JIKA MENCINTAI DEMONSTRAN
(Rini Giri)
Apakah cinta harus selalu tersentuh? Teraba? Dan terasakan? Bagaimana jika perasaan itu ada namun tak mungkin terjangkau? Tapi aku tahu dia mempunyai perasaan yang sama persis denganku. Apakah tatapan mata pernah bohong? Apakah bahasa tubuh bisa mengibul? Ataukah tutur kata sanggup berdusta? Jatuh cinta pada seorang demonstran? Apa yang bisa kuharapkan? Hanya rasa kagum ketika dia menyala dan iba ketika dia redup. Tapi itulah nikmatnya jatuh cinta. Tak pernah memilih. Datang begitu saja. Sakit perihnya menahan rindu menjadi orgasme kala mendengarkan orasinya yang berapi-api dan kepalan tangannya yang penuh pemberontakan.
Aku melihatnya pertama kali dalam OPSPEK Universitas. Semua anak baru dari segala fakultas berkumpul di lapangan kampus. Dia dengan semangat menyala-nyala dan bahasa penuh gelora, mengobarkan perlawanan terhadap rejim yang sedang berkuasa. Tangannya mengepal ke udara yang disambut dengan sorak-sorai sekian ribu mahasiswa baru. Sang orator ulung, yang selalu berada di barisan terdepan dalam setiap aksi turun ke jalan. Jika sudah bicara, semua mata akan tertuju padanya. Semua telinga akan menjadi corong penampung segala perkataannya. Dan semua hati akan terbakar oleh api perjuangan yang dipercikkannya dari atas podium.
“Hidup rakyat! Hidup Buruh! Hidup Petani! Hidup Mahasiswa! Hidup Indonesia!” Serunya di akhir orasi. Semua mulut dari segala penjuru menyambut dengan gegap gempita. Bahkan para gadis berteriak histeris. Aku melihat matanya menyala dan kepalan tangannya penuh nyawa saat masih di atas podium. Tapi begitu dia turun, kulihat nyala itu menjadi redup dan genggaman tangan itu begitu rapuh. Nyala matanya dan kekuatan kepalan tanganya, semua orang bisa melihat. Tapi keredupan dan kerapuhan itu, apakah juga banyak yang tahu?
Kulihat kedua kalinya dia di pintu ruang tamu asrama. Sedang menunggu seseorang. Siapa yang ditunggunya? Aku baru pulang kuliah. Mungkin orang yang dicarinya belum ada yang memanggilkan. Baiklah, aku akan pasang wajah seramah mungkin. Kuharap dia akan menghentikan langkahku dan memohon dengan sangat agar aku mau memanggilkan seseorang yang hendak ditemuinya. Lima langkah, empat, tiga, dua, satu…dia hanya diam…tak menyapaku sama sekali. Huh, sombong banget! Kepalanya tertunduk. Kakiku hanya berlalu begitu saja. Sia-sia wajah ramahku sudah kupamerkan. Sepuluh langkah berlalu darinya, kakak asramaku yang berlari dari arah berlawanan hampir saja menubrukku.
“Desti! Hei, ayo kukenalkan pada Azizi!” Yola, kakak asramaku itu segera menyeret tanganku. Akupun nyaris terpelanting mengikutinya. Di depan pintu, Yola mengenalkanku pada orator ulung itu. Ya, aku sudah tahu namanya. Mana mungkin orang setenar dia tidak kuketahui? Tapi, dia pacar Yola? Ya Tuhan. Kenapa baru tahu? Tangannya dingin dan senyumnya tipis menyambutku. “Zi, dia adik sekamarku.” Aku tersenyum semanis yang kubisa. Dia hanya mengangguk-angguk. Dimana omongannya yang banyak di atas podium itu? Kenapa beda sekali dengan yang kulihat di lapangan waktu itu? Mata redup dan tangan rapuh, itulah yang benar-benar kulihat kini.
