Humoris dan tangis

(Rebbeca Becky)

Seperti pagi yang lain dan seperti seorang yang lain, ia dan koran di tangan. Asyik membaui kopi yang tak kunjung sejuk untuk siap dicicip. Tangannya yang terbungkus rapi oleh kemeja yang berwarna kelabu saja, membolak balik tiap halaman kertas koran. Sekedar melirik judul pada bagian atas, atau mengomentari berita-berita yang dianggapnya fiktif. Kadang kedua bola matanya melirik ke luar dari balik bingkai kaca mukanya. Menatapi sedetik atau dua, lalu menghela napas puas dan gembira karena menikmati tanaman yang ditanamnya sepanjang akhir pekan kemarin. Kadang sembari bergumam, “indahnya” atau “sebaiknya kuganti dengan…”

Dan aku di situ. Ya, memperhatikannya. Mencatat dengan baik, bagaimana ia berlaku. Bagaimana matanya yang telah serupa redup dengan usianya, menikmati apa yang disebutnya indah. Bagaimana bibirnya yang tebal menempel pada cangkir, dan berusaha keras mecicipi seduhan kopi yang mengepul itu. Atau tangannya, yang bergerak lemah menggapai piring lauk dan disodorkan padaku. Ia, ayahku, ramah menyapa pada pagi-pagiku. Kami tidak selalu duduk bersama untuk makan begini, sekalinya ada akan kugunakan untuk menyimpan gambar terbaik tentang dirinya. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kenyataan berakhir. Dan kapan kita harus terbangun sendirian.

“melamun lagi?”

Aku terperangah, dalam usiaku yang kesekian, aku masih di sini. Dan ayah masih di sana. Duduk bersebrangan dengan tingkah pola yang sama pada tiap pagi. Aku tidak sadar, kalau ia makin menua. Ia makin lambat dalam menghayati satu dua hal. Namun ia tak pernah lupa duduk dan menghantarku pergi menyambut hari.

“hehe… ayah mau kemana hari ini?”

“hmm… cari bibit tanaman mungkin. Taman di belakang makin kurang warna.”

Tidak,tidak itu bohong. Asal tahu saja, dari awal rumahku dibentuk ayah hanya menaruh hati pada masalah penghijauan dan bunga-bunga di pekarangan. Ia tak pernah peduli pada sofa, juga pada lampu atau perabot mahal lain yang kini silih berganti melengkapi rumah kami. Bangunan ini bisa jadi saksi, betapa ia menyuka kembang dan warna warninya.  Sehingga bisa ditebaklah, kalau taman kami sudah bisa melengkapi wajah halaman tabloid asri atau yang sejenis, saking hijau dan rimbunnya. Tapi aku bisa apa, sebab dari itulah ayahku mendapati kebahagiannya.

“baik, baik… tapi pakai sepeda lagi carinya? Dianter aja ya sama pak min?”

“alah, deket ini. Kayuh saja sepeda, dua tiga pulau terlampui.”

“ha? Maksudnya apa?”

Aku diam. Mendapati sedikit tawa pada matanya. Tahulah, ayahku ini memang humoris yang payah. Yang ia tahu, lelucon jaman srimulat berjaya. Aku hidup di jaman bencong jadi hiburan di televisi. Bagaimana bisa tertawa menanggapinya, walau jangan salah kaprah, aku pun cinta pada tontonan macam srimulat. Namun, ya… aku Cuma bisa mengejeknya balik.

“melucu?? Ngga lucu!!!”

Dan lepaslah tawa pria setengah baya ini, pada pagiku yang cerah di usiaku yang kesekian…

Seuntas memori mengahantar kecemasanku yang berdebar menunggu pesan keluar dari balik pintu itu. Aku sendiri, berdiri. Tidak, maksudku, bukan benar-benar sendiri pada tempat ini. Tapi aku sendirian berdiri. Yang lain, duduk. Di tengah kecemasan, sesengguk ibuku tak lagi berarti. Atau tangan-tangan yang meraihku, seolah memberi topangan pada kecemasan ini. Aku sendiri berdiri. Pada titik yang tidak aku sadari lagi dimana dan dengan siapa. Ayahku di dalam,kritis melawan ajal. Haruskah aku duduk, menangisi lemah dan membuatnya tak berdaya di dalam. Bukankah seharusnya aku berdiri saja, seperti penonton yang menonton dengan histeris dan bersemangat. Pertarungan ayahku dan ajal ini, memang terasa begitu seru. Sayang jika hanya dilewati dengan mata sembab atau kepala tertunduk. Hey, ayah belum kalah. Ayahku masih berjuang.

