februari, ruang hampa udara
(Rebecca Kezia)
Aima menengadah ke langit, menatap pemandangan kesukaannya terbentang di atas. Menyaksikan kebesaran dari sebuah hidup yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah misteri yang bergulung di dalam hidup seperti awan-awan yang menyelimuti langit kesukaannya.
Tubuh kaku ayahnya telah turun ke bawah tanah, ditimbun rapi oleh tumpukan tanah merah. Menjadi basah dan lumer kemana-mana. Dan Aima masih berdiri di sana. Kakinya telah penuh oleh lumpur yang menggenang di sekitar. Sementara rombongan simpatisan telah menjauh dari pemakaman ayahnya. Ia menghela nafas menikmati langit senja yang mencair bersama hujan menghantar pergi ayahnya ke pembaringan terakir.
Isaknya telah menguap. Namun tiap kali ia memandang pada tumpukan tanah yang basah, yang kini menutupi tubuh ayahnya, airmatanya seolah meluncur seperti hujan. Di bawah payung hitam dan langit merah, Aima tidak bisa beranjak dari sana. Kenangan akan ayahnya seolah mengikat kakinya untuk diam dan menari-nari di sekitar pusara ayahnya.
“kenapa waktu harus mencuri ayahku sekarang?”
Dan cairan dari balik pupil menyusul untuk meluncur bergiliran. Ia teringat akan perkataan ayahnya, di suatu pagi di bulan Februari yang hangat. Pagi yang takkan pernah hilang dari memorinya. Pagi dimana ia terbangun dan menemukan ayahnya kehilangan kekasih hati. Ibu pergi, ayah bilang saat Aima menuruni anak tangga. Ayahnya sendiri sedang duduk di taman belakang. Memperhatikan langit yang bergerak lambat.
Aima sempat berpikir, ibu pergi dan akan kembali. Seperti yang sudah-sudah. Dan Aima menunggu ibunya kembali. Ayah yang tahu Aima sedang menanti kepulangan ibunya, mengajak Aima pergi keluar. Mereka berdua pergi naik sepeda, ayah membonceng Aima kecil. Aima hanya 10 tahun saat itu.
Mereka berdua melintasi tanah lapang yang hijau dan menjauh dari perumahan mereka. Sampailah mereka di bukit belakang, dengan sebuah padang ilalang menghampar. Rumah mereka terletak jauh dari pusat kota. Tepat di pinggiran.
Ayah berhenti di bawah sebuah pohon besar, dimana ayah membuatkan aima sebuah ayunan dari kayu dan tali tambang. Mendudukan Aima di sana. Aima kecil duduk dengan kaki menggantung dan tubuh terayun-ayun oleh angin bulan Februari yang bersahabat.
“aima… ayah pernah bilang bukan, bahwa kita semua nantinya akan jadi sendiri? Aima juga nanti sendiri kalau besar. Tidak sama ayah atau ibu lagi. Aima ingat?”
Aima mengangguk. Ia tak menangkap maksud perkataan ayahnya.
“ayah juga nanti akan sendiri, ditinggal aima juga ibu.”
“Aima janji deh, tidak ninggalin ayah sendiri.”
Tapi ayah hanya membisu, terenyuh mendengar perkataan putrinya. Ayah membuang muka menghadap ke belakang. Diam-diam mencuri air matanya yang tak terbendung untuk meluncur. Aima kecil meletakan tangannya di atas wajah ayahnya, menghapus jejak airmata yang tersisa. Ayah tersenyum kecil pada Aima. Senyum kecil yang sayu.
“iya,iya Aima. Ayah percaya Aima akan temani ayah sampai nanti ayah tua.” Ayah diam tidak kuasa melanjutkan lagi. Dan Aima sekali lagi meletakan jari jemarinya yang kecil di wajah ayahnya.
“aima… ibu sudah pergi. Pergi dan menjadi sendiri.”
“tapi nanti kembali kan”
Ayah menggeleng. Merengkuh Aima kecil ke dekat hatinya. Dan membiarkan semua rasa yang ada runtuh dalam pelukan. Bagaimana ia harus bersikap tegar di hadapan putrinya, saat ia tahu ia tidak mengerti caranya bertahan di sini. Aima tidak mengerti apapun, namun ia merasakan kehilangan yang tiba-tiba.
“jadi..jadi Aima tidak punya ibu, yah? Aima tidak punya ibu…!”
“dan ayah tidak punya kekasih lagi,Aima”
Bulan Februari yang hangat tiba-tiba berubah menjadi ruang hampa udara. Dimana waktu berhenti mengalir dan udara mencekik mereka. Dalam raung yang sepi, mereka memanggil kekasih mereka. Ibu! Ibu! Namun hanya angin yang menjawab dalam bisu. Aima tidak pernah bisa mengerti apa yang terjadi saat itu. Ia merasa kehilangan yang besar. Besar dan tak terobati. Bagaimana ia harus menerima hal ini, kalau ia bahkan tidak dapat mengerti.
“semua yang terjadi, kehilangan dan perjumpaan, adalah hal terindah tanpa perlu alasan…”
Begitu ayah menutup kisah pahit mereka di bulan Februari. Dan setelahnya, hidup Aima berhenti memikirkan ibu. Hanya tersisa Aima dan ayah. Walaupun janggal, Aima akan berusaha menemani ayahnya. Hari itu adalah hari pertama dan terakhir melihat ayahnya meraung memanggil ibu. Memanggil dalam raungan paling satir yang pernah ia dengar. Setelahnya nama ibu seolah menyublim dan tak pernah kembali terdengar.
Namun hari ini, hari dimana ia ditinggal pergi ayah… ibu itu kembali. Kembali begitu saja dan memanggilnya anak. Menyatakan kerinduan dan merengkuhnya seperti 10 tahun silam, di malam terakhir mereka bersama. Aima tak menyangkal kerinduannya, tapi ia tak dapat menyimpan rasa perihnya. Ruang hampa bulan Februari seolah hadir tatkala sosok ibu keluar dari mobil dan menemuinya. Wanita ini. Wanita ini. Bagaimana aku harus melihatnya?
Kini yang ia lihat, ibunya pergi dari pusara ayahnya tak sendiri. Seseorang memayungi, merangkul dan membawanya pergi. Ibu ternyata tidak sendri,Ayah. Aima memprotes perkataan ayahnya dahulu saat ia bilang “ibu meninggakan kita, ibu telah menjadi sendiri”
Lima tahun lalu setelah kepergian mendadak ibunya, Aima bukan tidak pernah melihat ibunya lagi. Beberapa kali ibunya terlihat di jalan-jalan dan tempat-tempat umum. Namun selalu ada hal yang membuat langkah Aima terhenti dan membatalkan niatnya untuk menghampiri ibu. Suatu kali saat ia untuk pertama kalinya berpapasan dengan ibu, ia terkejut. Ibu seperti tak mengenalinya, hanya berlalu dengan seseorang di sisinya. Pergi berlalu seolah ia dan Aima tak pernah saling tahu. Seketika runtuhlah rindu Aima. Rasa perih yang lebih besar menjatuhkannya. Ia mengadu pada ayah malamnya. Itulah hari pertama dimana nama ibu terdengar lagi.
Ayah hanya diam saat Aima menumpahkan kebenciannya. Seperti tak rela menggubris dan ikut membenci ibu. Aima diam dan berpikir, mengapa ayah tak meradang padahal ibu menghinakan aku begitu dalam.
“ayah dengar kan cerita Aima?”
“ayah dengar. Ayah dengar…”
“lalu?”
“lalu ayah harus apa,Aima? Haruskah ayah membenci ibumu karena itu? Haruskah ayah pergi dan menembak kepalanya karena melukaimu? Ayah sudah bilang, mereka yang pergi memang telah pergi. Jangan mengharapkan mereka akan kembali, karena sekali-kali mereka hanya akan menyakitimu. Saat ibumu keluar dari pintu rumah ini di awal bulan februari, ayah tahu ia menyobek hati kita semua. Dan luka itu…mungkin takkan menemukan obatnya.”
Tapi ayah tak menangis, walau kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu pilu terdengar di telingaku. Salahku, telah membuatnya mengingat luka itu. Mungkin ayah jauh lebih terluka dariku. Dan malam itu aku berjanji, aku akan membiarkan proses menyubilmnya ibu semakin cepat.
Waktu mengajak Aima semakin dewasa, semakin menyadari bahwa segala hal yang terjadi nyatanya punya alasan. Termasuk suatu perpisahan. Aima bukan lagi gadis 10 tahun yang akan mengangguk saat diberi tahu hal-hal. Aima akan bertanya kenapa dan kenapa, sampai sebuah alasan akhirnya diberikan. Dan begitulah Aima dengan keras kepalanya memakasa ayahnya memberi tahu kenapa ibu pergi meninggalkan mereka.
“aku uda besar ayah! Aku harus tahu, kenapa wanita itu pergi dan tidak kembali? Apa karena dia punya suami baru atau atau…”
Ayah menutup pintu kamardi depan wajah nya. Dan memutuskan membisu soal itu semua. Tapi Aima tak peduli, ia terus berusaha menemukan alasan ibu pergi dan memilih sendiri. Walaupun ayah telah mengunci bibirnya untuk jawaban itu, dia percaya akan menemukannya di tempat lain. Aima mulai bertanya pada sanak saudara ibu yang lain, jawaban mereka tetap sama. Ibu pergi tanpa alasan.
Aima yang terlalu sibuk mencari dan mencari penyebab luka yang tak pernah hilang di keluarganya, melupakan janji untuk selalu menemani ayahnya. Sehinggat tanpa disadari, ayahnya telah terbaring tanpa daya di malam natal, setahun lalu.ia terbaring lemah. Aima pikir ia sakit, maka Aku pergi mencari dan mendapatkan dokter terbaik. Namun ayah tidak mau dibawa kemana-mana. Maka dokter-dokter itu yang terpaksa menghampiri ayah
Semua jenis perawatan dan diagnosa coba diutarakan, tapi tidak ada satupun yang masuk akal bagiku. Mereka semua mengatakan kesehatan ayahku prima, mungkin hanya kelelahan. Akhirnya Aima menyerah, dan memutuskan untuk menemani ayah.
Malam tahun baruku lalu bersama ayah. Ayah tertidur pulas dan Aima membereskan makanannya. Dalam tidurnya yang lelap, samar-sama ia mendengarnya memanggil nama ibu. Awalnya lemah dan lembut, lama-lama semakin keras dan berubah menjadi teriakan. Aima menenangkannya, namun ia tak terbangun. Ia seperti tidur dan bermimpi.
“Haeena… haeena!”
Begitu nama ibunya ia panggil terus dan terus. Aima tidak tahu bagaimana harus menenangkannya, Aima hanya bisa meremas tangannya dan berbaring di sisinya. Berharap ini semua segera berlalu. Kerinduan dan sakit hati ini telah memakan habis ayahku, bagaimana ia harus menghentikannya.
Aima
Maka aku putuskan untuk menemui ibuku. Aku meminta bantuan temanku mencari alamat ibuku. Dan mudah saja ditemukan. Sebab ibuku seorang pelukis yang cukup terkenal. Aku segera mendapatkan dimana ia tinggal. Dan aku hendak memintanya kembali paling tidak untuk menyelesaikan masalah dengan ayahku dan membantunya pulih dari rasa sakit yang berkelanjutan.
Bulan februari yang hangat, aku terpaksa mengulang kembali perpisahnku dulu dengan pertemuan yang kupaksakan. Aku tiba di rumahnya, disambut seorang asistennya. Aku berusaha ramah dan duduk di ruang tamunya. Bau rumahnya khas bau ibuku. Walau aku tidak yakin bagaimana mungkin aku masih bisa ingat.
Ia datang dan menemuiku. Dibalut baju putih panjang yang kebesaran di tubuhnya. Tidak ada ekspresi seperti yang kuterka. Ia melihatku dan begitu saja. Duduk dan menawarkanku sajian. Aku memutuskan utnuk bersikap biasa saja. Ia terlihat begitu santai menghadapiku, seperti tak melihatku sebagai anaknya.
“haeena, ayah sakit. Aku rasa hmm kalau kau mau, bisakah datang dan menjenguknya? Tidak ada dokter yang bisa memastikan sakita apa dia, namun dalam tidurnya kemarin ia memanggil-manggil namamu…”
Ibu diam. Membuang muka keluar jendela. Wajahnya, ekspresinya, air mukanya. Semua telah berganti. Aku tidak bisa lagi menemukan kesamaan antara aku dan dia yang dahulu sering ia sebutkan. Aku telah kehilangan kemampuan membauinya seperti dahulu aku sering berdekatan dengannya. Ia benar-benar telah menyublim.
“maaf, tapi coba lihat hidupku sekarang… sudah berubah, Ima. Tidak ada lagi keluarga kumiliki, dan aku kamu Baya hanyalah cerita dulu. Jujur berat buatku untuk kembali.”
Aku tersentak. Tak pernah kubayangkan respon ini yang kudapatkan. Kutelan kata-katanya sekuat tenaga berusaha menahan sakit yang bulat-bulat ia tembakkan. Belum sempat kubalas, seseorang keluar dari dalam. Seseorang dengan selembar kain merah muda tipis menutup tubuh jenjangnya. Wanita. Wanita. Siapa dia pikirku?
“hae, siapa?”
Ibu tak menjawab
“masuk dulu, nanti kutemui.”
Wanita itu masuk lagi, walau dari ekor mataku masih kulihat ia menatapku dalam-dalam. Modelnya kah? Anaknya yang barukah?temannya?
“Baya yang baik hati itu pasti tak berani bilang padamu, mengapa aku pergi ketika dulu. Haha aku sudah tebak. Dari awal perjumpaan kita dulu, aku tahu kau belum membenciku. Karena Baya, ayahmu, selamanya hanya pria yang terlalu dalam mengasihi terlalu baik hatinya.”
Mendadak aku tidak mau mendengar kelanjutan ceritanya. Aku enggan menerka-nerka apakah imajinasiku tentang yang ia bicarakan benar adanya. Tubuhku berkeringat dan tanganku mengepal lebih kencang. Dan terakhir yang aku ingat ia bilang…
“aku berhenti mencintai ayahmu, karena aku jatuh cinta pada gadis itu. Lola namanya…”
Aku lupa bagaimana aku mengakhiri pertemuanku dengan bekas ibuku. Aku lupa bagaimana aku bisa keluar dan mengakhiri sore terburuk dalam hidupku. “aku jatuh cinta pada gadis itu” bagaimana harus kumengerti kata-katanya ini. Bagaimana aku harus berdamai dengan masa laluku, jika masa depanku dihantui oleh kata-katanya. Segalanya beralasan, ayahku hanya terlalu cinta padanya dan tak bisa melihatku membenci haeena dan ceritanya.
Sampai akhir dari hidupnya, janjiku terpenuhi. Aku tidak membiarkan ayah sendiri. Aku tak meninggalkannya mati kesepian. Aku menemaninya dan menjadi bagian separuh jiwanya yang dicuri. Walaupun melalui tahun terakhir ayahku adalah ruang hampa udara terpanjang yang harus kulalui.
Di pemakaman terakhir ini, Haeena datang dengan Lola. Kami berjabat tangan dan kuterima simpatinya. Inilah permintaan terakhir ayah, ingin melihatku dan Haeena berdamai. Dan tubuh ayahku yang terbaring di balik tumpukan tanah itu yang menjadi alasan. Aku luluhkan hatiku dan kutelan semua kenyataan ini. Walaupun jutaan rindu yang Haeena sampaikan suah terasa tawar bagiku.
Mungkin langit senja ini menangis melihatku berhasil memenangkan kesepian. Walaupun aku besar tanpa ibu, aku besar dengan cukup cinta dari ayahku. Dan walaupun aku memang jadi sendiri sekarang, seperti kata ayahku, tapi aku menyadari bahwa memang itulah keajaiban hidup. Aku tersenyum simpul saat Haeena melepas lambaian dan pergi dari sini. Ia memang telah menyublim jauh sebelum aku bisa melepaskannya.
Ayah, aku harus pulang. Aku jadi sendiri tanpa ayah… bulan Februari, bukit belakang rumah kita dulu dan semua kenangan tentang ayah aku rapikan dan kuterbangkan ke langit. Hingga kapanpun hujan turun, aku tahu ayah berada di antaranya…
Butiran hujan dari mataku meluncur dan seolah telah selesai, akhirnya aku berjalan menjauh dari pusaranya. Bersandar pada payung dan berusaha menerka… apa yang akan dibawa hidup besok? Alasan apalagi…












