanah, sementara Jaka mengeluarkan ilmu yang menguasai aliran air. Nyai Dimas yang sudah tidak tahan melihat pertempuran itu tiba-tiba menerjunkan dirinya ketengah-tengah ajang pertempuran. Tak ayal tubuh Nyai Dimas lah yang menjadi salah sasaran ilmu yang dilontarkan. Nyai Dimaspun meninggal. Bukannya pertempuran itu berhenti, namun menjadi semakin keras. Mereka jadi saling menyalahkan satu dengan lain sebagai pembunuh Nyai Dimas. Alampun marah. Tanah bergoncang, air menyembur tak henti-henti. Akhirnya tempat pertempuran tenggelam menjadi telaga ini.
“Jadi begitulah ceritanya dek Josh.”
“Lalu apa hubungannya dengan Heni, pak?”
“Nanti malam dipercaya sebagai malam meninggalnya Nyai Dimas.”
“Lalu hubungannya apa?” tanyaku bingung.
“Kelihatannya nak Heni sewaktu melalui hutan ini pikirannya lagi melayang. Apalagi dia barusan mengalami pengalaman supernatural dengan kakeknya. Itu yang memungkinkan dia tertarik masuk ke alam sana. Sekarang yang tugas dek Josh hanya berusaha tidur ditepian telaga ini.”
“Tidur?” tanyaku keheranan.
“Nak Heni masuk kealam itu lewat mimpi, jadi untuk mengembalikannya juga harus menariknya kembali lewat alam mimpi. Tapi ingat, jangan berusaha mengubah apapun dari alam itu!” pesan Pak Burhan.
“Baiklah. Aku mengerti, sekarang yang harus aku lakukan hanya bermimpi dan mencari Heni kembali,” tegasku.
“Benar. Tapi ingat sekali lagi. Jangan berusaha mengubah apapun! Cari, temukan, dan bawa kembali secepatnya.”
“Ok. Aku mengerti.” Akupun mulai membaringkan tubuhku ditepian telaga, dan berusaha mulai tertidur. Membalik badan, menggeliat, berusaha cepat tertidur dan bermimpi. Disampingku kudengar suara Pak Burhan mulai membaca sesuatu yang tidak kumengerti. Sampai kapan aku baru bisa tertidur? Apa saja rintangan yang harus ditempuh Josh agar dapat menemukan Heni?
***
NYI DIMAS
Tak..tuk…tak…tuk… Josh merasa kesal mendengarkan bunyi-bunyian itu. Dia mulai jengkel karena suara itu mengganggu tidurnya. Bagaimana dia bisa masuk dunia mimpi menjemput Heni kalau bunyi-bunyian itu mengganggu konsentrasinya? Dibalikkannya badan dan mencoba untuk bangun.
“What the hell….” tiba-tiba dia terdiam melihat sekelilingnya. Dimana ini? Perasaan baru saja dia mendengarkan kisah Pak Burhan dan mencoba untuk tidur. Josh kembali memperhatikan sekelilingnya. Dia sedang berbaring diatas dipan bambu dan diseberang sana ada seorang perempuan sedang serius menenun kain. Tubuhnya terasa kaku sehingga menyebabkannya hampir terjatuh ketika mencoba berdiri.
“Argh…..” desahnya kesal sambil jatuh terduduk.
“Hei, jangan berdiri dulu. Badanmu masih lemah,” terdengar suara perempuan dan gemerisik kain yang bergerak. Tak lama kemudian perempuan itu sampai disisi Josh dan langsung menolongnya berbaring kembali. Dengan penuh penasaran Josh memperhatikan sosok perempuan itu. Tapi wajah perempuan itu membuat Josh kembali terperangah!
“Heni…akhirnya aku menemukanmu Hen…” kata Josh sambil berusaha memegang tangan perempuan itu Perempuan itu mengelak dengan cepat. Wajahnya yang manis bersemu merah. Dengan gerakan lembut dia berpindah tempat agak menjauh dari Josh.
“Hen…kamu tidak apa-apa? Ini aku Josh.”
“Maaf den, nama saya bukan Heni. Nama saya Dimas, biasanya dipanggil Nyi Dimas,” jelasnya malu-malu.
Nyi Dimas? What happen here? Sejak kapan Heni berubah menjadi Nyi Dimas? Sekilas penjelasan Pak Burhan mengenai legenda telaga kembali tergiang ditelinganya. Apa ini Nyi Dimas dalam cerita itu? Tapi mengapa sangat mirip dengan Heni?
“Ehm…hem…” terdengar suara lelaki dari arah kanan Josh. Ketika berpaling, Josh melihat dua orang lelaki dengan tubuh tegap sedang berdiri menatap mereka. Wajah mereka mirip satu dengan yang lain. Hanya saja rambut kelabu salah seorang dari mereka yang menjadi pembeda. Kalau ini memang Nyi Dimas yang dalam legenda itu berarti ini adalah…. “Ini Kang Raka dan Kang Jaka yang menolong aden dihutan,” suara jernih Nyi Dimas menjelaskan ketika dia juga melihat kedatangan kedua orang itu.