“Senang bertemu kakak. Aku selalu membaca tulisan-tulisan kakak di buletin kampus.”
“Senang juga bertemu denganmu, Des.” Kenapa nada suaranya bisa turun beberapa oktav begitu? Dimana nada tertinggi yang diteriakkannya setiap kali orasi? Dia sama sekali berbeda.
Kuingat, Bulan Mei 1998. Tapi tanggalnya aku lupa. Aksi turun ke jalan lebih sering terjadi. Dan hari itu lebih besar. Semua mahasiswa dari segala penjuru kota katanya hendak berkumpul untuk mengadakan demonstrasi besar-besaran di bundaran terkenal itu. Masa mahasiswa dari kampus paling dekat dengan bundaran sudah berkumpul. Dia ada di barisan terdepan. Dengan corong toak yang selalu dekat dengan mulutnya yang terus melontarkan kritik tajam pada pemerintah. Mereka menunggu kedatangan kelompok mahasiswa dari universitas lain. Rupanya aparat sudah mencium rencana ini dan datang lengkap dengan pentungan, helm dan tameng. Awalnya mereka membentuk barisan beberapa lapis dan mencegah ratusan mahasiswa di dekat bundaran itu untuk lebih jauh keluar dari kampus mereka. Sementara barisan mahasiswa dari universitas lain juga dicegah agar tidak mencapai bundaran itu. Aku baru keluar dari perpustakaan dan berjalan sendirian dekat rumah sakit.
“Jangan lewat situ, mbak! Ambil jalan lain! Sudah dikepung aparat!” Teriak beberapa orang yang berusaha menjauh dari tempat itu. Tapi aku mendengar suaranya di toak. Suaranya dengan oktav tertinggi. Aku terus berjalan. Orang-orang berlarian dari lawan arah. Tapi aku terus maju. Kulihat barisan pasukan huru-hara itu rapat sekali. Aku tak mungkin menyisip di antara mereka. Buru-buru aku berlari lewat jalan lain agar bisa mencapai sisi barisan para mahasiswa itu. Ada pagar setinggi satu meter membatasi kami. Kulihat dia terus berbicara dalam toaknya. Pasukan itu terus merapat. Beberapa mahasiswa maju untuk bernegosiasi. Begitu alot dan penuh emosi. Suasana begitu panas. Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu yang bisa melukai teman-temanku ini. Batinku. Aku memejamkan mata. Lindungilah dia, Tuhan. Dan tiba-tiba saja suasana panas itu berubah jadi api. Entah darimana asalnya. Batu-batu sudah terlempar. Beberapa aparat mendaratkan pukulan. Barisan kocar-kacir. Suara toak itu berhenti. Berganti teriakan-teriakan. Umpatan-umpatan. Mengaduh. Menangis. Tak jelas dan kacau sekali. Dan kulihat mata redup dan tangan rapuh itu duduk dengan darah mengalir di kepala. Aku melompati pagar, berlari ke arahnya. Kubuka jaketku dan menutupi mukanya. Kupeluk dia, pelan-pelan kuajak dia bangun, limbung, dan setengah berlari ke arah kampus. Beberapa orang dibawa.
“Seharusnya aku yang mereka bawa!” Teriaknya.
“Kau gila! Kepalamu nyaris sobek! Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang mencintaimu? Bagaimana kalau kamu mati ditendangi lebih banyak sepatu lars di sana tadi? Bagimana orangtuamu? Bagimana Yola?! Apa dengan cara seperti itu kamu jadi pahlawan? Kau hanya akan jadi beban orang lain!” Teriakku lebih sengit.
“Aku tahu apa yang kulakukan! Aku tahu resikonya! Bukan teman-temanku yang harus berkorban!”
