si jarik
(Olyvia Santoso)
Hai semua….
Bagi yang belom kenalan, namaku Heni. Sebenernya sich lengkapnya Puspita Martha Joyokusumo. Darimana muncul nama Heni, aku juga ga tauk. Yang pasti nama itu udah meresap masuk sampai mendelep dan kelelep di jiwaraga sejak aku bisa mengingatnya. Tapi it’s not a BIG problemo, lagian nama Heni lebih asyik kedengerannya daripada Pus (emang kucing?) ato Pita (pita rambut kali yee?).
Mau dipanggil Martha juga ga bisa, karena itu nama eyang putriku. Masa mesti pake embel-embel ‘kecil’, ‘imut’, ‘cilik’, ato ‘junior’ seperti di negeri Barat sana? Kalo di Amrik sich, mo dipanggil Junior orang juga pada balik. Tapi coba kalo manggil orang (ngakunya) dewasa dengan panggilan Martha cilik padahal badan gembrot segede gajah? Pokoknya ga cocok deh…
Hari ini aku mau cerita soal si Jarik. Jangan coba-coba membayangkan kalo yang namanya Jarik itu berjenis kelamin cowok. Jarik juga bukan sejenis hewan peliharaan yang imat imut menarik hati. Tapi Jarik itu sesuai namanya, sebuah kain batik yang dipakai untuk jadi bawahan kebaya. Umurnya udah puluhan tahun, tapi masih terawat baik.
***
Sejak ulang tahunku yang ke duapuluh satu bulan lalu, eyang putri selalu memintaku berkunjung kerumahnya. Dan sebagai balasan pesta meriah yang diadakan oleh Mel, teman sekamarku di indekos dan Poltak, anak Batak yang tinggal di asrama putra depan indekosku (buat yang ga kenal mereka, bisa baca ‘mimpi buruk’ yang di yuknulis) maka akhir minggu ini aku mengajak keduanya berkunjung kerumah eyang di desa.
Rumah eyang terletak di daerah pinggiran sawah. Dulu sewaktu eyang kangkung masih hidup, beliau selalu mengajakku begadang sampai pagi diserambi belakang rumah yang berbatasan langsung dengan kebun sayur eyang putri. Mendengarkan dongeng sambil diiringi suara jangkrik bener-bener merupakan kenangan indah yang susah dilupain. Sayangnya eyang kangkung sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
“Ooiiii…..bagaimana pula cewek-cewek ini, lama betul kalian berjalan. Apa kau tak tauk kalo cacing diperutku sudah menyanyi lagu keroncongan?” teriak Poltak merusak hayalanku soal rumah eyang.
“Iya..ya…ga sabaran amat sich? Si Heni aja belom siap..udah siap ga Hen? Ditungguin Poltak tuch,” jawab Mel sambil berjalan keluar kamar membawa tasnya.
“Ok…aku sudah siap…tancap…” sahutku sambil masuk ke mobil Josh sobat baek si Poltak.
Tadinya kami sudah sepakat naek bus ke desa, tapi Poltak tiba-tiba mengatakan kalau Josh si master of basketball kampusku mau ikut juga. Sebagai ganti undangan pada dirinya, dia siap nyediain mobil buat dipake kedesa. Buat dia refeshing, buat aku penghematan hehehe…
Sebenarnya aku pikir Josh punya agenda laen buat ikutan liburan kali ini. Rasanya ini ada hubungannya ama Mel, sohibku. Tapi boleh juga tuch idenya, Josh keren (maklum blasteran Jerman), sementara Mel cantik (mirip si Qory siapa itu, yang jadi miss Indonesia?). It’s ok for me…i’m happy for them.
Perjalanan empat jam tidak terasa karena kecrewetan si Poltak. Sepanjang perjalanan kami cekakak cekikik sampai sakit perut. Aku bahkan tidak menyangka kalo Josh juga memiliki sense of humor yang tinggi dalam menimpali kegilaan Poltak.
