Terusik Sang Pemimpi
(Puji Lestari)
Sehabis menonton “Sang Pemimpi” aku memilih pulang dengan berjalan kaki. Suasana sore yang temaram membuatku tak kepanasan. Perjalanan santai menuju rumahku membawa angan-anganku lebih jauh lagi dari langkah kakiku.Potongan adegan film “Sang Pemimpi” mau tak mau mengingatkanku pada impianku sendiri. Impian yang telah lama kulupakan. Impian yang kini tiba-tiba hadir mengusik pikiranku.
Tiga puluh tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah desa terpencil dekat pantai selatan Jawa. Kampungku tak tercantum di peta apalagi di Googlemaps. Letaknya di sebelah selatan kota Malang. Menembus hutan jati lebat sepanjang kurang lebih 3 Km. Menyeberangi sungai Berantas melalui jembatan kecil yang hanya cukup dilewati satu mobil. Setelah itu bersiaplah melalui jalan berkelok, naik turun dan beraspal sangat buruk. Jalanan beraspal halus hanya sedikit terlihat dengan lubang-lubang berbatu yang lebih banyak.
Di kampungku amat jarang ditemui anak muda. Anak-anak muda memilih merantau ke kota, ke luar jawa atau ke negeri seberang ketimbang bertahan di daerah terpencil yang tandus. Begitu pula ayahku. Setelah lulus sekolah kejuruan, beliau memutuskan untuk merantau. Wanita yang dinikahinya sewaktu pulang kampung juga dibawanya merantau. Karena itulah sebagian masa kecilku dan saudara-saudaraku dihabiskan di pulau Sumatera.
Barulah saat duduk di bangku sekolah dasar aku menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiranku. Ayahku memutuskan untuk pulang ke kampung setelah duapuluh lima tahun merantau. Ayahku mencoba peruntungan di daerah asalnya dengan menjadi sopir angkot. Sedangkan ibuku berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari di depan rumah kecil kami.
Di tahun-tahun itu, kesulitan ekonomi sudah pasti melilit kami. Ayah yang sebelumnya mendapat gaji bulanan dan tunjangan ini itu, kini harus puas dengan receh-receh yang diterimanya dari para penumpang di wilayah kami yang kecil. Ibu pun demikian. Malah acapkali harus memberi hutang tetangga kiri kanan.
Namun keceriaan anak-anak seakan tak merasakan keadaan itu. Kami, aku dan keempat saudaraku masih saja terpana melihat bebek, kambing atau sapi. Binatang-binatang yang sangat jarang kami temui di Sumatera dulu. Maklumlah, waktu itu kami tinggal di sebuah kompleks perumahan karyawan yang cukup terisolir. Ayahpun hanya memperbolehkan kami bermain dengan anak-anak sekompleks. Anak-anak kampung yang lincah dan alam yang liar hanya bisa kami intip dari pagar pembatas kompleks.
Kesulitan ekonomi mulai benar-benar kami rasakan saat aku masuk sekolah menengah pertama. Kala itu, dua kakakku duduk di sekolah menengah atas dan seorang kakakku lagi di sekolah menengah pertama. Sedangkan adikku masih di sekolah dasar. Jarak usia kami masing-masing memang hanya terpaut dua tahun saja.
Kesulitan memang benar-benar menghimpit kami di tahun-tahun itu. Kala itu, menjadi TKI adalah pilihan terakhir bagi ayah, karena penghasilan dari angkot yang dimilikinya tak bisa lagi menopang biaya sekolah kami. Beberapa bulan setelah kepergian ayah, kami bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Tetapi setelah itu, himpitan ekonomi kembali datang, karena ayahku tak lagi mengirimkan uang. Tak ada kabar berita. Hilang ditelan negeri seberang.
Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga berusaha dengan segala cara untuk mempertahankan sekolah kami. Petak demi petak ladang tandus peninggalan kakek mulai dijual. Waktu itu aku dan kakakku yang sama-sama duduk di sekolah menengah pertama, memutuskan untuk berjalan kaki pulang sekolah demi menghemat ongkos angkot yang kala itu masih Rp. 200,- sekali jalan. Padahal sekolah dan rumahku berjarak tak kurang dari 6 km dengan jalan yang menanjak dan menurun ciri khas daerah pegunungan. Berpanas-panas, kurang lebih pukul 1 siang, kami menempuh jalan itu. Tapi kami tak sendiri. Banyak anak-anak senasib dengan kami harus menempuh jalan yang sama. Bahkan dengan jarak yang lebih jauh dari kami karena rumah mereka masih di bukit sana.