“Tapi apa orang-orang di rumahmu bisa mengerti? Apa Yola bisa paham? Kamu jangan egois!” lawanku. Dia diam. Kurawat lukanya. Seharusnya butuh beberapa jahitan, tapi kami tak bisa keluar dari kampus hingga malam. Di luar sana aparat melakukan sweeping. Bahkan beberapa kamar kost digeledah. Kudengar banyak keping-keping disket berisi skripsi yang telah disusun berbulan-bulan, turut hancur. Oh, Tuhan, aku, mahasiswi baru, tak paham apa yang tengah terjadi. Semahal inikah harga yang harus dibayar untuk suatu gerakan yang mereka sebut dengan penegakan demokrasi? Sekian kepala harus terluka, sekian tubuh harus memar, sekian mahasiswa dibawa, dan sekian kerusakan diderita?
“Sudah malam, Des. Pulanglah. Biar Tiyo mengantarmu lewat belakang kampus. Aku tidak mungkin keluar sekarang. Mereka pasti sedang mencariku. Terimakasih ya.”
“Akan kukatakan pada Yola kalau kau baik-baik saja.”
“Sekali lagi terimakasih.” Aku mengangguk dan Tiyo sudah menungguku di dekat tiang. Dia teman baik Azizi. Punya sikap yang lain. Mendukung dan menghargai pergerakan Azizi dan teman-temannya. Tapi dia sendiri tidak terlibat. Dia bergerak dari sisi lain. Kutahu itu dari obrolan kami sepanjang perjalanan gang tikus menuju asramaku.
“Kamu sudah menyelamatkannya. Sungguh berani.” Komentarnya.
“Aku sangat menyayangi dan menghormati Yola. Aku tidak akan tega melihat kakak asramaku itu menangis. Dia kuat dalam segala hal. Tapi tidak soal Azizi.”
“Tapi aku kira Yola sudah tahu resiko memilih seorang demonstran.”
“Apa sepanjang cintanya dia harus memahami terus? Dia kan juga butuh dimengerti. Lagipula cinta tidak pernah memilih. Datang begitu saja. Kalau sudah memilih dan ada pertimbangan, itu bukan cinta.”
“Kau tipe seperti itu rupanya. Cara pandang seseorang menunjukkan siapa dia.”
“Aku hanya gadis biasa. Punya nalar dan pikiran yang terbatas. Kenapa kamu tidak ikut turun ke jalan? Padahal kalian bersahabat? Apa tidak malu dianggap pengecut?”
“Turun ke jalan atau tidak itu pilihan. Kita harus tahu apa yang kita lakukan. Tidak sekedar ikut-ikutan. Azizi begitu percaya pada perjuangan struktural. Mendobrak sistem dan merombak aparatur. Lebih cepat, menohok langsung ke sasaran. Aku hormati itu.”
“Kau sendiri? Tidak melakukan apapun?” Dia tersenyum.
“Kamu anak baru, tentunya masih bingung menentukan sikap? Datang ke plaza kampus besok sore. Kami akan ada diskusi.” Tiyo lebih mempercayai perjuangan kultural. Anak-anak jalanan dan pemuda-pemuda di pinggir kali adalah teman yang sering terlupakan dan disisihkan. Belajar bersama untuk saling memberdayakan diri. Aku jadi mengerti, kenapa Azizi dan Tiyo bisa bersahabat meski beda arah. Kedua gerakan mereka saling menguatkan. Keduanya harus terambah. Perombakan sistem juga harus dibarengi dengan pencerdasan dan pendewasaan rakyat. Sehingga sistem baru yang lebih demokratis tidak akan ditanggapi dengan sikap meredeka tanpa tanggung jawab dan kegemaran main hakim sendiri oleh rakyatnya.
Siang itu Yola berkemas. Dia akan pulang untuk beberapa hari. Kulihat mukanya pucat dan tampak beban besar menggelayut di pundaknya. Tadi pagi kulihat Azizi datang dan mereka sempat adu argumen hebat di ruang tamu. Kukira Yola yang tangguh itupun sebenarnya gadis biasa sepertiku. Dia pasti lelah untuk terus mengerti. Dia butuh hubungan yang normal. Dia capek terus-terusan khawatir. Dia buntu menghadapi segala sesuatu yang serba tak pasti dan mengambang.