“Hen, ini udah masuk desa Sukomanunggal. Arahnya kemana lagi?” tiba-tiba Josh bertanya padaku.
“He??? Ga terasa ya..depan belok kiri, sampai mentok (baca:ujung) belok kiri lagi. Itu udah rumahnya,” jelasku.
“Ok tuan putri, perintah dilaksanakan,” sahut Josh.
“Segar sekali udaranya, kita buka jendela aja ya, ga usah pake AC lagi,” potong Mel tiba-tiba sambil menurunkan kaca jendela mobil.
“Pelan-pelan Josh, itu rumahnya udah keliatan. Yang pagar ijo. Brenti bentar, biar kubukakan pagarnya,” sambil berkata begitu kubuka pintu mobil dan berlari menuju pagar.
“Neng Heni…..neng…..tunggu neng….pagarnya terkunci,” tiba-tiba terdengar suara lelaki tua dibelakangku.
“Eee…Pak Saipul? Eyang ada?”
Gawat nich, kalo sampe eyang ga ada dirumah. Sebelumnya memang aku tidak menelpon eyang terlebih dahulu, pikirku mau buat kejutan. Tapi kalo sampe yang mau dikejutin lagi ga ada, gimana nich?
“Ada neng, lagi diperkebunan. Nanti biar Ucok yang memanggil nyonya besar,” jawabnya sambil membuka gembok pagar.
Langsung saja badanku menjadi rilex mendengar jawabannya. Syukur pada Tuhan…ga jadi gelandangan dech…hehehe.
“Neng Heni nunggu aja didalam, tapi rumahnya dikunci Nyonya.”
“Gapapa pak, aku bisa nunggu diserambi belakang.”
“Mari neng kalo begitu, bapak nyuruh si Ucok manggil nyonya dulu.”
“Iya pak, makasih ya.”
Sambil berkata begitu, kulangkahkan kakiku kembali menuju mobIl.
“Gimana Hen?” tanya Mel.
“Eyang lagi dikebun, tapi udah dipanggilin pak Saipul. Sekarang kita langsung ke serambi belakang aja yuk.”
“Ok, lanjut!” sahut Poltak, sementara itu Josh mulai mengarahkan mobilnya ke arah serambil belakang sesuai aba-abaku.
***
Serambi ini masih seperti dalam ingatanku. Satu set kursi rotan plus sebuah bale-bale tempat biasanya Eyang Kangkung mendongeng waktu aku masih kecil juga masih pada tempatnya.
Josh dan Mel lagi jalan-jalan meluruskan kaki disekeliling rumah, sementara itu Poltak tergeletak pasrah di bale-bale. Kecapekan katanya.
Anganku mulai mengembara mengingat kenangan masa kecilku disini. Akkkhhh….senangnya bisa kembali ke rumah eyang setelah hampir dua tahun ga bisa ke sini. Sambil terbawa kenangan manis, mulutku tak hentinya tersenyum.
“Mbak Heni dipanggil Eyang masuk.”
Tiba-tiba kesadaranku terusik sama suara anak kecil yang memanggil namaku. Ternyata Ucok sudah kembali dengan Eyang dan sekarang pintu rumah depan sudah terbuka..
Rumah Eyang putri masih tripikal rumah desa yang tanpa penambahan ornamen macam-macam. Luas dan lapang, itu kesan yang bisa disapat sejak pertama masuk. Sederhana dan hangat adalah aura yang dipancarkan Eyang juga mempengaruhi keberadaan rumah ini.
Tapi jangan pernah berfikir karena Eyang tinggal didesa jadi ga tauk perkembangan dunia. Eyang putri adalah pengikut facebook, twitter, dan yang terakhir aku dengar, Eyang putri lagi mencoba ikut jejaring sosial yang nyediain tempat tinggal sementara bagi pelancong dengan dana terbatas di Couchsurfing.
