Ternyata Aku Fobia Juga

(Ratna Fri)

Sore ini ketika saya membeli rokok untuk ayah di warung dekat rumah, pemilik warung sebut saja namanya Ibu Sirun bercerita kalau cucunya yang bernama Reza yang berusia 7 tahun itu sangat takut dengan yang namanya Kuda Lumping. Dan beberapa hari yang lalu ada pengamen kuda lumping sekitar 2 orang yang datang ke area pemukiman kami. Waktu itu Reza sedang asyik main sepeda di jalan, ketika melihat pengamen kuda lumping ini dari kejauhan, Reza sangat kaget dan dia langsung saja meninggalkankan sepedanya di jalanan dan sandalnya di buang begitu saja, dia berlari ke arah warung tempat Ibu Sirun berjualan. Sambil berteriak-teriak “Nenek….nenek…takut nek! Cepat itu….orangnya di kasih uang biar cepat pergi” Reza begitu histerisnya melihat pengamen itu. Neneknya yang sedang duduk sambil menimbang telur-telur untuk dijual keheranan dengan tingkah Reza ini. “Kenapa mas Reza, kamu takut apa” tanya sang nenek yang belum mengerti mengapa Reza tiba-tiba saja ketakutan. “Itu nek, ada kuda lumping, Reza takut…., cepat di kasih uang biar cepat pergi” teriak Reza lagi sambil menarik-narik baju sang nenek. “Kuda Lumpingnya masih jauh, belum ke sini mas” jelas Ibu Sirun sambil menenangkan Reza. “Tidak usah takut, cuma kuda lumping saja mas” kata neneknya lagi. “Ayoo…nek, jangan sampai masuk ke sini, cepatan di kasih uang…” rengek Reza lagi yang badannya sudah gemetaran dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Neneknya yang melihat Reza benar-benar ketakutan jadi kasihan, lalu beliau keluar ke depan warung sambil membawa uang kecil untuk pengamen kuda lumping itu.

Bu Sirun tidak mengerti kalau Reza menderita fobia terhadap kuda lumping. Beliau menceritakan pada saya dengan terheran-heran melihat kondisi Reza yang benar-benar ketakutan terhadap kuda lumping ini. Saya sendiri ketika mendengarnya tidak heran kalau Reza mempunyai ketakutan seperti itu, dan sambil tersenyum-senyum saya juga menjelaskan ke Ibu Sirun, bahwa saya juga mempunyai ketakutan yang sama seperti yang Reza alami.

“Saya juga takut dengan kuda lumping Bu” kataku sambil tersenyum malu
“Ooo mbak Tata juga takut sama kuda lumping ya” bu Sirun tambah heran mendengar pengakuan saya
“Iya kemarin waktu ada kuda lumping itu, saya lagi mau menyapu halaman depan, terus waktu mendengar suara pengamen itu saya langsung lari masuk rumah. Syukurnya ada Ian jadi dia yang kasih uang buat pengamen itu” terangku yang waktu itu juga ketakutan. “Lho mas, tantenya juga sama takut dengan kuda lumping” kata Ibu Sirun kepada Mas Reza.
“Tuh kan bukan cuma Reza aja yang takut” kata Reza sambil tersenyum manis, dia merasa senang karena ada teman yang sama-sama takut dengan kuda lumping.

