Semakin Dilarang, Semakin Penasaran
Selanjutnya jika pesan ini diterapkan dalam mengasuh anak tinggal masalahnya tega atau tidak tega. Tegakah kita jika anak kita belajar menaiki tangga dan kemudian terjatuh? Atau tegakah kita saat pulang kerja membiarkan anak bermain di dekat knalpot yang sangat panas itu? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada Ibu, ia pasti akan menjawab “Ya, saya tega”. Dan jika ditanyakan kepada saya, sayapun tega untuk seperti itu karena saya dibesarkan oleh Ibu yang tega.
Seringkali saya disebut sebagai Bapak yang tidak perhatian oleh istri saya hanya karena ketika bersama saya, anak saya sering terjatuh atau kejedot, hal yang tidak pernah terjadi jika anak saya bersama ibunya. Di situlah masalahnya, maksud hati membiarkan anak bermain sesukanya namun akibatnya ada luka atau memar di sana-sini. Pada saat diomelin istri, biasanya saya akan menjawab “kalau orang tidak pernah jatuh, maka ia tidak akan pernah merasakan sakitnya jatuh” atau “kalau orang dilarang bermain air, maka ia tidak akan merasakan nikmatnya bermain air”. Makanya jika saya memandikan anak durasinya dua kali lebih lama dibanding istri saya, karena selalu ada sesi main air.
Kalau diingat-ingat kembali memang saat kecil hingga remaja Ibu tidak pernah berkata “jangan” pada saya. Jangan merokok, jangan pulang malam, jangan berantem, jangan mencontek, dan jangan-jangan yang lain, yang mungkin sering diucapkan oleh orang tua teman-teman saya. Ibu membiarkan saya merokok supaya saya tahu rasanya rokok. Saat sekolah saya sering pulang malam dan Ibu tidak pernah berkata “jangan”, Ibu biasanya berkata kalau pulang malam maka besoknya susah bangun pagi. Seandainya saat itu ibu berkata jangan pulang malam, saya pasti tidak tahu seramnya suasana Kp. Melayu dan Cililitan selepas jam 10 malam.
Intinya adalah: Jangan berkata “jangan” pada anak-anak, karena semakin dilarang ia akan menjadi semakin penasaran.












Setuju banget dengan ibu anda !!! Jarang loh orang yang seberuntung anda mempunyai ibu seperti beliau .