“Bias?”

Seorang dengan jubah putih dan kepala botak, menghampiriku. Bagiku ia bukan dokter, bagiku ia adalah komentator pada pertandingan ini.

“ya”

“kondisi ayah anda, kritis…. Dimana nyonya Matari?”

Aku mendekat pada ibu, yang tertunduk dalam doa yang berlarut. Kusentuh bahunya yang tak berhenti mengguncang iba pada Yang Kuasa. Kubiarkan ibu dan si komentator itu berbicara. Aku menjauh, aku tak mau dengar apapun tentang pertandingan ayahku ini. Sebab ia, bukan wasit. Ia hanya komentator. Duduk di tempat tinggi, namun tidak cukup dapat melihat apa yang terjadi. Tuhan,  Kau wasitnya. Katakanlah sendiri padaku, jika memang ayahku harus kalah pada pertandingan akhir ini. Atau jika menang, bawa ia keluar dengan wajah keemasan dan humornya yang payah. Aku akan tertawa sekali ini, dai hatiku yang terdalam… janjiku pada ayah.

Namun, ia kalah… beberapa jam setelah komentator menyampaikan visinya. Ia kalah. Dengan terhormat. Dengan sempat membuka mata dan mengusapi satu-satu, aku, ibu, dan adik-adikku. Tapi aku marah, aku sungguh kesal dengan wasit. Ia tak menepati janjinya, ia tak datang padaku dan menyampaikan berita kekalahan. Ia membiarkan aku melihat sendiri, ayahku jatuh terkulai di tangan musuh saat pertandingan mencapai klimaks. Tangisku terburai, seperti air yang mencuat saat lambung dilukai pada kisah penyaliban. Duka dan bahagia dan kecewa. Aku alirkan di hadapan ayahku yang berbaring sepi pada lapangannya yang telah usai.

“ayah mau tinggal di kampung saja.”

Semua terperangah. Memperhatikan pria tua yang memecah hening di atas meja makan pada perayaan ulangtahunnya yang ke 50. Ayam panggang ikut bergidik, saat masalah ini kembali diuapkan. Keterlaluan, pada momen yang tidak pas ini. Aku tahu, sebentar lagi akan kudengar keluhan dan kemudian pertengkaran. Begitu saja, seperti yang sudah-sudah.

Ibu yang pertama menghentikan makan, dan menatapi ayah lama. Ayah memang tidak pernah tahan menjadi pusat perhatian, ia dengan gerakan lambat mengambil sepiring sayuran kering dan mashed potato, lalu disodorkan padaku. Yang kebetulan duduk di sampingnya. Aku menolak halus. Bukan ingin memperkeruh. Namun, aku sudah kenyang. Makanan pada piring saja belum habis. Masakan mau mengambil lagi. Lebih baik kurang daripada menyisakan.

“mau dik?”

Ia tawarkan pada adikku. Yang memang dengan sengaja menolaknya dengan sangat tak tahu diri. Kesentuh kaki adikku dengan sandal yang mengatung di jari. Maksudku ingin menyadarkan tingkahnya. Ia malah menyalak kencang, seolah aku memukuli tubuhnya.

“apaan sih lo! Kalau mau bilang, ga usa maksa orang!”

Diam adalah emas saat ini. Kulirik saja, tidak. Malas berurusan dengan orang bar-bar macam si penyalak ini. Aku lihati gerakan mata ibu yang makin menajam ke arah kami.

“kesenggol…”

Jawabku cepat. Ibu tidak peduli pada jawabanku, ia tetap mengomentari caraku bicara. Apapun itu, aku masih tidak bisa menemukan kesalahanku pada peristiwa meja makan. Maka aku melanjutkan makan. Atmosfer malam itu terasa berat di atas kami semua. Juan, adikku yang barusan, bertubuh tambun. Ia kasar perangainya. Ia gemar menyulut pertengkaran dengan siapapun. Adikku yang lain, namanya Mera, wanita yang lemah lembut dan manis. Aku tak pernah punya masalah dengannya. Selain jarak usia kami terlampau jauh. Ia juga tak memancing pertikaian. Jadi jika dirunutkan, malam itu kami punya dua masalah. Ayah dan perkataanya juga aku dan perbuatanku. Hakim kami adalah semua. Jaksa kami adalah ibu. Dan si tambun Juan, jadi saksi. Si mera, penonton.

