Sepotong Jari di Mulutku

(Puji Lestari)

Kami biasa bercanda di sore hari setelah semua kesibukan selesai dilakukan. Saling menggoda satu sama lain untuk melepas penat. Tetapi kadang-kadang cara bercanda kami kelewat batas. Misalnya sore itu, aku menggigit telinganya ketika kami sedang nonton tv bersama. Cuma bercanda. Tidak benar-benar digigit sebenarnya. Tapi tetap saja, dia berteriak-teriak ketakutan. Dan kami pun tertawa bersama-sama. Lain waktu, ketika aku sedang mengupas buah, aku menakuti-nakutinya dengan pisau yang kugenggam. Kuketuk-ketukkan di lantai mendekati jari-jari kakinya seakan hendak memotong jari-jari itu. Dan dia akan menjerit-jerit ketakutan. Kengerian yang diperlihatkannya justru membuatku senang dan tertawa terpingkal-pingkal.

Tak terkecuali sore itu, aku kembali bercanda dengannya. Kali ini aku rebut tangannya dan kugigit jari telunjuknya. Tidak benar-benar kugigit sebenarnya, hanya kuletakkan di antara gigi-gigiku yang runcing.

Sama seperti waktu-waktu lainnya. Dia pun menjerit kengerian. “Jangan…jangan…”, teriaknya. Aku semakin bersemangat menjepit telunjuknya di antara gigiku. Dia pun berusaha menarik telunjuknya. Tarik menarik itu berlangsung cukup lama. Tiba-tiba saja dia berteriak, “Telunjukku putus…”. Aku melihat kengerian di wajahnya saat dia memandang telunjuknya yang berlumuran darah. Aku pun hanya bisa melongo merasakan sebuah benda tertinggal dimulutku. Sepotong telunjuknya!. Dia tidak menangis, hanya kata-kata yang sama terus terucap dari mulutnya,” Telunjukku…telunjukku…”.

Malam itu kami berdua bergegas ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, dia yang berbicara dengan petugas di kantor depan karena dimulutku masih tersimpan sepotong telunjuknya.

“Bu…saya mau operasi…menyambung telunjuk yang putus. Bisakah?”, tanyanya.

Si petugas tak menunjukkan ekspresi apapun. Dingin. Kemudian petugas itu menyodorkan beberapa lembar kertas kepada kami. “Diisi dulu formulirnya”,sodornya cepat. Kami hanya melongo melihat beberapa formulir rumit yang harus kami isi.

Pengisian formulir yang rumit itu memakan waktu yang cukup lama. Setelah selesai kami pun bergegas ke ruangan yang ditunjuk petugas pertama. Sesampainya di ruangan itu, dia pun segera menyerahkan formulir dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Petugas kedua ini hanya manggut-manggut saja lalu berkata dengan tenang, ”Mau operasi ya…apa sudah tahu biaya yang dibutuhkan? Lebih baik cari tahu dulu biayanya daripada tidak mampu bayar kemudian.”

Aku dan dia pun saling berpandangan mendengar kalimat tersebut. “Oh Tuhan…telunjuknya yang berdarah-darah dilihat pun tidak…,” batinku gemas. Petugas kedua ini kemudian menambahkan bahwa kami harus ke ruang yang terletak di bagian ujung untuk mengetahui perkiraan biaya operasi. Sepanjang jalan menuju ruangan di ujung itu, kuamati telunjuknya. Telunjuk itu sudah mulai berwarna kebiru-biruan. Hatiku miris melihatnya. Sesekali aku pun harus meludah karena potongan telunjuk yang masih tersimpan dimulutku.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di ruangan yang terletak di bagian ujung. Di ruangan itu, kami harus kembali menjelaskan maksud kedatangan kami. Kali ini petugas ketiga yang kami temui terlihat lebih ramah. Petugas ini lantas menghadap komputer dan mengetikkan sesuatu. Tak lama kemudian petugas itu mencetak selembar kertas dan menyodorkan perkiraan biaya yang harus kami tanggung. 17 juta rupiah! Kami tak punya uang sebanyak itu apalagi harus malam ini!

Badanku terasa dingin, keringatku bercucuran, nafasku tersengal-sengal. Aku terbangun dalam keadaan yang sangat tertekan. Masih gelap gulita. Pagi belum menjelang. Dia masih tertidur lelap di sampingku. Segera kuraih tangannya. Telunjuknya masih ada. Dua-duanya. Lengkap. Kutarik nafas lega tapi mataku tak bisa kupejamkan lagi.



Tertarik dengan yang ini?

Comments (4)

thilio christineJune 4th, 2010 at 4:27 pm

aduhhh… deg2an aku… kyk ak pernah mimpi hanyut di sungai…
Bagus lho critanya…

puji lestJune 4th, 2010 at 7:16 pm

thx…Thilio…ini emang ditulis berdasarkan mimpi…:)

Zheng Qiu HuiJune 6th, 2010 at 11:05 pm

aduh seramnya..bagus banget deh cerpennya :)

puji lestJune 7th, 2010 at 8:02 pm

Thx Zheng…udah baca n kasih komen…:)

Leave a comment

Your comment