Saya sendiri baru menyadari kalau memiliki ketakutan atau fobia jika bertemu dengan yang namanya kuda lumping dan reog Ponorogo. Mungkin karena saya sudah jarang melihat kesenian tradisional ini jadi tidak begitu menyadari kalau saya memiliki ketakutan terhadap hal tersebut. Saat beberapa hari yang lalu melihat pengamen kuda lumping itu lewat, kaki ini langsung lemas, keringat dingin keluar begitu saja dari badan, dan saya langsung gemetaran. Bahkan untuk melihat mereka saja tidak berani. Saya sendiri merasa heran kok bisa yach sampai takut dengan yang namanya kuda lumping. Oohhh saya baru ingat waktu masih kecil, kesenian kuda lumping ini sering kali melakukan pertunjukan di sekitar pemukiman tempat saya tinggal. Bahkan hampir sebulan sekali selalu ada pertunjukan kuda lumping, dan setiap kali ada pertunjukan itu saya suka sekali menonton, namun tidak berani dari dekat. Suara pecut dan gendangnya membuat saya merinding dan bulu kaki bergidik. Di saat pertunjukan yang paling menarik di pertontonkan yaitu saat para pemain memakan beling (pecahan kaca) dan memasukan api di dalam mulutnya kemudian menyemburkannya kembali, saya selalu ngeri melihatnya. Ketika pertunjukan selesai pemain yang memakai topeng akan berkeliling di sekitar penonton dan membawa kaleng untuk menarik uang, saya selalu menitipkan uang ke adik kalau tidak ke teman untuk dimasukan ke kaleng yang diedarkan. Dan saya tidak mau pemain kuda lumping itu datang mendekat, saya selalu pulang duluan sebelum pertunjukan itu selesai..

Kejadian itu terjadi di saat saya masih duduk di bangku SD, dan setiap kali pulang sekolah jika saya menjumpai ada pertunjukan kuda lumping di jalanan, maka saya lebih memilih untuk jalan memutar daripada harus bertemu dengan mereka. Mungkin inilah awalnya saya menjadi takut dengan yang namanya kuda lumping dan apa saja yang memakai topeng yang mengerikan itu. Saya juga ingat saat masih kerja di Jakarta, waktu itu sedang menunggu bis trans BSD di Harmoni, dan tanpa sengaja ada serombongan orang-orang yang berpakaian adat Bali membawa arak-arakan ogoh-ogoh, ternyata itu untuk merayakan datangnya hari raya Nyepi. Saya yang melihat arak-arakan ogoh-ogoh itu jadi merinding, dan kaki ini lemas sekali. Sama sekali saya tidak memiliki keberanian untuk melihat dan mendekati rombongan itu, sementara teman saya dengan asyiknya mengabadikan moment tersebut. Yang lebih lucunya ada seorang ibu yang biasa jualan minuman di dekat situ, lari ketakutan dan masuk ke salah satu rumah untuk menghindari arak-arakan tersebut. Saya hanya bisa tertawa saja melihat ibu itu ketakutan setengah mati, ternyata ada yang lebih parah fobia-nya dibandingkan dengan saya. Kalau saya yang penting jangan sampai mendekat saja maka saya tidak akan terlalu takut, mungkin kalau mereka mendekati saya bisa mati kaku kali ya hahaha…..

Saya bersyukur karena tidak setiap hari harus berhadapan dengan kuda lumping itu, jadi ketakutan ini tidak terlalu menghantui dan menjadi beban buat saya. Bayangkan saja jika saya fobia dengan binatang seperti cicak, kodok, ayam, kecoa atau fobia dengan buah seperti pisang dan yang lain. Bisa-bisa hal itu justru akan menganggu aktifitas saya setiap hari.

Menyadari bahwa saya memiliki fobia seperti ini membuat saya tertarik untuk mengetahui apa sih sebenarnya fobia ini. Kenapa seseorang bisa memiliki ketakutan terhadap hal-hal yang seharusnya tidak perlu di takuti. Dan saya takut terhadap kesenian kuda lumping yang seharusnya tidak perlu untuk ditakutin. Ada juga seorang teman yang takut dengan binatang cicak, sedangkan saya tidak takut terhadap binatang ini, jika di rumah tidak ada cicak malahan saya selalu mencari-carinya.

