Macan dan naga putih
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Pada suatu sore, di sebuah bibir pantai. Tampak seekor macan sedang berjalan dengan santai sambil menikmati kesendiriannya. Entah apa yang ada dalam fikiran macan itu, tapi yang jelas, ia hanya bejalan dan sesekali telihat menendangi dengan lembut bulir-bulir pasir di pantai itu.
Kepalanya merunduk, sesekali menoleh ke sekelilingnya. Sedang bermuram durja ia, tampaknya. Entahlah, apa yang ada di dalam fekiran macan itu, yang ku tau, ia hanya berjalan. Hingga kulihat, langkah sang macan terhenti tatkala dilihatnya seekor naga putih yang terbaring lemah, bersandar pada sebuah batang pohon tak jauh dari bibir pantai itu.
Rasa penasaran membawa macan mendekat kearah naga putih itu. Di pandanginya sang naga. Tampak sebuah luka yang masih merona, tepat di jantung hati sang naga putih itu. Kemudian bertanyalah sang macan. “ naga,..apa gerangan yang telah membawamu ketempat ini?”. Naga tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya. Macan terhenyak, sedikit berfikir, dan semakin penasaran. Di pandanginya tubuh sang naga, sambil terus berfikir, dan semakin penasaran.
Selang beberapa saat, macan kembali bertanya kepada naga putih itu. “ Naga, apakah gerangan yang telah membawamu sampai ke tempat ini?? Apa pula gerangan yang telah membuat luka di jantung hatimu itu, sehingga kau terkapar dan tak berdaya di tempat ini?, jika kau izinkan, aku ingin membantumu,..”
Naga putih itu masih tak mau menjawab sepatah katapun. Membuat sang macan, justru semakin penasaran. Tak ingin larut dalm kebingungan, macan tampaknya tau, harus berbuat apa. Macan tau, apapun yang telah terjadi terhadap naga, nyatanya adalah saat ini naga membutuhkan obat untuk menyembuhkan lukanya tersebut. Maka bergegaslah macan untuk mencari penyembuh luka bagi sang naga tersebut. “ tunggulah disini naga,. Aku akan segera kembali,.”
Beberapa saat kemudian, macan kembali. Di bawakanlah beberapa ramuan, yang ia dapatkan dalam pencariannya tadi. Segera saja macan mendekat ke tubuh sang naga. Di sentuhnya naga, kemudian di oleskannya ramuan-ramuan tadi pada luka sang naga.
Sementara naga masih tetap diam. Namun entah apa yang ada dalam fikiran naga tersebut. Pada saat macan mengoleskan ramuan-ramuan ku lukanya, sang naga terlihat meneteskan air mata.
Macan tampaknya tak menghiraukan itu. Dalam hatinya berkata, “ ah, mungkin saja karna sedikit perih, maka ia mengeluarka air mata,..”. dengan sabar dan penuh ketelitian, macan terus mengurapi luka sang naga tersebut, hingga selesai.
Setelah selesai membalut luka sang naga dengan ramuannya, naga duduk di samping sang naga, sambil sesekali mengusap peluhnya. Macan kebali bertanya kepada sang naga. “ naga, apakah gerangan yang telah membawamu ketempat ini?…”
Namun naga tetap saja tak mau menjawab. Dengan sebar, macan masih tetap duduk d samping sang naga tersebut. Hingga akhirnya, naga itu mau bicara. Namun bukan untuk menjawab pertanyaan sang macan, sang naga putih itu, justru menyuruh macan untuk pergi meninggalkannya. “ pergilah,..tinggalkan aku di sini sendiri,..” kata naga putih kepada macan.
Terang saja macan terkejut. “ apa??.. mana mungkin begitu?, kulihat lukamu butuh pengobtan, sementara kau berada sendiri di sini,..Mana bisa aku meninggalkanmu di sini?”
Namun naga tetap mengusinya. “ pergilah, aku tak mau di tolong, biarkan aku sendiri, biarkan saja aku mati, jika harus mati,..”
Mendengar itu, macan hanya diam, tak menjawab, tak juga melakukan apa yang di perintahkan oleh naga putih itu. Dalam hati macan bergumam. “ biarlah aku tetap di sini, aku tau, tak mungkin kau menghadapi lukamu itu sendiri. Tenang saja naga, aku akan membantumu menyembuhkan lukamu.”
Naga bertanya” kenapa kau tak juga pergi…?”dan kali ini gantian sang macan yang enggan menjawab. Karena macan memang tak akan pergi.
Hari-haripun terlewati, macan tetap berusaha mendampingi sang naga. Dengan sabar, Di bantunya naga mengobati lukanya.
Hari pertama di lewati. Naga putih masih belum dapat beranjak dari tempatnya. Masih terbaring lemah, dan tek berdaya.
Hari kedua : kondisi sang naga semakin membaik, namun mesih belum dapat beranjak. Dan masih tetap dalam kebisuan sang naga, yang seakan-akan tak membutuhkan apapun.