Biar ga bosan katanya. Kalo hanya ngandalin kesibukan perkebunan dan kunjung mengunjung dengan sanak saudara, tetap aja Eyang masih punya banyak waktu luang. Maklum, dirumah ini hanya tinggal Eyang dan Bik Ina yang bertugas melayani Eyang sejak dulu. Hampir semua anak-anak Eyang memilih hidup dikota atau dipulau seberang karena kepentingan kerja ato sekolah. Termasuk aku, cucu perempuan satu-satunya.
“Eyang…” hamburku kepelukan Eyang putri ketika menemukannya di ruang makan.
“O a laaa, piye to arek ikki…wes gede sek model’e arek cilik,” kata Eyang Putri sambil mengelus kepalaku. (kalo di Indonesiakan, begini kira-kira : “O a laa, gimana to anak ini…uda gede masih kayak anak kecil aja.”)
“Ben no…sing penting Heni kangen ambek Eyang.” (Biarin, yang penting aku kangen berat ama eyang)
“Ya sudah, katanya kamu bawa teman? Mana mereka? Panggil masuk, itu Bik Ina sudah nyiapin makan malam.”
“Upsss…iya juga ya, tunggu biar Heni panggil Yang,” sambil berkata begitu kubalikkan badanku kearah ruang depan.
Ternyata ketiga temanku sudah ada disana, sambil senyam senyum pula. Entah kenapa…
“Nggak yangka ya, Heni si ceriwis bisa juga jadi anak kolokan,” goda Mel.
“Gapapa la kolokan, yang penting tadi kudengar nenek kau bilang sudah sedia makan malam. Cacing diperutku langsung teriak-teriak minta suply hehehe” sambung Poltak.
Sementara Josh hanya masang senyum menggoda saja diwajahnya. Waduh, jadi tengsin nich…
“Iya iya, terserah kalian deh. Lu itu ya Tak, tadi pas berangkat uda ngisi bensin 3 piring sekarang udah minta lagi? Tambah buncit tuh perut,” tukasku berusaha menghilangkan rasa malu.
“Itu kan tadi Hen, sekarang sudah lain lagi.”
“Ya udah, sekarang semua masuk. Makanannya sudah siap, tapi seadanya aja ya. Ayo nduk, teman-temanmu diajak masuk,” kata Eyang yang muncul dari belakangku.
“Trima kasih nek,” koor mereka serempak.
Tak lama kemudian kami sudah duduk dimeja makan menikmati masakan Bik Ina. Ada tumis kangkung, cah ikan asin, tahu tempe bacem ditambah nasi putih hangat dan sambel terasi.
“Hanya ada begini dirumah sekarang. Tadinya Eyang sama bibik sudah mau makan diluar, makanya bibik tidak ke pasar hari ini.”
“Tidak masalah koq eyang, begini sudah enak. Jarang-jarang makan seenak ini di kota,” sahut Josh.
(Nih anak muji ato ngejek sich? Mana mungkin dia pernah makan seperti ini? Kan dirumahnya pasti gak pernah makan sesederhana ini? Ngomelku dalam hati.)
Tiba-tiba kakiku ditendang Mel yang duduk disebelah kananku. Secara otomatis aku meringis dan memperlototin Mel, apa sich maunya?
“Ada apa nduk?” tanya Eyang.
“Nggak papa koq nek, tadi kaki Mel nggak sengaja mendang kaki Heni,” sahut Mel sebelum aku sempat menjawab.
“O gitu, ya sudah. Tapi ngomong-ngomong, eyang belum mengenal kalian kan? Teman Heni dikampus ya?”
“Saya Mel nek, teman sekamar Heni. Yang ini Herman tapi biasanya dipanggil Poltak, dia anak asrama depan indekos kami nek. Yang itu Josh sahabat Poltak,” jelas Mel cepat-cepat.
Ada apa sich dengan Mel malam ini? Biasanya dia pendiam, kenapa sekarang jadi cerewet? Apa karena ada Josh? Berbagai pertanyaan muncul di otakku.
“Eyang senang berkenalan dengan kalian semua…”
“Permisi bu, kamarnya sudah siap,” kata Bik Ina yang muncul dari ruang belakang.
