Tumbuh Satu, Mati Seribu

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Pagi ini, kulihat awan tak begitu cerah. Mendung, dan sepertinya akan sgera turun hujan. Dari balik jendela, kulihat pak Kidal sedang mengelapi flute kesayangan miliknya, di teras rumahnya. Sambil sesekali diangkat, dan di usapnya kembali, dipandanginya flute tersebut dengan penuh makna, tampaknya.

Pak Kidal adalah seorang tua, yang sejak mudanya menjadi seorang pemain musik keroncong, dalam sebuah paguyuban yang dibinanya. Kecintaannya pada aliran musik tersebut, bagaikan mempertaruhkan hidupnya sendiri. Betapa tidak, hingga menjelang usianya yang kini sudah menginjak kepala tujh itu, pak Kidal masih saja tetap memainkan nada-nada keroncong, langgam, dan jenaka, yang di gandrunginya tersebut, meski hanya sebatas di rumahnya, dan tak pernah sekalipun melakukan pertunjukkan, seperti ketika aku masih kanak-kanak dulu.

Rasa malasku timbul karena cuaca pada pagi ini yang mendung. “ah,..tidak, aku tidak boleh bermalas-malasan” gumamku di dalam hati. Kulangkahkan kakiku. Namun masih tak tau harus berbuat apa. Sampai seketika, aku memiliki ide, untuk menemui pak Kidal dan mengajaknya berbincang. “Siapa tahu saja ada pelajaran yang baru, yang aku dapatkan”. Fikirku. Kudatangi rumah pak Kidal, yang berhadap-hadapan dengan rumahku. Ku sapa pak Kidal, yang dengan penuh penghayatan, masih tetap mengelapi flute kesayangannya tersebut. Tak lama kemudian, pak Kidal mempersilahkan aku duduk. Dan kamipun memulai perbincangan kami.

Gerimis  mulai turun, menemani perbincanganku bersama pak Kidal.Cukup lama kami berbincang, sampai setengah hari, dan gerimispun reda. Dan benar saja, niatku mengajak pak Kidal melahirkan sebuah pengetahuan baru untukku. Sebuah pengetahuan, yang sangat realis, dan niris untukku. Jika harus ku simpulkan dari perbincangan kami tadi, kira-kira yang aku tangkap adalah seperti ini.

Kemajuan tekhnologi, ternyata semakin menunjukkan kesombongannya. Sebut saja organ tunggal. Ya, organ tunggal. Kita pasti tak asing, dengan alat, dan system hiburan baru ini. Sebuah alat yang sangat sederhana, sampai-sampai, ponakanku yang masih duduk di kelas lima SD pun sanggup memainkannya. Terlebih, jika kita mampu memanfaatkan fitur-fitur didalamnya. Hanya sekali mencet saja, alat ini akan mengiringi kita, sesuai dengan lagu yang telah kita tentukan. Inilah, system terlaris hiburan kita pada saat ini. Tak perlu kebersamaan, tak perlu kemampuan yang terlalu handal, tak perlu juga penjiwaan dalam memainkannya. Satu orang, dan selesai semuanya. Tak perlu pak Kidal, untuk memainkan flute, tak perlu pak-pak yang lain, untuk memainkan alat instrument yang lain. Cukup dengan sepuluh jari. Dan selesai semuanya.Maka selesailah juga, masa kejayaan pak Kidal, dan teman-teman seperjuangannya yang lain. Sebuah kejayaan, yang hanya tinggal cerita.

Kehadiran organ tunggal, ternyata, tak hanya menendang pak Kidal dalam musik keroncongnya saja. Tapi juga menendang para pak-pak, pelaku musik yang juga berjuang dalam kebersamaan di aliran musik yang lain. Sebuah perjuangan, dimana dulu mereka mampu memenuhi kebutuhan hidup, daripada kerja kerasnya, kini harus di patahkan hanya oleh seorang pemain saja.

“Kebersamaan itu telah hilang, otot-ototan dalam mengaransemen sebuah musik pun hilang. Senyum bersama, ketika kami selesai melakukan sebuah pertunjukan, hilang. Terlebih, soal bayaran. Karna untuk jaman sekarang ini, bahkan kalau ada yang mengundang kami bermain tanpa ada bayaranpun, kami akan sangat senang sekali,..” Inilah kalimat terakhir pak Kidal kepadaku, sesaat sebelum aku berpamitan untuk pulang.

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Leave a comment

Your comment