seribu satu kerusakan,Tuan

(Rebbeca Kezia)

Menagapa harus kau paksakan seutas senyum yang kau tahu akan diputuskannya, wanita. Tapi wanita itu enggan menjawab, dan terus ia kenakan seutas senyum di bawah hidungnya yang runcing. Dengan seutas senyuman itu ia tak malu memamerkan memar di tubuhnya, seolah memar-memar itu akan dipandang mereka sebagai tato mungkin. Ia kenakan seutas senyum lalu berjalan keluar. Di bawah sinar matahari yang terik, garis-garis seutas senyum itu makin tebal terlihat. Ia berjalan dengan pongahnya, walaupun sekujur tubuhnya sakit bukan main. Seolah senyum itu telah melindunginya dari rasa sakit dan membendung seluruh keinginannya untuk menangis. Kau kesakitan bukan, wanita. Tapi seperti yang telah lalu, wanita itu lebih suka menyimpan pahitnya di balik seutas senyum.

Di tengah kerumunan orang-orang yang mengenakan berbagai rupa wajah, aku tak menemukan wanita yang mengenakan seutas senyum pada wajahnya. Dimana wanita dengan seutas senyum itu. Aku bertanya pada pengemis di sana, satu-satunya orang yang tak mengenakan apapun pada wajahnya. Membiarkan wajahnya polos oleh kesakitan dan duka.

“apa bapak lihat, wanita dengan seutas senyum?”

“aku banyak melihat wajah, dengan sepenggal tawa, seberkas kerlipan , segenggam ketabahan dan ketenangan tapi belum kutemukan wajah dengan seutas senyum.”

Maka aku berlalu. Kemanakah perginya wanita itu. Di jalanan yang lebar dan besar ini terhampar rupa-rupa wajah dengan berbagai bentuk tipuan. Kemana harus kutemukan dia. Pengemis itu menarik-narik bajuku dan mengatakan sesuatu di dekat telingaku

“tapi aku lihat, laki-laki dengan kelamin besar di wajahnya sedang mencumbu wanita dan menariknya masuk ke dalam pesta. Wwanita dengan garis tebal di wajahnya, tapi aku tak bisa bedakan apakah itu senyum… aku belum pernah lihat senyum pada seorang wanita.”

Laki-laki itu mencumbunya, sungguh. Namun tak dapat kusampaikan. Kakiku seperti melayang menuju tempat yang ia katakan. Pesta. Di antara ribuan wajah yang cantik dan menawan tak kutemukan dia. Tapi kutemukan kemiripan di antara mereka ssemua dengan wanita yang kucari. Mereka semua memar, membiru dan nyari busuk. Hanya wajah mereka yang merona, yang tertawa, yang merayu, yang bernafsu tapi aku begitu tahu mereka menyimpan luka. Seperti luka yang disembunyikan wanita dengan senyumnya. Mereka kehilangan kaki dan mereka ganti dengan tawa. Mereka kehilangan hati dan mereka ganti dengan kemabukan. Mereka semua mengganti apa yang rusak dan hilang dengan benda-benda yang menyimbolkan kebahagiaan. Sampai aku sendiri terkejut saat aku berdiri dan kutemukan di hadapanku sosok yang mengenakan bayangan. Bayangan yang gemerlapan dan memantulkan sinar berkilau. Yang sebenarnya tengah mencoba menggantikan borok di sekujur tubuhnya dan nanah yang keluar dari hatinya. Wajahnya yang buruk dan senyuman yang berkarat, betapa aku terkejut saat kudapati di hadapanku berdiri sebuah kaca. Dan aku melihat sosok yang mereflesikan aku…

Wanita itu, melepas seutas senyumnya dan pergi ke tempat tidur. Aku mencegahnya karena aku pikir aku harus tanya mengapa semua palsu. Mengapa yang indah ternyta tidak nyata.

“tolong jang tidur, tolong jelaskan mengapa semua orang memalsukan kebahagiaan?”

“bagaimana denganmu? Apa kau memalsukannya?”

Maka kuceritakan pada wanita itu, bagaimana aku menyaksikan diriku dan dirinya.

“kebahagiaan bukan tak nyata, tapi duka dan luka seringkali meninggalkan jejak yang tak terhapus. Membuat kita harus mengenakan sesuatu untuk menutupinya. Manusia takkan pernah lelah berduka, mereka ingin bahagia walau sedang berduka. Dan wanita adalah guru untuk hal tersebut.”

Ia lepaskan gaunnya, pergi telanjang ke atas tempat tidur. Ke atas ranjangnya yang sepi dan membeku. Ia membalikkan tubuhnya dan kulihat satu lagi bekas luka ada di sekujur tubuhnya. Membujur kaku begitu saja.

“wanita, kemana perginya laki-laki yang mencumbumu tadi?”

“ia pergi ke tempat lain, memohon pengampunan…atau memuaskan diri. Aku telah habis dihisapnya, maka tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain meninggalkan ranjangku yang membeku.dingin”

Aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena apapun, tapi aku sadar betapa tak sempurnanya kita.

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI

Leave a comment

Your comment