pertunjukkan pelangi cinta
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Pelangi cinta tampaknya kembali membuat sebuah pertunjukkan. Tak jera rupanya ia kembali memberikan undangan pertunjukkannya itu kepadaku, agar aku mau menghadirinya, dan kembali mendengar panggilan dari cinta-cinta yang berjumpalitan memyuarakan semua yang ada di dalam hatinya, meski kemudian setelah aku mendengar, dan mendatangi jiwa tersebut untuk kemudian ku terima panggilannya, harus selalu berakhir pada sebuah kisah yang tak sesuai dengan apa yang kami harapkan,seperti ketika pertama kali kami saling setuju dan kemudian mengikrarkan janji untuk saling menerima kekurangan kami masing-masing.
Tertulis seperti ini, “Hadirlah wahai engkau jiwa-jiwa yang ku kehendaki untuk menyaksikan pertunjukkan yang kami suguhkan khusus untuk anda”.
Haruskah aku kembali menghadirinya? atau untuk kali ini biar ku abaikan saja undangan tersebut, dan memilih untuk tetap tertidur dengan nyenyak pada ranjang kesetiaan ini.
Sungguh, tak lagi dapat bergerak. Bila hati ini sudah terlanjur membeku, dan tertahan pada satu titik pilihan, takkan pernah lagi mampu bergeming dan beranjak dari tempatnya untuk kemudian memilih kesempatan dari sebuah suguhan yang lain, yang mungkin sesungguhnya lebih indah dan membahagiakan tanpa harus terluka seperti apa yang sudah dan di lakukan oleh pilihanya tersebut.
Jiwaku inginkan terbang, untuk kemudian ku tanyakan kepada penghuni angkasa keajaiban cinta.”adakah cinta dapat tetap di agungkan,di tengah riuh dan jahanamnya kemolekan hidup yang bergemilang dan tanpa perasaan, tunduk pada kuasa tangan-tangan besi?”..
Haruskah kesetiaanya di gadaikan hanya agar dapat bersaing dengan kemolekan dunia?
Maka aku bertanya kepada penguasa langit,dan cahayanya.”apa artinya cinta?”
Seperti membaca sebuah puisi dari Negara Etiopia. Tak sulit untukku, bahkan tak hanya untuk membacanya, namun ntuk menghafalkannya sekalipun, tak ada sedikitpun kesulitan dari puisi-puisi tersebut. Dengan gamblang, baik dan benar, aku mampu menghafal apalagi sekedar membaca beribu-ribu puisi Etiopia tersebut, dengan notasi dan artikulasi yang nyaris sempurna. Namun tetap saja aku sama sekali tak tau artinya.
Ah”, sudahlah.ku rebahkan saja kembali tubuhku ini. Dan kembali terlelap, membiarkan pelangi itu tetap melangsungkan pertunjukkannya tanpa harus ada aku sebagai penontonnya, meskipun mati-matian ia mempersiapkan pertunjukkan tersebut hanya untuk di perlihatkan kepadaku. Ku ucapkan saja salamku melalui angin kepada pelangi cinta itu.”maaf, aku tak bisa ke lain hati..”












Salut!
terima kasih.Zed..
salut juga untukmu…