BANTARAN CODE, APA KABAR?

(Rini Giri)

Aku turun ke Code sebenarnya hanya karena penasaran sama Romo Mangun. Turun di sini dalam arti harafiah lho. Karena Kampung Code itu memang berada di bawah jalan raya, di sepanjang Kali Code, dan kolong jembatan Gondolayu. Antara jalan raya dan perkampungan dihubungkan dengan jalan bertangga yang cukup curam. Jadi aku benar-benar turun! Bukan karena aku merasa lebih tinggi derajatnya lantas merasa harus turun ketika berkunjung ke kampung itu. Sama sekali bukan.

“Pakai baju biasa dan sandal jepit!” Pesan temanku yang mengajakku pertama bertandang ke kampung itu. Bukan apa-apa, itu hanya strategi pergaulan saja. Kalau aku berpakaian biasa, tentu akan lebih gampang berkenalan dengan anak-anak di sana. Temanku ini tergabung dalam sebuah kelompok mahasiswa yang mendampingi belajar anak-anak Code. Setelah Romo Mangun tidak tinggal di Code lagi, acara belajar tiap malam di balai-balai RT didampingi oleh muda-mudi setempat dan kelompok mahasiswa ini.

Sepeda kami titipkan di salah satu bengkel pinggir jalan raya Code. Bengkel itu milik salah satu warga Code dan temanku sudah mengenal akrab, jadi dijamin aman. Kamipun menuruni jalan berundak itu. Rumah-rumah kecil berdinding gedhek (anyaman bambu) dengan atap segitiga dan cat aneka rupa segera kulihat. Sebuah sumur pompa ada di dekat pintu masuk setelah jalan berundak itu. Para perempuan sedang mandi dan mencuci. Anak-anak kecil langsung berlari menyambut kehadiran temanku itu. Wah, begini banyak fans-nya.

Ngopo esuk-esuk kok wis rene, Mbak?” Kenapa pagi-pagi kok udah dateng, Mbak? Begitu tanya mereka. Temanku segera menggamit pinggangku.

“Ini lho, ada yang mau kenalan sama kalian. Namanya Mbak Rini. Gelem ora kenalan karo Mbak Rini?” Ujar temanku. Akupun segera diberondong dengan jabat tangan mereka.  Wah, terbuka sekali anak-anak ini pada orang baru. Setelah melewati sumur pompa dan berbasa-basi sedikit pada ibu-ibu yang merdeka mandi, kamipun pergi ke rumah sesepuh di situ. Minta ijin kalau aku ingin melihat rumah yang dulu pernah ditinggali Romo Mangun.

Rencang kula bade napak tilas, Pak Dukuh.” Teman saya ingin napak tilas, Pak Ketua Kampung. Ujar temanku.

Oh, nggih pun sumonggo!” Kamipun diijinkan. Anak-anak kecil dengan kulit lengket dan rambut kemerahan itu terus mengikuti kami. Kulihat air kali Code seperti kopi susu warnanya. Dan dipinggir kali terdapat MCK cemplung berdinding teriplek bekas. Karena perkampungan ini berupa tebing  45 derajat, maka akupun bisa melihat orang-orang yang sedang jongkok di sana. Bau pesing merebak dan lalat berpesta. Di tengah kampung ada balai-balai besar dengan TV untuk umum, tumpukan meja belajar lipat, dan sederet rak buku. Kamipun bergegas menuju rumah panggung dengan hiasan cat berbentuk ukiran mirip punya orang Asmat itu. “Romo dulu tinggal di sini, Rin.” Tutur temanku. Kini rumah itu sudah dipakai warga.

“Romo kalau ngajar galak lho, Mbak! Kalau pada nyepelekke, tangane digitik!” Cerocos seorang remaja putri yang dulu sempat diajar Romo Mangun kala masih kecil. Aku tertawa. Semua guru pasti akan menegur muridnya yang asyik sendiri kala proses belajar-mengajar berlangsung. Setelah itu aku diajak berkunjung ke salah satu keluarga. Tapi keluarga itu aneh. Punya empat anak tapi semuanya bukan anak kandungnya. Namun si ibu begitu cinta pada keempatnya. Keempatnyapun rukun melebihi saudara sekandung.

“Begitulah kekerabatan di sini, Rin. Tidak mengenal kekentalan darah seperti kekerabatan normal. Anaknya si anu bisa diasuh si itu. Si itu tidak tahu anak siapa, katanya nemu di jalan, tapi si anu merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dan seterusnya. Pokoknya rumit!

