Arumi… Arumi…
(Puji Lestari)
Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengannya di desa terpencil ini. Waktu itu Ki Lurah desa ini memanggil dalang terbaik dari Temanggung untuk merayakan keberhasilannya karena terpilih menjadi lurah.
Bagiku, sesungguhnya perjalanan waktu itu adalah perjalanan yang pertama. Aku harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan berat untuk sampai di desa terpencil ini. Tapi perjalanan itu kulalui dengan hari gembira demi menjaga orang yang kucintai.
Ketika pertama kali sampai di desa ini, aku berhenti di sebuah warung kopi untuk melepas penat. Pembicaraan-pembicaraan antara para pembeli tidak terlalu kuperhatikan. Aku benar-benar lelah. Kunikmati hisapan rokokku dan racikan kopi tubruk yang tak manis. Hingga kudengar nama itu disebut.
“Wah, kang…besok malam di pertunjukan wayang akan aku tunjukkan gadis cantik yang namanya Arumi. Cantik sekali seperti bidadari…”
“Ah, masak sih…cantik mana sama anak pak Darlan?”
“Si Kinanthi maksudmu…”
Laki-laki lawan bicara pemuda itu pun mengangguk.
“Jauh kang…ya masih cantik si Arumi. Kulitnya kuning langsat. Badannya langsing. Wangi. Rambutnya hitam, panjang. Matanya itu lho kang…sendu…”, jawab si pemuda sambil mengeleng-geleng kepala. Dapat kupastikan dia sedang membayangkan sosok Arumi di kepalanya.
Pembicaraan tentang Arumi segara kutinggalkan. Aku melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat beristirahat. Agaknya, malam ini aku harus tidur di pos ronda. Sebab masjid yang kucari terletak di ujung desa yang cukup jauh.
Di pos ronda, mau tak mau aku harus berkenalan dan berbasa-basi dengan penduduk setempat. Aku jelaskan bahwa aku warga desa tetangga yang ingin melihat pertunjukan wayang Ki Seloko. Ternyata semakin larut malam, pembicaraan para lelaki di pos ronda tak jauh berbeda dengan pembicaraan di warung kopi. Sosok yang dibicarakan masih sama…ya tentang si gadis Arumi. Aku hanya mendengarkan sambil sesekali manggut-manggut tanda menyimak. Semua lelaki di pos ronda mendengarkan dengan seksama penjelasan Kardiman. Sosok pemuda ini mengaku pernah beberapa kali melihat pertunjukan wayang Ki Seloko di beberapa daerah. Pemuda inilah yang menjawab semua pertanyaan tentang sinden Arumi. Seakan-akan dialah juru bicara si gadis.
“Si Arumi itu asalnya dari daerah mana to kang?” tanya seorang pemuda yang duduk di sampingku.
“Arumi itu asli orang Temanggung. Bapak dan ibunya sudah meninggal karena kecelakaan. Trus dia diangkat anak sama Ki Seloko….”, jawab pemuda bernama Kardiman dengan mantap.
“Wah..wah..berarti diawasi terus sama Ki Seloko ya kang,” tanya seorang pemuda lainnya.
Pemuda Kardiman meringis. “Kenapa le…mau ngajak kenalan ya..?”.
Para lelaki di pos ronda tertawa mengejek. Pemuda yang tadi bertanya jadi malu-malu tertunduk.
“Arumi itu sudah punya suami…’, jawab pemuda Kardiman dengan nada suara yang sedih. Mata para lelaki di pos ronda semua terarah kepada pemuda Kardiman. Memaksa pemuda itu untuk meneruskan penggalan jawabannya.
“ Suaminya bukanlah seorang yang bagus atau kaya raya. Kata orang, perawakannya kecil, kerdil. Kulitnya hitam legam dan kakinya pincang. Suami Arumi itu anak Ki Seloko….”.
“ Eman-eman yo..kang”, kata seorang pemuda yang sedari tadi cuma diam menyimak cerita seputar Arumi.
“Lha kok bisa to kang…gimana ceritanya,” tanya pemuda lainnya masih penasaran. Tampaknya apapun cerita tentang si gadis Arumi selalu saja menarik perhatian.
Pemuda Kardiman diam sejenak. Keningnya berkerut seakan-akan sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Aku juga heran. Kabarnya Arumi itu seorang gadis yang lembut hatinya. Dia cepat kasihan pada orang. Termasuk pada pemuda pincang anak ayah angkatnya yang dia kenal sejak kecil….Mungkin dia ingin membalas kebaikan Ki Seloko yang telah mengangkatnya menjadi anak dengan menikahi anaknya ”, jawab Kardiman pelan. Terbersit rasa sedih pada suaranya.
Gambaranku tentang sosok Arumi semakin jelas. Cantik, baik hati, tetapi memiliki nasib yang malang. Pembicaraan tentang gadis Arumi terus tergiang di telingaku dan terus mengganggu pikiranku. Menjelang subuh barulah aku bisa tertidur. Itu pun terganggu dengan mimpi-mimpi tentang Arumi.
Saat embun belum lagi kering, aku sudah terbangun dari tidurku. Lalu aku mulai berjalan menuju warung kopi yang kemarin kudatangi. Kupesan sepiring nasi pecel dan kopi. Namun kini aku tak lagi bersemangat melihat pertunjukan wayang nanti malam.
Sambil makan, tak sengaja kuperhatikan gadis anak pemilik warung. Tidak begitu cantik memang. Agaknya asap dan panasnya api dapur tak peduli pada kulit halus seorang gadis. Kulitnya hitam dan tak pernah kering dari peluh. Karmi, namanya. Sikapnya ramah pada setiap pembeli dan sangat patuh pada ibunya yang tak pernah berhenti menyuruh. Tapi sayang matanya juling….
Sore menjelang dan malam pun datang. Berduyun-duyun orang-orang desa berkumpul di rumah Ki Lurah untuk menonton pagelaran wayang yang sebentar lagi dimulai. Warung kopi yang tak jauh jaraknya dari rumah pak Lurah pun semakin ramai saja. Aku masih tak beranjak dari tempatku sejak pagi tadi. Di sudut warung. Aku telah membayar lebih pada si emak Karmi agar membolehkanku duduk di sini sepanjang hari. Pertunjukan wayang dengan sinden Arumi yang cantik jelita tak menarik lagi bagiku. Juga bagi Karmi dan emaknya yang terus bekerja di dapur.
***
Setelah beberapa tahun barulah aku mendengar kembali kabar tentang Arumi dari para pembeli di warung kopi Emak Karmi. Kabar inilah yang kunanti. Arumi telah menikah lagi dengan pedagang batik kaya asal Temanggung. Tak cuma kaya, pedagang batik itu juga bagus, serasi dengan Arumi yang cantik. Tapi kabar lain yang mengikutinya membuat kaki pincangku tak kuasa menopang tubuhku. Nyi Seloko telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Sakit. Sakit rindu pada satu-satunya anak lelaki yang dimilikinya. Anak yang hilang ditelan bumi.