“Apa sebaiknya aku meninggalkannya?” Ucapnya lirih sambil duduk di pinggir ranjang. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Kurengkuh pundaknya berusaha memberikan kekuatan.
“Apa kekuatan cinta kakak padanya terkalahkan oleh rasa khawatir dan cemas? Apa sedangkal itu?” Tantangku. Dia mendesah. Begitu penat.
“Katanya cinta itu hanya memberi, memberi, dan memberi, Des. Tapi nyatanya aku lelah memberi. Mungkin aku sudah tidak cinta lagi.”
“Dia butuh kakak. Aku memang baru mengenalnya, tapi aku tahu pasti, dia butuh kakak.”
“Seandainya aku punya cinta seorang ibu. Yang mau mencintai anaknya tanpa lelah karena tahu anaknya membutuhkannya, Des. Tapi dia bukan anakku.” Ya, aku paham. Yola merasa dirinya hanya dijadikan tempat pelarian. Dikala mata itu menyala dan nyawa memenuhi kepalan tangannya, Azizi seolah hidup sendiri. Tak takut pentungan aparat, tak gentar pada tendangan sepatu lars, tak peduli semprotan gas air mata, tak menyerah pada memar hantaman peluru karet. Demi sebuah cita-cita yang hanya dirinya sendiri yang paham. Suatu tujuan yang tidak dimengerti Yola. Sebuah pengorbanan yang kadang sia-sia, tak sebanding dengan apa yang dicapai. Yola ingin azizi penuh jadi miliknya. Bukan milik massa yang mengelu-elukannya setiap kali corong toak menggelegarkan sikap pemberontakannya. Tapi begitu mata itu meredup dan tangan itu merapuh dalam kesepian, Azizi seperti bayi tak berdaya yang butuh pelukan ibu. Hanya Yola yang bisa. Dan jika gadis itu telah lelah, bagaimana nasibnya? Kuantar Yola sampai halaman asrama. Sebuah mobil menjemputnya. Aku agak terkejut. Bukan supir biasanya. Tapi Yola hanya diam, tidak memperkenalkan. Mungkin sepupunya atau saudaranya yang lain.
Dua hari kemudian, kulihat pesan untuk Yola dari Tiyo di buku tamu asrama. Azizi masuk rumah sakit. Ya Tuhan, Yola baru akan kembali tiga hari lagi. Kucoba menelpon dia dari wartel agar dia segera kembali, tapi sia-sia. Yola rupanya tidak liburan di rumah. Dia di luar kota. Aku sangat mencintai kakakku itu, sejak masuk pertama di asrama ini dia yang selalu membimbing dan menguatkan aku. Aku tidak mau bebannya kian berat. Baiklah, akan kujenguk Azizi demi Yola.
Dia terbaring di ranjang tinggi bersprei biru muda sendirian. Pucat, lemas, dan padam sama sekali. Kemana teman-temannya yang selalu turut mengepalkan tangan bersamanya di jalan-jalan itu? Yola pun, satu-satunya sumber api yang dia punya sedang kehabisan energi. Aku melangkah ke dalam, tersenyum padanya, dia hanya menyapa dengan gerakan mata yang sayu. Kulihat semangkuk bubur masih mengepul dan belum disentuh.
“Kak, aku membaca pesan Tiyo untuk Yola. Katanya kau kena tipus. Yola sedang pulang ke rumahnya. Sudah kucoba menghubungi. Tapi rupanya dia di luar kota. Jadi aku datang. Maaf ya, hanya itu yang bisa kulakukan.” Dia hanya mengejapkan matanya. “Boleh kubantu makan? Makanlah sedikit supaya kau cepat sembuh. Banyak orang di luar sana akan kehilangan kamu jika tidak segera sembuh.” Dia menurut ketika kubantu duduk dengan bersandar tumpukan bantal. Kuambil mangkuk itu dan menyuapkannya sedikit-sedikit.