“Kapan-kapan kalau kamu ngajar ke sini, aku ikut lagi ya.” Pintaku. Temanku mengangguk mantap. Akhirnya setiap dua minggu sekali aku ikut temanku ini datang ke Code untuk belajar. Jam belajar sangat dihormati di sini. Kaum dewasa segera mematikan TV di balai dan beringsut pergi begitu para pendamping dan anak-anak datang.

Mbak, ajari aku moco yo?” Seorang anak kecil mendekatiku. Aku tersenyum lantas mengangguk. Dia segera mengambil buku cerita di rak dan diulurkan padaku. Dia belum bisa membaca karena belum sekolah. Umurnya lima tahun lebih. Kubacakan buku itu untuknya. Tapi dia protes. Dia ingin baca sendiri. Maka kuambil kertas dan kutulis huruf B-U-K-U dan kuajak dia mengeja. Dia protes lagi. “Sing langsung ngono lo, Mbak!” Dia minta langsung bisa baca. Kukatakan bahwa dia harus mengenal huruf-huruf dulu baru bisa baca, tapi dia tetep menggeleng. Ya sudah, akhirnya kusuruh dia pegang bukunya dan membaca sendiri. Di situ ada urutan gambar seorang anak naik sepeda, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu jatuh dan kakinya luka.

“Ani naik sepeda. Tapi tidak melihat jalan. Terus jatuh. Sikil-nya babak kabeh!” Aku terkekeh-kekeh dan dia marah-marah. Dia hanya melihat gambar dan menuturkannya sesuai imajinasinya sendiri. Sebenarnya pada kalimat terakhir, dia ingin mengucapkan “Kakinya lecet semua.” Tapi yang keluar malah Boso Jowo. Waduh, ini yang membuatku menemukan dunia baru yang luar biasa. Apalagi kelompok mahasiswa ini setiap Sabtu sore mengajak anak-anak berjalan kaki menyusuri jalanan Yogyakarta terdekat, mendengarkan curhat anak-anak, mengajak main bola di lapangan dekat Gereja Antonius Kota Baru, mengajak main gitar sambil nyanyi-nyanyi di bantaran kali, juga mengajak beberapa anak main ke tempat kost mereka.

Aku anak pensiunan TNI AD pangkat sersan dua, ibuku guru SD, jadi aku musti pandai-pandai menghemat agar tetap bisa sekolah. Kedua adikku juga butuh biaya yang tidak sedikit. Itulah alasanku tinggal di asrama. Biayanya jauh lebih murah dibanding kamar kost standard dan yang jelas aku akan aman di situ. Pada suatu hari Suster Kepala Asrama menemuiku di kamarku.

“Rin, ada beasiswa. Hanya anak-anak tertentu yang kuberitahu. Kalau kamu mau, ambil formulirnya di susteran. Tapi, syaratnya kamu harus punya kontribusi dalam kegiatan sosial di lingkunganmu.” Ujar Suster Kepala. Aku sangat berterimakasih atas informasi itu. Kegiatan sosial? Bukankah selama ini aku ikut mengajar di Code? Kenapa tidak? Buru-buru kudatangi temanku yang memperkenalkanku pada Code itu dan bermaksud mendaftarkan diri sebagai anggota kelompok voulenteer itu.

“Kelompok kita cair kok, Rin. Siapa saja bisa gabung dan memberi kontribusi. Gak ada hak-hak. Kewajibannya pun lebih pada tanggungjawab moral. Jadi gak ada cara daftar-daftaran. Yang mau ikut membantu di sana ya otomatis udah jadi anggota. Kalau suatu saat tidak membantu lagi, ya tinggal pamitan aja sama anak-anak di sana. Gampang kan?” Kata temanku itu.

“Em, begini, kebetulan aku mau mengajukan beasiswa. Lantas untuk persyaratannya, aku harus melampirkan surat keterangan dari suatu lembaga dimana aku ikut kegiatan sosial. Bisa bantu aku tidak?” Tanyaku. Kawanku itupun berjanji untuk mengusahakan. Nanti biar ditandatangani ketua kelompok volunteer itu. Akhirnya beasiswa itupun turun dan aku sangat terbantu. Paling tidak untuk membeli buku dan fotocopy.