Hari ketiga : sang naga semakin membaik, kini ia sudah mulai dapat duduk, dan bersandar pada sebuah batang pohon. Namun tetap dalam kebisuannya.
Hari keempat, dan hari-hari selanjutnya. Kondisi sang naga semakin membaik.
Hingga pada suatu hari, sang naga bertanya kepada sang macan.
“ macan, kenapa kau mau membantuku menyembuhkan luka ini?”
Macan tak menjawab, Ia hanya tersenyum.
“ kenapa macan?” naga kembali bertanya
Dan macan menjawab.” Ya, karena waktu itu, kulihat kau membutuhkan bantuan. Maka aku membantumu.”
Obrolanpun terus berlanjut. Kondisi sang naga semakin membaik. Merekapun akhirnya bersahabat. Sambil menanti kepulihan sang naga putih itu. Mereka menghabiskan waktu sambil bermain-main di bibir pantai itu. Sesekali berkejaran, bercanda dan saling memercikkan air laut.
Matahari mulai turun. Malam segera dating. Seperti malam-malam sebelumnya, macan masih setia menemani sang naga. Dalam perbincangan, macan kembali mengungkapkan sebuah pertanyaan yang ia lontarkan waktu pertama kali bertemu dengan naga, paa saat itu. “ naga, apa gerangan yang telah membawamu ke tempat ini, bersama lukamu?…” naga tak menjawab. Naga hanya diam, dan memandang kea rah langit, seakan tengah serius menghitung bintang. Macan bertanya lagi. “ naga, apa gerangan ya,..” belum selesai macan bertanya, tiba-tiba naga menoleh kearah macan, dan memotong pertanyaan macan, kemudian menjawabnya dengan sangat singkat. Satu kata. “ cinta…” katanya.
Waktu terus berlalu, sambil masih menunggu kepulihan sang naga. Mereka menghabiskan waktu bersama. Dengan sabar, macan terus menemani sang naga. Sesekali macan meninggalkn sang naga untuk mencari persediaan makanan buat mereka.
Selalu begitu setiap hari. Hingga tak tau apa yang terjdi dalam hati sang macan. Ternyata timbullah buih-buih cinta terhadap sang naga putih itu di dalam hati sang macan. Entah dari mana datangnya. Karena terbiasa? Mungkin. Yang jelas, macan telah jatuh cinta terhadap sang naga. namun macan tak berani mengungkapkannya. Macan tau, itu adalah sesuatu yang tak mungkin. “ tidak,..ini tak boleh terjadi..” dalam hati macan berusaha menolaknya. Namun semakin macan menolaknya, maka perasaan itu semakin jauh menghujam ke lubuk hati sang macan. “ tidak…!!!! Tidak,..!! ini tak boleh terjadi,..!!!” macan terus berusaha menolaknya.
Waktu terus berlalu. Sekarang naga sudah benar-benar pulih. Tibalah waktunya untuk sang naga pergi, dan meniggalkan sang macan, untuk kemudian kembali melanjutkan hidupnya di atas sana. Di temuinya sang macan, kemudian berpamitanlah sang naga putih itu. “ macan, sekian lama kau merawatku, dan sekarang kurasa aku telah benar-benar pulih. Aku harus kembali keduniaku, aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakuka untukku seama ini.”
Macan terunduk. Namu ia harus menerima kenyataan ini. Dalam hatinya bimbang. Apakah aku harus mengungkapkannya? Atau aku harus tetap diam? Haruskah ku beri tahu dia bahwa aku telah mencintainya?..
Macan telah membuat keputusan. Ia hanya akan memendam perasaannya itu. Dan kemudian menatap kearah naga putih, dan berkata. “ pergilah naga, kembalilah keduniamu,…’
Selesai berjabat tangan, sang naga putih pun kemudian terbang menuju keangkasa, sambil sesekali menoleh ke arah macan yang terus berlari di sepanjang bibir pantai mengiringi kepergian sang naga, hingga sang naga putih itu benar-benar tak terlihat.
Mendongaklah macan ke arah langit. Kemudian berbicara lirih, hampir tak terdengar.“ selamat jalan naga putih, jaga dirimu. Aku mencintaimu.”
Sejak kejadian itu, hari-hari di lalui macan dengan sendiri. Sambil terus merindukan naga putih itu. Ia berusaha memegang teguh perasaan cintanya tesebut. Namun macan tak pernah berharap naga putih itu kembali. Karena jika saja naga itu kembali ke tempat semula. Maka itu berarti, sang naga telah terluka (lagi). dalam doanya untuk sang naga putih itu, macan selalu meminta. “ ya tuhan, jagalah naga itu. Berikanlah ia yang terbaik dalam hidupnya. Jangan kau biarkan ia kembali ketempat ini, bersama lukanya lagi. biarkanlah ia bahagia dengan apa yang telah ia cintainya,…”












