Iri

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Aku iri kepada sebuah keluarga yang tinggal di tempat pembuangan sampah akhir, di Bantar Gebang itu. Hidup dalam ketidak beruntungan, meninggali sebuah gubuk yang akan roboh jika tertiup angin, tidak membuat keluarga tersebut mengeluh. Tak pernah kudengar terjadi pertengkaran dalam keluarga tersebut. Saling membantu,dan saling berbagi, menjadi menu sehari-hari bagi keluarga tersebut.

Aku iri, kepada bapak penarik becak itu. Diusianya yang senja, ia tetap tegar dalam menjalani hidup, bahkan sampai meninggal didalam becaknya sendiri, lantaran menahan rasa lapar demi menghidupi istri dan anak-anaknya.

Aku iri, kepada pelacur itu. Ditengah gelak tawa tuan polang, ia mampu menutupi layar pertunjukan derita keluarganya dikampung halamannya, yang selalu mengharap datangnya uang kiriman darinya. Dengan senyum yang dibalut doa, ia selalu mampu menutupi deritanya dari hadapan tuan polang yang meludahinya.

Aku iri kepada anak-anak. Jika saja terjadi pertengkaran diantara mereka, maka tak lama setelah itu, mereka mampu menetralisir semuanya menjadi kembali baik, tanpa meninggalkan dendam sedikitpun.

Sungguh, aku iri. Betapa aku yang lebih beruntung daripada mereka, justru tak pernah bersyukur.

Tertarik dengan yang ini?

  • MUJIZAT ITU NYATA
  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • Mimpi Berhadiah
  • Ah, Tuhan…
  • Being Mom: Permata
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?

Leave a comment

Your comment