Laki-laki Mencair dalam Merah

(Rebbeca Becky)

Aku akan pergi berkeliling pantai sambil menghabiskan mimpi tentang kamu di balik batu karang itu. Ditemani deburan ombak yang pecah saat menyentuh pasir di bawah kakiku, dan burung-burung camar yang melintas mengamatiku dari langit. Oh rasanya, aku tak mau berhenti bermimpi bahwa kamu dan aku ternyata hanya dibatasi oleh dunia nyata. Ini sudah kesekian kalinya aku berniat berhenti dari mimpi-mimpi tentang kamu. Menguburnya di bawah tanah atau sekedar menyerakannya di tempat sampah. Namun sungguh sulit. Semakin kejam aku coba hempaskan mimpi-mimpi itu, mereka akan datang kembali. Bertubi-tubi dengan serangan yang mematikan. Jadi kuputuskan bermeditasi ke pantai, di suatu senja yang hangat. Aku akan menikmati setiap sensasi memilikimu dalam mimpi. Dengan begitu aku berharap, kau akan lepas dengan sendirinya. Tanpa paksaan, tanpa siksaan…

Seperti tujuan awalku yang mulia, menaruhkan mimpi indah ini di horizon merah pembatas laut. Aku berbaring di tepi pantai, persis di dekat deburan ombak pecah dan sinar senja itu membias. Sambil memejamkan mata dan melepaskan pikiranku ke angkasa. Berharap di bawah keindahan ini, kesakitanku dalam bermimpi akan menguap ke udara. Sampai di sini, aku mulai berdarah. Entah karena warna merah langit menjelma di balik air yang keluar dari mataku. Atau memang aku berdarah?!

Perlahan air berwarna merah darah itu menuruni bukit-bukit wajahku dan menggenang di cekungan dekat leherku. Kini rasanya warna merah itu telah membanjiri tubuhku, dan perlahan bentuk pasir di bawah tubuhku menghilang. Terganti oleh pekatnya merah. Debur ombak semakin menjauh dan angkasa di atas sana menjadi blur. Aku heran apakah mimpiku telah menjelma menjadi duniaku. Atau pantai itulah sebenarnya kediamanku saat bermimpi. Kalau ya, aku berharap tak pernah terbangun. Walaupun dalam sepi harus kuhabiskan hidup, aku mau tinggal di tepi pantai di bawah langit senja yang merah.

Kini semua kromosom dalam tubuhku rasanya ikut mencair dan mengalir keluar. Aku seperti berenang di lautan merah air mataku. Entah karena bias matahari senja yang telah menjadi blur itu atau aku memang berdarah. Baunya tak anyir, hanya seperti air ia tak berbau dan mengalir mengikuti bentuk. Berarti bukan darah. Mungkin juga darah yang tak keluar karena luka, namun darah yang keluar karena terpompa rasa yang begitu hebat. Emosi di dalam jiwaku memang melonjak-lonjak sejak kusadari mimpi itu terus menghantuiku.  Seperti penyakitan, denyut nadiku dapat terdengar dari ribuan mil jauhnya. Dan keringat seeprti terus menghujaniku tiap kali memimpikannya.

Tapi apakah semuanya ini? Aku datang ke pantai dengan tujuan mulia. Pantai indah tempat pemakaman mimpiku. Nyatanya di pantai ini aku malah mendapati diriku semu. Tidak tahu bagaian mana dari diriku yang nyata. Pantai ini atau kepungan lautan merah ini? Atau ternyata mimpiku itu yang nyata. Yang tidak bisa kutelan dan tersedak jadi buram.

Buram seperti rasa yang kucerna tentangmu. Setahun lalu, ya setahun lalu kita berteman. Pertama kali dalam hidupku, menyeberangi dunia yang belum pernah kubayangkan. Orang-orang dengan usia sepertiku akan menganggap apa yang kita lakukan tidak wajar. Setidaknya bagi mereka yang konvensional (seperti ajaran yang selalu diterapkan ibu padaku). Perbedaan kita terlalu ekstrim. Aku separuh dari usiamu. Dan pertemanan ini berjalan makin intim.

Aku tidak peduli dengan rasa yang diam-diam membesar tanpa kenal bentuk. Setahun lalu itu, aku masih menjadi milik sahabatmu. Sehingga keintiman kita terbatas pada bayangan dirinya, kekasihku yanga adalah sahabatmu itu. Segala kata-kata manis dan pujian aku buang begitu saja, walaupun saat kubuang tak benar-benar kulepaskan. Ada satu dua yang masih menyangkut di kepala.

Sembari bercinta dengan kekasihku, akau bersahabat denganmu. Memainkan rasa yang sangat acak. Sungguh, aku tidak memainkan pesonaku padamu dulu itu. Aku serius ingin bersahabat denganmu. Dan kekagumanmu untukku hanya jadi perona wajah untukku. Segera setelahnya penyakitku kambuh. Dan kau menemukanku nyaris mati tak berdaya.

Kekasihku ngotot ingin berjaga di sampingku. Takkan melepaskanku walau tahu sakitku akut. Dengan bantuan pernapasan dan ketergantunganku pada obat, aku katakan padanya “aku sakit, aku sakit tentang kamu. Aku mau sembuh, aku harus lepas dari kamu.”

Kekasihku dalam sunyi yang hitam berlalu, sambil membawa bunga yang akan diberikannya padaku. Ia bilang dalam bisikan yang lemah

“aku tetap jadi kekasihmu, walau suatu saat tubuh ini dibeli oleh hati yang lain.”

