I MISS YOU, BRO!!!

(Rini Giri)

Apa kau punya kakak? Gimana rasanya? Aku lahir sebagai anak perempuan sulung dengan dua adik laki-laki. Anak pertama dituntut untuk jadi sempurna, supaya para adik bisa menjadikannya teladan. Oh, berat sekali kewajiban yang harus kupikul. Sedikit saja aku melakukan hal yang menyimpang, teguran langsung datang. “Kau ini anak tertua, harapan keluarga! Apa jadinya keluarga ini jika kau berbuat sesukamu! Kau mau adik-adikmu juga ikut-ikut tidak benar?”

Aku harus jaga citra. Diriku maupun keluarga. Harus menjadi contoh, kalau perlu tempat semua harapan keluarga ditaruh. Sekian tahun aku harus lurus berada dalam cara pandang orang tua dalam mengungkapkan kasih sayang pada anaknya. “Ini semua kami lakukan karena kami sangat mengasihimu.” Begitu alasan mereka. Aku lahir dan dihidupi mereka, jadi apa daya, hanya lurus menurut yang aku bisa.

Aku tumbuh menjadi bunga gladiol. Kelihatan indah, berwarna cerah, dan dipakai untuk menghias meja-altar-maupun pelaminan. Tapi kaku, lurus, bertangkai panjang membosankan, bertumpuk-tumpuk rutin, dan mudah busuk. Pekerjaanku hanya belajar, les gambar, dan les di bimbel. Kalaupun ada kegiatan lain, paling kegiatan gereja, remaja di kampung, dan olah raga karate. Semua hanya ikut-ikutan karena hampir semua teman melakukan hal yang sama.

Saudara-saudara sepupu memanggilku “Prawan Gunung” karena sikap kaku dan pendiamku. Setiap ada acara keluarga aku pasti duduk di pinggir, diam, dan tidak nimbrung. Teman SMA ku menyebutku ”Ndeso tapi keren.” Karena aku diam, gak banyak ngomong, gak tahu banyak tentang idola2 baru-acara TV favorit-majalah remaja, tapi selalu dapat angka terdepan dalam setiap ulangan dan lomba menulis. Aku rangking 1 sejak kelas 2 SMU, NEM tertinggi, dan masuk perguruan tinggi negeri tanpa test. Puisiku pernah menang di sebuah kontes puisi radio lokal dan karya ilmiahku menang dalam lomba yang digelar sebuag universitas terkemuka di kota tempatku belajar. Bahkan teman-teman kuliahku memanggil “Rini Ndesit” Karena melihatku yang serba diam, hanya senyum dikit, dan tidak pe-de. “Diam bukan berarti emas lho, Rin! Diam itu bahaya! Jangan-jangan kamu diam karena kuper!” Kilah salah seorang teman. Benar. Aku kurang pergaulan.

Saat menentukan jurusan di SMU, aku sempat bersitegang dengan ayah. “Masa ambil jurusan IPS? Jurusan apa itu? Mau jadi apa nanti?” Begitu pertanyaannya. “Aku benci matematika, aku benci kimia, aku benci fisika.” Itu alasanku. Setiap siswa punya kesempatan untuk memilih 2 pilihan. IPA dan Biologi? Biologi dan IPS? IPA dan IPS? Biologi dan Bahasa? IPS dan Bahasa? Dua kotak penentuan jurusan aku tulis IPS dan IPS! “Aku akan bikin ayah bangga dengan masuk IPS! Lihat saja nilaiku nanti! Aku bisa rangking 1 selama dua tahun!” Itulah awal pemberontakan. Sebab saat kelas 1 SMA dan melihatku berada di rangking 36, ayahku ngedumel sepanjang hari.

Sejak SMA, aku mulai berjarak pada keinginan orangtua. Aku punya sahabat karib yang setia dan selalu siap mendengarku, tapi kadang solusi tak kudapati. Mungkin karena kami seumur dan belum bisa melihat permasalahan dari segala arah. Aku butuh teman yang lebih mengerti, teman yang lebih mengemongku, teman yang lebih melindungiku. Aku merindukan seorang kakak. Bahkan kuciptakan kakak bayangan dalam duniaku. Kadang aku ngomong sendiri padanya jika sedang nelangsa. Kadang aku membayangkan diriku dijemputnya dari sekolah, diledeknya, dimanjanya, dijahilinya….seperti yang kulihat para kakak yang dimiliki teman-temanku.

Akhirnya dia datang. Seseorang dengan banyak masalah dan butuh teman untuk dipinjam kupingnya. Aku yang lurus, lugu, diam, tak banyak tanya, hanya senyum simpul, dan butuh pelarian, mau mendengarnya. Dia lima tahun lebih tua. Punya pacar tapi beda agama. Itu yang jadi pertentangan batinnya dan aku dimintanya untuk mendengar. Kudengar, kudukung, kupinjami kepercayaan.

“Kau menganggap aku ini apamu?” Tanyanya suatu kali ketika hubungan baik kami berjalan cukup lama.

“Kakak.” Jawabku lugas.

“Hanya seperti itu?”

“Bukankah itu istimewa?” Tanyaku heran. “Kamu tidak keberatan kan?” Dia menggeleng.

Sejak saat itu jadilah kami kakak-adik. Aku sangat senang ketika dia mengajak ke suatu acara kampus dan memperkenalkan diriku sebagai adiknya. Dia juga yang mengajariku naik sepeda motor. Aku sangat menikmati indahnya hubungan itu. Aku tidak iri lagi pada teman-teman yang punya kakak. Kakakku ini jauh lebih perhatian dibanding mereka. Aku suka pada keusilannya. Tangannya sering mengacak rambutku, dan aku merasa sangat dimanja. Dalam kegiatan-kegiatan bersama, dia selalu memastikanku dalam keadaan baik.

