Maya

(Puji Lestari)

Pesan yang kutunggu-tunggu di sudut kanan bawah layar komputerku tidak juga muncul. Sudah kucoba mengalihkan perhatian pada pekerjaan-pekerjaanku, tapi selalu saja kucuri-curi pandang ke sudut itu lagi. Sudah aku periksa notifier emailku itu, pengaturannya sudah benar. Tapi mengapa sedari tadi tak satu pun pesan yang muncul padahal biasanya sekitar jam segini ini aku menerima balasan darinya. Semakin lama ditunggu semakin menyebalkan. Padahal jarum jam semakin mendekati pukul 5 dan itu berarti sebentar lagi istriku pulang.

Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya habis juga sabarku.
Kumatikan komputer dan kuhisap rokok dalam-dalam, kuhembuskan dengan keras untuk membuang rasa sebalku sore ini.

“Mas…besok pagi jadi kirim naskahnya?” tanya istriku sembari berbaring di sisiku.
“Ah…ga jadi…belum selesai…”
Kami berdiam dalam remang-remang lampu kamar, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri dan siaran televisi sekedar mengisi kekosongan ini lantas hanyut dalam mimpi masing-masing. Hari berputar dan waktu berjalan. Tapi aku rasa hidupku sudah berhenti pada satu titik. Ya..disini…dirumahku sendiri bersama istri yang kupilih sendiri.

******

Ritual kerjaku kini berubah. Tidak lagi kuperiksa sisa pekerjaan yang kutinggalkan kemarin. Melainkan kulongok dulu emailku. Ah…ini dia..

Inbox (1)

Melatiku, sibukkah hari ini? Nanti kalau ga sibuk…cobalah lihat resensi buku yang aku kirimkan kepadamu. Isinya bagus banget..pasti cocok buat kamu…

Bintang

Email tertanggal kemarin..dikirim pukul 16.35…ah pantas aku belum melihatnya…aku kemarin memang terburu-buru pulang pikirku.

Bintang, nama itu memang seindah maknanya. Memberiku terang di tengah gelap gulita hari-hari yang kulalui. Dengan suami yang hampir sebulan ini bermuram durja, dengan tuntutan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya..paling tidak dia menjadi penghibur bagiku. Email-email jenakanya, artikel-artikel yang telah dipilih dengan cermat untuk menguatkan aku dan sekaligus menghiburku, serta resensi bukunya yang tak habis-habis kukagumi.

Bintang, sebenarnya dia mirip sekali dengan suamiku. Suka membaca, piawai membuat resensi, suka bercanda….tapi itu dulu. Kini yang terdengar dari mulut suamiku hanyalah jawaban-jawaban pendek ditambah wajah yang kusut membuatku semakin sebal.
Segera kubalas email itu…pasti sudah ditunggu-tunggu, batinku. Setelah itu barulah hatiku tenang dan kumulai hari kerjaku sambil sekali-kali melirik ke sudut kanan bawah komputerku. Menunggu tanda-tanda pesan yang masuk.

Aku mengenalnya secara tak sengaja, ketika aku membaca sebuah artikel pendek yang lumayan menarik di sebuah situs pertemanan. Di bagian bawahnya tercantum alamat email yang menawarkan korespondensi. Memang profilnya biasa saja, selain namanya yang cantik Melati, satu-satunya yang menarik hanyalah artikel pendeknya yang aku rasa memiliki ‘roh’. Semenjak itu pertemanan yang berawal dari iseng pun menjadi sebuah ritual yang tak terasa mulai mengikat dan kini aku pun kecanduan.

Naskah-naskah buku yang harusnya kukirimkan pertengahan bulan ini, akhirnya baru terkirim nyaris diakhir bulan. Waktuku habis untuk membuat resensi-resensi buku yang kemudian aku kirimkan untuknya. Beberapa artikel yang mendapat pujian darinya semakin menantangku untuk menemukan artikel serupa dan kukirimkan kepadanya. Antusiasku, kegembiraanku, rasaku, semuanya kucurahkan dalam tulisan-tulisan yang kukirimkan kepadanya.

Dan aku sadar sepenuhnya bahwa energiku dan harapanku telah kuhabiskan dengannya. Dan yang tersisa hanyalah sayu dan beku ketika aku bertemu dengan istriku. Duniaku kini berbeda dengan dunianya. Aku tidak disini dan dia tidak disana.
******
“Mas…aku pakai komputernya sebentar ya…buat kirim email…”
“Hmm…jangan lama-lama…aku mau kerja lagi”, jawab suamiku datar.
Dengan bergegas aku gerakkan mouse untuk menghilangkan tampilan screensaver di layer komputer. Lalu tampak sebuah dokumen milik suamiku belum ditutup. Tak sengaja aku tertarik juga untuk mengintipnya sedikit. Terus terang selama ini aku tidak tahu persis apa saja yang ditulis mas Lintang sepanjang hari, aku tak ingin mencampuri urusan suamiku. Kami punya privasi masing-masing.

Ups…sebuah resensi buku…bukankah ini resensi yang aku terima pagi tadi dan baru malam ini aku ingin membalas email itu karena besok hari Minggu jadi tak mungkin aku membalasnya di kantor.

Ah…mungkin hanya mirip saja karena buku yang diresensi sama, bantahku sendiri.
Tapi keraguan itu tak beralasan ketika kutemukan di bagian bawah resensi itu….sebuah nama…. Bintang….

Desainku



Tertarik dengan yang ini?

Comments (6)

LiniOctober 26th, 2009 at 12:02 am

lintang VS bintang
bagus
:)

fekhiOctober 26th, 2009 at 9:59 am

Loh, ini si aku cewe apa cowo toh??

Puji. LOctober 26th, 2009 at 7:04 pm

Cerpen ini kalo dibaca sekilas emang bikin bingung karena menggambarkan dua karakter dengan penyebutan yang sama “aku”…satu hal yang bisa menolong pembaca hanya tanda **** yang aku tambahkan di antara paragraf…cara bercerita seperti ini tiba-tiba muncul dipikiranku saat aku mengamati film-film barat yang memaksa orang untuk berpikir agar bisa mengikuti jalan ceritanya…tapi pastinya cerpenku ini masih teramat sederhana untuk memancing keingintahuan orang…he..he…karena aku cepat sekali tidak sabar untuk masuk ke ending cerita..he…he…mohon masukkannya ya… supaya ceritaku yang lain bisa semakin membaik….:)

LiniOctober 26th, 2009 at 7:09 pm

Puji,
kalau maksudnya gitu, coba perhatian “bagian” kedua
di awal si “aku” dipanggil melati dan terima imel dari Bintang
di bagian akhir ada kalimat “Dan yang tersisa hanyalah sayu dan beku ketika aku bertemu dengan istriku. ”
apakah si “melati” ini lesbian?
lalu di “bagian” akhir, si “aku” kembali sebagai istri. tapi dikasi “pemisah” ***
lain kali lebih teliti ya
:)

Puji. LOctober 26th, 2009 at 7:15 pm

he…he..he…makasih masukkannya….

LiniOctober 26th, 2009 at 8:47 pm

sama2 :)

Leave a comment

Your comment