Saya mencoba-coba mencari di internet dan menemukan blog yang membahas tentang fobia ( www.hipnoterapi.asia) , di sini di bahas tentang penyebab fobia dan bagaimana bisa sembuh dari fobia dengan metode hipnoterapi. Pengertian fobia sendiri adalah rasa takut yang berlebihan dan tidak wajar terhadap sesuatu obyek benda, situasi tertentu, yang di tandai dengan keinginan untuk menghindari sesuatu yang ditakuti itu (saya kutip dari blog). Hmm benar juga yah kalau orang-orang yang menderita fobia selalu menghindari sesuatu yang ditakuti, sama halnya dengan saya daripada saya ketakutan bertemu dengan kuda lumping saya selalu menghindari mereka. Lalu mengenai penyebab fobia sendiri itu apa yach? Di blog www.hipnoterapi.asia di jelaskan bahwa penyebab fobia ada 4 yaitu karena peristiwa traumatis, budaya dan keyakinan, pola asuh yang keliru dan permodelan dan pengkodisian, untuk lebih jelasnya bisa mengunjungi blog tersebut. Untuk saya sendiri penyebabnya adalah peristiwa traumatis, dimana fobia ini terjadi saat saya masih kecil, dimana pada masa kecil pikiran logis kita belum berkembang baik. Sehingga banyak kejadian yang di tanggapi secara emosional, sampai menimbulkan trauma. Saya kembali berpikir memang benar juga yach, yang membuat saya trauma terhadap kuda lumping adalah suara pecut yang mengelegar dan pernah ada kejadian salah seorang pemain kuda lumping ini membawa pecut dan membunyikannya di dekat saya dan membuat saya sangat terkejut dan takut sekali. Dan semenjak itu saya tidak berani yang namanya dekat dengan kuda lumping.

Mengetahui asal mulanya yang menyebabkan saya memiliki ketakutan ini membuat saya lega. Karena untuk dapat menyembuhkan fobia ini kita harus mengetahui penyebabnya. Fobia yang saya alami ini tidak terlalu parah karena saya jarang bersinggungan dengan hal-hal yang saya takuti. Dan saya percaya saya bisa sembuh dari ketakutan ini. Seringkali saya melihat di acara yang di tayangkan di salah satu tv swasta, para artis yang memiliki fobia malah di kerjain habis-habisan oleh para kru. Kasihan juga saat mereka dikerjain sampai nangis dan pingsan. Jika kita mengetahui kita memiliki fobia dan sangat menganggu aktifitas kita memang lebih baik kita mengikuti terapi untuk bisa sembuh dari ketakutan yang kita miliki. Pada akhirnya kita akan merasa lega ketika kita tidak memiliki ketakutan lagi terhadap hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita takuti. Semoga saya juga tidak lagi memiliki ketakutan itu lagi, karena saya yang waktu kecil juga takut dengan ketinggian sekarang sudah bisa mengatasi rasa takut itu. Dan semua tergantung dari diri kita sendiri mau atau tidak kita mengatasi rasa takut itu.

Semarang, 4 Oktober 2009

Oleh : Ratna Fri

Tertarik dengan yang ini?

  • Kemana Larinya Inspirasi?
  • Ah, Tuhan…
  • Menulis dan Terus Menulis
  • Ruin is a Gift.
  • Bolu Kukus
  • Gak Enak
  • Lari
  • You’ve Got the Talent (s)!
  • Bingung?
  • Salahkah diriku??

Comments (3)

fekhiNovember 5th, 2009 at 6:38 am

hehehehe… aku blom pernah secara langsung liat sih ya…
tapi sejauh ini sama barongsai yang rame-rame masih anteng2 aja, berarti aku bebas fobia dari topeng-topeng dan suara keras.

tapi kalau petasannn… liat orang megang aja aku langsung ngacir :D

ratna friNovember 6th, 2009 at 10:14 pm

klo ma petasan kebanyakan jg pada ngacir…
suka kaget…trus jd latah dech….ehh…copot..copot… :) )

LiniNovember 6th, 2009 at 11:08 pm

@ Ratna: masih bagus latahnya copot, kalo latahnya urusan anatomi tubuh? ;-)

Leave a comment

Your comment