Sejak saat itu, aku rajin mengikuti forum-forum diskusi mereka. Juga ketika mereka turun ke jalan dan berorasi, aku setia mendengarkan. Meskipun aku bukan seorang demonstran tetapi aku selalu menyaksikan aksi-aksi mereka. Ada perasaan kuat, aku harus menjaga pacar kakakku itu. Aku sungguh tidak ingin dia terluka lagi seperti dalam aksi di bundaran itu sehingga membuat Yola meragukan cintanya. Hanya gadis bodoh yang mau melakukan itu. Entahlah, aku memang merasa jadi sangat bodoh sejak pertama kali mendengar orasinya. Begitu banyak yang tidak kuketahui tentang kebobrokan di negeri ini juga kebusukan oknum-oknum pejabatnya. Aku hanya gadis lurus yang belajar, belajar, dan keluar masuk perpustakaan. Menutup mata pada persoalan bangsaku sendiri. Kini mataku benar-benar terbuka lebar. Lama-lama akupun mulai bersikap. Apa yang dikerjakan Tiyo adalah sesuatu yang mulia. Suatu pendobrakan halus penuh budi pekerti untuk memberdayakan orang-orang kecil yang menjadi penduduk mayoritas negara ini. Brsama-sama berubah untuk kemajuan bersama pula. Aku memenuhi undangan Tiyo dan terlibat di sana.
Hampir satu bulan Yola tidak kembali. Suster asrama memberitahu aku bahwa kakakku itu tengah sakit keras dan dia mengajukan cuti kuliah. Oh, sedihnya. Dia sahabatku satu-satunya di asrama ini. Dia yang selalu kupinjami pundaknya untuk menangis dan berkeluh kesah. Dan hanya padaku dia bercerita tentang semua gundahnya. Rasanya, tanpa dia, sebelah badanku lumpuh dan separuh nyawaku lepas. Yola, kau sakit apa? Kucoba menelpon ke rumahnya dan hanya diangkat oleh pembantu. Katanya, nona rumah dan seluruh keluarga sedang berada di luar kota untuk berobat. Aku kehilangan dia sama sekali. Azizi hanya menarik nafas panjang ketika kuceritakan apa yang terjadi dengan Yola padanya. Aku tahu, diapun kehilangan separuh hidupnya seperti aku.
“Kabari aku setiap ada perkembangan yang kau dengar tentangnya.” Kata Azizi.
“Kamu pacarnya. Apa kamu tidak ingin mencarinya? Dia sakit. Apa tidak terpikirkan sedikitpun olehmu, bahwa kabar atau kehadiranmu bisa membantunya?” Protesku. Dia menarik nafas lagi. Sakit sekali kelihatannya. Aku jadi tahu bahwa hubungan mereka tak disukai orangtua Yola. Atau orangtua manapun. Apa ada orangtua yang rela anak gadisnya menjalin cinta dengan orang yang tak jelas apakah besok masih hidup, apakah lusa diculik, tiba-tiba hilang tak tahu rimbanya, ataukah beberapa hari lagi terluka dalam sebuah situasi caos saat turun ke jalan? Rejim ini begitu tega. Mereka yang menyerukan kebenaran dianggap subversif dan harus digilas habis. Tak peduli itu anak-anak bangsa mereka sendiri. Beda pandangan adalah musuh negara, dianggap makar. Tak ada masa depan untuk gerombolan seperti itu.
Entahlah, apa yang menggerakkan hatiku untuk bisa melihat kerapuhannya itu. Akupun tidak paham, kenapa aku dengan rela menyediakan rasa ibaku untuk melindunginya. Menjaganya. Cintaku pada Yola memang berperan besar, tapi apa akan sekuat ini jika melakukan sesuatu yang penuh resiko hanya untuk melindungi barang titipan orang? Apalagi kutahu, pemiliknya sudah semakin tak yakin apakah masih mengingini barangnya atau tidak. Aku khawatir, aku takut, aku ingin menyangkal bahwa aku sedang jatuh cinta. Apa ada pagar mengunyah tanaman yang dijaganya? Apa pernah penjaga mencuri barang majikannya? Mungkin ada, tapi tidak lumprah. Tidak banyak. Dan aku gelisah, takut termasuk dalam bilangan yang sedikit itu.
