GANK DAN DRAMA PERTAMAKU
(Rini Giri)
Punya teman-teman dekat adalah sebuah berkat. Dari mereka kita bisa belajar aneka rupa. Kitapun merasa berguna ketika mereka meminta peran aktif kita. Ada lima gadis cilik yang membuat suatu kelompok bermain. Mereka sekelas dan rumahnya saling berdekatan. Dari mereka telah lahir empat pementasan drama. Tentu saja hasil karya sendiri. Latihannyapun ngumpet-ngumpet di belakang sekolah atau di kamar salah satunya.
Pentas pertama dalam acara perpisahan guru praktik tahun 1987. Tentang anak yang nakal dan anak yang jujur. Pementasan berikutnya dalam acara Gerakan KB Nasional dan Kunjungan Bupati Boyolali tahun 1988 di dusun Kalisari, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Tentang banyak anak banyak bencana. Drama ini Ibu Kepala Sekolah yang meminta dan mengisi pesannya. Pentas berikutnya tahun 1988 di perpisahan kakak kelas. Tentang anak yang nakal lantas minta maaf pada ibunya. Dan pentas terakhir tahun 1989 dalam perpisahan kelulusan mereka, tentang saudara yang saling bertengkar lantas bersatu kembali.
Aku tumbuh bersama kuntum teman-temanku itu. Setelah pindah rumah ke pemukiman yang dekat jalan raya, ada empat anak yang jadi temanku bermain. Rere, Ovi, Lala dan Anti. Kami berlima membentuk sebuah gank anak-anak SD. Namanya Mountain Girls. Alias para dara gunung. Maklum kami hidup di kaki Merbabu. Kegiatan kami, belajar bareng, main hujan, main lumpur di lapangan bekas tangsi, juga saling menginap di rumah teman. Kelompok inilah perancang, sutradara, dan sekaligus pemain keempat drama itu. Tanpa skenario. Alur sudah direncanakan, tinggal ngomong spontan.
Rere yang paling cerdas dan rajin belajar. Dia juga jago memanjat. Apa saja bisa dipanjatnya, termasuk pohon jambu bangkok tetangga belakang rumahnya. Biasanya kalau bapaknya membelikan buku atau bank soal ujian, kami langsung duduk melingkar di teras rumahnya. Mengerjakan bab demi bab bersama, lantas dicari siapa yang skornya paling tinggi. Kayaknya sih cuma Lala yang bisa menyaingi Rere. Aku, Ovi, dan Anti rata-rata aja. Yang penting pertemanan kami itu telah menggiatkan belajar kelompok dan tentu ada gunanya.
Aku kadang iri sama Rere karena punya bapak yang begitu perhatian pada prestasi belajar anaknya. Perhatian bukan berarti hanya suka melihat laporan nilai anaknya bagus. Tapi juga memberi fasilitas, menanyakan pelajaran apa di sekolah tadi, kesulitan apa yang dihadapi, dan sekarang sedang belajar apa. Rere kulihat sampai bosan ditanya begitu, padahal aku sangat ingin sekali saja bapakku bertanya begitu.
Wah, bapakku harus pergi ke Koramil jaga malam, jadi gak sempat menengok belajar anaknya. Paling kalau siang, dia melihatku menggambar dan membelikan cat air jika aku minta. Tanpa komentar. Padahal aku ingin sekali dia bilang,”Gambarmu lucu.” Atau ”Kok langitmu warnanya ungu?” tapi dia hanya diam saja. Sifat diam dan kaku milikku katanya juga turun darinya. Beda sama ibu yang cepat akrab sama orang dan punya banyak teman. Cuma adikku pas yang menurut sifat ibu itu. Adikku yang bungsu sebelas duabelas sama aku.
Mountain Girls selalu bertemu sepulang sekolah. Kalau ada PR kami akan mengerjakan rame-rame dulu, setelah itu baru main becek-becekan ke lapangan bekas tangsi yang waktu itu sedang diratakan dengan bolduser. Meluncur di tanah becek beralas gedebok pisang basah memang mendatangkan sensasi tersendiri. Waktu itu pesenam Eva Butar-Butar sedang sangat populer. Maka kamipun berjalan berjingkat-jingkat di sepanjang pipa air besi berdiameter 15 cm sambil menari-nari menirukan gerakan luwes Eva.
