DAYA INGATKU, DENDAMKU
(Rini Giri)
Aku kadang merasa tidak normal. Segala sesuatu bisa kusimpan lama dalam hatiku. Bahkan aku masih ingat secara detail kejadian belasan tahun silam ketika orang yang mengalami peristiwa yang sama sudah lupa sama sekali. Apa yang terjadi dengan diriku?
“Kau masih ingat adik kelas kita yang manis itu? Yang sering kita kecengi bareng? Yang selalu naik bus mini yang sama dengan kita.” Tanyaku pada Rere, sahabatku, beberapa hari lalu.
“Yang mana? Aku lupa.” Jawabnya. Aku berusaha menjelaskan ciri-cirinya lebih rinci lagi, tapi dia tetap tak bisa mengingat. “Apa kau yakin kita pernah sememalukan itu?” Rere sama sekali lupa pada peristiwa dan sosok yang kumaksud. Padahal wajah anak itu jelas-jelas masih terekam di otakku. Bahkan bentuk bibirnya saat tersenyum dan tahi lalat di dagu kanannya.
Aku juga masih ingat betul bagaimana seseorang kubiarkan memelukku dan mendekapku erat, padahal dia bukan siapa-siapaku. Aku hanya menganggapnya sebagai abang dan tidak seharusnya hal itu terjadi. Masih sangat jelas waktu itu malam hari yang dingin, kami baru pulang dari suatu kegiatan, di sebuah bangunan yang belum jadi, aku masih merasakan pasir yang menempel di sandalku, dan mencium bau semen yang hampir kering. Mungkin seseorang ini malah sudah lupa kalau dia pernah begitu padaku.
Apa ini yang namanya introvert? Banyak teman yang curhat padaku dan aku masih ingat apa esensi curhatnya, bagaimana intonasinya, dan ekspresi wajahnya saat mengatakan itu. Tapi yang bersangkutan sudah lupa. Begitu membekas dalam, setiap peristiwa yang terjadi. Bisa terus kuingat hingga duapuluhan tahun. Bahkan detail kejadiannya. Tapi aku hanya menyimpannya saja, kunikmati kesakitannya sendiri, dan kubiarkan luka yang ditimbulkan menguap sendiri walau butuh waktu bertahun-tahun. Aku pendendam sejati.
“Rin, bulikmu kena kanker. Harus 30 kali kemoterapi. Setiap kemo dia butuh sejutaan. Tolong kaugalang dana dari saudara-saudara kita yang ada di Jakarta untuk membantunya.” Kata ibuku di telepon beberapa bulan silam.
“Dulu waktu dia nikah, keponakannya yang dari Yogya diberinya hadiah dari salah satu kado yang diterimanya. Aku tidak. Dia malah sembunyi-sembunyi memberikannya. Jangan sampai aku tahu. Padahal aku menguping dari celah pintu kamarnya. Kenapa tidak minta tolong sama mereka aja?” Padahal peristiwa itu terjadi ketika aku berusia sembilan tahun.
“Kenapa kau masih saja menyimpan hal-hal yang tidak berguna itu?” Tanya ibuku gusar.
“Aku benci dibilang Prawan Gunung. Mereka pikir aku bisa disepelekan seumur hidupku? Mentang-mentang aku diam, lantas bisa disuruh-suruh seenaknya?” Ibu jadi marah mendengar jawabanku itu.
“Hei, kau ini sekarang sudah jadi ibu. Kenapa masih kekanak-kanakan seperti itu? Bukankah kau sudah lebih banyak belajar tentang agama kita? Kau bahkan bisa menulis banyak hal yang membuat teman-temanmu tersentuh kan? Kenapa kau jadi cengeng sekali? Berbuat baik ya berbuat baik saja, Rin. Tidak perlu memandang masa lalu. Maafkan orang yang dulu pernah menganaktirikan kamu. Menyimpan dendam hanya akan menghancurkanmu.” Tutur ibu.
Toh meskipun sekarang tubuhku sudah dua kali lipat lebih besar dari tubuh ibu, aku ini tetaplah gadis kecilnya, yang sewaktu-waktu butuh pundaknya untuk menangis dan butuh ucapan lembutnya untuk menguatkanku. Akhirnya kutelepon adik-adik dan saudara lain untuk membantu serelanya. Bulikku menelpon mengucapkan terimakasih atas sumbangan itu. Suaranya lemah dan parau. Kubayangkan tubuhnya yang menua, rentan, dan pudar kecantikannya. Ya, aku memaafkanmu bulik. Buat apa aku menyimpan hal sepele tapi terlalu kubesar-besarkan dan malah menjadi ganjalan hidupku?
Ingatan yang kuat kadang malah jadi petaka bagiku. Setiap peristiwa menyakitkan terbawa hingga kini secara rinci. Kadang datang dalam mimpi buruk dan rasa sesal yang berkepanjangan. Dendam dan rasa bersalah bertumpuk-tumpuk di hatiku. Tapi peristiwa bulikku itu telah mengajariku untuk rela memaafkan orang lain demi kesembuhan batinku sendiri. Toh bulikku juga sudah lupa pada peristiwa duapuluh empat tahun silam itu. Dan itu bukan peristiwa besar.
