Heninglah malam
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Pagi, aku belum menginginkan terbitmu, sekarang. Aku masih ingin bersama malam. Aku masih ingin dalam keheningan. Takku harapkan riuh, takku harapkan keramaian. Matahari, menjauhlah.tenggelamlah dan kembali ke peraduanmu. Biar gelap dan pekat, dan dingin yang meresap, kunikmati dulu sampai aku puas. Disini, di tempat ini. Dulu kita sepakat untuk mengarungi sebuah perjalanan baru. Perjalanan dimana aku dan kamu sama-sama melebur, dan menjadi satu dalam menghadapi setiap aralnya. Disini, di tempat ini. Aku dan kamu sama-sama menjalani hari dan menjadi satu pada waktu itu. Dan, disini, di tempat ini. Kemarin kita bertemu, dan sama-sama berujar, “ kita sudah tak sejalan”. Maka, disini, di tempat ini, kita harus mengakhiri kesepakatan yang telah kita buat dulu. Kupandangi malam, kutelan bulan bulat-bulat, kemudian ku muntahkan lagi. ku pandangi engkau, ku ajak kau menangis, kemudian ku lepaskan, sesaat setelah ku kecup keningmu. Sambil berlari, kau usap bulir-bulir air mata yang menetes di pipimu, kemudian perlahan menjauh, dan menghilang dari pandanganku. Semesta seakan tak merestui. Gelapnya semakin pekat, dan dinginnya semakin meresap. Memakiku dalam kesendirian, berhamburan rasa yang tak lagi terasa. Tak ada halilintar, namun gelegarnya jelas tedengar. Tak ada hujan, namun derasnya terpampang di depan mata. Tak ada yang menikam, namun sakitnya jelas terasa. Maka janganlah engku mendekat, wahai matahari. Karna aku masih menunggu malam kembali dalam keheningan.












