Tutup Panci Oh Tutup Panci

(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)

Sudah beberapa minggu ini, aku berada dirumah kedua orang tuaku. Kampung halaman dimana aku dilahirkan. Letaknya sangat terpencil, keheneingan masih menjadi sahabat setia diwaktu malam tiba.Walaupun pada sebagian penduduk, moderenisasi sudah mulai merambah, namun beberapa tradisi yang katanya kuno, tapi menurutku lebih beradab, masih aku temukan disini. Seperti misalnya, tradisi menyapa kepada setip orang yang berpapasan dengan kita, meskipun orang yang berpapasan tersebut sama sekali tak kita kenal. Senyum ramah, dan semangat “ontel” yang menyelip diantara sedan-sedan yang mengkilap milik bapak pejabat, atau anak dari petani yang sukses, masih aku temukan disini. Aku sendiri termasuk salah seorang yang sudah terserang arus modernisasi. Internet, sudah menjadi rokok dalam hidupku, sehingga candunya sudah melekat.

Letak kampungku yang terpencil, menyebabkan aku kesulitan untuk mengakses fasilitas internet. Modem yang bisa aku gunakan, menjadi tak berguna sama sekali. Internet, yang belakangan memang sudah menjadi bagian dari hidupku, memaksaku menemukan cara untuk dapat mengaksesnya.

Aku mencoba mencari WARNET. Kupacu sepeda motorku, jarum jam tak mau menunggu, maklum rindu,..*kata bang Iwan Fals*. Kulalui jalan-jalan sepi dikampung ini. Hingga sekitar 45 menit pejalanan, akhirnya aku menemukan sebuah WARNET. Sesungguhnya bukan karena jaraknya yangterlalu  jauh, hingga aku harus menempuh pejalanan sekitar 45 menit dari rumah orang tuaku menuju ke WARNET tersebut. Namun karena disepanjang perjalanan, jalan-jalan yang aku lalui, tak ubahnya seperti sebuah kolam ikan. Dimana lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalan-jalan tersebut  sampai meyakinkanku apabila kumasukkan ikan Gurami yang sebesar bantal didalamnyapun, maka ikan tersebut mampu berenang dengan bebas. Maka jelas, dengan kondisi jalan yang seperti ini, aku harus memacu sepeda motorku dengan sangat pelan.

Aku berhasil menemukan akses internet. Sebuah WARNET, cukup membuatku tersenyum puas, dan melupakan kolam-kolam ikan yang aku lalui sebelumnya. Langsung saja aku masuk, dan memesan tempat yang kosong untuk kugunakan fasilitasnya. Namun ternyata, senyumku kembali berubah menjadi manyun. Bukan main lambatnya akses internet pada WARNET tersebut. Kusabarkan hatiku, mencoba memahami secara Geografis, hingga menyebabkan WARNET ini begitu lambat. Semakin lama, ternyata aku tak sabar juga, kelambatan WARNET tersebut, membuat aku semakin manyun. Maka daripada aku menjadi emosi, lebih baik aku pulang saja, dan berhenti menggunakan fasilitasnya.

Sesampainya dirumah orang tuaku, aku berfikir, bagaimana caranya agar dapat mengakses internet, tanpa harus manyun. Aku masih ingat di modemku yang tak dapat kugunakan itu, masih tersisa pulsa internet yang akhirnya menjadi sia-sia. Cukup lama aku befikir, berhari-hari selama aku tinggal ditempat orang tuakau. Hingga pada suatu malam, disaat perutku lapar dan aku hendak membuat nasi goreng, aku melihat sebuah tutup panci. Entah mengapa, sepertinya aku jatuh cinta kepada tutup panci tersebut. Selesai membuat nasi goreng, maka aku menikmatinya, sambil terus membayangkan wajah sang tutup panci.

Esok pagi, aku terbangun. Wajah sang tutup panci mengisi otakku dan menempati urutan pertama. Maka langsung saja kutemui tutup panci tersebut. Kupandangi, kemudian ku ajak berbincang. Sambil membuat secangkir kopi, aku terus mengajaknya berbincang.

Tak sia-sia aku berbincang dengan tutup panci tersebut, hingga akhirnya tutup panci tersebut berkata kepadaku. “ aku bisa membantu permaslahnamu, meski mungkin tak sempurna. Carilah kabel panjang, dan sebuah bambu yang akan kau gunakan sebagai tiang. Hubungkan aku kepada modem yang tak dapat befungsi tersebut” katanya.

Maka aku ikuti, perkataan sang tutup panci tersebut. Kurangkai, dan kemudian aku mulai beraksi. Tak sia-sia, setelah kucoba, ternyata benar. Aku dapat megakses internet (lagi). meskipun lambatnya super-duper lambat. Namun paling tidak, sisa pulsa yang aku miliki dimodemku tak terbuang sia-sia,dan akupun tak perlu lagi memaksa sepeda motorku berenang pada kolam ikan, hanya untuk mengantarkanku berkelahi dengan pemilik WARNET.

Tutup panci, oh tutup panci. Tak salah aku jatuh cinta kepadamu. Terima kasih tutup panci, terima kasih pula perut lapar, yang sudah mempertemukanku dengan tutup panci. Kini aku dapat mengakses internet (lagi), meski lambatnya super duper lambat, tapi paling tidak, pulsaku yang tersisa tidaklah tebuang denga percuma.

Tertarik dengan yang ini?

  • Gadis Itu Aku
  • Masalah sepele
  • Belajar menghargai …
  • Ide Mampet?
  • I’m in a bad mood
  • Kenapa ya?
  • My Life is never the same
  • Yuk Nulis!
  • Sedang Bosan Menunggu
  • Birthday Reminder

Leave a comment

Your comment