Tapi akhirnya aku dan kekasihku itu berpisah. Penyakitku ini merampas segala rasa dan sensasi bersamanya. Kisah tentangnya dan aku, sudah berakhir. Walau segala usaha masih kurasakan untuk menyatukan kami kembali. Aku tidak bisa, aku yang penyakitan tentang rasa ini sudah muak.

Kamu tetap di sana. Sebab kamu bukan kekasihku. Dan penyakitku tidak merenggut apapun dari antara kita. Kau tetap indah tersimpan di balik bayang-bayang hitam yang jadi hantu dalam pikiranku. Sesekali aku tergoda untuk berpikir tentang rasaku padamu. Namun kubatalkan. Aku tahu kisahmu, tapi aku nyaris bodoh tentang kamu. Ribuan wanita telah takluk pada pesonamu. Aku berharap aku bukan satu dari mereka. Malu rasanya jika aku jatuh untukmu, sahabat mantan kekasihku.

Namun kita telah salah memulai kisah ini. Aku, yang perempuan setengah usiamu ini, tidak paham betul duniamu. Tidak tahu bagaimana menebak jalan pikiranmu dan keinginan hatimu. Kau telah tidur dengan wanita lain berulang kali selama bertahun-tahun. Aku masih perawan. Dan selaputku bahkan belum kenal sentuhan. Harapanku tentang cinta masih naif, dan aku lelah berharap. Seperti aku lelah diserang penyakitku ini. Aku memutuskan untuk menutup mata tentang kamu. Dan kita seperti terhilang sekejap. Tanpa pembicaraan sampai larut, tanpa suaramu lagi…

Hidupku berjalan, seperti juga duniamu pasti berputar. Aku lupa kapan, tapi kita kembali terhubung walau tanpa pertemuan dua wajah. Kita terhubung. Dan larut kembali dalam perbincangan yang akrab tentang dunia baru dimana kau dan aku tinggal bersama tanpa kenal masa lalu. Aku yang kuat menentang rasa, melupakan bagaiman dulu rasa itu pernah diam-diam menghantuiku. Sehingga pertemanan kita tetap tinggal jadi teman.

Bagaimana ini? Keakraban kita makin intim, sebab oleh karena warna-warni itu kita bertemu. Dan aku mendapati aura yang memakuku pada hantu yang dulu berkeliaran di kepalaku. Kamu kamu kamu… aku bergulat dengan rasa. Berusaha sampai mampus tidak termakan kata-katamu yang memelukku hangat. Tapi… aku bersumpah, aku akan nikmati sensasi berpelukan denganmu di bawah warna dan bau cat itu. Sampai nanti lampu panggung itu padam, dan kita melambai sampai jumpa. Sampai saat itu tiba, aku biarkan diriku meneguk segelas penuh “cinta” yang diam-diam terjadi. Diam-diam sampai mabuk aku dibuatnya.

Dan aku langgar sumpahku itu. Aku masih jatuh cinta, bahkan sampai gedung pertunjukkan itu telah bisu dan kakiku telah berlari keluar. Kepalaku masih menengok ke tempat dimana kita pernah berdua saja. Dan rasanya itu tidak akan lagi terjadi. Maka setelah hari itu, aku terus bermimpi tentang hidup yang tak kumiliki lagi. Yang sebagian besar gambarnya telah remuk oleh kenyataan.  Mimpi tentang kamu dan aku. Humor ini pelan-pelan jadi tumor dalm hatiku. Sebab aku melupakan kenyataan, bahwa aku tidak tahu kamu bermaksud apa. Segera setelah hari-hari itu usai, ada jarak selebar jurang di antara kita. Dan jembatan yang menyatukannya telah terbakar bersama masa lalu.

Maka itu, aku kini terbaring di tengah lautan merah. Tempat dimana aku ingin berpikir tentang langkahku selanjutnya. Penyakitku belum kembali kambuh, sebab aku belum mendapatkanmu. Kamu belum kukuasai seutuhnya. Masih jadi misteri di tengah samuderaku yang menghitam. Tapi sudah kuputuskan hari ini, semua tentang mimpi itu harus terkubur bersama jatuhnya senja ke tubuh malam. Supaya mimpi-mimpi itu tergantung di angkasa bagai bintang.

Aku akan berdamai dengan hati dan akalku. Membiarkan segalanya jadi indah. Sebab kita sungguh berbeda, hampir dalam segalanya. Kecuali saat kita tertawa, perbedaan itu luntur oleh canda kita. Tapi aku tahu, kau takkan tertarik terjun bebas ke dalam duniaku yang muda dan bergejolak ini. Kau telah temukan kematangan di atas sana, dan aku mengerti. Aku takkan menjadi posesif ingin menggapaimu atau membuatmu tak lagi punya hati untuk mengenalku. Sebab aku selalu bilang, cinta hanya punya cerita. Tapi tak punya satu kelamin untuk setia. Laki-lakiku yang manis…

Segera setelahnya, banjir warna merah itu memudar.  lautan serta pantai kembali menghantarku pulang…ke tempat dimana kau dan aku dulu bertemu. Kupilih jalan lain untuk melangkah, berharap bisa bersisian selamanya.

Sampai jumpa laki-lakiku…

Tertarik dengan yang ini?

  • Love’s Melody
  • Mimpi Berhadiah
  • Leaving on a Jet Plane
  • Pohon
  • Kasmaran
  • Getar cinta
  • indah Kau pertemukan kami
  • Kidung Rindu
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II

Comments (1)

Shandra SyailendraFebruary 10th, 2010 at 7:59 pm

aku sudah becki kasih bocoran ttg tulisan ini…selalu suka tulisannya becki :)

Leave a comment

Your comment