Dikala para mahasiswa sedang menggelar aksi, rapat , atau diskusi, dia seolah jauh tak terjangkau. Milik begitu banyak orang. Tapi ketika tiba-tiba dia datang ke asrama dengan wajah kuyu dan lelah lantas kami hanya duduk diam di kursi tamu, aku serasa penjadi sulur-sulur hijau yang memberi kesejukan sedikit untuk dihirup. Kadang dia mengajakku bersepeda motor ke luar kota. Ke arah gunung dan hanya duduk berhadapan di atas batu besar sambil mendengar aliran air di bawah dan ceruwetan burung di pepohonan. Seolah sejak Yola pergi, dia menemukan sumur kecil pada diriku untuk menciduk seteguk air. Aku tahu, Yola selama ini tidak pernah minta ijin pada suster untuk keluar sekedar berjalan-jalan dengan Azizi. Apa Azizi sudah begitu jauh melupakan Yola? Apa dia menemukan hawa lain ketika bersamaku? Apa aku lebih istimewa dari kakakku? Oh, Tuhan, jauhkanlah aku dari perasaan gede rasa ini. Jangan biarkan aku serakah. Beri aku kekuatan untuk menyangkal semua ini. Biarlah kali ini aku membohongi diriku sendiri. Aku tidak mau menyakiti Yola.
Siang itu kulihat Tiyo bersandar di pintu ruang tamu asrama. Sangat gelisah. Ada apa dia kemari? Apa Azizi sakit lagi? Semester genap ini hampir habis. Ujian tinggal dua minggu lagi. Kuharap Yola segera kembali semester depan. Semua suratku tak pernah diresponnya. Telponkupun hanya dijawab pembantu. “Jangan hilang terlalu lama, Kak. Aku takut merenggut milikmu yang seharusnya kuusahakan untuk kujauhi. Tapi aku terlanjur banyak terlibat. Aku terlanjur menyertakan perasaanku.” Bisikku di suatu malam ke tempat tidurnya yag kosong. “Aku berjanji, tidak akan temui dia lagi. Aku akan mengenyahkan semua cinta yang tak sepantasnya ini. Cepat kembali ke sini, Kak. Aku tidak tahan. Aku juga kangen sama kamu.” Bisikku lagi kala tengah malam telah lewat dan aku tak segera tertidur juga.
“Des, aku sudah mencari kemana-mana, tapi Azizi tak kutemukan.” Tiyo memburuku begitu melihat aku datang. Dia tampak tegang.
“Maksudmu?” Aku jadi panik.
“Dia hilang. Kemarin malam, setelah magrib dia pergi ke minimarket dekat kost. Hanya mau beli beberapa keperluan mandi. Tapi sampai jam sepuluh malam dia belum kembali. Kupikir dia pergi ke tempat teman kami yang lain. Kutunggu hingga tengah malam tapi tak ada kabar. Semua teman sudah kutanya dan tak ada satupun yang tahu. Termasuk keluarganyapun sudah kutelpon. Tak ada yang tahu dimana dia.” Tiyo tersandar lemas ke tembok. Matanya merah. Aku hanya ternganga di hadapannya. Mataku pedih dan hatiku hancur. Tangisku menetes satu persatu dalam pundak yang tergetar.
Doa kami belum selesai. Dalam ketakutan dan kekhawatiran. Tembok asrama berdiri kokoh tiga meter. Dua meter dari batu dan satu meter di atasnya jalinan kawat berduri. Sudah pasti kami aman. Tapi orang-orang di luar sana. Itulah yang lebih kami doakan. Di antaranya pastilah ada teman-teman sekampus. Bau gas air mata mulai menyusup ke kamar-kamar kami. Suara beringas, teriakan, sorakan, jeritan, dan tangisan itu masih terdengar hingga selarut ini di sepanjang depan asrama. Antara universitas negeri dan universitas swasta. Entah berapa ratus yang sedang bergulat di sana. Beberapa kali terdengar ledakan. Entah gas air mata , entah peluru karet, atau mungkin juga peluru tajam. Kami ketakutan sekali. Sebuah ketukan mengagetkan kami di malam buta yang panas itu. Kota tempat kami kuliah, 5 Mei 1998. Menjelang tengah malam. Saat kubuka, suster kepala memberikan tanda telunjuk di mulut. Kami semua diam mendengarkan dia.
“Rin, tolong bukakan kamar mandi unitmu. Dan sediakan beberapa gelas dan botol air putih. Ambilkan juga peralatan PPPK. Bawalah ke aula. Ada beberapa anak yang bersembunyi di sana. Di luar aparat beringas sekali. Mereka sudah terdesak, letih, dan ketakutan. Mereka akan pergi besok pagi, saat semua selesai dan aman.” Lalu susterpun pergi. Kuajak teman-temanku seunit mempersiapkan apa yang diminta suster. Pelan-pelan kami menuju aula dengan nyala lilin di tangan. Lampu memang dimatikan. Bukan hanya beberapa seperti yang dikatakan suster. Tapi puluhan mahasiswa yang tak kami kenal. Mungkin dari universitas negeri mungkin pula dari universitas swasta. Beberapa adalah gadis. Semua mata kuyu. Semua tampak letih dan menggigil. Aku mendekati salah satunya.
“Ini ada air putih. Kalau kurang atau butuh apa-apa, ketuk saja pintu kamar kami di sebelah itu. Kamar mandi ada di sebelah aula. Apa ada yang terluka?” Kataku. Dia yang terduduk dan tersandar di tembok dengan kaki lunglai, lurus ke lantai, hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih lirih. Matanya redup dan tak ada nyawa lagi di kepalan tangannya.
Pagi hari, jam tujuh, aku pergi kuliah seperti biasa. Tapi sebelumnya akan mampir dulu di daerah pinggir kampus. Anak-anak yang semalam menginap di aulapun sudah berbenah, mandi atau cuci muka, lalu keluar dari asrama seperti para penghuni lainnya.Seolah tak ada apa-apa sebelumnya. Batu-batu berserakan, ban-ban bekas yang dibakar masih meninggalkan bangkai dan aroma tak sedap, beberapa lampu jalan penyok, dan tak sedikit barang-barang di sepanjang jalan raya yang menghubungkan dua universitas itu yang rusak. Gas air mata masih menyisakan sengatan dan pedih di mata. Betapa pemberaninya mereka. Paling tidak mereka sudah ambil bagian, tidak seperti aku yang hanya diam dan tak berani keluar.
Kudengar kabar, semalam, menjelang dini hari, ada beberapa aparat yang mengetuk pintu gerbang asrama. Suster bangun dan menemui mereka. Mereka bertanya apakah ada gerombolan pengacau yang masuk ke asarama. Bahkan mereka akan menggeledah. Dengan tenang suster bilang,”Anak-anak kami sudah tidur semua. Besok mereka kuliah. Kasihan jika diganggu. Lagipula tembok asrama kami begitu tinggi dan rapat. Pintu gerbangpun sudah kami kunci sejak jam sembilan malam. Lewat mana mereka masuk?” Merekapun pergi dan percaya pada apa yang diucapkan suster. Sebab ketika melongok ke halaman asrama, semua hening, sepi, dan tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Akupun tidak pernah tahu, lewat pintu mana suster membukakan pintu untuk teman-teman yang memenangkan suatu masa baru yang disebut reformasi itu.












