malam ini aku menolak pulang…

(Rebbeca Kezia)

Wajah itu lesu memandangi punggung yang diikat kencang oleh korset hitam polos. Seolah memberontak di tengah himpitan karet pada korset yang membentuk tubuh sintal itu. Menjadikannya melengkung dan meliuk membentuk angka delapan yang sempurna. Bahkan gelambir di sekitar perut dapat ditipu. Daging pada dada yang telah lesu terjun ke bawah, diangkat lebih tinggi dari langit. Membentuknya padat dan berisi. Sempurna. Namun wajah yang mengamati dari belakang itu tetap lesu. Tidak sumringah atau bergairah. Hanya lelah.

“apakah harus pergi, Min?”

Tanya suara pada wajah itu. Ia berharap wanita yang dipanggilnya, Min menjawab tidak. Ia berharap korset itu dapat lepas dari tubuhnya, dan Min itu kembali mengenakan daster bunga-bunganya. Ia memang berharap, walau ia tahu itu tidak akan terjadi. Jangankan melepas korset hitam itu, menjawab pertanyaannya saja nampak mustahil. Karena wanita yang dipanggil Min itu tengah asyik menyapukan serbuk putih ke atas pipinya yang kendur. Memberikan warna-warna terang untuk menutupi kerut-kerut di wajahnya.

“min…”

Hening

“MIN!”

Min menghela nafas panjang. Ia tidak sudi berbalik menatap wajah yang lemah menunggu jawaban itu. Min mengambil terusan berwarna kuning gading, di kenakan pada tubuhnya. Korset itu nampak menerawang di bawah terusan gading itu. Kemudian meraih tas tangannya. Ia tidak menjawab, sampai ia terpaksa harus melewati orang itu. Orang dengan wajah sendu yang menunggu di depan pintu keluar.

“kau tahu, aku harus.”

Dan orang itu bergerak dengan perlahan. Menjauhi pintu dan duduk di atas kursi kayu panjang di sebelahnya. Min mencium kepalanya, dan pergi melalui pintu yang kini kembali diam setelah melepas Min. wajah itu tak lagi lesu, hanya putih tanpa darah. Tak sesendu tadi. Namun sudah mati. Orang itu melepas kacamata yang menggantung di atas hidungnya. Dan menyeka air yang berlonjakan turun dari matanya. Ia sedih, bukan karena Min tak mendengarkannya. Ia sedih karena ia tak berdaya mencegah Min pergi. Karena dia tahu dialah alasan Min pergi keluar sana. Dialah yang membuat Min memilih mengenakan korset hitam itu, dialah yang secara tidak langsung menjual Min pada malam dengan pakaian gading menerawang.

Segala daya pada kepalanya telah hilang, dan kepala itu menggantung tanpa harapan di atas lehernya. Turun seperti dada Min. turun hingga bisa mencapai pusar, sebegitu tak berdayanya dia. Dia mau pergi dan berdoa, agar Tuhan memulangkan Min malam ini. Tapi ia tahu itu tidak bisa. Min harus pergi, dan itu karena dia. Kalau Min tak pergi malam ini, ia yang akan mati.  Dan ia takut mati. Ia tak bersedia mati. Ia telah berlari dari kematian di sisa hidupnya ini. Larinya telah jauh, dan menguras segala yang ia miliki termasuk Min. maka ia takkan menyerahkan diri begitu saja pada maut, walaupun ia begitu ingin Min kembali.

Ia memutar posisi duduknya, supaya pemandangan malam dapat terlihat. Jendela di belakang kursi kayu itu cukup lebar, sehingga seluruh jalan di muka rumah dapat terlihat. Padahal baru 10 menit yang lalu Min berjalan keluar ke arah malam yang gelap, ia telah mengharapkan melihat Min kembali. Itulah iman, gumamnya dalam hati. Lalu akalnya bicara, itu bukan iman itu penebusan dosa, kamu merasa berdosa kalau ia pergi makanya kamu ingin ia cepat kembali.

