petuah bijak, dari seorang petani

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Pagi ini, seperti biasanya, aku duduk di halaman teras depan rumahku. Sambil menikmati secangkir kopi, dan beberapa batang rokok, dan melakukan perbincangan sendiri bersama mata, dan hati. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya juga, pak Amir, seorang petani yang tinggal bersebelahan dengan tempat tinggalku, berkemas untuk segera melakukan tugasn di kebun miliknya.

Dan seperti biasanya pula, kemudian aku menyapanya. “pagi pak,..”

pak Amir pun menjawab.” Eh, de’ ode, pagi juga de’, masih santai nih??”

“he,..iya nih pak;, biasa pengangguran..he..” jawabku

Setengah menghibur, pak Amir pun menjawabnya,” ah,..ade bisa aja..”

Singkat kata, entah ada ide apa, dari hasil perbincangan kami pagi ini, aku seakan tertarik untuk ikut pak Amir pergi ke kebun milikya.dan tanpa berlama-lama lagi, sebelum akhirnya pak Amir berangkat,  maka akupun mengutarakan keinginanku tersebut, kepada pak amir.

“pak, boleh tidak saya ikut bapak pergi ke kebun milik bapak?”, tanyaku kemudian.

“ah, ade’ ini bercanda lagi..” sahutnya

Setengah tersipu, mencoba meyakinkan pak Amir.”tidak pak, saya serius, boleh ya pak…”

Seperti masih tidak percaya dengan keinginanku tersebut, akhirnya pak Amir pun mengizinkan aku ikut ke ladangnya.” Baiklah kalu begitu, tapi jangan nyesel lho ya. Di ladang mah panas,” katanya

Aku hanya tersipu.

Maka kemudian, bersama sepedah tuanya, lengkap dengan cangkul, parang, sabit, dan keperluan meladang yang lain, kami berboncengan menuju ke ladang pak Amir.

Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya kamipun samapi di lading pak Amir. “sudah sampai de’, inilah kebun saya”, kata pak amir, sambil menyandarkan sepadah tuanya pada sebuah pohon.

“oh, ini tow ladangya pak Amir,” jawabku kemudian.

” Sudah berapa lama pak, bapak mengurus ladang ini?,”  aku melanjutkan pertanyaanku, yang kemudian di jawab oleh pak Amir. “sudah kurang lebih 10 tahun de’, kenapa?.”  Kemudian akupun mengutarakan maksud pertanyaanku tersebut. Sambil memandangi tanaman-tanaman yang berada pada ladang tersebut. “ he,.. ehm,.. tidak pak, lalu apa saja yang biasa bapak lakukan di sini, boleh tidak saya tau apa saja yang sudah bapak perbuat terhadap tanamam-tanaman bapak selama waktu yang tidak singkat itu?.

Dengan memandangku, lalu kemudian mempersilahkan aku duduk pada sebatang pohon yang tumbang, pak Amir pun memulai critanya.

“pada awalnya, saya juga merasa ragu de’, apakah saya bisa melakukan pekerja’an ini.saya sempat bingung, harus melakukan apa terhadap tanaman-tanaman saya, namun kemudian, seiring waktu yang terus berjalan, saya bisa memahami, dan mengerti secara benar, apa yang di perlukan, dan apa yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bagi tanaman-tanaman saya tersebut. Bagaimana cara memperlakukan tanaman yang satu dengan yang lainnya, bagaimana mengetahui arah dan akhir dari tanamn yang saya rawat ini.” cerita pak Amir sembari melinting sebatang rokok, kemudian menyalakan rokok tersebut, dan menghisapnya. “Bull”, asap rokok mulai menyembul dari mulut pak amir, sambil melanjutkan ceritanya. “kita tak bisa de’, memaksa duren menjadi anggur, ataupun sebaliknya. Kita hanya perlu mengetahui apa yang di butuhkan oleh duren, dan menyingkirkan apa yang dapat mengganggu kelangsungan hidup mereka. Tanaman sebagai anak-anak kita, maka saya harus merawatnya dengan baik. Kita tetap tak bisa menjadikan mereka tumbuhan yang lain, kalupun bisa, kita hanya dapat menggabungkannya, dengan cara menyetek, dengan tumbuhan yang masih sejenis dengan mereka. Yang masih memiliki tujuan dan maksud yang sama. Selebihnya daripada itu, kita hanya tinggal mengikutinya saja. Mendukung apa yang mereka mau, mengerti apa yang dapat menyempurnakan keinginan dan cita-cita dari tanaman tersebut.” Sambil masih menikmati rokoknya, pak Amir menyelesakian ceritanya, dan melangkah mengambil cangkulnya, kemudian meamandang ke arahku, dan berujar. “ayo, klo mau berkenalan sama tanaman saya…:” kata pak Amir sambil tersenyum, dan mulai melangkahkan kakinya menuju tanaman-tanamannya tersebut.

Sungguh, betapa aku sudah belajar banyak dari kejadian ini. Berusaha mengerti dan memahami masing-masing karakter, yang tak bisa satupun kita paksa untuk mengikuti keinginan kita. Sebuah petuah bijak dari seorang petani, yang dapat ku gabungkan dengan kenyataan hidup pada saat ini.

Tertarik dengan yang ini?

  • Kemana Larinya Inspirasi?
  • Ah, Tuhan…
  • Menulis dan Terus Menulis
  • Ruin is a Gift.
  • Bolu Kukus
  • Gak Enak
  • Lari
  • You’ve Got the Talent (s)!
  • Bingung?
  • Salahkah diriku??

Leave a comment

Your comment