DIA MASUK NOVISIAT? PEDULI AMAT!
(Rini Giri)
Pernah ditaksir orang dan kau tidak suka? Bagaimana perasaanmu jika dia tiba-tiba datang ke rumah dan membawakan segepok bunga anggrek ungu? Wuhh, dongkol sekali. “Bunga-bunga ini kupetik sebagai panenan pertama. Tolong kautaruh di mejamu ya. Dari kebunku, hasil keringatku, hanya buatmu.” Ujarnya di suatu Hari Minggu. Untunglah aku diajari sopan-santun oleh ibu.
“Bunga sebanyak itu sebaiknya buat altar gereja saja. Kan bagus tuh…warnanya ungu…cocok buat masa adven.” Kataku beralasan. “Nggak. Bunga ini buatmu.” Dia sungguh-sungguh. Kedua tanganku bergerak-gerak mengisyaratkan penolakan. Tapi kedua tangannya terus-terusan mengulurkan segepok anggrek itu. Aku hampir berteriak.
“Ya sudah, ambil saja bunganya. Nanti sore ada pertemuan adven di rumah Bu Gito. Biar bisa dipakai di sana.” Kilah ibu yang seolah sengaja lewat dan ingin menyelamatkanku. Hoh, terselamatkanlah aku. Muka tukang anggrek itu agak pucat, seolah tak rela bunganya salah sasaran. “Terima bunganya, Rin. Nanti biar ibu yang mengantar ke rumah Bu Gito. Pasti beliau senang.” Aku tersenyum, lantas menerima bunga itu. “Makasih ya.” Ucapku. Meraih gepokan bunga itu dari tangannya dan berlalu masuk rumah meninggalkan pemuda itu terbengong-bengong.
“Bunga itu untuk Rini, Bu.” Protesnya.
“Kan sudah diterima? Makasih ya.” Ujar ibu. Diapun pergi dengan perasaan gondok. Aku tersenyum-senyum sendiri di balik kaca jendela ruang tamu. Geli dengan kebodohannya itu.
Siang itu aku sedang nangkring di pohon jambu. Tiba-tiba dia datang lengkap dengan seragam karate. “Berangkat bareng yuk?” Ajaknya dari bawah. Rasanya ingin kulempar dia dengan keruntil jambu. Tapi untunglah ibu mengajariku sopan-santun. “Latihannya kan jam tiga. Ini baru jam satu. Mo ngapain di sana? Duluan aja deh! Aku masih pengin ngadem di sini.” Jawabku.
“Ya udah, kalau gitu aku ikut ngadem aja di sini.” Ya ampun!
“Aku mo tiduran sebentar! Capek nih, kan baru pulang sekolah. Duluan aja deh!”
“Aku tunggu di teras deh.” Ampun deh! Keruntil jambu udah kupetik dan siap kulempar, tapi ibu seperti sengaja lewat.
“Loh, ada tamu? Oh, mau karate? Masih lama kan? Rin, turun dulu, tolong bantu ibu mengupas bawang di dapur. Cepat sedikit ya, soalnya sebelum magrib masakannya udah harus matang.” Akupun buru-buru turun dan ngeloyor ke dapur. Mengupas bawang sambil sesenggrukan sendiri menahan pedihnya aroma bawang ketika kena mata.
Ibu mengajak juragan anggrek ngobrol di bawah pohon jambu. Ngobrol tuh sepuasnya sama emak gua! Ibu menyinggung-nyinggung kalau aku ini baru kelas satu SMA dan belum boleh pacaran. Pacaran hanya akan membuat konsentrasi belajar runyam. Rasain, dikuliahin sama emak gua! Kulihat dia hanya senyum-senyum sambil mengangguk-angguk mendengar uraian ibu. Mungkin karena kupingnya gak tahan mendengar cerocosan ibu, dia buru-buru pamit dan berangkat ke tempat karate duluan. Wuh, lega.
“Kau harus tegas padanya, Rin. Kalau memang tidak suka katakan tidak mau. Supaya dia tahu bagaimana perasaanmu kepadanya.” Tutur ibu.
