Sepi
“Aku mencintai kekuranganmu…”
kata seorang Bujang kepada gadis pujaannya. Klise? Kurasa tidak. Segala sesuatu yang terucap dari hati, adalah sebuah tanggung jawab. Hal tersebut yang kemudian akan menjadi penentu apakah hubungan asmara yang di bangun oleh sepasang kekasih akan langgeng, atau hancur di tengah perjalanan.
Tanggung jawab atas komitmen yang dibuat sebagai landasan yang dibangun dalam menjalin sebuah kisah asmara, membimbing kita untuk melangkah bersama, selamanya. Ungkapan “Romantis”, dari seseorang kepada kekasihnya akan menjadi klise, apabila pada akhirnya ia kehilangan orientasi dalam hubungannya, atau bila sejak awal menjalin hubungan, ia sama sekali tidak memiliki orientasi yang jelas.
Perpecahan kemudian datang tatkala satu dari sepasang kekasih tak lagi dapat memegang kepercayaan atas kesepakatan yang telah di amini bersama. Persoalan muncul, dan perselisihan segera hadir tatkala nilai-nilai kesetiaan tak lagi di hiraukan. Tak mau lagi saling mengerti, tak mau lagi saling mendengar. Kalimat romantis pun segera berubah menjadi caci maki. Hambar.
Pada akhirnya, kembalilah pada komitmen awal menjalin hubungan dalam bentuk apapun, dan saat kita tergoda untu berlari, ingatlah kembali pada komitmen tersebut. Jangan sampai ketika kita berlari, kita justru mati termakan oleh nafas kita sendiri.