Kami bebas dan merdeka untuk saling bicara, curhat, meledek, dan tertawa. Bahkan ketika dia memelukku saat dirinya dilanda penat, aku merelakan. Entahlah, apa kakak yang lain juga begitu? Setelah aku lebih dewasa dan punya jarak dengannya, aku menduga, apa itu yang namanya pelecehan seksual? Tapi aku tidak menyesal, karena dia telah memberi hati, ruang, dan waktu sebagai sosok yang kurindukan selama ini. Kakak. Dan duniaku jadi lebih berwarna dan berliku sejak kehadirannya. Bahkan aku lebih berani bicara di depan orang, sebab dia selalu mendorongku untuk mengungkapkan perasaan. “Jangan dipendam! Utarakan saja. Nanti jadi penyakit!”

Empat tahun sudah semua berjalan. Kudengar dia putus dari pacarnya dan sedang menghindar dari seorang gadis yang salah paham. Wah, banyak juga urusannya dengan perempuan! Waktu itu aku lulus SMA dan akan kuliah ke kota lain. “Maukah kamu jadi pacarku?” tanyanya mendadak.

“Gila! Kamu jangan bercanda!” jawabku.

“Aku sungguh-sungguh.”

“Kau baru saja putus. Mungkin perasaanmu salah.”

“Aku nyaman bersamamu. Apa itu salah?” Aku terdiam. Mungkin aku butuh waktu.

Ketika kusampaikan hal itu pada sahabatku, dia mengatakan,”Hubunganmu dengannya selama ini memangnya apa kalau bukan pacaran? Apa ada sahabat beda jenis seintim itu? Kau saja tidak seintim itu padaku.” Tutur sahabatku itu. “Aku hanya menganggapnya sebagai kakak.” Sahabatku tertawa, “Kakakku yang udah tujuhbelas tahun jadi abangku pun gak pernah semesra itu padaku. Udah deh. Terima aja. Lagipula udah saatnya kau punya pacar!”

Lama-lama aku menyerah. Mungkin dia bisa jadi kakak sekaligus pacar. Kuterima permintaannya. Namun setelah beberapa bulan, hatiku tawar. Kenapa aku yang beda kota dengannya sama sekali tidak kangen? Dia melulu yang bilang kangen. Kenapa sikapku berubah jadi kaku padanya ketika dia ingin bermesraan. Dan ketika orangtuaku menentang hubungan kami, aku hanya santai saja? Toh ketemu dia diam-diam tetap bisa. Bahkan kesempatan ini kupakai untuk semakin memberontak pada ayahku.

“Apapun yang terjadi aku tetap akan pacaran dengannya!” Teriakku. Padahal setelah berteriak seperti itu aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Aku terus bertahan dan menjalani hubungan dengan setengah hati. Aku tidak cinta padanya, aku hanya kasihan. Kasihku padanya bukan sayang seorang pacar, tapi kepercayaan seorang adik pada abangnya.

“Ayahku menolak hubungan kita.” Ucapku suatu hari. Kubeberkan serentet alasan ayahku apa adanya. Dia tampak kecewa. “Lama-lama aku tidak kuat menjalani ini.” Keluhku.

“Apa kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku? Apa tidak bisa kita sedikit berusaha?” Aku hanya diam. Berlari. Aku akan menunggunya akhir pekan. Kalau dia datang, berarti dia benar-benar ingin memperjuangkan hubungan ini dan ada alasan bagiku untuk belajar lebih mencintainya. Nyatanya kutunggu seminggu, dua minggu, tiga minggu, dia hilang. Bahkan tak beredar lagi di komunitas tempat biasa dia rajin berkegiatan. Aku sudah menyakitinya.

Beberapa bulan kemudian aku menjalin hubungan dengan orang lain, dan kudengar dia tidak melanjutkan kuliahnya. Aku tidak tahu apakah aku telah ambil bagian dalam kehancurannya itu? Yang jelas rasa bersalah terus menghantuiku bertahun-tahun. Dia selalu hadir dalam mimpi burukku. Maafkan aku.

Kenapa harus ada perasaan cinta dalam hubungan baik kita? Kenapa aku tidak tegas padamu dan hanya mengandalkan rasa kasihan? Aku benci peristiwa itu telah melenyapkan kakak yang kunnantikan dengan rindu kehadirannya. Aku kehilangan abang yang sangat aku sayangi. Tak mungkin lagi kembali. Semua telah berlalu oleh waktu. Walau aku tahu kau memaafkanku dan melupakannya, tapi kedekatan kita tak mungkin ada lagi. Ini kehilangan besar dalam hidupku. I miss you, Bro!!!

Baca juga

  • Berbeda tapi Bersama
  • Fenomena Online
  • DIA (Perempuanku)
  • Miskin Inspirasi
  • Siapa Sahabatmu?
  • Tahun Baru 2012
  • Surat Cinta Orang Gila
  • Ungkapan Hati
  • Angka Tiga Itu Ada Dua
  • Aku, Batuk dan Keong Racuners

Comments (1)

shinta mirandaAugust 23rd, 2009 at 8:19 pm

Sedih amit..ya !! Yah, memang kadang, mencintai tidak harus memiliki !!
Bagus ah..!!

Leave a comment

Your comment