“Raka dan Jaka?” Ini memang mimpikan? Kalau tidak bagaimana dia bertemu dengan tiga pelaku legenda setempat? Tapi apa mimpi harus senyata ini? Atau dia hanya dibodoh-bodohi? Batin Josh tak berhenti bertanya.
“Aduh!” jerit Josh kecil ketika tak sengaja tangannya tersenggol pedupaan kecil didekat kakinya. Hei, ini nyata. Kakinya terasa panas. Is it real? Kembali batin josh terusik.
“Maaf…maaf….saya lupa mengangkat ini,” Nyi Dimas segera mengangkat tempat pedupaan itu.
“Sudah tiga hari tiga malam Nyi menyalakan pedupaan itu agak aden cepat sadar,” jelas lelaki berambut kelabu. Ini pasti Raka, pikir Josh. Berarti yang lelaki yang cemberut itu namanya Jaka.
“Tiga hari tiga malam? Pedupaan itu untuk apa?” tanya Josh penasaran.
“Kami percaya bau wangi dapat memanggil roh yang tersesat agar kembali ke raganya,” jelas Raka.
“Percuma bapak menjelaskannya, orang seperti dia mana bisa mengerti?” celetuk Jaka sinis.
“Ini urusan bapak, jangan bicara sembarangan,” sentak Raka pada Jaka, anaknya.
“Tapi dia menyebabkan Nyi tidak cukup istirahat! Bayangkan harus menjaga orang asing yang tak tahu dari mana datangnya sampai tidak tidur?” balas Jaka semakin sengit.
“Sudah, sudah. Kalian bapak anak mengapa harus selalu bertengkar masalah kecil?” Nyi Dimas yang baru datang berusaha mencairkan suasana panas disekelilingku.
“Tapi Nyi….” terdengar nada suara Jaka lembut tapi masih menyimpan kesal. “Sekarang sebaiknya kalian yang istirahat. Bukannya kalian sudah berburu seharian?” anjur Nyi Dimas sabar.
“Baiklah Nyi, kami akan istirahat di sanggar saja. Permisi…” pamit Raka sopan pada Josh.
“Terserah Nyi Dimas lah,” gerutu Jaka sambil membalikkan badannya.
“Tolong maafkan kelakuan Kang Jaka, terkadang dia masih seperti anak-anak,” kata Nyi Dimas ketika kedua lelaki itu sudah meninggalkan kami berdua kembali.
“Ini ada sedikit air dan makanan. Silahkan dicicipi,” lanjutnya. Ketika dia melihat bahwa Josh terus menatapnya, wajahnya kembali bersemu merah. Bahkan kali ini dia tak sanggup menatap mata Josh. Perasaannya menjadi kacau sekali.
“Maaf den, dari tadi aden belum mengatakan nama aden,” kata Nyi Dimas berusaha mengalihkan perhatian Josh dari wajahnya.
“Namaku Josh,” jawan Josh singkat, “Kau memang sangat mirip dengannya.”
“Siapa den? Heni? Dari kemarin aden terus menenrus memanggil nama itu. Tadipun aden memanggilku dengan nama itu.”
“Kemarin? Memangnya sejak kapan aku disini”
“Ini hari ke tiga den.”
“Cukup panggil aku Josh. Boleh aku memanggilmu Nyi saja?”
“Baiklah jo…e…Josh…” terdengar nada malu ketika Nyi Dimas menyebutkan nama Josh.
“Terima kasih Nyi,” senyum Josh. Entah mengapa Nyi Dimas merasa pernah melihat senyum itu. Senyum yang dapat menyebabkan seribu hati anak gadis menggelepar. Senyum tulus tapi sangat menyenangkan untuk dilihat. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan lagi ketika Nyi Dimas mau memindahkan kain yang tertumpuk disisi Josh. Terasa ada aliran listrik menjalar di tubuhnya. Perasaan ini pernah dia rasakan. Tapi dimana? Nyi Dimas merasa amat aneh pada dirinya sendiri. Disatu sisi dia tidak pernah bertemu dengan Josh. Tapi disisi lain hatinya mengatakan bahwa dia sangat mengenal Josh. Dan perasaan itu, apa arti perasaan itu? Ada apa sebenarnya ini? Apa hubungannya dengan Josh? Mengapa hatinya berdebar tak karuan? Ini bukan perasaan yang biasa dia alami. Bahkan mungkin tidak pernah dia alami sebelumnya.
(continue)












Wah, ga sabar neh menunggu lanjutannya Olyvia..
Sebenarnya cerita ini uda selesai ditulis di fb…hanya mindahin ke sini agak ribet…sabar yaa….
Sebenarnya cerita ini uda selesai ditulis di fb…hanya mindahin ke sini agak ribet…sabar yaa….namanya juga org gaptek