obrolan malam, bersama bulan

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Sambil menghitung bintang, ku ajak rembulan berbincang. Meresapi heningya malam, dan tetap berusaha untuk tidak terlihat bahwa aku sedang bersedih sedikitpun di hadapannya. Ku mulai sapaku kepada bulan. “ hai bulan, sedang apa kau di sini?”  sambil menoleh ke arahku, bulan menjawab. : seperti yang kau tau, inilah kerjaku setiap waktu, duduk dan memandangi bintang-bintang yang saling bercengkrama satu dengan yang lain, saling kejar dan saling tangkap, sesekali beradu cahaya. Mengapa kau menayakan hal ini kepadaku?” jawab sang bulan. “ oh tidak,.. aku hanya ingin tau, mengapa engkau yang berada sendiri pada langit ini, bisa tetap setia, meski di sekitarmu semua yang memenuhi angkasa ini tidaklah sendiri. Hanya kau dan mataharilah yang selalu terlihat sendiri. Apa gerangan yang membuat engkau dan matahari dapat bertahan dalam bentuk kesetiaan yang seperti ini?, sementara kulihat yang lain, segala sesuatunya selalu di penuhi dengan kecerian bersama sahabat, dan keluarganya.”

Bulan tak menjawab, di malah memalingkan wajahnya dari pandanganku, sesekali kemudian bulan tersenyum, karna melihat sekawanan bintang yang sedang berkejaran, dan sesekali satu di antaranya terpeleset, dan terjatuh ke bumi. Atas perilaku sang bulan kali ini, aku aku menjadi merasa tak enak terhadap bulan. Dalam hatiku berkata, “ apakah pertanya’anku tadi telah melukai hati sang bulan?”. Sambil sesekali melirik ke wajah sang bulan yang masih tetap diam dan memandangi sekelompok bintang yang masih bercengkrama, aku tetap menaruh harapan yang besar, agar bulan mau menjawab pertanya’anku tadi.

Aku bergeser sedikit, lebih mendekatkan diri kepada sang bulan, dan kemudian, meski dengan sedikit bergetar, sambil menggendong berton-ton pemberat pada mulutku, aku kembali memberanikan diri untuk berbicara kepada sang bulan, “ Bulan,..mmm…ma’af,..kau belum menjawab pertanya’anku. Ma’af,..apa aku sudah salah berbicara kepadamu?” Sedikit terkejut, bulan menoleh ke hadapanku, kemudian memandangiku, seperti hendak mengatakan sesuatu, atau entah dia sedang berfikir apa tentangku.

Bulan masih tetap memandangku, ketika aku sudah semakin tak sabar lagi ingin mendengarkan jawabannya. Maka kemudian, akupun kembali memberanikan diri untuk berbicara kepada bulan. “ Bulan,..kkk..kau blum menjawab pertanya’anku?”

Sambil tersenyum, dan menyentuh pundakku, akhirnya bulanpun mau berbicara. “ apa kau sungguh mau mendengar jawabanku?” bulan malah berbalik bertanya. Maka dengan cepat, dan penuh semangat, akupun langsung menyahutnya. “ Ya..!, sangat bulan..! aku sangat ingin mendengar jawaban itu,.. katakanlah kepadaku..”

Dan melihat ekspresiku yang sedemikan, akhirnya bulan menjawab pertanya’anku.

Sambil sesekali menoleh kea rah sekelompok bintang, bulan memulai jawabannya.

“ Kau tau?, tak ada satupun makhluk di dunia ini, yang menginginkan hidupnya di dalam kesendirian. Semua pasti menginginkan hidupnya menjadi lebih berwarna, bersama dengan keluarga, sahabat, dan mungkin kekasihnya. Maka akupun sesungguhnya demikian. Namun taukah kau, atas apa yang telah di tuliskan tuhan kepadaku?, inilah aku, seseorang, yang oleh tuhan telah di campakkan di dalam kesendiriannya, yang tentu saja tuhan telah memiliki maksud tertentu, yang pasti bertujuan baik Awalnya akupun sempat berontak pada keputusan tuhan tersebut. Namun seiring waktu yang berjalan, aku mulai menemukan arti di balik semua ini.

Sungguh, betapa bahagianya aku, ketika aku tau, jika tidak ada aku, maka malam-malam di dunia tak lagi benderang karena cahayaku. Betapa besar kepercaya’an tuhan yang telah di berikan kepadaku. Betapapun juga, kini aku lebih bersyukur atas anugerah ini, meskipun seperti yang kau tau, aku tetap hidup di dalam kesendirian. Maka apapun yang telah tuhan berikan kepada kita, syukurilah, karena tuhan pasti memiliki rencana yang lain di balik semua itu. Terkadang kita akan memberontak, merasa di beri sebuah ketidak adilan, merasa tertindas, namun percayalah, bahwa tuhan memiliki rencana yang indah diatas semua itu. Terkadang kau harus berhadapan dengan berbagai karakter orang  yang mungkin menurutmu sangat menjengkelkan karena tidak dapat mengerti kondisimu, seperti yang sering terjadi kepadaku sa’at ribuan orang menuntutku untuk selalu menerangi malamnya, meski aku sendiri sedang dalam keada’an yang tidak memungkinkan. Ketauilah, bahwa itu  semua adalah anugerah. Berusahalah untuk tetap mengerti apa yang di inginkan oleh orang lain, dan jangan pernah sekalipun kamu berharap orang lain akan mengerti kamu. Laksanakanlah apa yang telah menjadi pilihanmu, lakukan itu dengan sebaik mungkin. Jangan pernah mengeluh, seperti yang kau tau bahwa selama ini aku tak pernah melakukan itu kepada kalian. Karena sebuah keluhan, bagiku, adalah tak lebih daripada rasa tidak bersyukur kita, atas apa yang telah kita pilih sendiri. Jika kita sudah dapat melakukan itu semua, maka percayalah, bahwa kita akan tetap setia pada apa yang sudah seharusnya menjadi hidup kita.”

Aku masih tediam, dan sesekali melirik kearah sang bulan, yang sepertinya masih sedang berfikir untuk berbicara (lagi). Dan benar saja, tak lama setelah itu sang bulan pun kembali berbicara. “ apakah pertanya’anmu tadi sudah terjawab sekarang?”. Kata bulan. Aku hanya tersipu, menoleh kearah bulan, kemudian berbicara kepadanya. “ mmm…mungkin,…” Sambil tersenyum, aku melanjutkan kalimatku. “ tampaknya aku harus merenungkan kembali jawabanmu itu bulan, namuun terimakasih, kau telah mengajariku dengan jawabanmu malam ini” Dan kemudian akupun melanjutkannya dengan berpamitan kepada sang rembulan.” Terimakasih bulan, sebuah obrolan yang sangat bermanfa’at untukku, kini aku ingin kembali ke rumahku, dan akan ku fikirkan apa yang telah kau katakana kepadaku. Terima kasih bulan…” Sambil tersenyum, bulan mnganggukkan kepalanya, dan kemudian aku kembali ke rumahku.

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI

Leave a comment

Your comment