Sejak semester dua sampai semester empat, aku rajin datang ke Code. Selain mendampingi anak-anak belajar, juga main dan ngobrol dengan ibu-ibu. Kalau Sabtu, akupun ikut acara jalan-jalan mereka. Kalau ada layatan atau kondangan aku juga diundang. Pokoknya teman-teman di Code menerimaku dengan tangan terbuka. Kadang ada juga yang main ke asramaku dan curhat-curhatan. Bahkan kami pernah ke bumi perkemahan Babarsari, dekat Kampus Tehnik dan Ekonomi Atmajaya, jalan kaki. Sesampainya di sana kami menggelar koran bekas sambil pesta kebun sambil mengadakan permainan. Pacarku yang hoby main bola, juga beberapa kali sempat melatih anak-anak yang mau ikut kejuaraan sepak bola anak di Sekip Bulaksumur. Saat tujuhbelasan aku juga sempat mengajari anak-anak menari dengan iringan lagu Dudidudidam masak-masakannya Eno Lerian. Tapi sayang aku tidak bisa ikut nonton pentas mereka karena harus mudik. Saat itu adikku yang bungsu minta diajari drama.

Selama aku KKN, otomatis aku tidak bisa ikut mengajar selama tiga bulan. Wah, kangen juga pada mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Usai KKN, akupun persiapan skripsi. Dan dalam waktu yang bersamaan tim penelitian di jurusan membutuhkan asisten penelitian dan aku lolos seleksi. Jadwalku penuh dari pagi hingga sore. Ngejar-ngejar dosen pembimbing, nongkrong di banyak perpustakaan, mentransfer hasil wawancara penelitian ke dalam tulisan, laporan study pustaka ke tim penelitian, rapat dengan mereka, pergi ke tempatku penelitian skripsi, belum lagi pacarku juga minta waktu. Malamnya aku sudah teler.

“Rin, anak-anak Code kangen sama kamu. Mereka nanyain kamu tuh.” Ujar kawanku. Sudah setengah tahun sejak berangkat KKN itu aku praktis tidak pernah ke Code lagi. “Kamu nggak pamit ya sama anak-anak waktu mau berangkat KKN?” Temanku itu agak menyindir. Aku memang tersindir. Oh, aku benar-benar lupa waktu itu, karena begitu sibuk dengan segala urusanku sendiri. Lalu suatu malam kusempatkan untuk datang. Mereka kembali menyambutku dengan tangan terbuka. Akupun minta maaf karena pergi tanpa pamit waktu itu. Untung temanku memintakan pamit pada mereka sehingga tahu kalau aku sedang KKN.

KKN-ne wis rampung to, Mbak? Suwe temen, Mbak?”  KKN-nya udah selesai, Mbak? Lama sekali? Tanya anak kecil yang dulu minta kuajari membaca. Dia sudah masuk SD akhirnya.

“Ya. KKN-nya cuma tiga bulan. Tapi habis itu aku harus skripsi. Jadi lama gak ke sini. “ Jawabku.

Lha skripsine pirang sasi, Mbak? Mengko suwe ora rene maneh?” Skripsinya berapa bulan, Mbak? Nanti lama gak ke sini lagi? Tanya dia lagi. Aku hanya menjawab, mungkin. Sampai selesai skripsi dan diwisuda, aku hanya sekali-kali saja datang. Lantas setelah sampai puncaknya yaitu persiapan wisuda, aku hampir tak pernah datang lagi. Bahkan sebuah panggilan kerja datang dari Jakarta hanya beberapa minggu setelah wisuda. Suatu pekerjaan yang aku impi-impikan! Maka akupun langsung berangkat.

“Kau lupa lagi pamitan sama mereka. Kauanggap apa mereka itu? Kalau saat masuk kamu kulonuwun waktu itu, seharusnya jika meninggalkan mereka juga bilang pamit. Setidaknya kau hargai mereka.” Ujar temanku saat aku mengirim undangan pernikahanku kepadanya. Kala itu dia masih aktif di Code. Dia benar. Aku jadi sangat menyesal. Bahkan setelah berada di Jakarta, aku putus hubungan sama sekali. Punya kesempatan ke Yogya tahun 1998, waktu  ada wawancara dengan Romo Mangun, itupun singkat sekali sampai tak sempat untuk mampir. Kesempatan kedua tahun 2006, aku hanya singgah di asrama ketemu suster kepala dan tak sempat lagi mampir ke Code.