Air mata yang tadinya sudah bisa dihentikan, mendadak turun lagi dengan deras. Ya, itu memang bukan iman. Ia sedag menyangkal kenyataan. Ia tidak tahan menanggung dosanya, maka ia berharap Min kembali. Namun sia-sia, sebab malam telah menelan Min dan mendekapnya dalam perut. Hingga nanti fajar berusaha mengusir malam, Min akan dimuntahkan kembali. Sehingga barulah orang itu dapat benar-benar melihat Min kembali.

Seperti waktu dahalu ia biasa memperhatikan Min dari sini, di jendela besar itu terlihat Min yang berlari atau berbaring. Di atas tanah atau bergelantungan di pohon-pohon yang meliuk mencapai awan. Sekarang jika diamati, pohon –pohon itu hanya diam membisu. Bergerak sesekali jika diterpa angin. Dan bunga-bunga di antara rerumputan itu, dulunya dapat bernyanyi. Jika Min kecil berlari mengitarinya sambil bersorak-sorak kegirangan, bunga-bunga itu seolah menyahuti dengan dendang yang paling merdu. Yang bisa didengar dari ujung utara bumi hingga ke selatan.

Bau-bauan dari tanaman di muka rumah itu, menghantarkan wanginya sampai menembus kaca jendela dan hinggap di hidungnya. Jika diresapi, wanginya itu akan selalu menempel di bawah hidung, menghilangkan penat dan merelaksasi tubuh. Namun taman itu sekarang sudah rata dengan tanah. Satu-satunya bau yang pernah singgah sekarang ini hanyalah bau asap kendaraan yang melintasi di atasnya. Tidak bunga atau rumput, tanah dan aspal gantinya.

Orang itu makin tertunduk lemah jika mengingatnya. Dan foto-foto di dinding sebelah jendela itu makin menyiksanya. Sebab foto-foto itu bercerita tentang masa-masa keemasan Min. mempertontonkan tubuh Min yang tak perlu menderita diikat oleh korset hitam. Pakaian lucu yang membaluti tubuhnya, dan terutama senyum itu. Senyum yang tidak dipaksa atau diatur, namun lahir karena bahagia. Ia jadi ingat saat pertama kali mengajak Min ke studio foto, Min sibuk bukan main meminta rambutnya diikat sebanyak yang bisa. Ia minta dikepang kecil-kecil dengan jepit warna-warni. Dan setelah siap, ia duduk di kursi berlatar belakang sungai sambil tersenyum sumringah. Bangga memperlihatkan kepangan kecil warna-warninya.

Sekarang, jika ia menyaksikan Min difoto ia harus menahan sesal. Sebab ia tak lagi melihat alasan Min untuk tersenyum, ia tak lagi tahu mengapa Min bisa tersenyum. Yang ia tahu ada seorang pria dan beberapa lagi di depan Min yang berteriak ke arah Min.

“ya, geser sedikit.”

“angkat kepalanya Min!”

“ayo, mana senyumnya?”

“kurang genit Min, coba senyum tapi mata lo tajam lihat ke gue.”

“nah gitu Min, lebih nganga Min bibir lo. Senyum, nah!”

Das! Satu lecutan panjang menggores hatinya tatkala pikirannya kembali pada suasana sesal itu. Ia memegangi dadanya yang berdegup cepat sekali, sangat cepat. Kemudian melirik ke arah jam di dinding. Masih ada beberapa jam lagi yang harus dilalui Min, sebelum ia dapat melihatnya kembali.

Jam-jam itu terasa lamban sekali berjalan. Airmatanya telah kering dan menyisakan pola di atas wajahnya yang muram. Ia menghitung waktu di jarinya, dan tiap kali menit lewat ia membuang doa ke udara. Berharap Min dapat pulang secepat mungkin.