“Ma’kasih ya bik, sekarang bibik istirahat aja dulu. Biar saya yang mengantar mereka ke kamarnya,” jawab Eyang.
“Ma’kasih ya bik,” sambungku.
“Sampun, sama-sama non. Bibik juga senang non Heni datang lagi, apalagi bawa teman banyak,” senyumnya tulus, “mari, bibik masuk dulu.”
“Sekarang kalian makan kenyang dulu, baru eyang tunjukkan kamar kalian. Sekarang eyang mau ke belakang dulu, mau ngatur masakan buat besok.”
“Beres nek!” sahut Poltak lancar walaupun mulutnya masih disumpal tempe bacem buatan bibik.
***
Perut kenyang, mata ngantuk. Itu penyakit umum buat semua orang. Malahan ada yang bilang itu penyakit keturunan. Terserah yang mana yang benar, sekarang dengan perut kekenyangan mataku mulai ngantuk.
“Pada sudah selesai makan? Ayo eyang antar ke kamar kalian,” panggil Eyang dari ruang depan.
“Anak gadis tidur disini,” sambil menunjuk kamar yang biasanya kutempati setiap berkunjung ke rumah eyang.
“Anak laki-laki di sana, kamar paviliun. Biar lebih leluasa,” jelas Eyang pada kami.
“Sekarang kalian istirahat saja, biar besok badan segar lagi. Eyang juga mau istirahat, selamat malam ya…”
“Selamat malam eyang,” jawab kami yang lagi-lagi kena virus kompak.
“Kalian istirahat aja dulu, nanti biar kami yang mengambil barang-barang dari mobil,” kata Josh.
“Wah, trims ya Josh. Sori uda ngerepotin,” kata Mel.
“It’s ok. Yuk Tak, biar bisa cepat istirahat”
What’z up with u Mel? Tumben jadi serba manis gini? Beneran u suka ama Josh? Aku mesti cari tahu nich…naluri rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul. Apa aku jadi mak’comblang ya? Hehehe Lumayan bisa dapat traktiran lagi kalo emang mereka ada niat jadian.
(nyambung lagi, kr notenya udah ga cukup)
Tok…tok…tok….
Dengan sigap Mel meloncat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu. Siapa lagi yang datang kalo bukan Josh ama Poltak, bawain tas kami? Sambil berfikir begitu, malas-malasan kugerakkan badanku meninggalkan tempat tidur.
“Thank’s ya Josh,” kudengar suara Mel semanis madu.
“Tak, barangku mana?” tanyaku ketika melihat dia hanya menaruh tas Mel saja.
“Dibawa sama Josh tuch,” jawab Poltak tak acuh sambil duduk dilantai.
“Josh?” tanyaku heran sambil mencari sosok cowok ganteng satu itu. Ngapain dia yang bawain tasku? Bukannya sebaiknya dia bawain tas Mel? Ato dia ga tauk beda tasku sama tas Mel sampe salah bawa? Mungkin juga sich…
“Nyari gue, Hen?” terdengar suara Josh dibalik pintu yang masih dipegang Mel.
“E e,” jawabku sambil ngangguk, “nyari tasku tepatnya. Kata Poltak, loe yang bawa.”
“Tas ini? Gue taruh disini ya,” katanya sambil menaruh tasku disamping kursi tempat kusampirkan jaketku.
“Thank’s Josh,” ucapku sambil tersenyum. Alamak! Senyumku dibalas senyum pepsodentnya, segar dan manis sekali.
Husss….gak boleh mikir gitu lagi, kan nggak mungkin Josh suka padaku padahal ada Mel yang cantik dan anggun disebelahnya. Lagian, baru saja kuputuskan mau jadi mak’comblang mereka, masak berubah pikiran hanya karena satu senyum manis sich? Tuk..tuk..isi kepalaku harus di perbaiki kayaknya. Tapi suerrr….senyumnya maniezzzz….menggoda iman hehehe
“Ayo Tak, minggat sana. Aku nguantuk tuk tuk…lu balek kamar dulu sendiri deh, sebelum ketiduran disini. Gak enak ama Eyang tauk!” usirku ketika melihat Poltak hampir tertidur dilantai.