Orang lain yang padanya kita menaruh dendam, mungkin sudah lupa dan menganggapnya sebagai angin lalu. Tapi aku yang menyimpannya? Menggerogoti hidupku bahkan sampai terbawa dalam lamunan yang menghentikan waktuku dan menyita pekerjaan lain yang lebih penting. Satu-satunya cara untuk mengurangi tumpukan dendam itu adalah dengan memaafkan. Merelakan memori buruk itu runtuh secara pelan-pelan dan biar tertinggal jauh di masa lalu. Kalau aku terus-terusan digerogoti memori yang menyedihkan itu, pastilah hari-hariku akan jadi kelabu juga dan berdampak buruk pada hubunganku dengan orang-orang di sekitarku. Akupun berusaha menceritakan hal-hal lama itu pada suamiku, ibu, Rere, atau jika kesempatan sempit sekali kutulis dalam data di komputer. Biar sedikit demi sedikit menjauh dariku.
Memang ada juga untungnya. Saat suamiku sibuk mencari-cari kontak motor atau surat-surat yang lupa ditaruh di mana, seketika otakku bekerja. Memoriku datang sendiri. “Bukankah kemarin setelah pulang kerja, masuk, trus langsung ke dapur buat minum? Habis itu nonton TV sebelum mandi?” Rentetan kronologis langsung meluncur dari mulutku. Suamiku buru-buru ke dapur dan nah ternyata kontak motor itu ditaruh dalam kantong kain penutup kulkas. Atau anakku lupa menaruh buku pelajarannya. “Hari Kamis kan ada ulangan Bahasa Indonesia, trus ibu belum lihat nilaimu. Jangan-jangan masih di bu guru?” Anakku mengingat-ingat,”Udah dibagi kok.” Lalu aku ingat lagi kalau malamnya ada temannya yang menelpon, ada apa kok nelpon? Nah, anakku langsung ingat. Ya, ternyata temannya itu menelpon dan paginya minta dibawakan buku ulangan itu untuk dipinjam. Itu untungnya.
Aku pernah menaruh dendam pada cinta pertamaku. Cinta itu sudah kupendam begitu lama dan aku harus berani mengungkapkannya. Ternyata harapan itu hanyalah impian seorang gadis bodoh yang baru genap tujuhbelastahun. Belum pernah aku mengalami sakit hati dan kecewa separah itu. Rambutku rontok, berat badanku turun, mataku jadi cekung, hatiku jadi tawar, dan nilai-nilaiku jadi jeblok semua. Luka itu aku simpan dalam sekali, kupendam sendiri, kutahan kuat-kuat. Hanya Rere yang pernah melihatku menangis karenanya. Tiba-tiba aku punya kekuatan luar biasa untuk balas dendam.
Apapaun kulakukan untuk menjadi lebih baik darinya. Aku suka dia dan tidak mungkin menghilangkan rasa itu seketika. Maka, pikirku, jika aku lebih unggul darinya, mana bisa aku tertarik lagi padanya. Bukankah aku selalu melirik cowok yang punya nilai lebih di mataku? Bahkan dengan energi itu, aku mampu lulus dan diwisuda terlebih dahulu dibanding dia. Aku akan tertawa setiap kali aku memangkan pertandingan yang hanya kuketahui sendiri itu. Lambat laun, koreng luka cinta pertama itupun mengelupas. Tak kurasakan lagi. Hilang lenyap entah kemana. Untung aku dulu ditolak, sehingga bisa menemukan yang lebih baik. Dendam jika dikelola dengan baik akan menjadi energi untuk jadi lebih bermutu. (Wah, itu tandanya dendamku sebenarnya masih tersisa sedikit hahahaha. Yah, karena koreng yang mengelupas itu kan tetap meninggalkan bekas. Harus operasi plastik untuk menghilangkannya!)
Tapi sesal atas kebodohan-kebodohanku sebagai gadis tujuhbelastahun tak hilang begitu saja. Masih saja tergores jelas dan ingin rasanya aku kembali ke masa itu dan memperbaiki keadaan. Tentu saja tidak mungkin. Yang mungkin adalah menjalani dan mensyukuri apa yang ada sekarang. Masa lalu hanyalah sebagaian ruas jalan yang harus kulalui agar kakiku semakin kuat untuk menmpuh perjalanan yang lebih panjang. Masa lalu, segala ingatan, detail-detail memori, dan kenangan pahit getir, adalah guru menuju kedewasaan jiwa dan raga. Harus dilalui dan dimiliki setiap orang. Seandainyapun aku punya kemampuan ingat yang lebih, toh nyatanya malah bisa kupakai sebagai inspirasi membuat tulisan-tulisanku.
Aku normal. Karena punya kekurangan dan kelebihan. Apapun itu adalah pemberian Tuhan. Aku tahu Dia sangat sayang padaku dan memberikan keunikan pada setiap insan secara khusus. Termasuk kepadaku. Ketika aku diberi lebih, akupun diberi kemampuan untuk mengelolanya. walau butuh waktu dan proses belajar.












