Labya berilah Ratio waktu
(Rebbeca Kezia)
Di balik deru motor-motor yang menyalak satu sama lain, labya duduk dalam keheningannya sendiri. Tidak pernah dia begitu sulit memaafkan seperti hari ini. Walaupun telah pergi mengadu pada senja yang kini berlabuh, ia tidak menemukan suatu dorongan yang biasa didapatnya dalam perjalanan bersama senja. Ditariknya satu lagi batang putih, siap dihabisi. Dikulum dihisap ditelan racunnya. Ia bergumul dengan deru motor, sinar yang pergi perlahan dan asap yang berkabung di sekitarnya. Satu persatu lampu mulai menyala. Langit oranye peralahan bergradasi jadi biru yang gelap dan dalam. Yang selalu takut ia selami, sebab dalam gelap ia sulit untuk berenang.
Pikirannya mengambang. Di antara batas kesadaran logika dan kesakitan di dalam dada yang memantul-mantul tanpa ampun. Jika bukan karena dering telepon jahanam itu ia tidak perlu merasa begini bersalah. Dering telepon itu berbunyi di saat dimana ia harusnya paling bahagia. Kepul asap warnanya telah sama dengan pikirannya. Keruh. Ia tidak bisa memafkan dua hal hari ini. Dering telepon dan dirinya yang menjawab dering itu.
Mungkin jika tidak kuangkat, aku tidak akan merasa sesunyi ini. Dering itu tetap akan jadi dering. Dan hidupku akan senantiasa mengalir bersama waktu yang dibiarkan bergulir. Tapi dering yang terjawab olehku menghentikan segalanya. Mendepakku keluar dari rumah. Membawaku ke tengah-tengah antah berantah. Ya, akan kusesali setiap detik dering telepon yang kujawab itu.
Labya bercerita pada dirinya. Dalam sesal yang panjang, telepon sakunya bergetar. Sebuah nama dan sebuah dering yang lain. Ia telah cukup merasa terhina oleh dering yang sebelumnya. Haruskah dijawabnya lagi dering yang satu ini? Akankah selesai rasa bersalahku hari ini, jika dering yang lain aku jawab.
Pikirannya melaju pada detik-detik sebelum dering jahanam tadi pergi menyiksanya. Dering itu memang selalu ada. Dari hari sebelum hari ini. Ia telah sering datang, dan Labya tidak pernah ambil pusing. Labya diam mendengar dering itu memanggil-manggil. Minta diangkat. Ia tahu siapa dering itu dan ia diam. Tapi dering hari ini adalah dering ke sebelas di hari yang sama. Sebelas angka sakral buat Labya. Sebelas angka jadi dirinya. Sebelas angkanya bertemu dengan Ratio. Sebelas adalah awal dimana ia jatuh cinta pada dunia yang ditinggalinya. Sebelas adalah alasan yang cukup baginya untuk menjawab dering itu.
Maka diraihnya sumber dering itu dan ditekannya tombol yang menjawab dering itu.
“halo”
Dan seketika runtuhlah sudah dunia Labya yang tertata dengan rapi sebelumnya. Pergi semua hal yang pernah ia pegang teguh. Terbakar lalu jadi abu. Dalam kesesakannya yang terutama, ia pergi meninggalkan halo-halo lain yang tersisa di ujung suara dering itu. Dibukanya pintu yang memisahkan dia dan Ratio. Diserangnya Ratio yang duduk manis di sana. Dengan membabi buta ia tanyakan segala yang bisa ditannyakan. Dituduhkannya semua pada Ratio. Penjahat, ular, dan segala sumpah serapah. Ratio tidak terima, ia layangkan tangan untuk menghentikan serangan agresif Labya. Labya tersentak. Bukan karena sakit yang dirasa, lebih karena tamparan itu menyadarkannya bahwa Ratio mengiyakan tuduhannya.
“jadi siapa dia?”
Tanya Labya di sela amuknya yang mereda jadi tangis tertahan. Ratio menghela nafas panjang, dan diam. Diam tanpa kata. Diam tanpa penjelasan. Labya menangiskan dukanya. Labya mencuri tatapan yang biasa meenangkannya. Ia tidak temukan semuanya. Ia kalah hari ini.
Batang putih yang digenggamnya di sela jari, melukai tangannya. Abu itu menggesek dan menyadarkan ia. Malam telah tiba. Senja yang mesra berlalu sudah. Telepon sakunya menyala dan bergetar. Dengan nama yang sama, yang sedari tadi terus muncul. Ratio.
Hari ini, dering lain itu dimatika oleh Labya. Sebab belum ada dorongan untuknya mendengar atau memaafkan. Bukan karena dering yang ini lebih lembut terdengar di telinganya. Namun karena ia telah kehilangan tatapan yang dulu memautnya, tatapan yang merengkuhnya untuk pulang. Tatapan yang tidak ia temukan adalah alasan yang cukup untuk menjauh dari Ratio.
Dan begitulah wanita. Ia lebih percaya apa yang ingin didengar. Ketimbang apa yang seharusnya didengar. Untuk wanita, berilah ratio waktu untuk menjelaskan. Untuk labya-labya di luar sana angkatlah dering itu. Mungkin dering itu tidak akan merekatkan hati yang telah remuk. Tapi setidaknya dering itu akan memberikan jalan lain untuk pulang. Kepada ratio atau tidak.












