Dear God

Dear God,

Okay, honestly I hate this feeling. Yes, I wanna cry God. But I don’t know why I wanna cry like this?

Hope this a good tears God.. I means, I don’t want being sad. I just want to be happy. You said I’m deserve to be happy right?
Okay, I know I’m the one who will choose to be happy or not. I really wants to be happy!

Sometimes I don’t know how to make myself fell happy. I looking around and then I’m just found nothing.

God, you in here right? I hate to asking You a lot of question.

God, can You lead my way? I really need you God.

Okay I will come to You. I will tell You now, about my feeling. Hope You guide me..

God, everything’s okay right?

Perjalanan

Terkadang ketika kita bangun pagi, kita takut untuk melalui perjalanan ini. Kita berhenti sejenak, dan lupa akan arah kita.

Terkadang ketika Tuhan berbicara mengenai perjalanan ini, kita berpaling dariNya. Kita menjadi sombong dan akhirny terjebak.

Terkadang ketika kita berjalan, langkah kita seakan seperti mengambang. Akhirnya kita takut membuka mata dan menabrak yang kelihatan.

Terkadang inilah perjalanan kita. Semua dirancangNya dengan waktu. Bahwa, bahagia itu janjiNya, sedih itu adalah harapan dariNya. Bahwa, pelangi akan ada sehabis hujan. Bahwa, akan ada cinta yang indah dan menyakitkan. Bahwa, hanya Dia yang takkan mengecewakan kita.

Terkadang kita terlalu diam saat melaluinya, hingga saat terlukapun, kita hanya diam. Menganggap bahwa semuanya baik, padahal tidak.

Namun, Dia selalu setia di dekat kita. Dia selalu menggandeng tangan kita. Dia tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian.

Ingatlah, di dalam perjalanan ini Tuhan selalu menjaga agar kita tidak terjatuh hingga tergeletak..

Happy Sunday!

Protected: Dear Sunday

This post is password protected. You must visit the website and enter the password to continue reading.

Gorengan vs Tissue vs Krupuk

Pagi hari, mengamati seorang bapak setengah tua yang menawarkan tissue 2ribuan barang dagangannya, rasanya menyesal membeli gorengan 10ribu buat teman-teman seruangan yang notabene sangat mampu, bahkan untuk makan di sebuah restoran mahal sekalipun.

Gorengan yang saya tenteng ini bisa membeli 5 bungkus tissue jualannya dan bisa jadi penghiburan buat si bapak itu yang tidak lelah berteriak mesti tidak ada yang beli tissuenya.

Sambil berpikir seperti itu penyesalan kok makin bertambah. Hanya karena termakan omongan bahwa saya tidak pernah beli gorengan untuk dimakan bersama, saya tersulut dan gengsi, akhirnya membeli gorengan walau hanya 10ribu. Tapi kok plastik gorengan yang harusnya enteng ini tiba-tiba berat. Maunya saya kembalikan saja ke tukang gorengannya dan uang 10ribu itu saya belikan tissue semua, toh saya juga perlu tissue itu. Darimana datangnya penyesalan beli gorengan itu?

Mungkin karena saya sangat sadar bahwa teman-teman saya itu sangat mampu bahkan untuk keluar masuk restoran mahal.

“Tapi lo beli gorengan itu kan juga jadi rejeki buat si tukang gorengan.” kata hati kecil saya sebelah kiri.

Yang sebelah kanan menjawab, “Masalahnya bukan itu.”

Ada balasan lagi, “Lo aja kali yang terlalu pelit.”

“Terserah lo deh.”

 

Yah, tetap saja gorengan itu sudah dibeli dan harus dimakan kan? Kalau tidak dimakan, mubazir…lebih salah lagi.

 

Sorenya ketika pulang, jalanan rame lancar, lihat lagi situasi yang lebih membuat hati miris. Seorang bapak yang buta, memegang tongkatnya berjalan tertatih di pinggir jalan raya, sambil menjajakan bungkusan kerupuk warna orange di punggungnya yang dibawanya bak menggendong tas ransel. Tertusuk lagi rasanya hati ini. Sedih sekali dan ingat gorengan tadi pagi. Si bapak itu lebih membutuhkan uang 10ribu itu. Penyesalan berlanjut terus sampai malam hari.

 

Bukannya tidak rela dan ikhlas membelikan gorengan buat teman-teman.

Bukannya pelit.

Bukannya ingin memutar waktu sehingga tidak perlu beli gorengan.