“Dia nggak pernah bilang suka sama aku, Bu. Dia juga nggak ngomong apa-apa kok. Ya gimana aku mau menolaknya? Bingung kan?” Wah, jangan-jangan dia memang sengaja tidak ngomong cinta, supaya punya banyak waktu untuk mendekatiku. Kalau langsung menyatakan cinta dan kutolak, kan dia gak punya alasan lagi buat datang. Pinter juga, dia.
Aku juga harus lebih pinter dari dia. Maka terpikir olehku untuk mendekati salah seorang cowok yang sama-sama jadi teman kami. Rupanya dia kelimpungan karena cemburu. Aku senang dibuatnya. Siasatku berhasil. Kemana-mana aku menggandeng si cowok. Minta dianterin, minta dijemputin, minta didengerin, minta dicurhatin. Pokoknya menciptakan kesan lengket sama dia. Tapi celakanya aku jatuh cinta sama cowok ini! Wuah!
“Dia nggak baik buat kamu.” Kata si tukang kembang suatu kali.
“Gimana kamu tahu dia baik buatku atau nggak? Kan aku yang kenal dia lebih banyak? Lagi pula apa urusanmu? Dia baik kok sama aku. Dan yang penting, aku suka!” Mungkin reaksiku ini membuatnya sakit hati. Pelan-pelan dia mulai menjaga jarak denganku. Bahkan sebatang anggrek bulan putih bulat yang dulu diberikan padaku, tapi aku tak mau menerimanya, lantas ditinggal saja di teras, dan akhirnya ibu yang merawatnya setiap hari, diambilnya kembali. Berarti usahaku melenyapkan harapannya untuk dekat-dekat denganku berhasil sudah.
Tapi rupanya apa yang dikatakannya itu benar. Cowok itu memang tidak pernah mencintaiku. Dia hanya suka tapi tidak mau pacaran. Akupun patah hati. Rambutku sampai rontok dan berat badanku turun. Juga nilai-nilaiku jadi jeblok semua. Gila! Aku patah hati! Cinta pertama dan pupus pertama.
“Kau kenapa akhir-akhir ini jadi pendiam?” Tanya si tukang bunga lagi. Aku hanya diam, melengos dan pergi. Dia tak berani mencoba mendekatiku lagi.
“Si tukang kembang itu mau masuk novisiat. Dia patah hati sama kamu. Lebih baik membiara daripada gak bisa hidup sama kamu.” Kata sahabat karibku.
“Emang itu urusanku? Urusan dia sendirilah!” jawabku ketus. Sebab yang kutahu, ketika aku sakit hati, aku sendiri pula yang bertanggungjawab untuk menyembuhkan luka batin. Cowok yang kutaksir itu lenyap begitu saja tak pernah merasa punya andil untuk mengembalikanku pada posisi semula. Aku jatuh, terpuruk, dia gak peduli. Begitu juga tukang anggrek itu, kalau masuk biara memang bisa menyembuhkan batinnya, ya silakan. Benar, dia masuk novisiat di Muntilan. Akupun sibuk mengurus luka hati ini dan menggapai kesembuhan. Mungkin dua tahun hingga lulus SMU aku baru bisa lupa. Bahkan selama liburan aku sanggup menjalin hubungan baik dengan seseorang, tapi akhirnya kandas karena cinta kami hanya tipis. Yang ada rasa sayang kakak adik saja.
Aku kuliah di sebuah kota. Para mahasiswa baru diwajibkan mengikuti retret di rumah retret milik para suster Fransiskan di Muntilan. Hari pertama dan kedua dilalui di dalam rumah retret. Bahkan aku bisa kenal dan dekat dengan seorang cowok seangkatan. Dia anak Muntilan juga, bahkan lulusan Seminari Mertoyudan. Hari ketiga, ketika akan pulang, kami diberi kesempatan untuk mengunjungi makam Romo Sanjoyo di dekat SMA Van Lith. Saat berjalan menyusuri jalan tanjakan bersama rombongan, tiba-tiba kulihat sebuah sepeda meluncur dari arah berlawanan dalam kecepatan tinggi. Sampai-sampai sendal si pengendara jatuh. Sepedapun direm mendadak, disandarkan dan si pengendara memungut sandalnya. Boncengan sepeda onta itu penuh rumput, mungkin untuk makan ternak. Dan pengendara itupun membawa arit, mungkin tadi dipakainya untuk membabat rumput. Hah? Itu kan si tukang anggrek? Jangan katakan kami berjodoh!
