kepedihan jiwa
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Mungkinkah aku masih dapat tertawa ? Setelah habis kau renggut dengan paksa, keceriaan yang hanya tinggal satu-satunya yang tersisa di dalam hidupku. Selalu menemui ketidak bahagiaan pada setiap akhir pertengkaran. Menyelesaikan yang belum saatnya berakhir, memutuskan yang seharusnya masih panjang tersambung.
Ku ajak saja raga ini menemui lautan kepedihan.Berdiam diri pada bibir pantainya, berteriak tanpa suara dan mengumandangkan segala resah hanya di dalam hati.tak satupun orang yang dapat mendengar, tak juga ikan-ikan dan terumbu karang yang berada di dalam lautan tersebut.
Sendainya saja aku berani bersuara saja,tanpa harus berteriak,maka bertambah celakalah aku. Sebab angin yang mendesir,dan selalu berhembus tak tentu arah itu pasti akan mendengar dan kemudian membawa serta keluhku ke seluruh penjuru dunia,dan mengabarkan pada setiap apapun yang di temuinya sepanjang perjalananya.
Ku benamkan saja tubuhku yang mulai melemah ini kedalam pasir pantai yang telah ku gali dengan tanganku sendiri.berharap dapat meretaskan semua air mata yang telah membasuh setiap sudut dinding-dinding jiwa ini. Mendalam,hancur dan teruslah musnah. Coba ku jdikan saja cobaan ini sebagai anugerah terindah yang pernah ku miliki.













Bulu kuduk gw gak dikasih kesempatan buat rebahan…. Dari awal sampe akhir!