Apakah Kamu Masih Patah Hati?
(Ratna Fri)
Beberapa hari ini banyak sekali status teman-temanku di fb yang lagi patah hati, yang pasti melow dan penuh dengan luapan kemarahan. Sayapun 1 bulan yang lalu mengalaminya, dan merasakan bahwa dunia ini berhenti karena dia sudah tidak bersamaku lagi. Yang membuat saya merasa sangat sedih adalah karena saya tidak bisa mempertahankan hubungan ini dikarenakan sebuah perbedaan, mungkin jika permasalahannya ada orang ketiga di dirinya itu akan membuat saya mudah melupakannya.
Sudah hampir 1 bulan lebih bayang-bayang dia tak mampu untuk saya hapus dari pikiran dan hati saya. Pedih sakit dan kecewa pasti ada, dan rasa itu semakin bercampur aduk yang membuat saya mengasihi diri sendiri dan semakin sedih. Lalu saya bertanya-tanya kenapa saya bisa sesedih ini? Kenapa saya tidak bersemangat seperti dulu? Bukannya saya seorang wanita yang tegar, mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan daripada mengasihani diri dan larut di dalam kesedihan. Saya ingat pada suatu ungkapan bahwa dunia tidak akan berhenti hanya karena kesedihan saya, dunia terus berjalan dari hari demi hari, jika saya terlalu larut di dalam kesedihan maka saya akan menyia-nyiakan hidup saya.
Saya mulai memfokuskan hidup saya lagi, apa yang harus saya lakukan?? Kembali saya membuka nomor-nomor di handphone, saya kembali mulai menghubungi teman-teman yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan saya. Dan mulailah saya bercerita kepada teman-teman tentang banyak hal dan banyak sekali yang mendukung saya untuk kembali bangkit dan tidak larut di dalam kesedihan. Selain itu saya kembali mulai aktif dengan kegiatan pelayanan. Beberapa bulan yang lalu saya aktif di sekolah minggu dan koor wilayah, dikarenakan jadwal yang padat saya menetapkan untuk lebih aktif di sekolah minggu Gereja, karena hati sayapun ada di sana.
Ada satu hobby yang sangat yang senangi dan membantu saya untuk bisa tidak larut di dalam kesedihan saya, yaitu menulis. Dengan menulis saya mencoba mengutarakan perasaan saya, isi hati saya dan banyak hal yang tidak di ketahuinya tentang diri saya, mulai saya buka lewat tulisan-tulisan saya. Bahkan sekarang ini saya membuat jurnal harian di sebuah buku, kegiatan apa saja yang saya lakukan, dengan begitu kegiatan on line saya jadi berkurang. On line di internet membuat saya sulit untuk melupakan sosoknya, dan dengan menulis saya sedikit mengurangi kegiatan on line ini. Sehingga saya tidak lagi fokus lagi pada dirinya, karena banyak hal yang masih bisa kita lakukan untuk dapat mengobati hati kita yang sedang bersedih.
Saya merasakan kesedihan itu berasal dari diri saya sendiri, bukan dari orang lain ataupun dari dia. Semua karena saya yang sedang sedih ini, menginginkannya untuk tetap berada bersama dengan saya. Tapi kenyataan yang terjadi sama sekali tidak seperti yang saya harapkan, dan saya semakin bersedih. Mungkin hal ini bisa juga di karenakan usia saya yang seharusnya sudah bisa menjalin hubungan yang lebih serius. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk hal itu. Semakin dipikirkan hati ini semakin hancur dan sangat terluka, tapi itu semua juga sia-sia karena dengan begitu akan membuat hidup saya lebih hancur lagi. Ada saatnya untuk kembali bangkit, dan itu semua tergantung diri kita sendiri, apakah kita mau larut di dalam kesedihan atau tetap berusaha menjalani hari-hari tanpa kehadirannya.
Saya sendiri tidak menyangka bisa lepas dari semua ini, keasyikan saya dalam menulis membuat saya sedikit demi sedikit melupakan luka itu. Dan yang pasti itu semua juga karena Tuhan Yesus yang selalu memberikan dukungan buat saya untuk tidak menyalahkan siapapun dalam persoalan yang tengah saya hadapi. Tapi Dia membuatku menyadari bahwa saya telah berani melibatkan diri di dalam sebuah hubungan, apapun yang terjadi di dalam hubungan itu saya harus berani dan siap untuk menanggung segala resiko yang ada. Saya bersyukur karena bisa mengenal dan berjumpa dengan dirinya, dan sayapun diijinkan untuk menjalin hubungan dengannya. Sampai hari inipun saya tidak bisa membenci dan menyalahkan dia atas semua yang telah terjadi, semua ini terjadi karena saya yang belum bisa bersikap dewasa di dalam menjalani sebuah hubungan. Saya mulai belajar dan memahami apa yang tengah terjadi, dan bagi saya ini masih menjadi sebuah misteri. Walaupun hubungan ini telah berakhir aku masih berharap untuk bisa dekat dengan dirinya, dan hanya Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi nanti antara saya dan dirinya.
Buat teman-teman yang saat ini sedang mengalami putus cinta, jangan kuatir Tuhan pasti akan memberikan kepada kita saat yang tepat itu. Hanya dibutuhkan kesabaran di dalam penantian dan ingatlah bahwa sabar itu tidak akan menyakitimu, dia hanya membutuhkan waktu untuk dapat melihat sejenak, dan kau akan terkejut dengan apa yang menantimu di depan jika kau mau menunggu dengan sabar. Ini yang selalu saya ingat, dan untuk saat ini, hari ini lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan begitu setiap masalah dan apa yang terjadi di hari ini dapat kita hadapi dengan tersenyum. Jadi harus tetap semangat yach, jika rasa sedih itu menghampirimu berpikirlah satu menit dan itu akan menyelamatkanmu dari kesakitan.
Notes : sabar itu tidak akan menyakitimu ( saya kutip dari tulisan Fehmikirana, saya sangat suka dengan tulisan ini, yang mengajarkan saya benar-benar untuk bersabar di dalam setiap hal. Ada satu kalimat dalam tulisan ini yang benar-benar membuat saya tersadar dan kembali untuk bangkit lagi, “ Kemampuan untuk menunggu tanpa rasa frustasi berlebihan dan rasa marah adalah karakter yang sangat berharga” )
Dan semoga saya dapat meneladani karakter yang sangat berharga ini.
Semarang, 30 Oktober 2009












Duh, Ratna…
Aku jadi terharu…
Sabar ya, Ratna…
Percaya bahwa waktu Tuhan itu selalu tepat. Aku yakin semua perasaan sakit dan penyesalan serta rasa bersalah adalah sebuah proses. Dan proses itu akan berbuah manis pada saat-Nya.
Semua orang pernah mengalami ini, dan aku sebagai orang yang pernah melewatinya mungkin hanya dapat menguatkan lewat kalimat seperti ini : sekarang ini aku dapat terbentuk akibat dari semua kesalahan, sakit hati serta kegagalan…
Jadi semua yang di belakang yang dulu terasa sakit saat ini justru sekarang menjadi ‘mutiara yang berharga serta berkilau’ untuk aku terima. Tahu kan mutiara dalam kerang itu terbentuk akibat pasir serta benda-benda asing yang menyakiti yang mengkristal menjadi mutiara
Itulah yang akan Ratna terima bila berserah pada-Nya
Salut untuk tetap menjadi tegar dan menanti jawaban dengan sabar
Terima kasih juga jika tulisan ‘Patient is a Virtue’ dapat menguatkan dirimu 
JBU