Sedangkan dua kakakku yang sama-sama di sekolah menengah atas menempuh pendidikan di kota. Dua kakakku ini laki-laki. Di pagi buta mereka bangun lalu membuat adonan kue. Kue donat ajaran ibu. Nanti saat jam masuk sekolah mereka menitipkannya di kantin sekolah. Sepulang sekolah mereka membantu membersihkan ruang-ruang kelas agar bisa menumpang tinggal di kamar kosong sebelah rumah tukang kebun. Demikianlah mereka menghemat uang untuk sekolah yang menjadi tumpuan harapan. Di tahun-tahun selanjutnya, tibalah giliranku menjalankan ritual itu ditemani kakak ketiga.
Setelah lulus sekolah menengah atas, si sulung langsung merantau. Dua tahun berikutnya kakak nomor dua mengikuti jejak si sulung. Dua tahun berikutnya kakak ketiga pun menyusul. Dua tahun kemudian tiba giliranku. Anak perempuan tertua di keluarga yang memutuskan mengadu peruntungannya di kepulauan Riau sebagai buruh pabrik.
Aku suka belajar. Aku termasuk anak yang pintar semasa sekolah. Dan aku punya mimpi. Aku kejar mimpi itu sekuat tenaga. Setelah dua tahun di kepulauan Riau, aku putuskan untuk kembali ke Jawa dan melanjutkan sekolah.
Masa-masa kuliah, aku masih ingat pada mimpiku. Tapi setelah lulus kuliah, mimpi itu semakin pudar dan perlahan hilang. Kesulitan ekonomi sekali lagi memaksaku untuk melakukan apa saja demi bertahan hidup. Bahkan meninggalkan mimpiku yang kurasa terlalu tinggi. Sebuah mimpi yang selalu terhalang keadaan ekonomi.
Hari ini dalam perjalanan sepulang menonton “Sang Pemimpi”, aku diingatkan lagi pada mimpiku. Ada semangat yang tiba-tiba muncul, tapi juga ada keraguan yang menyelinap diantaranya. Masihkah mimpi itu ada setelah bertahun-tahun kutinggalkan? Tekad kecil muncul di hati dan langkahku pun semakin bergegas. Tak pasti apakah aku bisa meraih mimpi itu. Tapi yang jelas, aku ingin mengejarnya kembali. Paling tidak agar aku bisa meraih sekedar debu-debu dari mimpiku.












Hallo Puji Lestari,
saya blm ntn ‘sang pemimpi jd tak py comment bwt filmnya, tapi buat kamu….
wah jd hrs ngaku, saya slalu agak kesulitan menjelaskan tempat sy dilahiran.
Pulau yg tak ada di peta adalah istilah saya pd T.L. saya, Sei Brombang, pernah dgr?
haha… ga apa klu blm n hebat klu sdh… . Skrg km kamu tahu sy py sedikit persamaan
dgnmu, ya? Puji, apapun impianmu, jgn pernah ragu ut brusaha meraihnya. mimpi hylah mimpi sampai kita wujudkan dlm kenyataan….. Film atau apapun termasuk comment ini bs jd stimulasi tapi kekuatan keinginan hatimulah satu2nya yg dapat membawamu pd impianmu…. good luck, ya!!!!
untuk meraih mimpi memang perlu usaha, doa dan kesempatan. meninggalkan mimpi yang sudah lama rasanya tidak mengecilkan arti mimpi itu sendiri, mungkin memang harus ada tahapan dan hal-hal lain yang kita kerjakan dulu sebelum mewujudkan mimpi. itu yang saya katakan kesempatan. dan membaca tulisan ini mungkin ada maksud dari penulis yang menjelaskan bahwa setelah menonton film sang pemimpi, mbak puji kembali berkobar mewujudkan mimpi, dan sekarang sudah tiba saatnya, inilah kesempatannya