Temanku ini benar-benar teman yang bisa dianggap teman. Sebab dia mau membantu kala aku ingin menggapai sesuatu. Diapun mau menegurku saat aku khilaf dan lupa kulit. Maka kutulis undangan pernikahan dan kata-kata pamit mohon maaf lahir-batin kepada seorang tokoh muda-mudi di Code. Semoga surat itu benar-benar sampai. Kalaupun sampai, tentulah mereka juga tidak mungkin datang, karena aku menikah di kaki Merbabu yang jaraknya 2,5 jam perjalanan bus antar kota. Dengan tiga kali ganti kendaraan. Doa restu kalian saja.

Maafkan aku, rekan-rekan di Code. Bukan maksudku untuk sekedar menghilangkan dahagaku atas rasa penasaranku pada Romo Mangun. Aku kala itu ingin berteman dengan kalian memang karena ingin berteman. Juga bukan karena hanya sebagai persyaratan mendapatkan beasiswa itu. Namun keterbatasanku, waktuku, tugas-tugasku yang lain, membuatku meninggalkanmu begitu saja. Sekali lagi mohon maaf. Mungkin teman-teman di sana sudah lupa padaku, karena begitu banyak orang luar yang datang ke Code dengan beragam alasan dan selalu diterima dengan tangan terbuka. Tapi aku masih ingat kamu, Hartini, Mbak Sayem, Ambar kecil, Hartati, Wahyono, Pusi, Wahyudi. Apa kabar? Pasti sudah pada jadi ibu dan muda-mudi yang kuat.

Baca juga

  • Ironi
  • Nothing has Changed
  • #12HariBerceritaPagi -Matahari Pertama.
  • Keluarga Ke-2 Ku Lebih Menyenangkan
  • dan mungkin itu adalah kamu
  • Ada “LANGIT”
  • Surat Cinta Orang Gila
  • Aku Ingin Menjadi …
  • Sahabatku
  • Akhir Bahagia Pangeran Tampan

Comments (3)

fekhiSeptember 4th, 2009 at 7:43 am

Rini, boleh kasih masukan ya sedikit :)

Tulisanmu yang ini sebenarnya kalau aku baca bisa dijadikan beberapa judul. Karena yang aku tangkap tentang pengalaman kamu di Bantaran Code ini banyak bisa dikupas, kalau dijadikan satu semua kisahnya jadi kabur gregetnya, padahal aku suka banget loh kisahnya, apalagi ini kisah nyata yang gak semua orang bisa terjun di sana.

Kalau memungkinkan aku pengen baca tulisanmu tentang relasimu dengan pengalaman di Code satu per satu, karena kayaknya maknanya tambah mantep deh… Kayak dengan murid-muridmu pasti ada yang lebih dalem dari sekadar yang dipaparkan di sini kan, termasuk dengan temanmu. Wah… jadinya bisa kaya sekali. Malah kalau memungkinkan jadi satu e-book khusus cerita tentang hal ini.
Mau bikin ini dengan bab-bab yang lebih detil? Aku yakin pasti keren karena maknanya dalem :D

Itu aja kira-kira usulku, boleh diterima, boleh gak :)
Yang jelas ini cerita yang bagus, sayang kalau hanya di-capture begini aja maksud aku :)

Rini GiriMarch 25th, 2010 at 12:01 am

Makasih banget ya Fem atas masukannya buat BANTARAN CODE APA KABAR. Masukan yang sangat membangun. Sorry baru gabung lagi ke YN setelah sekian lama bolos, jadi baru ngeh kalau ada input dari kamu. Boleh juga….tunggu kehadiran ceritaku berikutnya tentang Code ya….Salam manis danm doaku selalu

nanaharmantoMarch 31st, 2010 at 12:10 am

Mbak Rini….akhirnya aku menemukan dirimu…..piye kabar Mbak?
aku baca posting ini dan tersenyum-senyum mengenang nostalgia di Code…
wah, aku juga jadi malu, rasanya aku juga nggak sempat pamit pada mereka, bahkan waktu merit juga nggak ngundang mereka, semata karena nggak ingin merepotkan mereka…
Aku pernah nulis sedikit soal Code ini,
dan rasanya masih banyak yang ingin kutuliskan tentang pengalaman ngajar di Code, termasuk ngajarin membaca yang maunya “instan” langsung bisa, dan juga boso Jowo yang muncul tiba-tiba…hihihi… nice sharing, Mbak…

salam,
Nana Harmanto- Syant ’96

Leave a comment

Your comment