DIA MASIH ADA (KENANGAN BUAT ALM ADIKKU)

DIA MASIH ADA

Oleh Rini Giri

            Begini ya rasanya kehilangan seseorang yang selama ini dekat dengan kita? Seperti mimpi. Berharap dia masih ada dan bisa ditegur, padahal nyatanya dia sudah diam terkubur. Melihat foto-foto kenangan bersamanya seolah dia masih ada di sebelah kita, padahal semua itu sudah berlalu dan tak ada harapannya lagi. Masih terngiang rencana-rencana kami bersama, dan semua itu akhirnya hanya terlewat begitu saja dalam kosong. Kadang masih ingin pula kutelepon dia, tapi operator seluler menjawab,”dia sudah berada di luar area. Tak dapat dihubungi.” Oh, Tuhan. Kenapa rasa kehilangan ini terus saja melekat. Pastilah karena ada ikatan batin yang begitu kuat.

            Tuhan memang Maha Kuasa. Sampai-sampai tak sedikitpun aku diberi kelonggaran. Padahal baru saja kututup buku doa, memohon  agar dia sembuh, agar dia sanggup melawan sakitnya, agar dia mampu bertahan. Tapi telepon keburu berbunyi dan diseberang sana kudengar kata,”Dia sudah tiada…” Pas dalam detik ketika kututup doa buatnya. Seolah tak percaya. Aku tercekat. Padahal empat jam lalu aku bicara langsung dengannya melalui telepon dan suaranya terdengar begitu sehat. Herannya, kenapa aku yang telepon tapi dia yang menutup pembicaraan. “Sudah ya…” katanya di akhir percakapan. “Ya, istirahatlah…” itu jawabku sebelum kututup teleponku. Kenapa juga kusuruh dia istirahat? Harusnya aku bilang,”Ya, terus berjuanglah!”

            Sebulan sebelumnya, akhir tahun,  dia datang ke rumah, dengan t-shirt coklat dan jeans hitam. Pertemuan singkat karena  dia buru-buru pulang. Ingin segera ketemu anaknya lagi karena itu Sabtu, hari libur yang paling ditunggunya untuk keluarga. Aku cuma masak  sayur bening, tempe goreng, sambal bawang, dan perkedel  kentang. Tapi dia makan banyak. Saat aku ingin mengantarnya sampai pintu gerbang perumahan dengan sepeda motor, dia menolak. “Sudahlah, aku naik becak saja. Lagipula kamu sedang hamil. Jangan terlalu sering naik motor lagi!” Tuturnya. Dia memang lebih bijak dan penuh perhatian sekarang. Apalagi dua bulan lalu dia sudah punya bayi, bahkan bisa memandikan dan mengganti popok anaknya. Dia jadi bapak yang baik. Aku suka itu. Aku bangga padanya.

            “Aku titip foto anakku. Tolong kasih ke ibu. Coba amati, apa dia benar-benar mirip aku? Kalau iya, tolong minta ibu untuk membelinya, sebagai syarat saja. Itu hanya kata-kata orang jaman dulu, untuk menghindari petaka. Tapi kan maksudnya baik, ya sudah, kita lakukan saja.” Pesannya waktu itu. Ibu bilang, nggak mirip. “Dia hitam dan penuh jerawat, sementara anaknya putih bersih begini.” Komentar ibu saat melihat foto itu.

            “Besok Maret, saat bapak dan ibu pergi ke Jakarta, aku akan bawa mobil sewaan. Kamu sekeluarga pakai mobilmu sendiri sedang aku dan keluargaku pakai mobil sewaan. Pasti saudara-saudara yang datang dari Boyolali akan terangkut semua. Kita bisa jalan-jalan ke Taman Safari bersama.” Ujarnya dalam pertemuan terakhir kami itu. Tapi semua tinggal rencana. Akhir Januari dia berpulang, sehingga keinginan itu tidak pernah terlaksana.

            “Nanti kalau aku ke sini lagi, kereta bayi itu akan kubawa untuk anakku.” Katanya ketika melihat kereta bayi bekas anakku yang kugeletakkan di sudut teras. “Nanti biar kucuci sendiri.” Aku hanya mengangguk. “Kayaknya perlu sedikit dicat.” Komentarnya lagi. Dia tidak pernah datang lagi. Sepulang dari pemakamannya, aku segera mencuci bersih kereta bayi itu dan kuantar ke rumahnya saat peringatan tujuh hari kepergiannya.

            Dia begitu cepat menghilang, padahal belum genap 31 tahun, keluarga barunya masih sangat butuh dia, dan kamipun masih sangat mengharapkan perkembangan yang baik pada rumah tangganya. Ia pergi begitu saja, lenyap dari keseharian kami. Tak ada lagi yang menelponku siang-siang hanya sekedar bertanya apa bahasa inggrisnya ini atau apa arti kata berbahasa inggris itu kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Alat-alat kerjanya pakai manual berbahasa inggris semua dan dia malas buka kamus.