Skenario itu kubangun dalam pikiranku saja. Aku bisa tebak, ibu akan membuka persidangan ini atas namaku. Ya, pasti itu. Sebab di dalam keluarga ini, akulah si biang keladi. Tukang bikin masalah, yang harus selalu disalahkan. Sialnya, si Juan, makin gila dengan sadarnya akan keberuntungan itu.

“kenapa sih, kamu selalu ajak adik berantem? Umurmu sudah berapa tahun ini? Katanya sudah mau dua puluh. Masa masih suka gangu adikmu? Ha?”

Benarkan, aku yang didakwa. Lalu masalah ini akan makin lebar, kalau aku mau menanggapi. Sayangnya, aku sudah terlalu pintar untuk terjerumus dalam pancingan ini. Maka aku diam saja. Mendapati diriku sebagai tersangka. Dan Juan, sebagai saksi, yang tanpa perlu bicara telah melemahkan posisiku.

Skenario kedua, ayahku yang polos ini, dengan cepat akan berdiri menengahi. Yang mana menurutku itu bodoh. Karena dengan begitu jaksa bisa beralih pada kasus kedua, yaitu ayah dan perkataannya.

“lihat, ayahkan, banyak sekali bicara. Lihat hasilnya, anak jadi sulit diberitahu! Anak itu harus diajar, yah… kalau didiamin terus, mau jadi apa gedenya.”

“bu, toh memang sudah besar. Biarkan saja. Lagipula ini masalah kecil. Hanya antara adik dan kakak. Kenapa sih harus dibawa ke meja makan?”

“oh, masalah kecil. Masalah  kecil ya, dibawa ke meja makan. Ok. Ibu tanya, memang ayah tahu kenapa jadi begini? Ha? Karena ayah ngomongim hal yang ga mungkin lagi di atas meja makan. Uda tahu, kita lagi seneng-seneng ngerayain ayah ulangtahun, eh malah seenaknya ngomong gitu.”

“bu, ayah ga seenaknya ngomong begitu. Ini permintaan ayah, untuk ulangtahun ayah. Mengapa sih ga mungkin? Kata merek sepatu aja, imposible itu nothing. Masak ibu kalah sama sepatu?!”

Susah payah aku menahan tawa yang siap mencuat keluar jika bisa. Merek sepatu, itu kan lelucon yang sudah sangat lama menjamur. Dan sudah basi. Ha, humoris ini memang payah. Kalau tidak salah, waktu itu aku dan ayah sedang menonton tv. Ya, dan iklan itu dengan indahnya keluar dari bailk kaca. Ayah tertawa, tapi aku tidak. Buatku tidak ada yang lucu dari slogan merek sepatu itu, selain kekuataan yang tersembunyi dalam maknanya. Kuperhatikan ekspresi wajah si jaksa, tak berubah. Jadi sangkaku, ia tak mengerti artinya. Dan adikku, si tambun, dengan tawanya yang terbahak-bahak menjadi saksi yang melemahkan posisi ayah. Si jaksa, bisa jadi berpendapat bahwa ayah membuat lelucon atas dirinya. Sedangkan semua tahu, itulah ayahku.

“tidak ada yang lucu! Ayah, bisa ngga sih, ayah sedikt serius? Apa-apaan sih dengan ide tinggal di desa?”

Kalau boleh ibu jaksa, biarkan aku yang menjawab. Ayahku ini, humoris. Mana bisa humoris diajak bicara lurus. Jalannya pasti naik turun, kelak kelok, kilik-kilik bikin kita tertawa jadi-jadian.

“ayah serius ibu. Seserius si candil…”

Kali ini, tambun yang bodoh itu keterlaluan. Tawanya menunjuk-nunjuk muka ayah. Dan dengan girangnya ia menjelaskan makna candil serius (eks vokalis maksudnya). Aku hanya bisa menahan muka pada irisan daging di atas meja. Kalau aku tertawa, maka diketuklah palu, dan hukuman mati untukku. Diam adalah bijak dan sangat baik. Mera hanya tersenyum-senyum saja dari kursinya. Ayahku, si humoris payah ini, selalu punya cara untuk menyajikan panggung lawakan terbaik dengan lakon terhebat.

Ibu dengan kegemaran yang luar biasa itu, mengetuk kaki pada lantai, dan menggeser tubuhnya yang memenuhi setengah bagian meja. Diangkat mukanya yang merah padam, dan ditatapnya tajam para terdakwa. Seolah ia menjadi hakim, ia menunjuk padaku.