Tapi alangkah bijaknya pemikiran sebelum mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Alangkah dewasanya mampu menahan diri dari keinginan-keinginan duniawi yang tidak teratur.

Alangkah hebatnya mencoba jeli melihat sekitar mungkin ada orang yang sangat membutuhkan bantuan meski 2ribu atau 10ribu.

Dan alangkah puasnya bisa menghibur hati mereka dan akhirnya sama-sama bisa bersyukur atas kebaikan-Nya.

 

 

(Catatan ketika ditunjukkan-Nya jalan untuk mengekang keinginan-keinginan duniawi yang tidak teratur)

Hal Penghakiman



Di suatu pesta.

Sekelompok ibu keren yang tak kukenal memandangiku. Beberapa di antaranya dengan tampilan mereka yang prima dan super-branded. Mahal dan bling-bling di sekujur tubuhnya. Menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari wajah, pakaian, sandal, sampai tas yang kupakai. Semua tak lepas dari sorot mata mereka. Aku jadi salah tingkah, sedikit tak berkutik. Terlanjur dihakimi. Rasanya tak enak sekali.

Memang bajuku hanya gaun sederhana. Bukan yang mewah, tetapi nyaman kupakai. Tasku, bukan yang mahal sekali seperti milik mereka. Yang harus menghabiskan budget ribuan dollar untuk mendapatkannya. Sandalku pun asal Bandung, bukan milik disainer kelas dunia seperti mereka. Dipandangi sinis sedemikan rupa, tiba-tiba ada rasa muak. Sekaligus mungkin… KALAH.

Ini kompetisi perempuan. Yang mungkin kurang sehat, tetapi sering kali terjadi. Kompetisi. Penghakiman. Atas dasar fisik dan apa yang dikenakan.

Tiba-tiba perasaan muak itu datang lagi. Lebih baik aku beranjak pergi. Makan dan minum saja sampai puas hati. Dengan mereka? Cuek saja, tokh ‘gak kenal’ ini….Huh, hari ini mendadak jadi kurang menyenangkan. Kucoba tepis perasaan itu, tetapi dia masih ada. Ah, kusibukkan diriku sajalah daripada pusing dengan tingkah mereka….

Beberapa hari kemudian.

Di restoran cepat saji ini, kunikmati kentang goreng dan burger. Ditemani ‘iced lemon tea’ aku menikmati siang hari ini. Mumpung aku lagi cuti dari pekerjaanku, kapan lagi? Seorang ibu masuk ke restoran. Tampak lusuh. Seperti pengemis. Dan dia duduk di meja sebelahku. Segera kupindahkan tasku yang tadinya dekat mejanya, ke sisi sebelah jendela sehingga aman. Kuhabiskan makananku terburu-buru. Lalu ambil langkah seribu. Dia sudah membuyarkan hariku!

Malam hari saat ingin memejamkan mata di peraduanku…

Kejadian beberapa hari lalu di pesta melintas di depan mata.

Dan suara yang lembut itu menggema di batinku…

“ Anak-Ku, bagaimana perasaanmu ketika dihakimi? Apakah kau senang? Apakah kau bahagia? Lalu, mengapa pula kaulakukan penghakiman atas orang lain hari ini? Apakah kaunikmati saat menghakimi itu? Puaskah hatimu menganggap dirimu lebih tinggi dari orang lain, lalu boleh menghina dengan pandangan atau pikiranmu yang mungkin saja keliru?”

Aku terdiam.

Sungguh jahat diriku hari ini. Curiga hanya karena tampilan luar seseorang. Sama halnya seperti aku dihakimi mereka yang lebih berkelas dariku. Apa enak?

Dihakimi tak pernah enak. Tetapi, ketika menilai, menghakimi, bahkan bergosip tentang seseorang, betapa menyenangkannya! Bagaimana jika dibalik dan aku yang jadi bahan gosip dan tertawaan itu, apakah aku juga akan senang?

Lakukanlah kepada orang lain, sebagaimana kauingin diperlakukan…(Suara itu bergema lembut di hatiku..)

Ah, Tuhan…

Maafkan diriku…

Semoga aku belajar untuk lebih memandang penuh kasih kepada sesamaku. Bukan dengan tatapan mencela, bukan pula pandangan menghina…

Penghakiman? Mutlak hanya milik-Mu semata…

HCMC, 17 Januari 2011

-fon-

*Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (book of Matthew)