“Sini, biar gue bantuin.”
Sambil berkata begitu, Josh menarik Poltak bangun dan mendorongnya ke kamar yang sudah disediakan untuk mereka.
“Hen, lu kenapa sich? Kayaknya sensi banget deh..sejak tiba bawaannya cemberut mulu. Apa lagi PMS? Kan kasian Josh sampe merasa ga enak gitu,” cerocos Mel ketika kedua anak cowok itu sudah meninggalkan kami berdua kembali.
“Nggak koq, perasaan lu aja kale…,” sahutku kalem, “ato lu jadi sensi karena Josh? Sampe-sampe kakiku jadi korban ihks…”
“Sialan nih anak, malah bales kalo dibilangin. Tadi itu muka lu jelek banget waktu Josh ngomong diruang makan, makanya gue ingatin.”
“Ha? Masa sich?”
“Ya iya lah, masa gitu aja mo gue boong? Josh sampe nanya apa dia ada salah ngomong nggak.”
“O ya? Sorri kalo gitu. Sekarang aku ngantuk, bobok yuk. Urusan Josh ama Poltak besok aja diurus ya…huaaaammm.”
Dan kamipun tertidur.
***
“Nenniii….nennii….”
Sayup-sayup kudengar suara orang memanggilku. Tapi siapa? Perasaan dikamar ini ga ada orang lain selain Mel. Sambil berfikir begitu kutolehkan kepalaku kearah kiri dan melihat Mel tidur pulas.
“Nen…nenniii….”
Suara itu mulai terdengar lagi.
Siapa itu? Tapi kenapa dia memanggilku dengan Neni? Namaku kan Heni? Hanya Eyang Kangkung yang selalu memanggilku dengan nama Neni. Lagian Eyang kangkung sudah meninggal bertahun-tahun lalu.Jam berapa ini? Batinku.
Tanganku menjangkau handphone yang kusimpan disamping bantalku. Uggghh…..baru jam 2.30…siapa sich yang iseng bangunin orang jam segini?
Tidak tahan dengan panggilan itu, kulangkahkan kakiku menuju sumber suara. Dimana sich orang iseng ini?
“Neni…neni…”
Kayaknya suara itu dari ruang serambi belakang. Memangnya jam segini bibik sudah bangun dan bersih-bersih? Perlahan kubuka pintu menuju serambi belakang. Sekelebatan kulihat bayangan bergerak meninggalkan bale-bale tempat dulu Eyang kangkung selalu duduk mendongeng untukku.
“Siapa itu?” kejarku.
Bayangan itu bergerak lagi kearah kebun sayur sambil melambaikan tangannya dan memanggilku…nenni…
“Siapa kamu!” kutambah volume suaraku, masih sambil mengejar bayangan itu ke arah rumpun bambu yang membatasi kebun sayur dengan kebun tetangga Eyang.
Apa itu pencuri? Tapi kenapa dia terus memanggilku? Dari mana dia mengenalku? Jangan-jangan ini kerjaan Poltak dan Mel lagi seperti skenario Ulang Tahunku? Tapi bukankah tadi Mel masih tertidur pulas ketika kutinggal? Kali ini aku tidak mau dikerjain lagi. Rasa penasaran yang memuncak membuatku terus mengejar bayangan itu.
Uppss…mana dia? Kenapa menghilang? Perasaan tadi masih ada didepanku ketika aku ikut menerobos tanaman bambu. Aahhh….itu dia disana…masih melambaikan tangan sambil memanggilku….nenniiii…..
Tunggu kau, kalo beneran Poltak, bakal kubakar hidup-hidup. Belom cukup apa ngerjain aku dulu? Awas kau Poltak!
