Perpisahan di Sore Itu
(Puji Lestari)
Sore itu terasa lebih sepi dari biasanya. Matahari serasa tenggelam lebih cepat. Lampu neon kami mendadak tak menyala terang. Suasana redup seperti hati kami berdua. Kami lantas memutuskan untuk duduk di teras saja. Keputusan yang diambil tanpa sepatah kata pun. Hanya bahasa tubuh kami menggambarkan keinginan itu.
Kami duduk berjauhan. Masing-masing menghadap ke arah yang berbeda. Diam tanpa kata, mencoba menyelami hati masing-masing yang galau. Ternyata duduk di teras dan menunggu malam yang hampir turun tak juga mengusir mendung di hati kami.
Kurang lebih tiga puluh menit berselang, nyamuk-nyamuk mulai berdatangan. Suaranya berdenging di atas kepala. Beberapa menghisap darah kami dengan rakus, tapi kami tak menghiraukannya. Malam mulai menjamah dengan hitamnya yang pekat. Aku tak bisa lagi memandang wajahnya dengan jelas dan dia juga tak bisa memandang wajahku. Maka kupikir inilah saat yang tepat untuk mencurahkan hatiku yang remuk redam. Air mataku mengalir seperti air bah. Benteng pertahananku runtuh seketika.
Sepanjang sore tadi aku bertahan untuk menjadi seorang kakak yang tangguh. Aku tersenyum dan menghibur adikku dengan kata-kata yang manis. Ketika dia menangis segera kupalingkan wajah agar air mataku tak membanjir keluar. Aku tampilkan sesosok kakak yang kuat agar dia percaya bahwa kami bisa menghadapi semua bersama. Aku membual tentang kesempatan-kesempatan indah yang bisa kami lakukan berdua. Tapi sore menjelang malam ini, terbukalah sosokku yang sebenarnya. Aku juga rapuh seperti dia. Aku juga terluka seperti dia. Aku juga tak ingin ditinggalkan.
Sore itu adalah perpisahan kami dengan ibuku. Ayah menjemputnya untuk bekerja di luar Jawa. Waktu itu aku baru saja naik kelas enam dan adikku perempuan baru naik ke kelas empat. Sedangkan tiga orang kakakku laki-laki menuntut ilmu di kota yang berbeda. Perpisahan ini sungguh berat karena tak ada satu pun orang dewasa yang menemani kami di rumah. Semua harus kami hadapi sendiri.
Malam itu dan malam-malam selanjutnya aku masih berharap kami bisa berkumpul kembali seperti dulu. Kerinduanku semakin bertambah setiap hari dan selalu kusiram dengan harapan untuk berkumpul kembali. Pertemuan-pertemuan yang terjadi di tahun-tahun berikutnya, hanyalah ketika kami libur sekolah. Ini terus berlanjut hingga aku selesai sekolah. Saat itulah ibuku kembali pulang ke rumah kami. Tetapi di waktu itu aku sudah harus pergi merantau untuk menyambung hidup mengikuti jejak kakak-kakakku yang lain. Sedangkan adikku melanjutkan pendidikan di kota yang lain. Perpisahan itu pun berlanjut. Kali ini kami yang pergi meninggalkan rumah.
Terkadang masih terselip di dalam hatiku keinginan untuk berkumpul kembali. Tetapi semakin kami beranjak dewasa, semakin kami sadari bahwa keinginan itu hanya mimpi. Namun entah mengapa terkadang keinginan itu datang begitu mendesak dan membutuhkan pemenuhan. Luka di hatiku sepertinya masih menganga. Pasti begitu pula dengan adikku.
Tangis diam-diamku segera kuhentikan. Ketika kusadari adikku susah payah menghalau nyamuk yang terus bertambah banyak.
“Ayo dek…kita tidur saja…”, kataku.
Kami berajak dalam diam. Malam memang belum larut benar. Tetapi rasanya lebih nyaman bila kami berada di dalam kamar. Maka kututup pintu dan kami masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar itu, ibu sudah menyiapkan sebuah tongkat dan sebuah kentongan.
Pesan ibu padaku,” Nduk ini buat jaga-jaga kalau ada orang jahat ya…pukul sekecang-kencangnya biar tetangga pada dengar.”
Malam ini aku bertanggung jawab menidurkannya begitu pula dengan malam-malam selanjutnya. Malam itu kuselimuti adikku. Dia berusaha tidur sambil mengelus-elus alisku seperti yang biasa dilakukannya pada alis ibuku.
“Besok pagi-pagi kita bangun dek…menjalani hari yang sama berdua saja”, kataku dalam hati.
Tak berapa lama dia tertidur. Dan aku segera menyusulnya membebaskan diri dari rasa sedih di alam mimpi.











