Untuk Penyiksaku

(Puji Lestari)

Sejak kehadiranmu badanku semakin lemah. Bintang-bintang serasa mengelilingi kepalaku sepanjang pagi. Tonjokkan keras di ulu hatiku membuatku limbung. Makanan kesukaanku berubah bagai racun yang siap membunuhku. Kau renggut kemolekan tubuhku, kau rampas lincah gerakku. Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?

Terkadang aku membayangkan keadaanmu. Sendiri…sepi…tetapi hangat bukan? Aku selalu ada menyanyikan lagu untukmu…mendaraskan doa bagimu…memohon berkah yang melimpah atasmu…tapi kau tak pernah peduli…terus saja kau menyiksaku…

Sembilan bulan berlalu dan kau pun tak kunjung membebaskanku dari penderitaan ini. Satu-satunya penghiburanku adalah ketika kulihat wajahmu untuk pertama kalinya. Wajah yang selama ini bersembunyi, wajah penyiksaku…
Setelah itu sedetik pun tak kau biarkan aku beristirahat. Malam tak pernah ada buatku dan pagi datang terlalu cepat. Mataku tak sempat terpejam, punggungku tak sempat bersandar, tanganku tak berhenti bekerja. Terus saja kau menyiksaku…

Ketika kau beranjak semakin besar, kenakalanmu menjadi siksaan baru bagiku. Keusilanmu tak pernah habis, kerewelanmu semakin menjadi. Kau rusak kebun bungaku yang kurawat setiap hari, kau permalukan aku dengan angka-angka merah di rapotmu. Hei…tak bisakah kau berhenti menyiksaku…?

Setelah kau dewasa, kuberharap hidupku menjadi tenang. Sudah tak kudengar lagi jeritanmu di seluruh penjuru rumahku atau tangan usilmu yang memetik bunga kuncupku. Hanya sesekali kudengar suaramu dari telepon, mengabarkan keadaanmu. Tapi masih saja kau memberi siksaan baru buat hatiku…dengan ketidakhadiranmu, dengan ketidakpedulianmu padaku, dengan dunia mudamu yang tak kumengerti, dengan kekuatiranku tentangmu, dengan sepiku tanpamu, dengan kerinduanku membelai wajahmu. Anakku…anakku…kapan kau berhenti menyiksaku…



Tertarik dengan yang ini?

Comments (1)

cietaNovember 4th, 2009 at 10:32 pm

huhu jadi kangen ortu di indoooooo >.<

Leave a comment

Your comment