Tiba-tiba kulihat bayangan itu berbelok arah, menuju rumah perkebunan yang ada sekitar 100 meter dari rumah induk. Hei, itu tidak mungkin Poltak. Darimana dia tahu soal rumah perkebunan itu? Kan baru hari ini mereka datang bersamaku?
Dengan pikiran berkecamuk kiri kanan, tetap kupaksa kakiku mengejar si bayangan.
Bodoh, kenapa tadi aku lupa memakai sendal ya? Sekarang kakiku mulai sakit terkena kerikil tajam yang ada disepanjang jalan setapak ini. Bisa kupastikan bayangan itu pasti memakai sendal, karena gerakannya tidak melambat sama sekali terhalang kerikil tajam yang menghujam telapak kakiku.
Mungkinkah itu Josh? Kan tadi sore dia sempat jalan-jalan disekitar sini dengan Mel. Jadi ada kemungkinan dia tahu letak pondok kecil itu. Kalo memang Josh, biar dikasih senyum manis segudangpun gak akan membuatku memaafkannya. Jam segini gangguin orang, apa dia gak punya etika apa? Gak pernah diajar ama orang tuanya untuk menghargai orang lain ya? Sialan, kakiku terasa sakit kena kerikil tajam lagi.
(siapakah si bayangan? penasaran?Yang nulis juga penasaran nih….Ada yang bisa nebak nggak? Ada ide? Ato mau nunggu selesainya aja? Hehehe)
Mau kemana sich bayangan itu? Kenapa nggak berhenti? Pikirku ketika melihat bayangan itu bergerak meninggalkan pondok tempat tadi kulihat dia sempat masuk. Sekarang dia mengarah ke belakang pondok. Ada apa disana?
Rasa penasaran bercampur jengkel kembali menderaku. Siapa sich itu? Apa aku balik rumah saja? Paling tidak memakai sendal dan memanggil seseorang untuk menemaniku.
Saat pikiran itu muncul di otakku, tiba-tiba terdengar suara ditelingaku tanpa ada orang disampingku.
“Neni, ikuti saja bayangan itu. Nantinya kau juga akan tahu.”
Suara itu begitu jelas ditelingaku sampai bulu kudukku merinding. Siapa itu? Mengapa suara itu seperti sangat mengenalku? Dan mengapa suara itu seperti sangat akrab ditelingaku? Siapa bayangan itu sebenarnya? Siapa kau?
Begitu banyak pertanyaan ‘siapa’ dikepalaku bergiang-giang. Kakiku tanpa disuruh sudah melangkah terus menerus mengejar bayangan itu. Entah sampai kapan. Siapa kah kau? Pikirku letih.
Tanpa kusadari, kami memasuki ladang kosong. Tanah siapa ini? Mengapa tidak ada tanaman sama sekali? Sayup-sayup terdengar gemericik air dibelah kiriku. Dimana ini? Kutolehkan kepala ke kanan kiri namun tetap tidak ada petunjuk kami dimana. Tapi satu yang pasti, bayangan itu telah berhenti bergerak. Sekarang dia seakan menungguku mendekatinya. Ada apa ini?
Perlahan cahaya sinar bulan mulai menyinari tempat ini dengan lembut. Cahaya itu pula yang membuatku dapat mulai melihat dengan jelas sosok dihadapanku.
“Eyang???” tak terasa kakiku langsung lemas melihat sosok yang begitu dekat dengan kenangan masa kecilku.
“Betul Neni, ini eyang sayang.”
“Tapi..tapi…”
“Tapi eyang sudah meninggal bertahun-tahun lalu? Itu yang mau kau katakan sayang?”
Kepalaku mengangguk kecil. Mulutku tak dapat berkata-kata. Seakan ada yang menguncinya.
“Kau benar Enni, eyang memang sudah meninggalkan kalian. Tapi kali ini eyang kembali untuk menitipimu pesan.”
“Pesan eyang?”