            Kadang aku hanya bisa menarik nafas sesak jika melihat foto-fotonya. “Hanya sampai di situ saja? Hanya segitu sajakah?” Gumamku dalam hati. Dia memang paling beda di antara kami tiga bersaudara. Wajahnya lonjong, perawakannya tinggi besar, jerawatnya bejibun, dan rambutnya ikal. Dia sangat supel bergaul. Beda sekali dengan aku dan adik bungsuku yang berwajah bulat, gemuk, berambut lurus, lebih pendek perawakannya, dan pendiam. Dia mendapat turunan dari keluarga ibu sedang aku dan adik bungsu mendapat turunan sifat dan fisik dari keluarga bapak.

            Sejak kecil jalan hidupnya memang paling aneh. Penuh masalah dan kontroversi. Kelas 2 SMP dia jatuh dari sepeda motor. Tulang kaki dan pundaknya patah. Lulus SMP keenam giginya copot dalam kecelakaan sepeda dan tulang rahangnya sempal. Saat STM dia nyaris jadi korban tawuran di Ambarawa, padahal saat itu bekas operasinya belum sembuh dan masih berjalan dengan bantuan kreg. Diapun sering pergi dari rumah jika ada masalah dengan orangtua. Tak ada orang yang diturutinya selain suamiku. Dengan kakak iparnya dia amat penurut. Bahkan dulu ketika statusnya masih jadi pacarku sekalipun, dia menurut jika diajak pulang setelah tiga atau empat hari minggat dari rumah. Padahal dulu dia pernah komentar,”Kenapa kau pilih pacar yang kecil begini? Aku kan harus menunduk kalau mau ngomong sama dia!” Kurang ajar! Tinggi pacarku memang Cuma sepundaknya.

Saat mau kuliah, begitu susah mencarikan perguruan tinggi baginya. Dimana-mana tidak lolos tes. Sampai akhirnya kutemukan sekolah  D3 teknik baru yang dibuka dosen-dosen IKIP Yogyakarta. Dia lolos tes karena standarnya rendah dan itu sekolah baru yang sedang butuh murid. Dia mujur mendapatkan pekerjaan yang baik di Jakarta berkat koneksi suamiku. Sebuah awal yang lebih melegakan bagi kami sekeluarga, sebab dia segera berubah menjadi lebih bertanggungjawab.

            Kami menghormati pilihan hidupnya sebab kami mencintainya. Buat apa bersikukuh pada suatu hal yang dia sendiri juga tidak sanggup mempertahankannya. Hanya akan membuat perpecahan dalam keluarga. Maka kamipun dengan senyum supaya dia bersemangat menyongsong masa depan, mengantar dia untuk menyambut hari depannya. Walau ada kecewa dan rasa ciut di hati, tapi kami tetap tersenyum. Untuk dia. Semata-mata hanya untuk membesarkan hatinya. Ya sudah, kami sudah iklas dengan apa yang dipilihnya dalam hidup ini. Dia sudah dewasa dan tahu resiko setiap pilihan.

            Hari itu ketika istrinya melahirkan, kukatakan padanya,”Anakmu ganteng.” Dia tersenyum bangga dan aku nggak akan lupa peristiwa itu. Bapakkupun sangat gembira ketika melihat dengan mata sendiri, dia bisa memandikan bayi kecil itu. “Saat berada di rumahnya, dia begitu perhatian padaku. Aku tidak minta, tapi pagi-pagi dia sudah beli ubi manis  yang bagus kualitasnya dan mengukusnya untukku.” Bapak selalu terharu setiap mengenang ini. “Saat aku diantar ke rumahmu, dia selalu menggandeng tanganku saat menyeberang jalan. Dia benar-benar sudah berubah.” Kenang bapak lagi. Seolah dia sengaja meninggalkan kenangan manis bagi orang-orang terdekatnya.

            Dia sudah pergi mendahului kami. “Kita memang selalu punya harapan dan rencana, tapi nyatanya yang bekerja adalah rencana Tuhan.” Hibur  salah satu sahabatku. Regina namanya. Dia benar. Ini adalah bagian dari rencana-Nya yang aku tak bakal bisa pahami. Yang kutahu hanyalah menerima ini dan mendoakannya. Sampai berjumpa kembali dalam kehidupan abadi yang telah dijanjikan dan disediakan-Nya bagi kita. Dia masih ada. Kini, di hati kami. Good bye. Rest In Peace. See you in the new everlasting life. Kiss from your sister.

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (3)

MellyMarch 25th, 2010 at 1:19 pm

Very very touching…Saya sampai berasa connect sekali dengan ceritanya..

umminya Farhah & ShafwaMarch 25th, 2010 at 1:29 pm

Darah smp ber-desir beberapa x. Smp saya memberikan komen ini….

RereMarch 25th, 2010 at 2:06 pm

Wellcome Back Rini Giri….
mmh.. memang sangat sedih, susah kehilangan seseorang yang begitu dekat…
untuk kasusku.. yang paling kehilangan adalah ibukku.. sampai aku harus terus mengiburnya.. aku kadang-kadang masih berandai-andai.. ” coba bapak masih ada…..mesti nggak kayak gini” dsb..dsb…
yang bisa kita lakukan saiki memang berpasrah dan doa.. Tetap semangat yaa!!
Ayo nulis yang banyak lagi…

Leave a comment

Your comment