Ia masi tetap di kursi kayu itu, belum beranjak barang satu kedipan mata. Ia berjanji bersetia tak akan terlelap sebelum Min kembali dari peraduaanya pada malam. Dulu Ia tak ingin Min memiliki kehidupan yangs sama dengannya. Saat muda, ia harus pergi merantau ke ibu kota. Dengan bermodalkan pakaian beberapa lembar, surat-surat dan perlengkapan ibadah. Ia berjalan menyusuri jalanan ibukota yang ramai. Tidak tahu akan pergi kemana dan melakukan apa. Hidupnya di desa yang begitu melarat membuat ia berharap menemukan kebahagiaan di ibukota. Sayang ia tak pernah dengar pepatah, ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Dan benar saja, selama seminggu ia hidup tak menentu. Bukannya bahagia malah terjerat dengan nafsu di sekelilingnya. Ia jatuh melarat lebih dari kehidupannya di desa. Ia makan dari tempat sampah, dan tidur di dekat sampah. Tapi hidupnya berubah sejak ada Min.

Saat ia membawa Min, seseorang tertarik pada Min. menawari sejumlah uang, asal Min mau disekolahkan dan diorbitkan jadi artis. Siapa yang tidak mau mendapat hidup bahagia. Ia setuju, dan Min resmi menjadi pekerja dunia hiburan di usianya yang muda. Awalnya hanya satu dua job yang mampir padanya. Sehingga, perlahan-lahan kemiskinan meninggalkan mereka dan memberi mereka lebih banyak waktu menikmatinya. Tawa, suka dan bahagia. Apalagi yang bisa menyaingi kebahagiaan saat-saat itu.

Namun itulah manusia, selalu melihat sesuatu di atasnya. Menginginkan apa yang terhidang di meja, tanpa pernah menysukuri apa yang ada pada tangannya. Bersamaan dengan usianya yang bertambah, Min mendapat lebih banyak tugas untuk dilakukan. Sekolah dan dunia hiburan. Ia sering lupa tertidur karena harus memenuhi keduanya. Belum juga puas dengan apa yang didapat, ia memaksa Min untuk segera menikah dan meninggalkan begitu saja pendidikan yang didapatnya. Kemudian melihat  Min bersanding dengan pria berharta abadi. Tahun-tahun berikutnya, bisa dipastikan hidupnya jauh lebih berkecukupan.

Sampai beberapa waktu lalu, Min datang lagi. Bukan datang untuk mempersembahkan harta, namun keluhan. Hidupnya cukup secara material namun batinnya lelah meraung-raung. Ia memberi Min semangat dengan menghantar Min ke semua tempat dimana ia menyelesaikan tugasnya. Dan menyaksikan sendiri harga yang Min bayar untuk hidupnya. Harga itu adalah hidup Min sendiri. suaminya bukan laki-laki yang puas dengan kehidupan monogami. Selalu meminta lebih banyak pengertian melebihi apa yang ia bisa berikan. Ia ingin berpisah saja dengan suaminya, namun tak bisa. Sebab kalau ia berpisah, berarti harus membayar apa yang telah diberikannya selama ini. Sialnya lagi, dialah yang dahulu pertama mengorbitkan Min. jadi bagaimana harus membayarnya? Laki-laki itu menjawab

“mudah, setialah padaku!”

Sejak itu ia sadar, Min menderita. Dan derita Min datangd dari dirinya. Tapi bagai memakan buah simalamkama lah dia. Jika ia memutuskan untuk mengangkat Min dari deritanya itu, berarti ia harus hidup melarat seperti dahulu. Nyaris mati karena tak berdaya pada kemiskinan. Ia tak mau miskin namun juga tak mau melihat Min menderita.

Maka disinilah ia sekarang, menyesali hari lalunya yang penuh keserakahan. Kini ia hanya bisa duduk menanti Min melacur pada malam. Pada dunianya yang ia benci. Pada pekatnya dan jahatnya.

Pikirannya keruh dan hatinya mengeluh. Bagaimana caranya aku bisa menebus dosaku? Bagaimana aku harus menyelematkan darah dagingku itu. Maka dilihatnya sebuah jawaban terpantul di kaca. Mungkin aku tak bisa menyelamatkannya, namun aku bisa menghukum diriku sendiri.

Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. hanya butuh beberapa menit dan keluarlah ia. Berpakaian persis seperti Min berpakaian. Wajahnya telah tebal dihiasi dengan warna-warna. Ia memang terlihat bebrbeda, lebih muda. Mirip Min namun versi yang lebih matang. Ia memperlihatkan jawaban itu. Di kaca itu terpantul jawaban dari hukumannya.

