Tengi’an Natal

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Dua lilin sudah menyala. Sebuah pertanda bahwa natal sudah dekat. Kemarin, ketika aku berkunjung ke rumah ibuku, ketika aku sampai di rumah ibu, terlihat ibu sedang membersihkan toples-toples dari tengik-tengik, sisa natal tahun lalu. Sungguh, betapa tak jauhnya toples itu denganku. Gurih, lezat, dan nikmat. Awal dari isi toples, ketika baru saja di pajang di meja tamu, untuk menjamu para hadirin, yang berkunjung merayakan sesuatu yang (tampaknya) sangat istimewa. Natal. Jelas, sesuatu yang sudah sejak lahir hingga kini tak dapat lepas dari hidupku. Namun coba aku fikir kembali. “Hingar bingar, kita merayakannya, membangga-banggakan waktu datangnya. Namun pernahkah kita menyadari? Bahwa justru, “dia” yang kita rayakan kelahirannya, seolah hanya cukup kita beri beberapa karung semen bekas, rumput kering dan bambu-bambu potongan, kemudian kita rangkai, dan kita bentuk seolah sudah menyerupai tempat kelahirannya, kemudian setelah jadi, ya hanya teronggok saja, di sudut rumah kita. Sungguh, kasihan sekali yesus. Berteriak-teriak kita. Hingar-bingar kita, namun menjadi tak jelas, apa maksud dan tujuan teriak dan hingar kita. Adakah yesus sungguh lahir di betlehem? Secara kitab suci adalah “ya”. Namun tidak bagiku. Yesus lahir di hati. Dan di sanalah, bukan toples yang harusku bersihkan dari tengik-tengik. Namun hati ini, yang jelas sangat penuh dengan ketengikanlah yang harus ku bersihkan. Dan tak perlu ku gantikan dengan kue yang baru, yang nikmat pada awalnya, kemudian menjadi tengik (lagi). Namun harus ku ganti dengan isi yang nikmat, dan takkan pernah tengik.

Tertarik dengan yang ini?

  • Dekil
  • The Colors of Christmas
  • Sinterklas dan kado
  • I lost  my friend a week before christmas…
  • Enam Hari Sebelum
  • Damai di Bumi
  • I wish…. (sebuah catatan menjelang Natal…)
  • Terpesona oleh Christmas Carol
  • Pretty Holland
  • BOBOT PRIA

Leave a comment

Your comment