Semilir angin kembali menyapaku. Tiba-tiba segalanya kembali menjadi gelap. Segalanya menghilang dari hadapanku.
***
“Hen…Heni..bangun Hen!”
Sayup-sayup kudengar suara memanggil namaku. Perlahan kubuka mataku dan mengenali satu persatu wajah-wajah cemas di hadapanku.
“Dia sadar! Puji Tuhan!” kudengar suara Poltak yang khas.
“Dimana ini?” tanyaku.
“Dikamar eyang, nduk. Kenapa?” kedengar jawaban Eyang putri.
Eegh…kugerakkan badanku sedikit demi sedikit untuk bangkit dan berdiri. Aku harus ke serambi belakang untuk menyelesaikan pesan Eyang Kangkung yang dititipinya padaku.
“Mau kemana lagi Hen?” kedengar suara Josh. Dia juga langsung menangkap badanku yang seakan tak bertulang.
“Tolong bawa aku ke serambi belakang Josh,” desahku lemah
“Baiklah.”
Sesampainya diserambi belakang, aku langsung berlutut didepan bale-bale. Berlahan kugeser bale-bale itu dengan sekuat tenaga yang tersisa. Untung Josh dan Poltak segera menolongku menggeser bale-bale itu. Disalah satu pojok bale-bale itu tergeletak kotak jati berwarna hitam dimakan cuaca dan usia. Kuambil kotak itu dan kuserahkan kepada Eyang Putri.
“Ini ada titipan dari Eyang Kangkung, yang.”
Yang terakhir kulihat sebelum kegelapan kembali menyergapku adalah setitik air mata Eyang Putri ketika melihat isi kotak itu dan senyum Eyang Kangkung dari pojok kebun sayur Eyang putri.
***
Epilog
Ternyata yang menemukanku di kolam pancing dekat kebun sayur adalah Josh. Dia sempat melihatku berjalan sendiri keluar rumah induk. Tapi ketika dipanggil, aku tidak merespon sama sekali padahal mataku terbuka lebar alias sadar. Takut ada apa-apa denganku, Josh cepat memakai sendalnya dan mengejarku. Katanya dia tidak melihat siapapun disana. Aku ditemukan berdiri dikolam sendirian. Tiba-tiba aku ambruk ketika dia hampir mengapaiku. Dia pula yang menggendongku pulang kerumah induk.
Kotak yang kuberikan pada Eyang Putri ternyata berisi kain Jarik yang dipakai Eyang Putri ketika menikah dengan Eyang Kangkung dulu. Semua mengira kain Jarik itu sudah hilang entah dimana, bahkan Eyang Putri sudah merelakannya. Namun ternyata Eyang Kangkung telah menyimpan si Jarik dengan sangat baik hingga dia dapat mengembalikannya pada Eyang Putri.
Sekarang si Jarik sudah kembali kepada pemiliknya, Eyang Kangkung pun tersenyum senang. Hatiku juga bahagia karena bisa membahagiakan dua orang berharga dalam hidupku.
Liburan kami berakhir tanpa insiden apapun. Walau aku sempat diharuskan istirahat seharian, semua sangat menikmati suasana desa. Terlebih lagi Eyang Putri dan Bik Ina sangat memanjakan perut kami dengan makanan enak. Si Poltak bahkan mengatakan kalo dia tinggal lebih lama lagi bakal naik sepuluh kilo.
“Lumayanlah, biar tambah gizi sebelum balik asrama hehehe” goda Mel.
Bagaimana hubungan Mel dan Josh? Menurutku sih ada kemajuan. Tapi si mak’comblang belum sempat beraksi nih. Lagian waktunya cuman sebentaran, ini kan cuma liburan weekend aja. Tenang…waktu buat nyomblangi masih panjang.
Nti deh, kapan-kapan aku ceritain lagi….
Jangan bosan membaca ceritaku ya…
“Matur Nuwun….saiki pamit dulu….mau balikin si Poltak kekandangnya, e salah…ke asramanya….pamit….”