“jika aku bersalah karena Min menderita melacur pada malam, maka hukumlah aku sama seperti Min. ini aku untuk melacur pada malam, pada dunia yang tidak ingin aku hidupi namun harus.”

Mungkin ini tidak akan memberika apa-apa pada Min. namun ia percaya, rasa bersalahnya akan sedikit terbayar. Ketimbang ia terus duudk dan melakukan kosong saat menanti Min pulang. Ia siap, menjual diirnya pada malam. Sesaat sebelum langkahnya berangkat meninggalkan rumah, pintu terbuka. Min masuk dengan muka letih. Terkejut menemukan ibunya berpakaian seperti dirinya.

“ibu mau apa? Mau kemana dengan pakaian begitu?”

“ibu mau menghukum diri,Min. kalau kamu harus pergi, ibu juga akan pergi…”

Butiran pada mata Min pecah. Hatinya memang lelah harus membayar harga kebahagiaan ibunya, namun jiwanya meraung saat menemukan ibunya hendak menjual diri untuk menghukum dirinya sendiri. ia lantas memeluk kepala ibunya yang lemah.

“apa gunanya ibu? Ibu pergi menghukum diri, artinya ibu menghukum aku dua kali lebih banyak dari yang harus kujalani.”

“tidak! Kamu menjual diri pada hiburan pulblik di layar kaca itu menyakitkanku. Seolah kamu melacur, seolah kamu…kamu…”

“ya, memang melacur bu. Sebab aku telah kehilangan kecintaanku pada pekerjaan ini. Senyumku sedihku tawaku sudah menjadi sebuah akting yang telah hafal kulakukan. Aku bahkan bisa melakukan itu semua sambil tertidur. Karena hatiku tak lagi bekerja, jadi memang pelacurlah aku ini. “

Nafasnya menderu di tengah kalimat panjang yang berusaha ia sampaikan…

“lihat! Kau begitu menderita karena aku, sedangkan aku enak duduk menunggumu. Aku harus pula melacur, agar kita smaa-sama menderita.”

“TIDAK!”

Jeritnya histeris. Jeritan itu begitu menyayat seolah kehilangan daya menyampaikan rasanya. Min terduduk di lantai.

“dalam pelacuranku, aku bertahan. Sebab aku tahu, aku punya tempat untuk meletakan tubuh ini. Bersih tanpa keadaan merasa bersalah. Dan itu di sini bu. Di rumah ibu… kalau ibu menderita, pelacuranku lebih baik berhenti dan kita melarat sajalah.”

Mendadak muka ibu itu ketakutan. Ia tak berani melarat. Lebih baik melacur daripada melarat. Tidak, ia menggeleng keras. Ia bertumpu pada kakinya yang mati rasa. Darah rasanya terhenti seketika saat kata melarat itu terlontar. Ia tak sudi melarat. Tidak sekarang atau selamanya. Perlahan ia mundur dari tempatnya tadi. Min melihat itu semua. Dalam kegetirannya menghadapi sang ibunda, ia berjalan. Melewati tubuh ibunya yang kaku ketakutan akan ancaman melarat. Min mengambil gelas dari belakang, dan duduk lagi di kursi kayu yang panjang. Sambil terus mengamati ibunya, ia menyeduh teh. Sambil tersenyum miris memikirkan, bagaimana caranya menghadapi si ibu esok hari kalau mengancam akan menghukum diri sendiri dengan pelacuran.

Ya, iya tahu. Ibunya yang tersayang itu… hanya bisa dihentikan dengan ancaman hidup miskin. Miskin adalah senjata ampuh melumpuhkan ibunya. Airmatanya menguap oleh panas teh yang dihirupnya. Sambil terus memperhatikan ibunya yang kehilangan kesadaran terus masuk dalam penyesalan.

“maaf,bu. Airmataku pun telah berubah menjadi rutinitas di dunia pelacuran layar kacamu.”

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI

Comments (1)

iskandarFebruary 14th, 2010 at 10:28 am

tulisan yang menarik, aku suka, tq

Leave a comment

Your comment