Ampunilah Aku, Ya Tuhan

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Dulu, ketika aku masih kecil, ketika belum ada fasilitas listrik di kampungku, aku tak pernah mengeluh atas gelapnya malam. Bahkan menjadi sangat bersyukur, ketika bulan purnama tiba. Namun sekarang, setelah ada fasilitas listrik, aku menjadi penghujat. Ya, penghujat apabila terjadi mati lampu, maka minimal aku menunjuk satu sasaran atau lebih,untuk aku salahkan, dan kemudian kuhujat.

Dulu, ketika hanya ada pasar tradisional, aku selalu di sapa dengan ramah, dan berbincang dengan para pedagang, sebelum akhirnya terjadi ksepakatan atas barang yang hendakku beli. Namun sekarang, setelah ada pusat perbelanjaan yang modern, aku menjadi sangat angkuh. Hanya sekali terjadi perbincangan, pada saat aku berada di kasir, hendak membayar.

dulu, ketika aku hanya memiliki sepeda, aku sangat bersemangat dan tanpa keluh, mengayuhnya kemanapun tujuanku. Tapi kini, setelah aku memiliki sepeda motor, banyak yang harus aku salahkan. Aku sering memaki pengendara yang lain, di jalan raya.

Dulu, ketika belum ada lemari es, pada saat aku memiliki buah nangka, aku selalu berbagi dengan tetanggaku. Meski terkadang hanya bermaksud kalau buat saya sendiri nantinya nangka tersebut tidak habis dan menjadi busuk. Tapi kini, setelah ada lemari es, kumasukan saja nangka itu semua ke dalam lemari es, sambil berkata “besok kalo dah dingin, pasti tambah enak nih”.

Sungguh, betapa berdosanya aku.

Tertarik dengan yang ini?

  • Cerita bernama “AKU”
  • Renungan Paskah- Pilihan
  • we are the reason
  • Pesan di kertas kuning kecil
  • Tangga – another story
  • Belajar dari Toko  Buku
  • Saat Menjadi Aku
  • #40MariBerbagi – Buka Topeng, Beri Senyum
  • #40MariBerbagi -Terlalu Sayang
  • Menatap Jalan

Leave a comment

Your comment