“lihat, contohlah hidup ayahmu ini! Mau jadi apa. Santai, ga pernah serius”

Lalu beralih pada ayah.

“lihat, apa yang kau lakukan atas segala usahaku memberikan yang terbaik. Kau anggap ini lelocon, maka jadilah menurutmu demikian.”

Tanpa basabasi, karena tidak pintar di dalam itu, ayah ikut berdiri. Tidak bicara. Mematung. Sampai ibu lenyap dalam pintu kamar yang beradu engselnya dan menggebrak keras ruangan. Seolah menutup panggung lakon ini, ia membungkuk di hadapan hakim-hakim cilik. Dan Mera, meneguk kembali icewinenya. Aku mengangguk sedikit pada maestro panggung. Dan tambun tak peduli pada apapun, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Peristiwa meja makan itu, adalah hal terakhir yang kukenang bersama dengan seluruh keluargaku. Lengkap.

Kemudian harinya, tanpa kami tahu, ibu dan ayah telah bicara empat mata. Sangat serius. Aku penasaran, seperti apa wajah serius ayahku. Namun semua sudah berlalu, aku tidak lagi mendapati ada kemesraan di antara mereka. Bahkan tidak untuk sebuah perbincangan serius bersama ketiga putra-putrinya. Entah apa kesepakatannya, tapi ibulah yang beranjak.

Aku senang, bahwa akhirnya salah satu lakon yang merusak panggung ini memang harus beranjak. Perlahan, aku menyadari bahwa Juan, juga kerap tidak pulang ke rumah. Kemungkinan, menurutku ia tinggal dengan ibu di rumah kami yang lain. Ayah dan ibu memang tidak bercerai. Mereka hanya berpisah secara jasmani. Secara jarak. Jadi tidak perlu ada masalah dalam hal hak asuh. Selain kami sudah besar, aku juga tidak tertarik pindah dari rumah yang sekarang. Mera, ia dibawa dari awal oleh ibu. Maksudku, aku maklum ia masih kecil. Ibu pasti egois soal dia. Jadi mau bagaimana lagi, pertemuan empat mata itu ternyata telah menetapkan banyak hal diluar batas kemampuanku merekonstruksi fakta.

Ini yang kurasa, pada hari-hari hanya ada aku dan ayah. Seperti biasa ia disana, di seberangku sambil menghabiskan pagi. Koran di tangan, kopi yang mengepul, dan mata yang melirik-lirik lewat kaca muka. Niatnya hari ini akan pergi bersepeda mencari bibit untuk mewarnai taman. Yang mana menurutku sia-sia. Tapi ayah hanya mengenal kebahagian lewat bunga-bunga setelah rumah kami sunyi tanpa panggung sandiwara.

Aku khawatir. Jujur saja, sebab ayahku sudah menua. Dan entah bagaimana angin berbisik padaku ia juga renta dan rapuh. Bersepeda, aku membayangkan ia yang kurus dengan rambut putihnya yang mulai memenuhi kepalanya. Berputar-putar di bawah terik yang memanggang, melintasi arus yang ramai dan tak ramah, tanpa seorang pun menjaganya. Aku cemas.

Tapi ia tetap seorang humoris. Ia tersenyum, membuat lawakan tentang kayuh sepeda dan pulau yang tak lucu. Ia menghiburku, karena tahu aku cemas.

Malam sebelumnya, aku mengintip dari balik celah teras kamarku. Ia duduk di atas kursi goyang yang menghadap kebunnya. Yang jika malam tiba, bunga-bunga akan memantulkan warnanya pada sinar bulan yang redup. Suara jangkrik yang mengalun bagai gesekan biola yang sumbang, gemercik air dari lompatan indah ikah ikan yang dipeliharanya, kura-kura brazil yang beradu dalam kotak kaca dan semuanya saja yang bagi ayah tercipta untuk membahagiakannya. Aku mengintip, dalam sunyi dan gelap.

Ia menangis. Si humoris menangis. Aku kehabisan akal saat itu. Bagaimana bisa pria macam ayahku menemukan duka pada hatinya. Bukankah ia selalu tertawa? Bukankah pada bibirnya hanya ada jenaka? Bukankah lelucon adalah pikirannya? Mengapa ia menangis. Sejak kapan ayahku tahu caranya menyiksa pupil mata. Bagaimana?

Karenanya lah, pagi ini aku cemas. Aku mengabadikan gambar diri ayahku yang utuh, yang tak pernah lupa tertawa atau menertawakan. Aku berusaha menjaga agar tawanya jangan pudar, pagi ini dan seterusnya.