Kalau hujan turun sangat deras, kamipun langsung berlari keluar dan menghadang curahan air dari talang genteng. Wah, pokoknya seru. Parit di depan rumah juga deras airnya, apalagi arahnya turun ke jurang. Maka kamipun mencoba meluncur di situ dengan gedebok pisang. Kadang teman sekelas yang laki-laki juga bergabung. Wah, masa kecil yang sulit dilupakan. Tapi setelah itu biasanya aku akan pilek, batuk, dan sesak napas. Tapi rupanya ibu sengaja memberi kelonggaran, karena takut aku kehilangan moment penting di masa kecil.
Aku berhenti main hujan ketika salah satu teman mengomentari dua bintik di dadaku yang terlihat kala bajuku tersiram air. Juga ketika naik kelas enam aku sudah mendapatkan haid. Pertumbuhan fisikku memang lebih menonjol dibanding keempat kawanku. Begitu flek paru-paruku sembuh, pertumbuhan jasmaniku memang luar biasa.
Kami juga pernah main masak-masakan. Bikin rujak di teras rumah Anti lalu menjualnya pada kakak-kakak Anti. Modalnya dari uang hasil iuran masing-masing 25 perak. Sisanya yang tidak terjual, kami makan sendiri. Kami juga pernah lomba masak di belakang bangunan sebuah kapel. Aku dan Rere masak bolu kukus tapi bantat. Ovi, Lala dan Anti masak kue lapis tapi tengahnya tidak matang. Bahan-bahan dan peralatannya kami ambil dari dapur masing-masing. Resepnya kami contek dari majalah wanita milik ibu Lala. Akhirnya kue-kue gagal itu kami makan sendiri.
Setelah SMP, kami berpisah kelas tapi masih saling berhubungan. Bahkan Lala beda sekolah. Hanya aku dan Rere yang masih berhubungan sangat intens seperti dulu. Ada yang sudah mulai pacaran, ada yang sudah mulai menolak cowoki, ada juga yang masih menutup diri. Ovi yang paling cantik dan banyak yang naksir. Dimana-mana dia punya penggemar fanatik. Sebuah organisasi remaja di kampung, menjadi ajang untuk berjumpa kembali. Tapi kami sudah tidak kepikiran untuk main drama. Pertumbuhan badan kami membuat kami sedikit malu-malu.
Beranjak SMA, Ovi pindah sekolah ke kota lain. Aku, Lala, dan Rere satu sekolah. Sedangkan Anti di SMA lain. Pertemuan kami semakin jarang terjadi karena masing-masing mulai memiliki minat yang berbeda. Tapi dengan Ovi kami masih sering berkirim surat. Saat pulang di liburan kenaikan kelas, Ovi jadi gemuk sekali. Katanya dia setres dan terus makan. Akhirnya dia pindah sekolah lagi dan satu SMA dengan Anti. Sejak saat itu dia diet sampai tubuhnya bisa lebih kurus dibanding SMP dulu. Ovilah yang paling cepat punya pengalaman berpacaran. Yang lain nol!
Kakak Ovi kuliah di teknik nuklir universitas negeri dan ingin ada adik-adik kelasnya yang juga bisa masuk perguruan tinggi negeri. Maka dia menggelar kursus gratis matematika menjelang UMPTN. Ovi yang paling males menghadiri kursus ini, mungkin karena yang membimbing kakaknya sendiri. Akhirnya aku, Lala, Rere, dan Anti bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Tentu di kota yang berbeda-beda. Aku di Yogya, Lala di Solo, Rere di Tangerang, dan Anti di Semarang. Ovi akhirnya kuliah di perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogya. Sejak itu hubungan kami nyaris putus. Hanya Rere yang masih terus berhubungan denganku. Ovi belakangan ini hanya kulihat di facebook. Anti hanya kukunjungi saat dia menikah. Dan Lala? Entah dimana sekarang berada.
Masa kecil kami, bagiku sangat mengesankan. Pertemanan baik tercipta ketika masing-masing individu yang unik itu saling menerima dan membagikan. Mountain Girls, dimanakah kini kau berada? Pastinya semuanya sudah berkeluarga dan punya kehidupan serta kesibukan masing-masing. Tapi kenangan akan kelompok kecil kita, kebersamaan kita, drama-drama kita, juga inovasi-inovasi kita dalam bermain, membekas dalam di hatiku. Menjadi harapan semoga nak-anak lainpun kini punya masa kecil seindah kita. God Bless All of You, Guys!!













Mountain Girls… I miss u all…..