Karena aku diajarai sopan-santun oleh ibu, sehingga tahu prosedur untuk bertemu teman lama, maka segera kudekati dia dan kupanggil namanya. Diapun tercengang melihatku. Napasnya jadi senen kemis. Oh, jangan sampai kehadiranku menggoyahkan kembali niatnya untuk menjadi bruder. Segera kugamit teman dekat baruku dan kuperkenalkan padanya. Dia tampak menelan ludah saat bersalaman. Lantas buru-buru pamit dan pergi. Ya Tuhan. Kenapa sudah sejauh ini masih bisa ketemu juga dengannya? Aku tidak tahu apa yang kemudian terngiang dalam benaknya. Yang jelas, aku segera melupakan peristiwa itu.
Aku mulai aktif kuliah dan melalui dua semester bersama teman dekat seangkatan itu. Pacaran enggak, sahabat bukan, teman juga lebih. Pokoknya saling suka tapi tak ada setatus yang jelas. Mending begitu, daripada saling berharap banyak tapi buntutnya malah bikin kecewa. Aku tinggal di asrama putri. Suatu sore, pulang dari kuliah, kulihat banyak tamu menunggu di pintu masuk. Sepertinya mereka anak-anak baru lulus SMA yang mau masuk asrama. Kulihat tulisan di lengan, SMA Van Lith Muntilan. Wuah, lagi-lagi Muntilan! Sungutku.
Tiba-tiba saat melintasi mereka, kulihat si tukang kembang ada di antara mereka. Ha? Ketemu lagi? Setelah sejauh ini? Kali ini dia sudah jadi frater yang sedang mengantarkan murid-murid asuhannya untuk mendaftar masuk asrama. Dia sudah lebih tenang dan matang. Murid-muridnyapun respek padanya.
“Siang, Frater.” Sapaku. Dia nyaris tersedak saking kagetnya. Lantas kamipun ngobrol di ruang tamu. Kali ini dengan bahasa yang lebih santun. “Siapa yang suka datang menemuimu di sini?” Tanyanya. “Wah, banyak.” Si itu, si ini, si dia, si anu. Sederet nama cowok yang dia kenal dan pernah bertandang kusebut. Dia terhenyak ketika kusebut nama si anu. Kenapa?
Limabelas tahun telah berlalu. Kudengar dia sempat ditugaskan ke Kalimantan dan kini telah keluar dari novisiat dan membangun keluarga. Pada ulangtahunku yang kesembilanbelas dia mengirimkan poster anggrek ungu dari Kalimantan.
Si anu itu sekarang jadi suamiku. Kutanya, “Kenapa tukang bunga itu kaget saat kuceritakan bahwa dirimu juga sering datang ke asrama menemuiku?” Si anu yang kini jadi suamiku itu bilang,”Dulu, kalau aku main ke kaki Merbabu, dia selalu menceritakan dirimu kepadaku. Segala keluh kesahnya tentangmu aku tau. Padahal waktu itu aku belum pernah kenalan sama kamu. Aku sangat penasaran dan ingin tahu seperti apa sih cewek ndeso yang bisa bikin seseorang memutuskan untuk masuk novisiat. Ternyata biasa aja. Hahahahaha.” Biasa aja tapi bikin kamu juga jatuh cinta! Gimana sih?
Teman masa remajaku, tukang kembang yang menanam aneka anggrek, gladiol dan bakung di pekarangan gereja kaki Merbabu, semoga Tuhan memberkati kebahagiaanmu bersama keluargamu. Maaf jika di masa lalu aku begitu ketus padamu. Masa remaja penuh letupan gejolak yang tak bisa ditata dengan santun, jadi mohon maklum. Mungkin di masa tua ini kita bisa memulai persahabatan dan persaudaraan yang lebih baik.