“pak Min bisa antar kalau ayah mau? Aku bawa sendiri.”

“buat apa Pak Min. kalau ayah mau, ayah mending cari mbo Min…ah, yang jelas-jelas bisa pijet kaki ayah kalau pegel naik sepeda.”

Mbo minah tukang pijat langganan. Selalu begitu, penuh sindrian yang jenaka. Kapan ayah, akan ayah tampakan wajah berduka itu padaku. Ataukah humor ini adalah obat penawar hati yang luka. Maka ayah melepasku pergi dengan kecupan di dahi, dan melambai.

“ingat Bias… jangan biasakan diri menangisi apapun itu, lelucon! Itu yang kamu butuhkan… lelucon itu apa?”

Dan aku mengingat semboyan yang ayah berikan saat aku menangis karena rumah kami harus pindah lagi dan aku kehilangan teman lagi.

“mercon yang leluasa menyoraki hati yang pahit.”

Ayahku pergi saat sepedanya dikayuh. Itulah perjalanan terakhirnya menuju rumahnya yang selalu diimpikan. Di kampung bukan desa, tapi kampung ia berasal. Ayahku tak mengenal istilah sorga, ia kenali itu dengan kampung. Kami tidak tahu. Tidak pernah mengerti beliau. Dan dengan seenaknya, ia berika pertanda yang kami tertawai dengan bebas. Kampung.

Sebuah kotak, ia siapkan untuk memberitahuku dan keluargaku. Laki-laki macam apa yang tidur di sisi kami, yang dicintai, yang dimaki yang dikasihi dan yang ditangisi hari ini. Kami buka bersama, bagaikan melihat sebuah wasiat. Kotak yang tak besar. Tak berdebu, penuh hiasan tangannya.

Saat kami buka, ada berbagai macam masker yang mengeras. Dengan berbagai rupa. Tertawa, tersenyum, mengejek, memeletkan lidah, tersipu-sipu, tertawa sampai menangis, terheran karena bahagia, dan seribu satu ekspresi wajahnya yang biasa kami lihat. Yang biasa ia pamerkan pada kami.

Di bawahnya, ada sebuah surat. Warna warni sepeti permen lolipop. Dan ditulis dengan tangannya, karena indah dan kukenali. Kertas juga ditumpahkan sedikit aroma kayu manis dan bunga kesukaannya. Tak banyak yang ditulis, hanya…

“untuk istriku, yang menemaniku di ranjang, di kamar mandi, di pekarangan, di dapur, di gedung mewah, di lapangan becek, di jalanan macet, di mimpiku, di meja makan, di ruangan-ruangan yang hanya kita yang tahu… aku minta maaf. Dan aku sayang padamu seperti selalu kukatakan dahulu sebelum kau tahu cara berteriak padaku. Sebelum aku jadi brengsek seperti kakus yang mampet.

Untuk Bias, yang meniruku bagai cermin dan bayangan air. Jangan. Ingat kata ibu, aku bukan contoh, aku hanya ayah. Kau rekonstruksi humorku, aku tahu itu.  Tapi suatu hari kau akan berdiri di panggungmu sendiri. kau adalah hadiah pertama yang Tuhan berikan atas cintaku pada ibumu. Aku sayang kau nak.

Untuk Juan, laki-laki yang selalu kubanggakan. Yang dengan kepandaianmu kau taklukan humorku yang sinting. Maaf nak, aku Cuma pemain watak yang menawarkan hatimu. Kau adalah musik yang mengalun di panggungku. Cium untuk putraku.

Untuk Mera. Kau adalah ciuman yang paling manis yang diberikan Tuhan pada hidupku yang bersinar di hari tua. Hai nak, tumbuhlah menjadi cantiklah seperti ibumu. Aku selalu menyertai langkahmu, ayahmu tersayang.

Kuhadiahi kalian semua, kebahagiaan yang selama ini kukenakan sendiri. dan biarlah wjah berduka aku yang kenakan hari ini. Ingatlah aku sembari kalian memakai masker-masker ini…

Peluk cium sayang,

Ayah kalian

Suami buat ibumu saja ya….”

Ya ayah, aku sudah lihat masker dukacita itu. Tapi aku senang karena kau pergi, dalam kemenangan mendapati kami semua berkumpul di sini tanpa lakon. Menjadi kami, mengenang kamu. Dan dengarlah nyanyian bunga-bunga ,Hai si humoris…



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment